“Ya Allah, jangan-jangan dia yang-” Wengi membekap mulut Cindi. Dia menarik sahabatnya untuk bersembunyi di balik tembok dan mengamati pergerakan si cowok di meja Wengi. ‘Apa mungkin selama ini dia yang selalu mengirim semua surat-surat itu?’ ‘Tidak mungkin, aku dan dia begitu berbeda, bahkan aku sama sekali tidak berani mengidolakannya.’ ‘Lantas kalau bukan dia, apa yang dia lakukan di mejaku?’ “Woy, pulang! Ngapain pada ngintip di mari?” teriak Sheril menepuk pundak Wengi dan Cindi bersamaan hingga keduanya terjengkit kaget. Sementara seorang cowok yang sedari tadi mereka perhatikan langsung berdiri dan membawa ketiga toples dari bawah meja Wengi dan Cindi. “Eh, ada Hendra. Ngapain coren ada di sini?”cetus Sheril menyapa Hendra dengan sapaan khas fans bucinnya, coren, alias cowok

