Cinta Tidak Pernah Salah Memilih

1378 Words
Seribu pesan masuk dari puluhan orang. Dan yang menduduki posisi puncak terbanyak adalah pesan dari Tuan F, nama di kontaknya. Untung saja memori ponselnya masih lapang sehingga semua itu masih tertampung. Panggilan tak terjawab pun diangka ratusan kali, masih pada Tuan F si puncak dan posisi kedua ada Mimi. Saat ponsel itu aktif, begitu juga satu pesan suara masuk dari Tuan F. Belum sempat didengar. Panggilan masuk dari Mimi dan langsung dia jawab. "Assalamu'alaikum, Mi" "Sehat Lu, hampir gue gak sabar pengen ke sana tapi apalah daya, gue sibuk bantu catering acara adik gue. Eh iya, Waalaikumsalam, " "Kebiasaan doa dibalas akhir. Alhamdulillah sehat, besok udah bisa masuk kerja kok." "Ya udah besok gue jemput Lu, jangan bawa motor. Gue gak mau Lu jatuh, oke." Sinar tertawa, karena Mimi adalah sahabat yang paling baik yang seperti saudaranya sendiri. Sekar malah bukan seperti saudaranya karena perbedaan prinsip dan gaya hidup. Keduanya dipisahkan sejak dari sekolah. Sinar tamatan sekolah yang berlandaskan agama sedangkan Sekar tamatan sekolah negeri biasa. Perbedaan sekolah dan pertemanan membentuk karakter mereka yang bertolak belakang. Selesai menerima telepon Mimi, panggilan masuk dari Tuan F, tak mungkin ditolaknya. Sinar malah gugup karena belum mendapatkan alasan yang pantas untuk beralasan. "Assalamualaikum Mas Fachri, apa kabar. Bagaimana operasinya, lancar gak?" "Waalaikumsalam, Alhamdulillah lancar dek, tapi gak ada kamu, semangat jadi kendur." Jantung Sinar berdebar-debar jika mendengar suara merdu Fachri yang selalu menginginkan dirinya berada disisi pria itu. "Loh kenapa, harusnya semangat dong karena berhasil dan Mas gak boleh patah semangat lagi. Mulai sekarang harus memikirkan masa depan yang cerah." "Iya, aku semangat sih sekarang apalagi akan ada hal besar yang ingin aku ceritakan ke kamu demi masa depan yang cerah itu," balasnya. Antara takut dan senang. Sinar pikir mungkin saja pria idamannya itu akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Maklum saja, mereka memiliki status derajat sosial yang tinggi di masyarakat. "Eh, apa tu, boleh dong di share." Sinar terus menyimak cerita dari Fachri. Ada hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. Fachri ingin menjadikan si pendonor sum-sum menjadi istrinya. Fachri tahu orang itu tapi Fachri tak langsung mengatakan padanya secara langsung melainkan dengan kiasan yang membuatnya ketar-ketir tak karuan. "Siapa orang itu, kok kamu berbelit-belit sih." "Orangnya spesial bagi aku. Sudah lama juga aku mengagumi dia dan alhamdulillah Allah kasih dia jawaban buat aku miliki sepenuhnya." Sinar mengulum bibirnya ke dalam. Hanya dia yang selalu ada dimata Fachri. Pria itu bukan hanya membuatnya malu untuk menutup wajah tapi ingin berlarian sembari bergandengan tangan dengannya. "Beruntung banget ya perempuan itu mendapatkan kamu yang spesial." Spesial karena pria seperti dia sudah langka. Pria yang tidak mau berdekatan dan bergurau dengan wanita sembarangan. Pria yang mampu memalingkan pandangan dari wanita seksi. Dan pria yang sangat bertanggungjawab atas segala hal. "Dia yang spesial buat aku. Akan aku cintai dia secara ugal-ugalan sampai dia gak pernah mampu berpaling melihat sosok pria lain. Tunggu ya, tunggu aku sembuh dan masuk kerja. Agar kamu tahu siapa orangnya." Sinar tertawa sampai ujung matanya berair. Dia ingin sekali memaksa pria ini untuk terus terang menembaknya. Apa sih salahnya mengatakan kalau dia lah perempuan yang beruntung itu. Malam ini menjadi malam yang sangat bahagia bagi Sinar. Pria yang dia cintai akhirnya akan dia miliki untuk selamanya. Merasa tidak sia-sia berkorban apa pun untuknya. Jika jantung bisa seperti hati yang tumbuh lagi, dia pun ingin berbagi detak bersama dengan si pria. 'Cinta tidak pernah salah memilih, ketika rasa ini datang, aku selalu siap memberikan yang terbaik untukmu, meskipun aku harus merasakan sakit yang teramat sangat.' *** Pagi hari yang cerah, suara merdu Sinar berdendang keluar dari kamar. Wajahnya merona berseri-seri. Dia yang jarang berdandan tapi mulai melihatkan pesonanya. Merasa akan menjadi seorang istri dari Fachri, dia ingin semua orang tidak merendahkan dirinya. Lipstik warna peach membuat bibir tipis itu segar tak pucat seperti biasa. Sedikit tambahan blush on dipipi dan juga eye liner yang mempertajam tampilan mata. "Eh, anak mamah tumben berdandan, langka banget," tegur mamahnya sembari memeluknya. "Nai cantik gak Mah?" "Cantik dong, siapa yang berani bilang anak mamah gak cantik. Oh ya, si Fachri tahu gak kamu sakit. Kok gak jengukin. Dia sakit kamu jengukin malah ditungguin semaleman suntuk," protes Laila. Dia tahu bahwa anaknya jarang sakit dan malah menjadi relawan mengurus pria yang dianggapnya teman dekat. "Dia habis operasi besar, do'ain yang terbaik buat dia ya Mah, semoga dia sehat dan sembuh." "Amien yang kenceng. Mamah sih do'ain kalian berjodoh, hehehe" Bukan hanya dirinya, mamahnya pun telah berharap pasti jika pria itu akan menjadi menantunya. Sedekat itu Fachri dimata ibunya Sinar. Mereka memang tidak pernah berduaan di rumah tapi sering bersama di waktu yang pas, rumah sakit. Langganan bagi Sinar menjaga Fachri di rumah sakit. Bahkan mereka para orang tua sudah saling mengenal satu sama lain. Sekar menarik kursi dan tak menghiraukan obrolan pagi ini antara ibunya dan adiknya. Dia sibuk makan roti dan menyiapkan bekal siangnya. "Kamu gak pulang makan siang?" "Nggak, Kai mau jengukin teman yang lagi sakit. Dia butuh Kai," jawabnya. Jika Sinar dipanggil Nai maka Sekar dipanggil Kai. Kedua wanita di depannya ini tak berniat untuk tahu siapa teman yang dimaksud Kai. Sinar menuntaskan sarapannya saat klakson mobil Mimi sudah terdengar. Dia segera meminum air buru-buru. "Hati-hati nanti kamu keselek, " ucap Zainal, ayahnya yang baru keluar kamar memperingati. Sinar hanya menyengir. Bahagianya tidak ingin terusik. Sinar pelan-pelan berjalan menuju Zainal untuk pamit pergi kerja mencium tangannya kemudian mencium pipi ibunya dan memeluknya erat. "Bahagia banget kamu Nai, Hati-hati di jalan ya sayang." "Iya Mah, assalamu'alaikum." Selepas kepergian si adik, Laila duduk dan mulai menceramahi si kakak, Sekar. Ditatapnya wajah cantik Sekar yang dipoles make up lebih rapi dan segar daripada Sinar. Sekar memang lebih gaul daripada Sinar yang anak rumahan. Mantan pacar Sekar saja tak terhitung sudah berapa orang. "Seharusnya tahun ini kamu menikah dengan Anton. Jangan sampai saat Sinar minta restu menikah, eh kamu malah gak terima." Sekar menyeringai tipis, "Memangnya dia mau menikah dengan siapa Mah? Pacaran aja gak pernah. Anak mamah yang itu tu kolot. Dandan aja kayak anak SMP, gimana mau dilirik cowok. Dih, mau nikah. Adanya aku kali, berapa bulan ke depan, " ucapnya sembari tersenyum. "Dengan siapa?" Kompak, kedua orang tuanya dibuat bingung. Baru saja kemarin dia minta putus dengan pacarnya yang sudah menjalin kasih selama 3 tahun. Pria mana yang menjadi incaran anaknya ini dan tiba-tiba akan menikah. *** "Segar tu muka, pasti—" "Lu ember ya, pasti lu dipaksa si Tuan F kan agar jujur siapa yang donor buat dia, " tuding Sinar pada Mimi saat mobil mulai bergerak meninggalkan perkarangan rumah. Sontak saja Mimi pasang wajah kaget. "Gue gak ikut jengukin dia karena emang gak mau ditanyain sama dia. Lu tahu 'kan tatapan mata dia itu setajam belati kalau minta keterangan. Ketahuan kalau gue bohong. Kalau sama lu kan dia pasti percaya aja meskipun lu bohongin dia melulu." Alis Sinar bertaut, jika bukan dari Mimi, apakah dokter yang menangani dia berkata jujur. Sinar menepuk jidatnya, mungkin saja. Karena sumpah dokter adalah melayani pasien. "Kenapa Lu, tadi senang banget sekarang malah kayak galau." "Dia mau ngelamar orang yang donor buat dia dan katanya dia tahu itu siapa. Coba lu cerna kata-kata dia yang bilang kalau—" Sinar menceritakan semua yang Fachri katakan padanya untuk meminta pendapat Mimi. Dia takut menyalah artikan perasaan. Mungkinkah dia terlalu percaya diri bahwa akan dilamar oleh Fachri atau— "Mungkin, bisa jadi ... tapi masalahnya, mungkin gak sih kalau Sekar yang memberitahu dia. Lu bilang Sekar sering nyindir Lu yang mau temenan sama orang sakit." Kening Sinar berkerut, menatap tajam Mimi. Yang ditatap pun menghela napas panjang. Dia tahu dia salah tapi dia juga tidak bisa diam saja. Risiko yang diterima oleh Sinar bukan main-main untuk masa depannya. Dan salah satu keluarga harus tahu tindakan medis besar yang pernah dia lakukan sepanjang sejarah hidupnya. "Sorry, kemarin dia maksa dan terpaksa gue cerita udah gue ancam itu." "Ya Allah Mi, Lu kan tahu mulut Sekar itu ketus. Dia gak suka setiap gue bantu si Fachri loh. Bisa jadi dia nelepon Fachri dan mengancamnya. Mungkin gak sih, kau apa yang mau Fachri lakukan ini hanya tanda Terima kasih. Kalau emang gak ada cinta di hati dia buat aku, aku gak mau dilamar dia!" tegas Sinar. Dia menolong tanpa pamrih. Dia akan membahas ini jika Fachri sudah sembuh nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD