Aya meyudahi kegiatannya mencuci muka, rasanya segar dapat bersentuhan dengan air di setiap pagi. Diambilnya handuk yang ia letakkan tidak jauh dari wastafel, lantas mengusap wajahnya yang basah secara perlahan. Lalu gadis manis itu keluar dari kamar mandi, disambut oleh sibuknya anak-anak perempuan yang lalu lalang kesana kemari mengatur piring dan berbagai keperluan untuk mereka sarapan bersama. Jam segini biasanya anak laki-laki sedang sibuk di halaman rumah sembari bermain bola kaki atau merawat tanaman bersama bapak panti.
Aya langsung memutuskan ke dapur untuk membantu Ibu Hanna memasak. Senyumnya merekah ketika indera penciumannya b******u dengan wangi masakan. Aya tahu, kalau dia tidak akan pernah kecewa dengan masakan Ibunya. Gadis itu beringsut mendekat, menyapa Ibu Hanna dengan lembut sembari memegang sendok masak, tangannya mulai telaten mengaduk nasi goreng yang sebenarnya tinggal dihidangkan.
“Bu, hari ini Kori dapat jatah berapa piring?” tanya Aya bercanda ketika dilihatnya Kori masuk ke dapur untuk mencuri timun. Anak laki-laki berbadan gempal itu tampak sehat, hobi makan diam-diam dengan cara membujuk Ibu Hanna. Kasihan juga kalau yang lain sampai tahu dan mereka tidak kebagian. Kori sedikit istimewa karena keirngat dinginnya dapat muncul kalau tidak segera diberi asupan.
Kori yang mendengar ucapan Aya langsung saja mendelik, merasa tersindir. “Kori cukup satu piring, kok,” katanya percaya diri sembari mengunyah timun segar.
“Iya, satu piring tapi untuk porsi tiga orang, kan?” ledek Aya dan Kori langsung menghentakkan kaki untuk beranjak dari dapur. Aya dan Ibu Hanna masih tergelak, senang menggoda Kori.
“Oh iya, Ya.” Suara Ibu Hanna membuat Aya menoleh, ditunggunya kelanjutan ucapan sang ibu sembari memasang ekspresi penasaran. “Zavarel, waktu sampai di rumah abis nginep di sini, ada ngabarin kamu, kan?”
Aya menggaruk pelipis. Zavarel menghubunginya memang, tapi tidak dalam bentuk kabar bahwa lelaki itu sudah ada di rumah. Zavarel malah bertanya tentang Aya dan hal-hal random lainnya. Walau begitu, Aya menyimpulkan saja kalau lelaki itu sudah ada di rumah. Sebenarnya tidak peduli mau dimana, yang penting lelaki itu aman-aman dan tidak mencari perkara di luar rumah.
“Ada, Bu,” jawab Aya walau tidak sepenuhnya berbohong.
“Dia baik-baik aja?”
“Baik, kayaknya?”
Helaan napas Ibu Hanna lolos juga, dia menatap Aya dengan air wajah yang terkesan berharap. “Rasanya, cuma kamu yang bisa jadi jembatan buat bujuk dia, Ya. Mamanya ngehubungin Ibu kemarin dan ngomong kalau kondisi Varel lagi nggak baik. Coba kamu bujuk dia, supaya mau ngomong lagi sama mamanya.”
“Kenapa harus jadi tanggung jawab Aya, sih, Bu?” Gadis itu merengek. Baginya, Zavarel bukanlah siapa-siapa. Memang teman, namun bukan berarti urusan di dalam keluarga Zavarel juga menjadi urusannya. Masalah yang Aya tanggung sendiri juga sudah berat, rasanya tidak sanggup kalau ia juga ikut-ikutan memikirkan masalah orang lain. “Iya, Aya tau emang kita berdua akrab. Tapi nggak semua tentang dia Aya tau, Bu. Dia juga kadang jadi manusia dingin sampai-sampai Aya nggak kenal dia siapa. Akrabnya kita belum cukup buat Aya jadiin alasan untuk nanya-nanya personal hidup dia lebih jauh.”
Ibu Hanna menatap Aya dalam diam, lantas mengangguk dengan gurat paham. “Nggak apa-apa, Ibu juga nggak mau ngebebanin kamu. Tapi kalau kamu punya kesempatan, boleh dicoba, kan?”
Aya mengangguk, walau hatinya sedikit terpaksa. Mau bagaimana lagi, Ibu Hanna seperti itu karena mereka begitu terikat dengan keluarga Zavarel dan Ethas selaku donatur di panti asuhan sederhana tempat Aya tumbuh hingga saat ini. Mau tidak mau, nyatanya memang harus begitu. Ada hubungan timbal balik setelah dibantu banyak oleh orang lain. Aya balik badan, ingin mengambil gelas dan meletakkannya di meja makan.
“Aya bantuin adik-adik dulu, ya, Bu.”
“Aya,” panggil Ibu Hanna sehingga langkah Aya terhenti.
“Kenapa, Bu?”
“Jangan lupa siang ini kamu ada jadwal ketemu dokter.”
“Iya, Aya inget, Bu.”
Indriaya Arsyana. Seorang gadis yang sudah merasakan kasur panti asuhan sejak ia berusia lima tahun. Tanpa ayah, tanpa ibu, segala kenangan di kepalanya tidak ada satupun yang mengarah kepada dua sosok itu. Sebagai gantinya, Tuhan memberikan Ibu Hanna dan Bapak Imran untuknya. Dia juga tidak lagi menaruh perasaan iri kepada orang-orang dengan keluarga yang lengkap. Toh, isi rumahnya sekarang bisa dikatakan jauh lebih lengkap. Ada orangtua, kakak, abang, dan adik-adik. Walau sesekali kerap bertengkar, namun pada akhirnya mereka tetap saling merangkul. Sehingga untuk waktu yang terus bergerak maju, Aya belajar bahwa tidak segala hal harus ia tuntut dapat menjadi sempurna. Tidak ada lagi dendam akibat ditinggalkan ketika tubuhnya masih berupa bayi merah, pun tidak ada lagi amarah pada kedua orangtuanya yang menghilang entah kemana, serta tidak ada rasa penasaran seperti apa wajah kedua orangtuanya. Yang pasti sekarang, walau statusnya dan orangtua panti tidak keluarga kandung, namun bagi Aya rasanya jauh lebih baik dari keluarga kandung itu sendiri.
Aya melihat Nabila di ambang pintu, si bungsu di rumah mereka. Dihampirinya bocah dua tahun tersebut sembari membawa sepotong kue bolu yang ia ambil dari meja makan. Nabila tampak berlonjak bahagia ketika melihat anak-anak yang lebih tua darinya tengah berlarian di taman.
Aya memanggil bocah lucu itu, “Bila, liat ini Kak Aya bawain apa buat kamu?”
“Boyu,” jawab Nabila dengan gaya bicaranya yang masih belum sepenuhnya sempurna.
“Bolu, Sayang,” ucap Aya memperbaiki. “Nih, dimakan, ya. Jangan lupa abis sarapan nanti langsung mandi. Cari Kak Aya, biar Kak Aya yang mandiin.”
“Iyah.”
Aya tersenyum, lantas masuk ke dalam dan kali ini menuju kamarnya. Dalam satu kamar yang luas, bisa diisi sampai 6 orang. Aya berjalan ke tempat tidurnya yang berada di ujung ruangan, bersebelahan dengan tempat tidur milik Caca yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia berkat jalur beasiswa. Salah satu panutan Aya dalam belajar. Walau Aya cukup sering izin di sekolahnya sebab ia harus menjalani pengobatan, beruntung karena Caca selalu mau menjadi guru lesnya. Jadi Aya tidak kesulitan untuk memacu teman-temannya. Ditambah, kehadiran Zavarel yang selalu mau menawarkan diri lebih dulu untuk mengajarkan Aya materi baru.
Diambilnya ponsel sebagaimana tujuannya untuk masuk ke kamar. Ingin mengirim pesan pada Zavarel yang sekarang pasti sedang berada di sekolah. Aya mengetikkan sesuatu di sana, kemudian meletakkan lagi ponselnya dan segera berjalan ke ruang makan. Dia sebenarnya malas melakukan ini, namun demi perasaan Ibu Hanna yang sudah sepatutnya harus ia jaga, maka apa boleh buat. Aya paham bagaimana wanita paruh baya lembut itu kalau sudah bersikap tidak enak kepada orang lain, terlebih kali ini urusannya bersangkutan dengan seorang donatur. Aya harus berkorban.
Indriaya Arsyana: Varel, kita bisa ketemu? Ada yang pengen aku omongin.
* a v e a *