Perasaan Zavarel

1549 Words
Ethas memarkirkan motornya di sebelah mobil milik Zavarel. Dahi sulung itu mengernyit, sedikit tidak percaya kalau adiknya sudah ada di rumah pukul sekarang. Rasanya sedikit tidak mungkin mengingat anak itu biasanya lebih nyaman kabur terlebih dahulu ke panti asuhan. Ethas memperbaiki posisi tasnya di bahu kanan, berjalan sedikit lebih cepat ke pintu garasi untuk masuk lewat sana. Ethas ingin mengecek kucingnya dulu di belakang rumah dan memastikan hewan lucu itu baik-baik saja di dalam kandang. Garasi rumah Ethas memang langsung menyatu dengan halaman belakang yang luas dengan banyak tumbuhan kesayangan sang mama. Ada beberapa pohon mangga di setiap sudut halaman, namun Ethas tidak begitu bersemangat sebab saat ini belum waktunya si pohon berbuah. Dari tempatnya berdiri, Ethas dapat melihat kandang kucing beserta si empu berbulu oren lebat yang sedang tertidur pulas. Orenjus, begitulah sapaan sayang Ethas untuk kucing yang sudah ia rawat hampir dua tahun belakangan ini. “Orenjus!!” sapa Ethas terdengar bahagia. Mood lelaki itu sepertinya sangat bagus sepulang sekolah karena baru saja membolos bersama Aleta. Ethas berjongkok di depan kandang Orenjus, cengiran lebarnya belum juga surut. Ia beringsut sedikit ke kiri untuk membuka tempat makanan milik kucing itu. Diambilnya sendok sekop seukuran telapak tangan untuk mengambil makanan Orenjus, kemudian dipindahkannya ke piring makan si kucing. Ethas membuka pintu kandang seraya memanggil Orenjus dengan manja, dibiarkannya Orenjus makan di luar. “Ayo, mamam dulu mamam dulu sama aku.” Tiba-tiba, suara pintu yang tertutup keras membuat Ethas terperanjat. Lelaki itu berdiri, lantas melihat kehadiran Zavarel dengan bersama segelas jus di tangannya. “Lo mau ngancurin rumah?” tembak Ethas kesal, hampir saja jantungnya kabur dari tempatnya. “Urusin aja anak lo,” balas Zavarel lalu duduk di kursi taman. Ethas baru menangkap kalau Zavarel juga membawa buku di tanganya satunya, mungkin itu kenapa bunyi pintu jadi sangat keras karena Zavarel membiarkan pintu itu tertutup sendiri. “Anggep aja gue nggak ada. Silahkan sayang-sayangan sama tuh kucing.” Ethas menghela napas panjang. Setiap ada Zavarel, dipundaknya selalu saja terasa beban. Seakan, tanggung jawab setiap sang papa tidak berada di rumah langsung jatuh pada Ethas. Lelaki itu memutuskan untuk ikut duduk di sebelah Zavarel. Matanya melirik buku tebal yang tengah ditekuni sang adik, dan sukses membuat kepala Ethas jadi berdenyut. Dia tidak suka-suka buku tebal apalagi tanpa gambar, lebih baik membaca komik. “Sanalah, ngapain lo duduk di sebelah gue.” “Lo pulang secepet ini, udah ketemu sama mama belum?” Ethas mengabaikan usiran Zavarel. “Menurut lo yang ngasih gue jus ini siapa?” Zavarel lagi-lagi mengetes kepintaran Ethas. Namun alih-alih marah, Ethas malah mengangguk sambil tersenyum. Dia senang kalau Ethas mau menerima apapun yang dibuat oleh sang mama tanpa mengeluarkan alasan aneh-aneh untuk menolak. Si sulung itu menghela napas lega seraya berdiri, “Lain kali, cari waktu luang terus kita quality time bareng mama. Ya tinggal nungguin jadwal lo doang, karena gue luang tiap hari.” Zavarel tidak langsung menjawab. Dia mengalihkan pandangan dari Ethas ke arah buku dan pura-pura serius di sana. Pikiran lelaki itu sedang tidak tertuju pada buku dan angka-angka yang berada di dalamnya. Sebuah momen langka dalam hidup Zavarel, isi kepalanya tengah tertuju pada mama. Semalam, ketika Zavarel keluar dari kamar hendak mengambil pesanan makanan di depan rumah, dia mendengar isak tangis dari dalam kamar orangtuanya. Awalnya anak lelaki itu tidak mengubris, memilih jalan terus untuk menerima pizza pesanannya. Namun, ketika Zavarel kembali, ia dapat mendengar dengan jelas obrolan mama dengan seorang yang Zavarel tebak adalah papa via telepon. Langkah Zavarel mau tidak mau terhenti, seakan sudah lupa dengan perutnya yang sedang kelaparan. “Pulanglah, Mas, cuma kamu yang bisa jadi obat untuk Varel. Aku udah coba sekuat yang aku bisa, Mas. Tapi Bungsu kita, dari dulu rasanya nggak pernah bisa aku jangkau. Kalau Mas belum bisa pulang, seenggaknya coba lebih sering komunikasi sama dia.” Zavarel terpaku mendengar suara sesegukan itu memohon di telepon. Anak lelaki itu sendiri sadar kalau dia selalu berinteraksi sekenanya bersama Ethas dan mama karena sebuah alasan pula. Sebab Zavarel tidak pernah bisa berbaur dengan apa yang keduanya suka. Jauh di lubuk hati bungsu itu, sebenarnya ia menaruh rasa iri teramat dalam kepada Ethas. Ethas yang bodoh namun tetap dapat bahagia dengan hidupnya, Ethas yang bahagia bersama pacarnya, Ethas yang selalu menjadi kesayangan bagi mamanya, bahkan Ethas pula yang memenangkan hati Aya tanpa harus banyak mencoba. Ethas terlalu santai, seakan tidak ada perjuangan sama sekali dalam hidupnya, namun selalu dapat merasakan bahagia. Rasanya cukup masuk akal mengapa pada akhirnya Zavarel memutuskan mengambil langkah. Ambisinya sejak kecil untuk menjadi seorang ilmuwan seakan hanya disetujui oleh papa. Sang mama bukan tidak setuju, tapi memang tidak mengerti sehingga hanya dapat mendukung. Dukungan yang sebenarnya sepenuh hati itu akhirnya tidak berarti apa-apa bagi Ethas, sebab yang lelaki itu inginkan adalah bertukar obrolan bersama mama pula selayaknya Ethas. “Aku udah usaha sekuat yang aku bisa, Mas. Mas nggak tau gimana rasaya ditolak sama anak sendiri, nggak mau ditatap sama dia, nggak bisa ngejangkau dan ngerangkul dia. Aku ibunya. Tapi buat Varel, cuma kamu yang cocok jadi orangtua. Salah aku sebenernya apa, Mas?” Zavarel memutuskan berlalu dan meninggalkan pintu kamar sang mama. Dia malas kalau sudah begini dan malah berujung kepikiran sepanjang malam. Zavarel lagi-lagi merasa kosong, ia tidak tahu harus melakukan apa selain membuat dirinya semakin jauh dari jangkauan orang-orang di sekitarnya. Lelaki itu masuk kembali ke kamar setelah naik ke lantai dua, diletakkannya box pizza di atas meja belajar, lalu duduk di kursinya. Zavarel lagi-lagi berkutat dengan pikirannya sendiri, memikirkan papa, mama, Ethas, hingga ke Aya. Dari semuanya, Zavarel bertanya-tanya, siapa yang paling peduli padanya dan benar-benar menganggapnya sebagai seorang manusia. Mama? Varel bisa mengiyakan namun hatinya memilih menolak dengan keras sebab yang ia tahu, ia tetaplah nomor dua setelah Ethas. Lalu papa? Varel sudah tidak yakin lagi semenjak sebulan ini ia dan papa sudah begitu sulit berkomunikasi. Lalu Ethas dan Aya, senyum miris Varel terbit ketika kedua nama itu terlintas dalam kepalanya. terlalu mustahil untuk menjadi mungkin. Zavarel melenyapkan lamunannya semalam. Ia menatap punggung Ethas yang menghilang di balik pintu. Semuanya salah. Pikiran negatif Zavarel terhadap orang terdekatnya perlahan memudar. Mamanya peduli, begitupula dengan sang papa yang tiba-tiba mengirimkan Zavarel sebuah pesan singkat dan mengatakan bahwa ia akan segera berada di rumah secepat mungkin, Aya yang mendadak mengirim pesan pula karena hendak berbicara nanti malam, lalu Ethas yang nyatanya memang selalu peduli padanya namun hanya berpura-pura menjadi b******k. Zavarel terlalu lama untuk menyadari. Sayangnya, bagi lelaki itu, ia sudah begitu terlambat. Seakan tidak ada jalan untuk kembali dari bagaimana perbuatannya selama ini. Namun, Zavarel tetap ingin mencoba. Lelaki itu berdiri, mengibas sedikit debu di bagian depan kaus yang ia kenakan. Bukunya ia tinggalkan sejenak di meja bersama dengan jus buatan mama yang sudah tinggal setengah. Zavarel mendekati Orenjus yang tengah makan dengan lahap, duduk sambil menekuk kedua lutut dan melingkarkan kedua tangannya di sana. Ditatapnya Orenjus lagi, baru mulai mengelus bulu kucing oren itu. Hanya lembut yang Zavarel rasakan, bukti bahwa Ethas benar-benar merawat kucing pemberian pacarnya itu dengan amat baik. “Tuker posisi sama gue mau, Jus?” kata Zavarel tiba-tiba pada Orenjus. Ekor kucing itu bergerak kesana kemari, seakan mengerti maksud ucapan Zavarel dan mencoba memamerkan kehidupannya yang menyenangkan. Makan makanan enak, tidur dengan sebuah boneka lembut, lalu tinggal menggali tanah untuk membuang kotorannya yang bau. Tidak perlu memikirkan bagaimana kejamnya dunia yang tengah bermain bersama hati dan kepala manusia. “Kadang berat banget rasanya, kadang ya lega-lega aja waktu dilewatin, kadang sampai harus duduk diem lama sambil mikir sebenernya gue butuh apa, sih? Kenapa yang keliatannya sederhana harus jadi rumit. Kenapa yang rumit harus dibuat makin rumit bahkan kusut dan kayak nggak ada harapan buat dirapihin lagi. Manusia wajar nggak, sih, buat salah? Apa enggak ya, Jus? Gue kangen mama, sejujurnya. Tapi gue bingung gimana cara mulainya. Akhirnya ya, gue selalu ngehindar dari mama. Lo tau nggak, sih, gimana manisnya senyum mama tadi waktu gue mau terima jus mangga buatan dia? Bahagia nyokap sederhana ternyata, enggak kayak gue yang selalu nuntut ini itu sampai jadi egois dan lupa kalau orang lain juga punya perasaan.” “Lo lagi ngapain?” Zavarel gantian tersentak. Ia melihat Ethas sudah kembali dan berganti baju. Satu tangannya memegang segelas jus mangga pula, sedang tangan yang lain tengah memegang ponsel yang sudah dipastikan akan digunakan untuk bermain games. Zavarel buru-buru berdiri sambil menggelengkan kepala, “Enggak, makanannya tumpah tadi.” “Tumpah? Perasaan tuh tempat makan udah paling aman deh pikirannya tinggi kok.” Ethas tampak berpikir sembari berjalan dan mengecek tempat makan Orenjus. “Apa kita beli yang baru aja, ya, Jus?” “Hadeh,” hela napas Varel atas perhatian Ethas kepada kucingnya. “Beli buku soal lo sesekali, jangan tempat makan kucing mulu.” “Diem lo,” balas Ethas tidak terima dengan ucapan Zavarel. “Abis ini gue bakalan shopping baju yang banyak buat Orenjus.” “Mending beliin dia obat kutu ajalah, nggak bakal ada gunanya lo beliin dia baju.” “Diem gue bilang, anak gue sama Aleta biar jadi urusan kita berdua.” Zavarel menahan gejolak mual di perutnya, memilih untuk menjauhi Ethas dan kembali duduk di kursi sebelumnya, hendak lanjut belajar. Dibiarkannya Ethas berduaan dengan Orenjus tanpa mau mengganggu lagi. Setidaknya, dia harus menyelesaikan beberapa soal dulu sebelum bersiap-siap keluar untuk bertemu Aya. > a l e t h a s <
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD