nasihat sang senior

701 Words
Randy bergumul dengan hobinya membaca buku di malam hari sebelum beristirahat.Kawan seasramanya sudah terlelap dalam tidur,sementara pikiran dan matanya masih belum lelah.Dibukanya satu-persatu buku yang ia pinjam dari perpustakaan nasional beberapa hari lalu.Mulai dari tema berat seperti Pertahanan kenegaraan,buku sejarah dunia,hingga novel percintaan yang menurut sebagian orang begitu menjijikan,ia selesaikan dalam beberapa hari saja. "Kau belum tidur?" Suara seseorang terdengar memasuki ruangan asrama dengan penerangan minim itu.Sedikit terkejut dengan suara itu,penglihatan Randy seketika tertuju pada satu bayangan yang mendekatinya. "Akh,Kolonel.Saya belum mengantuk.." Jawab Randy dengan sopan.Refleks iapun berdiri dari tempat tidurnya. "Panggil aku Sanders.Saat diluar jam tugas seperti ini,jangan begitu kaku padaku.." Randy tersipu malu. "Kalau kau belum mengantuk,bagaimana kita ngobrol diluar saja.Saya juga kebetulan susah sekali memejamkan mata malam ini.." Ajak pria berumur 35 tahun itu pada juniornya.Kedua Senior-Junior itu pun lalu keluar dari kamar asrama. Jam sudah menunjukkan angka 11 malam.Suasana diluar asrama begitu hening,seolah tak tampak sedikitpun kehidupan.Hanya terdengar suara jangkrik sesekali,serta beberapa lampu penerangan taman dan beberapa ruangan yang sengaja tak dimatikan.Randy dan Kolonel Sanders berjalan beriringan mengitari taman.Keduanya tak banyak berbicara.Randy begitu canggung berhadapan dengan seniornya,sementara Kolonel Sanders berjalan dengan begitu tenang. "Randy,apa tujuanmu menjadi seorang tentara? " Tanya Beliau tiba-tiba. "Saya,Kolonel? Saya hanya ingin mengabdi pada negara.." Jawab Randy.Pria keturunan Maluku itu tersenyum mendengar jawaban lugas juniornya.Keduanya sekarang bersandar pada tepian pagar di sisi danau dekat asrama. "menurutmu,seperti apa contoh mengabdi pada negara? maksudku,contoh salah satu perilaku yang mencerminkan pengabdian pada negara bagimu.." lanjutnya.Randy berfikir sejenak,sesaat ia mengira bahwa seniornya itu sedang menjebaknya."Astagfirullah,Randy.Pemikiran macam apa itu.." Gumamnya dalam hati. "Sulit bagiku menjelaskan apa itu pengabdian pada negara,Kolonel.Denganku lebih memilih berada disini ketimbang mengikuti keinginan Ayahku mengurus bisnisnya,bagiku itu salah satu bentuk pengabdianku untuk negeri ini.." "Dengan tidak mengikuti keinginan orang tuamu?" Randy tersentak mendengar ucapan kolonel Sanders.Sulit baginya menjawab pertanyaan itu.Seolah mengerti yang ada dalam pikiran Randy,Pria berkaos Navy itu kemudian menepuk pundaknya. "Ucapanmu tidak salah,wahai anak muda.Kau pasti tahu,bahwa banyak diantara kita yang harus rela berjauhan dengan keluarga demi tugas negara.Aku harus rela meninggalkan kedua orang tuaku, istri dan kedua anakku di Maluku,lalu terbang jauh ke tanah jawa ini,demi rasa cintaku pada negeri ini.Namun,aku takkan mungkin ada disini jika tidak ada restu dari mereka,Randy.." Ujar Sanders.Randy terdiam mendengarkan. "Kau Pemuda yang hebat,jenius dan cekatan.Selain dikenal sebagai prajurit yang pandai beladiri,kau juga dikenal sebagai prajurit andalan.Tapi semua itu tidak ada artinya jika tidak ada dukungan dari keluarga.." Perasaan Randy begitu sesak mendengar ucapan senior yang paling disegani itu.Ia sadar,Ayahnya belum sepenuhnya merestui karirnya sebagai tentara. "Sekarang kita dihadapkan suatu kasus yang cukup besar dan mengancam kedaulatan negara kita.Cepat atau lambat,negara akan mengirim kita bertugas dalam kasus ini.Aku dengar,kemarin Jenderal Sudiro mengikuti rapat besar dengan Presiden dan beberapa jajaran penting.Beliau baru saja menghubungiku,menanyakan apakah pasukan squad kita mampu menerima tugas.." Sanders menarik nafas panjang. "Apakah ada kemungkinan,beberapa dari kita akan ditugaskan langsung,Kolonel?" Tanya Randy Penasaran.Sanders melirik padanya lalu mengangguk pelan. "Kemungkinan besar,iya.Terlebih,Squad kita dilatih ilmu pengintaian khusus yang tidak semua negara memilikinya.Tapi.." Sanders menghentikan kalimatnya.Ia ragu untuk melanjutkan. "LetJen Pratama,Komandan Utama divisi kita.Dia yang memiliki tanggung jawab penuh atas kita.Tidak mudah mendapatkan izin darinya.Terlebih yang kudengar,beliau pernah memiliki masalah dengan Jenderal Sudiro,dan mereka masih bersitegang hingga sekarang.." terang Sanders.Randy terkejut mendengarnya.Meskipun belum pernah berinteraksi langsung,seluruh pasukan tahu bagaimana idealisnya beliau.Banyak kebijakan-kebijakan dari Jenderal Sudiro maupun Presiden yang ditentangnya.Bukan maksud menghalau,namun beliau memiliki cara sendiri yang tak pernah terduga. "Apapun keputusannya nanti,apapun tugas yang diberikan,kita harus mempersiapkan diri dari sekarang Randy.Berlatihlah lebih keras,berdoa tetap diutamakan dan yang terpenting,restu dari keluarga.Musuh sudah semakin dekat,kita tidak bisa berleha-leha ataupun bersantai.Keamanan negara ada ditangan kita.Jangan sampai jaringan n*****a itu datang dan merusaknya!" "Siap kolonel!" Randy mengangkat tangan kanannya ke dahi sebagai tanda hormat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD