Apa Aku Salah?

1097 Words
Satu bulan berlalu begitu saja. Kegiatan Sinar begitu padat, sulit mencari salah kosong untuk bersantai. Dia menjadi dosen pembimbing untuk para mahasiswa semester akhir dan juga mengikuti kegiatan di luar kampus sebagai pembicara. Pembinaan untuk mahasiswa baru. Dia juga yang menggantikan tugas Fachri sementara. Sehingga komunikasi mereka tidak sedekat dulu. Mereka sudah jarang saling menelepo hanya untuk sekedar mengingatkan minum obat atau makan karena Sinar jarang sekali memegang ponsel. Dia akan menjawab telepon jika sekiranya itu penting. Fachri kadang menelepon untuk bertanya apa-apa saja yang dia suka. Hal itu semakin membuat dirinya semakin yakin bahwa Fachri akan melamarnya. Tumpukan berkas dijepit binder clips hitam semakin tinggi menutupi wajahnya yang mungil. Dengan iseng Mimi datang mengagetkannya dengan menarik berapa bundel hingga wajah kecil itu nampak sedang menunduk. "Apa sih Mi!" katanya tanpa melihat karena aroma parfum Mimi sudah hafal di indera penciumannya. "Siang ini lu free gak? Anak-anak jangan Lu suruh datang siang buat perbaikan. Sore aja pas Lu mau balik.jadi gak lama." "Mau apa?" "Ngajak makan siang bareng di resto yang baru buka itu. Gue dapat voucher paket gratis yang lumayan irit budget," ucap Mimi membujuknya sembari menggoyangkan ponselnya. Sinar menghela napas melihat tumpukan yang di sebelahnya juga tak kalah tinggi. Itu meja Fachri yang tugasnya dilimpahkan ke dia sementara. "Jangan Lu lihat, nanti mual sendiri. Kelas malam hari ini gak ada kan Lu." "Nggak ada, bising gue, HP gak bisa diam. Capek ngecas tapi satu pun pesan mereka gak ada yang gue balas. Baterai habis karena notif," keluh Sinar. Dari lingkar matanya yang hitam saja sudah kelihatan kalau dia terlalu lelah. "Ya buruan kabur sebelum mereka kemari" desak Mimi. Dia menarik paksa bundelan yang sedang diperiksa Sinar dan kembali meletakkannya ke atas tumpukan lain. Hal ini sontak membuat Sinar berdecak kesal. "Jangan di situ Mi, itu belum dikoreksi entar gue lupa," Omelnya dan menarik kembali bundelan itu, merunduk meletakkan bundelan kertas itu ke bawah. Sudut matanya tak sengaja melirik ke arah pintu. Sepasang kaki pria dewasa yang mengenakan sepatu pentofel berwarna khaki masuk ke dalam ruangan. Sebelum mengangkat kepala, dia mengulum senyum, setelah itu suara pria ini terdengar jelas di telinganya secara langsung bukan lewat ponsel. "Selamat pagi menjelang siang, ibu-ibu, " "Eh, Tuan F yang ganteng udah masuk. Selamat bergabung kembali," ucap Mimi seraya menyambut kedatangannya sembari berjabat tangan. Sinar ikut berdiri dan terpanah sejenak melihat perubahan yang terjadi pada pria idamannya ini. Kulit putihnya yang biasanya pucat kini telah bersemu merah karena cuaca yang hangat. Wajahnya bersih dan bercahaya. Tubuhnya yang tinggi kurus menjadi lebih berisi dan berotot di bagian lengannya yang menonjol. Baru satu bulan tidak bertemu, perubahannya sangat dahsyat dan sangat menggoda untuk menjadi suami idaman yang kuat. "Mau ikut bareng gak sama kami?" kata Mimi menawarkan. "Saya ada urusan sama Sinar, memang kalian mau ke mana?" jawab Fachri dengan nada soft spoken yang selalu membuat lawan bicaranya tidak fokus jika sambil menatapnya. "Makan siang. Jangan suruh saya sendirian makan ya. Pak Fachri kalau mau perlu sama Nai nanti aja tunggu kami selesai makan," jelas Mimi memohon padanya dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap penuh iba pada Fachri yang menghela napas pelan. Pria setinggi 190 cm ini, kerap kali membuat insecure orang lain. Tingginya yang kelewatan, bukan standar pria Indonesia, hingga para wanita dan pria harus mendongakkan kepala jika berhadapan dengan dia. Secara, dia masih memiliki keturunan gen Asia Timur dari nenek buyutnya. "Ya sudah ayo kita makan bertiga saya yang traktir. Nai di mobil saya ya, kamu sendirian aja, Mi." "Ckk, gitu tu yang—" Mata Sinar melotot memperingati Mimi untuk tidak membahas tentang calon istri atau apa pun. Untungnya Fachri tak memperdulikan, dia jalan lebih dulu tak mendengar perdebatan mereka. Para wanita berjalan di belakangnya. Sampai di parkiran, Mimi dan Sinar berpisah. Mimi masuk ke dalam mobilnya dan Sinar masuk ke dalam mobil Fachri tanpa canggung karena sudah terbiasa. Mobil Rolls-Royce yang gahar dikendarai oleh Fachri dengan kecepatan sedang. Mengikuti mobil Agya merah di depannya, milik Mimi. "Lama gak ketemu kamu, rasanya kangen banget," ucapnya sembari melirik Sinar yang tersipu malu. Jika dulu hal ini dianggap biasa olehnya karena status persahabatan. Namun sekarang status akan naik setingkat menjadi calon istri. Entah kenapa, seakan mengikuti perkembangan hormon bahagia, tubuhnya merespon dengan sensitif. Ada getar yang tak biasa untuk diredam. Lebih tepatnya grogi. Membayangkan akan sedekat apa mereka nanti. Hanya sekedar merangkul dan pegangan tangan untuk menguatkan, sudah biasa. Tapi, jika menjurus pada hal dewasa, ini yang bisa membuat panas dingin tubuh Sinar. Pria setampan ini akan dia miliki lewat jalur pendonor. "Aku pikir, aku saja. Mas Fachri sudah cukup waktu pemulihannya dan setelah itu aku, aku mau cuti," kata Sinar dengan senyuman. Dia hanya iseng bergurau namun Fachri menanggapinya serius. "Eh jangan, sayang cuti sekarang. Pokoknya aku gak mau kamu cuti sebelum acara kita dimulai," jawabannya yang mengandung decak tanya dalam benak Sinar. "Emangnya acara apa sih?" tuntut Sinar tapi dia hanya tersenyum kecil. Dia ingin Fachri jujur padanya dan tidak menutupi lagi apa yang akan terjadi nanti. "Nanti habis makan kita diskusi ya. Karena segala sesuatunya harus pihak wanita yang setuju 'kan. Aku gak mau egois meskipun donaturnya keluargaku dan aku," katanya. Senyum tipis kembali terukir diwajah manis Sinar. Hatinya terasa hangat. Mendapatkan pria seperti Fachri adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki sepanjang nafasnya, hingga detik ini. "Selama di rumah perawatan terus dong, muka jadi tambah segar, tubuh jadi macho. " "Iya dong, aku harus tampil memukau di depan calon istri, ya nggak, " katanya sembari menjungkitkan alis ke atas. "Ya, biar istrimu nanti hanya kagum dengan kamu saja, iya?" "Iya dong, eh jadi kepikiran bulan madu. Menurut kamu enaknya bulan madu ke mana? Bali atau luar negeri? " Cerita tentang masa depan yang indah memang bisa bikin baper. Harapan dan khayalan Sinar sudah membumbung tinggi. Tempat romantis yang akan dia jadikan untuk berbulan madu menurut Sinar adalah tempat yang dingin, sejuk. Cuaca seperti itu bisa membuat mereka menghangatkan satu sama lain. "Kayaknya musim salju adalah waktu yang tepat buat—" "Bikin anak, setuju banget, fix aku akan cari negara dengan cuaca dingin yang sedang tidak ekstrem. Aku pengen langsung cepat dapat anak, mengingat usia udah gak muda lagi," sambung Fachri dengan semangat. Wajahnya pun tersipu malu. Berapa kali dia harus tersenyum sembari memegang stir. Menatap ke arah jalan dan sesekali melirik Sinar. Ada hal aneh yang Sinar tangkap dari senyuman dan tatapan mata pria ini. Dia berbicara pada dirinya untuk merencanakan masa depan bersama. Harusnya Fachri menatapnya sering bukan malah menatap jalan sembari tersenyum. Seperti ada sesuatu yang dia pikirkan sendiri. 'Apa aku yang salah menilai, dia meminta saran untuk kami atau untuknya dan wanita lain?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD