Deep Talk

2298 Words
Zavarel mengendarai mobilnya masuk ke jalanan yang mulai gelap. Lampu jalanan terlihat hanya satu-satu mengingat rumah warga di sekitaran sini jaraknya cukup berjauhan. Mau tidak mau, Zavarel mencoba menggunakan lampu jauh dan berharap tidak ada lawan yang merutukinya akibat silau. Dari jalan besar, kemudian masuk ke jalan yang lebih kecil, jarak menuju panti asuhan bisa memakan waktu sekitar sepuluh menit. Banyak belokan yang harus dihadapi, gelap, bahkan jalan yang kadang kala tidak rata. Namun Zavarel sendiri sudah terbiasa, tidak seperti Ethas yang kerap marah-marah kepada pemerintah karena kurang memperhatikan daerah di sekitar panti asuhan. Sepuluh menit berlalu, Zavarel akhirnya tiba di depan gerbang panti asuhan. Dia memarkirkan mobil di tepi jalan, lalu mematikan mesin dan keluar. Suasana di luar cukup terang karena di setiap sudut panti memang dipasang lampu mengingat anak-anak kerap ketakutan dengan cerita bibir berbau mistis. Alasan lain juga, agar orang-orang yang datang juga merasa nyaman layaknya Zavarel sekarang. Dia sudah tidak sekhawatir tadi. Didorongnya gerbang dan membuka sedikit saja untuk dapat masuk. Zavarel tidak melihat siapapun di halaman, dia menebak bahwa semua orang pasti sedang makan malam. Zavarel tidak enak, namun Aya memaksanya untuk datang. Lelaki itu tidak tahu saja bahwa ada peran Ibu Hanna di belakangnya sehingga Aya mau mengajaknya makan malam bersama. Zavarel tidak tahu, bahwa keberadaannya hanya seperti beban bagi Aya walaupun lelaki pintar itu sudah mengorbankan apapun. Hingga sampai waktunya lelaki itu mengetahui segalanya, mungkin untuk sekedar menatap Aya saja, Zavarel akan menolak. Zavarel berjalan mendekati pintu, mengetuknya tiga kali sambil mengucapkan salam. Terdengar jawaban dari dalam sehingga Zavarel buru-buru merapikan diri lagi, menarik dan menghembuskan napas setelah mengusap kedua tangannya. “Kak Varel?” tanya Bio, anak laki-laki SMP yang bertugas piket malam ini bersama dua temannya yang lain. Dia tersenyum, lantas langsung mempersilahkan Zavarel untuk masuk. “Udah ditungguin sama Kak Aya, Kak.” Mata Zavarel bereaksi, ada secercah kebahagiaan yang tergambar di sana ketika mendengar ucapan Bio kalau Aya menunggunya. Ah, rasanya lelaki itu memang sangat berharap. Semesta takut kalau suatu hari hatinya patah dan kepala tegaknya berubah jadi menunduk. Terlalu mencintai sosok yang belum tentu membalas ketulusan hatinya dengan sama. Zavarel, seorang lelaki yang terperangkap dalam cinta pertamanya dan berdalih bahwa akan ada waktu dimana semesta menyetujui hal tersebut. “Udah pada mulai makan ya, Yo? Jadi nggak enak tiba-tiba dateng jam segini.” “Nggak apa-apa, Kak. Aku denger tadi sore Bu Hanna sebut-sebut nama Kak Varel sambil ngobrol sama Kak Aya.” “Gitu, ya?” tanya Zavarel menahan senyum. Hati lelaki itu terlalu positif. “Iya, yaudah yuk, Kak.” Bio mengajak Zavarel masuk dan duduk di ruang makan dengan meja panjang bersusun, jumlahnya dua saf dan terisi semua. Namun Zavarel dapat melihat satu kursi di sebelah Aya yang tampaknya disediakan memang untuknya. “Itu, Kak, Kak Aya di sana.” Zavarel mengangguk dan berjalan menuju kursi di sebelah Aya, dia menyapa Bu Hanna dan Pak Imran dengan sopan, baru duduk ketika dipersilahkan dengan begitu ramah oleh tuan rumah. Aya menyapa kedatangan Zavarel dengan senyum baik, dia langsung memberikan piring pada lelaki itu dan mengambil bakul nasi. Zavarel yang diam-diam memperhatikan tentu merasa dilayani dengan baik. Dia suka karena Aya selalu sigap setiap Zavarel ikut makan bersama di sini. “Mau lauk apa, Rel?” tanya Aya memperlihatkan menu makanan malam ini.  “Ada telur dadar, ayam goreng cabe tapi ini kayanya pedes banget dan kamu nggak suka pedes, terus sama ikan goreng cabe ijo dan ini juga pedes.” “Di dapur ada kecap kok, Kak Aya. Mau Lila ambilin?” Aya tersenyum melihat Zavarel yang masih termangu, perempuan itu buru-buru mengangguk karena tahu Zavarel pasti sungkan menjawab iya. “Tolongin, ya, Lila.” Lila pergi dan Aya menatap Zavarel lagi, “Mau ayam atau ikan, Rel?” “Ikan, deh,” jawab Zavarel menatap ikan yang terlihat begitu nikmat. Semalam hanya memakan pizza, tiba-tiba Zavarel langsung rindu masakan rumah. Termasuk … masakan mama yang sudah lama sekali tidak ia cicipi. Lila akhirnya kembali, memberikan botol kecap langsung kepada Zavarel dan diterima oleh lelaki itu dengan senyum penuh terimakasih. Zavarel tidak jago makan makanan pedas, perutnya bisa sakit dan alamat terakhir yang harus ia kunjungi adalah toilet. Perutnya diciptakan tidak sama seperti Ethas yang bisa menelan tiga bungkus samyang sendirian atau mencicipi sambal mercon dengan muka santai sampai memuja lebay kalau makanan itu enak. Zavarel menyirami ikan cabe hijaunya dengan kecap, menahan malu ketika ditatap aneh oleh anak-anak lain karena ia dianggap lemah. Aya di sebelahnya tertawa kecil, begitupula dengan Bu Hanna dan Pak Imran. “Kak Varel itu nggak bisa makan pedes, perutnya bisa sakit.” Bu Hanna meluruskan situasi. “Ibu lupa bikin cabenya rada manis, padahal Ibu tau Kak Varel mau datang.” “Maaf ya, Bu, Varel jadi ngerepotin.” “Eh nggak apa-apa, Varel, Ibu seneng kamu dateng.” Zavarel tersenyum, kebahagiaan mulai mengalir di dalam darahnya. Berat yang ia pikul perlahan terasa berkurang. Senyum semua orang di sini membuat Zavarel yakin bahwa ia masih layak melanjutkan hari besok. Terlebih tawa ringan Aya yang ia dengar tadi, membuat hatinya menjadi lapang. Entah mimpi apa ia semalam setelah menghabiskan satu box pizza, sehingga hari ini bisa merasa sebegitu baiknya. > a l e t h a s Zavarel dan Aya duduk di teras rumah, bersebelahan, saling menatap ke depan dan diam dengan pikiran masing-masing. Dua bandrek hangat buatan Bu Hanna menemani keduanya, ditambah pisang goreng yang juga masih panas. Sudah pukul 8 malam, setidaknya ada waktu satu jam untuk bersama sebelum akhirnya Zavarel harus pulang di pukul 9 malam. Aya menoleh untuk melihat Zavarel, diambilnya gelas bandrek, kemudian menyeruput minuman hangat itu sambil menikmati aromanya yang khas. “Ya,” panggil Zavarel pelan setelah menoleh untuk melihat wajah manis di sebelahnya. “Kamu bilang mau ngomong sesuatu, mau ngomong apa?” Aya menceraikan bibirnya dari bibir gelas, balas menatap Zavarel lagi sembari tersenyum beberapa saat untuk mengulur waktu seraya menyusun kalimat di dalam kepalanya. Dia tengah berusaha mencari cara untuk dapat masuk melalui jalan tikus agar dapat membujuk Zavarel agar mau bercerita padanya. “Kamu gimana kabarnya?” “Hm?” Zavarel tampak bingung. Kabar bagaimana? Bukankah belakangan ini mereka rajin bertemu? “Maksud kamu? Aku baik-baik aja.” “Kadang, nggak semua tubuh yang baik, jiwanya juganya baik. Ada kalanya salah satu bakal rusak sementara, atau malah dua-duanya.” Aya meletakkan gelas bandrek yang ia pegang sedari tadi, menghela napas lagi dan menghembuskannya secara perlahan. “Kaya aku misalnya, jiwaku baik-baik aja, tapi tubuhku belum mau ikutan baik. Kadang waktu lagi semangat pengen belajar, aku harus nurut kalau tubuh udah minta istirahat. Tapi aku masih beruntung, kok, karena jiwa aku nggak lagi kenapa-napa. Nggak kayak dulu, hidup cuma dibawa ngerutuk, dibawa marah-marah, nggak ada bersyukurnya sama sekali. Dulu tuh, sebelum ada kamu sama Ethas, yang aku tau cuma rasa marah. Kenapa hidup segitu nggak adilnya buat aku. Nggak ada ibu, ayah, ngerasa dibuang dan nggak ada satupun yang sayang aku. Tapi waktu kamu, Ethas, dan mama kalian dateng kesini, aku tau seharusnya aku nggak boleh salahin apa-apa lagi.” Begitu saja, semuanya mengalir dengan mudahnya. Aya sendiri bahkan kaget ketika sadar bahwa ia dapat mengucapkan hal-hal demikian untuk membuka obrolan sensitif semacam ini bersama Zavarel. Rasanya, seperti membuka luka lama dan membiarkan lukanya kembali berdarah. Aya tidak mampu sebetulnya, membicarakan perihal orangtua kepada orang lain sekalipun itu adalah Zavarel. Namun sekarang, ia malah dengan gamblangnya mengakui luka yang pernah ia tahan hingga berdarah-darah bertahun lalu. “Kamu beruntung ada mama, ada abang, ada papa, yang bisa kamu andelin kapanpun kamu mau. Mereka bakalan siap jadi tameng buat kamu. Aku? Walaupun nggak punya hubungan kandung sama orang-orang yang sekarang satu atap sama aku, seenggaknya aku tau, kalau aku harus bareng mereka terus. Aku juga harus ngelindungin mereka karena yang mereka lakuin juga sebaliknya. Mama kamu, dengan status kandung, mustahil kalau dia nggak panik sama kondisi kamu tiap kali kamu mutusin nggak mau pulang ke rumah. Ethas, aku tau kalian pasti masih sering berantem. Tapi gimanapun juga kalian tuh saudara kandung, nggak mungkin banget bisa saling ngebenci.” Zavarel di posisinya terdiam begitu lama. Dia memproses cepat kemana arah pembicaraan gadis manis di sebelahnya dan menemukan jawaban singkatnya. Aya tentu tahu bahwa Zavarel cukup bermasalah dengan orang-orang di rumah. Sayang saja karena Zavarel memang tidak pernah menceritakannya kepada siapapun termasuk Aya. Bagi lelaki itu, lukanya memang sudah seharusnya ia yang menanggung tanpa ada campur tangan orang lain. “Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” Aya mengerjapkan matanya, lalu mengangguk kaku karena takut terhadap pertanyaan yang akan dilemparkan padanya. “Silahkan,” kata Aya perlahan. “Dulu, kenapa nolak waktu mama ada niatan mau ajak kamu ke rumah? Aku tau kamu langsung ngegeleng waktu mama ngusulin gimana kalau kita jadi keluarga aja.” Aya terpaku mendengar tanya Zavarel. Aya pikir anak lelaki itu tidak mengetahui perihal yang satu itu. Ketika kedua orangtua mereka bertanya apa Aya bersedia diangkat sebagai anak, gadis itu sontak menolak. Bukan karena tidak ingin menjadi bagian dari keluarga orang lain, namun Aya sadar kalau ia bisa saja menjadi beban di dalam keluarga tersebut. Aya tidak mau menjadi duri di dalam daging bagi orang lain. Aya menunjukkan senyum ringannya pada Zavarel, sesekali rasanya tidak apa untuk terbuka di depan lelaki baik ini. “Terus jadi beban di keluarga kamu? Enggak, Rel. Aku lebih nyaman di sini, bareng semua keluarga panti. Lagian, ini bukan soal dimana kamu tinggal, tapi ini tentang sama siapa kamu tinggal, siapa yang kamu sapa waktu pagi, siapa yang duduk bareng kamu waktu lagi makan malem, soal rasa nyaman, Rel. Sesederhana itu.” “Bukan karena Ethas?” tanya Zavarel memperjelas rasa penasarannya. “Kenapa Ethas?” tanya Aya balik dengan raut penasaran. “Kalau kita jadi keluarga, kamu nggak bisa ngejar Ethas lagi.” Waktu seakan berhenti. Aya sukses melihat wajah lesuh Zavarel yang jarang sekali ia dapati. Ada senyum masam di wajah lelaki itu, raut tidak percaya diri, dan gelagatnya yang tiba-tiba berubah. “Ya ampun, Rel, aku emang punya rasa sama abang kamu, tapi alasanku nggak terima tawaran keluarga kamu ya karena keluargaku di sini, Rel. Ethas nggak ada hubungannya.” Sakit, tentu saja. Mendengar ucapan Aya yang terlalu jujur perihal isi hatinya terhadap Ethas. Zavarel hanya mampu tersenyum berpura-pura baik pada akhirnya. Ini bukan kali pertama untu lelaki itu, dia seharusnya sudah biasa saja, namun rasanya sesak juga. Zavarel menganggukkan kepalanya, mengusap kedua paha dengan telapak tangannya yang kosong. Harapannya tidak boleh pupus, ia yakin bahwa suatu hari nanti perasaan Aya bisa saja berubah. “Baguslah kalau gitu,” kata Zavarel akhirnya. Lelaki itu berdiri, menatap Aya lekat untuk beberapa saat ke depan. Entah bagaimana caranya, ia bisa jatuh kepada sosok gadis di depannya. Rasanya menyedihkan saja, berharap pada hati seseorang yang tengah asik pula meneropong hati yang lain. “Kamu cuma mau ngomongin hal tadi?” Aya menekan kedua bibirnya dalam, tampaknya rencana gadis itu akan berujung gagal karena Zavarel sama sekali tidak mau membuka apapun perihal sisi yang tengah ia simpan. Alih-alih termakan pancingan Aya, malah gadis itu yang terpancing oleh pancingan Zavarel. Ini yang Aya maksud ketika ia berbicara dengan Bu Hanna pagi tadi. Zavarel yang kadang kala bisa ia gapai dan mereka bercanda layaknya teman baik, bertukar obrolan, menikmati waktu ketika belajar bersama seakan hari besok tidak lagi milik mereka berdua. Namun ketika dingin lelaki itu datang, Aya seperti tidak mengenal siapa Zavarel dan ia sendiripun memang tidak berniat mengenalnya lebih jauh. Aya tidak mau membuang waktu untuk mengurus sikap anak laki-laki yang menurutnya masih labil. Bukan hendak membandingkan Zavarel dan si sulung Ethas karena nyatanya mereka memang terlahir berbeda. Namun, bersama Ethas tidak akan ada lelahnya. Lelaki hangat yang mudah tertawa dan mampu memakan apa saja, selalu mampu membuat Aya merasa hangat dan nyaman di satu waktu. Sayang sekali, hubungan mereka sudah renggang sekali sekarang. “Udah malem, Rel, kamu pulang aja.” Aya ikut berdiri di hadapan Zavarel, tersenyum tipis berusaha mengalihkan nama Ethas di dalam kepalanya. Dia sadar seharusnya tidak boleh terlalu terbuka perihal perasaannya di depan Zavarel. Lelaki genius itu bisa saja terluka walaupun menurut Aya kemungkinannya sangat kecil. Di dalam kepala Aya, Zavarel adalah anak lelaki dingin yang tidak akan pernah mengenal kata sakit hati. Padahal jelas sekali, bahwa segala spekulasi gadis itu salah. Dia hanya tidak mengenal Zavarel sebab tatapannya sejak awal memang bukan untuk sosok dingin itu. “Aku cuma pengen bilang, jangan bikin mama kamu khawatir terus. Coba sesekali luangin waktu dan ngobrol sama mama, selagi kesempatannya masih ada, Rel. Kalau Tuhan kasih kesempatan itu buat aku, aku pasti maksimalin semuanya bareng orangtuaku. Tapi waktu nggak bisa diputar dan emang udah jalan yang mesti diterima aja, sih, kalau hidup di panti udah yang paling baik buat aku.” Zavarel diam saja, selalu menampilkan senyum seolah perkataan Aya akan segera ia laksanakan dengan mudahnya. Diusapnya rambut ke belakang, kemudian balik badan dan menapakkan kaki pada tanah, meninggalkan lantai keramik teras panti yang bersih. “Aku pulang dulu kalau gitu. Kamu besok masuk sekolah?” Aya mengangguk, “Iya.” “Mau aku jemput?” “Nggak usah, Rel,” balas Aya cepat dengan gelengan kepala. “Daripada kamu mesti muter jauh-jauh ke sini. Aku lagian nggak masalah sendiri, kok.” Anggukan Zavarel terbit, “Oke, deh,” ucapnya sambil mengangkat tangan dan melambaikannya ke arah Aya sesaat. “Aku pamit ya, Ya. Dah.” “Dah.” Aya membalas dengan suara kecil, raut wajahnya berubah tidak tergambarkan. Kalau saja suatu saat nanti Zavarel memutuskan untuk pergi, maka Aya berjanji tidak akan pernah menahan lelaki itu untuk berlalu. Hak Zavarel kalau sewaktu-waktu ia merasa lelah terhadap Aya, hak Zavarel untuk beranjak jauh dan melupakan segala hal tentang Aya dan jatuh pada hati yang baru. Dalam hati kecilnya, Aya hanya mampu mengucap maaf untuk Zavarel sebab tidak pernah bisa membalas perasaannya. > a l e t h a s
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD