“Wati, awas ....” Brakk. “Rasain, biar mampus sekalian!” cicit Wengi dengan suara yang ditekan agar hanya dia saja yang mendengarnya. Wati jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir di pelipisnya. Orang-orang yang sedang duduk di warung Maryam berlari ke arah Wengi, sedangkan Lela yang kebetulan sedang berbelanja di sana langsung berlari ke rumah Surti untuk memberi tahu Wati terserempet motor. “Bangun, Wati. Kamu nggak apa-apa?” tanya seorang warga yang membantu Wati berdiri dan memapahnya berjalan ke arah warung Maryam. Wati menggeleng, tapi matanya sibuk mencari Wengi diantara orang-orang yang mengerumuninya. Wati memberontak, tangannya terlepas dari pegangan warga yang membantunya. Dia menjerit begitu kencang sehingga orang-orang yang berkerumun pun menjauhkan diri dari Wati.

