Bolos Buat Curhat

2033 Words
Aleta menutup buku tebalnya, merenggangkan pinggang yang sedari tegang karena tiada henti berkutat dengan soal-soal fisika. Dilepasnya kacamata yang kerap ia pakai ketika belajar, meletakkan di dalam tempat pensil bergabung dengan pena-pena berwarna yang lain. Leher Aleta makin lama malah makin terasa sakit. Dia tidak yakin dapat duduk lama kalau begini dan bergabung di pelajaran selanjutnya. Daripada membolos, Aleta memilih berdiri dan langsung berjalan ke luar kelas, dia hendak ke UKS untuk meminta minyak kayu putih. Di ambang pintu, Aleta berhenti karena Ethas sudah berdiri di sana dengan sekotak s**u rasa pisang. Lelaki itu melambai dengan senyum cerah menggantung di wajahnya, berbeda seperti dua hari kemarin. Ketika bel berbunyi tadi, Ethas bahkan menjadi orang pertama yang keluar dari kelas dan langsung berlari ke kantin untuk membelikan Aleta sekotak s**u. “Kepala aku pusing,” kadu Aleta sembari menerima uluran s**u dari tangan Ethas. Langkahnya berlalu meninggalkan ambang pintu dengan mata menyisir sekitar. Pandangan orang-orang pada mereka terlihat penuh akan tanya. Tidak ada yang namanya rahasia kalau sudah menyangkut Ethas, sehingga semua pun dapat tahu kalau sudah dua hari ia didiamkan oleh pacarnya sendiri. Tingkah Ethas di lapangan basket sudah menjelaskan semuanya. Tanpa tim, dengan seragam putih abu-abu, Ethas asik mendribble bola dan terus menerus melakukan lay-up ke ring basket. Sampai ketika bel berbunyi pun, anak lelaki itu tidak menggubris sehingga guru sampai turun tangan. Ethas akhirnya dihukum karena tingkah lakunya yang kelewat batas. Ia diberi sapu lidi, di bawah terik matahari, lelaki tengil itu menerima hukuman untuk membersihkan halaman hingga jam belajar mengajar selesai. Hari ini jadi berbeda. Ethas nyengir terus bagai anak kucing yang baru saja diberi makanan enak. Langkahnya sejajar bersama Aleta yang asik meneguk s**u pemberiannya. Ethas sendiri juga sadar pada pandangan anak-anak yang lain, tapi peduli apa? Yang penting untuknya hanyalah Aleta dan kepercayaan gadis itu untuknya. “Kamu nggak mau pulang aja? Aku anterin.” Aleta menoleh, gelengannya terbit bersama wajah yang kian sendu. “Aku nggak mau bolos, Ethas. Ada pelajaran penting abis makan siang nanti.” “Apa?” Ethas bertanya dengan mata melotot. Dia suka sebal kalau Aleta terus-terusan mementingkan ambisinya ketimbang kesehatan sendiri. “Kamu udah beberapa hari ini ngeluh sakit teruskan, Ta? Baru aja kemarin kamu bilang kamu ke RS—” “Nggak mau bahas yang di RS kemarin!” potong Aleta lalu mempercepat langkahnya untuk berbelok ke koridor kiri. Jarak kelasnya dan UKS lumayan jauh, sehingga perjalanan ke sana hanya membuat kepala Aleta semakin terasa sakit. Jemarinya menyentuh pelipis, memberikan pijian kecil di sana. “Ta,” panggil Ethas lebih tegas. “Kalau kamu nggak mau pulang, seenggaknya makan.” “Aku udah sarapan di rumah.” Aleta masih membalas, nada suara gadis itu mencoba mengalahkan nada tegas milik Ethas. “Lagian kamu tuh nggak ngerti gimana pentingnya semua pelajaran buat aku. Nanti bakalan ada pelajaran Kimia buat 3 jam dan aku nggak mungkin pergi. Yang ada aku cuma buang-buang kesempatan apalagi hari ini bakalan masuk bab baru.” Ethas memegang kepalanya yang terasa hendak pecah. Mendengar kata Kimia akan ada tiga jam hari ini saja sudah membuat Ethas kesulitan menelan salivanya sendiri. Wajah Aleta terlihat tegang, tangannya terkepal sehingga buku-buku jari tangan kirinya terlihat memerah, sementara kotak s**u di tangan kanannya sudah remuk. Ethas tahu kalau ini tidak baik-baik saja. Kalau sudah begini, alih-alih obat untuk menenangkan, Ethas harus dapat mencarikan buku agar dapat meredam amarah gadisnya. “Kamu ke UKS dulu, ntar aku nyusul.” Ethas tersenyum lembut. Ini sudah menjadi konsekwensi sejak lama ketika ia memutuskan untuk mengajak seorang pemegang juara sekolah berpacaran. “Aku beli makanan dulu, sama ambilin buku kamu di kelas.” Aleta menghadang, dia menyentuh lengan kiri Ethas sehingga lelaki itu tidak jadi bergerak. “Nggak usah.” “Loh, kenapa?” Aleta menggigit bibir bagian dalam. Pikirannya tiba-tiba saja berubah. Dia sadar kalau sudah keterlaluan menanggapi niat baik Ethas. Namun berat sekali rasanya untuk mengutarakan peryataan dari dalam mulutnya. Aleta mengangkat pergelengan tangan kiri, melihat waktu dari jam tangan warna putih yang Ethas hadiahkan di hari ulang tahunnya setahun lalu. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum jam istirahat siang dan kelas Kimia-nya dimulai. “Dua puluh menit lagi ada kelas seni. Aku bisa bolos disitu.” “Ta? Serius kamu?” Ethas takjub sampai tidak mampu berkata lagi. Setiap diajak untuk membolos, gadis cantik itu mana pernah mau. Berkutat dengan buku-buku tebal lebih baik daripada mengikuti jalan sesat dari Ethas. “Seni loh, Ta. Bukannya kamu ada tugas ngelukis yang mesti dikumpul?” “Udah selesai dari kapan tugas yang itu, Ethas. Aku bisa titipin tugasnya ke Melra biar dia yang kasih ke guru.” “Emang mau bolos kemana?” Aleta terlihat berpikir sebentar, dia mengingat-ingat beberapa tempat makan yang menjadi favorit Ethas setiap kali mereka kencan. Menghitung jarak sekiranya ada pilihan yang paling dekat dari sekolah. Aleta menatap wajah bengong Ethas yang menanti jawabannya, gadis dengan rambut digerai indah itu tertawa ringan. Wajah pacarnya selalu saja tampan walau tengah menunjukkan ekspresi bodoh! Aleta meraih genggaman Ethas, mengabaikan kebingungan Ethas dengan menautkan jari jemari mereka. “Aku pengen makan batagor favorite kamu di pasar yang nggak jauh dari belakang sekolah.” “Hah?” Ethas bengong lagi, lalu tertawa tidak percaya. Dari sekian banyak tempat, pacarnya malah memilih pasar becek yang jaraknya kira-kira 50 meter di belakang sekolah. Aleta biasanya sering cerewet kalau Ethas ajak kesana. Banyak alasannya. Mulai dari aroma di sana yang kurang enak, tidak nyaman untuk belajar, suasana yang ribut karena teriakan tawar menawar orang-orang. Dari semua tempat yang mereka sering datangi, Aleta paling benci pasar di belakang sekolah. “Nggak mau ke mall aja? Taman? Atau kita nonton?” Aleta menyipitkan mata, menepuk pelan bahu Ethas. “Waktunya nggak banyak ish kapan pinternya, sih? Malah ngajakin nonton.” “Ya kamukan sebel banget sama itu pasar!” Ethas gemas bukan main, ingin sekali dicubitnya pipi Aleta kalau koridor sedang sepi. “Bener mau kesana aja?” “Iya, ih, nggak percaya banget?! Iya aku tau emang sering nyebelin kemarin-kemarin tiap diajakin ke sana. Cuma ya, yaudah gitu, sekali ini nggak apa-apa.” Ethas meletakkan telapak tangan di permukaan dahi Aleta, dan langsung mendapatkan hadiah di bahu berupa pukulan keras. “Aku nggak sakit!” “Tadi katanya pusing? Plin-plan banget sakitnya.” “Debatnya udahan dong, Ethas, bisa nggak? Ngabisin waktu banget tau mending pergi sekarang.” Ethas nyengir, lantas mengangguk seperti perwira. “Yaudah, batagor kali ini aku yang bayarin, ya, Sayang.” Aleta melotot hebat. Shock akan panggilan Ethas yang memang hanya dilakukan lelaki itu sesekali. “Merinding dengernya! Udah, ih, ayo buruan pikirin rencananya. Aku mana jago beginian. Ini hobi kamu yang punya soalnya.” “Makasih, ya, Aleta,” balas Ethas dengan nada menyindir balik. Ditariknya gadis itu untuk mengikuti langkah kakinya. Mereka menuju gerbang belakang, kira-kira lima menit dari tempat mereka sekarang. Aleta diam saja, mengikuti dan meyakinkan dua jamnya pada Ethas. Pegal di leher belakang beserta pusing di kepala bahkan sudah tidak terasa lagi, tergantikan oleh jantung yang berdegub kencang karena uji nyalinya kali ini. Bolos pertama kali dalam sejarah hidupnya. Aleta hanya dapat berdoa kalaupun dia dihukum, setidaknya bukan menyapu halaman sekolah yang luasnya tidak wajar kalau disapu seorang diri—berdua sekalipun. “Jangan tegang gitu,” kata Ethas lagi ketika ia menoleh pada Aleta. “Siapa yang tegang?” balas Aleta tidak mau diremehkan. “Kamu kali, soalnya kalau ketauan kamu yang tanggung jawab. Inikan ide kamu.” “Kalau cuma dihukuam doang, kecil.” Ethas mengadu kelingking dengan ibu jarinya. Tidak masalah kalaupun harus dihukum sekalipun karena dia sudah sangat terbiasa. “Asal jangan dipisahin dari kamu aja, ya, Ta.” “Ethas, stop!!” Pelototan Aleta menjadi kode akhir bahwa Ethas benar-benar harus diam sekarang. > a l e t h a s a l e t h a s <
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD