“Wengi ....!” “Astagfirullah al adzim,” pekik Wengi yang kaget karena teriakan Sheril yang memanggil dari depan rumahnya sendiri. Sepeda yang dikayuh Wengi pun oleng hingga hampir terjatuh. Beruntung ada Wati yang langsung berlari untuk menahan sepeda Wengi agar tidak terjatuh. Di keningnya tertempel plester yang dipasang Surti. “Ibu kenapa sih masih hidup?” celetuk Wengi saat turun dari sepeda dan menstandar sepedanya di depan rumah. Bukan ucapan terima kasih, bukan juga pertanyaan kenapa di pelipis sang ibu terpasang dua pleseter sekaligus. Bukan rasa bersalah dan semacamnya yang akan dia tampakan setiap kali melakukan kesalahan pada ibunya. Yang ada dalam pikiran Wengi hanya bagaimana caranya dia bisa menjauh dari Wati atau setidaknya bikin sang ibu untuk tidak betah terus berada

