Galau, itu yang dirasakan oleh Sinar. Langkah kakinya pelan berjalan beriring dengan Mimi. Dia meninggalkan Fachri di belakangnya. Sampai di meja, dua gadis ini sibuk melihat menu. Sinar melirik sekilas Fachri yang sibuk dengan ponselnya.
Ada rasa tidak nyaman yang hadir kembali di otaknya. 'Dia gak pernah peduli dengan HP kalau kami sedang bersama. Sibuknya dia hanya soal pekerjaan. Tapi dia belum kerja sama sekali. '
Terlalu berisik otak Sinar menelaah kelakuan teman dekatnya ini. Entah kenapa tidak enak untuk dilihat. Sirine dalam otaknya mengeluarkan tanda bahaya, 'CEMBURU'.
Sinar menggeleng, itu tidak boleh karena teman tidak boleh cemburu. Meskipun kemungkinan untuk dilamar tapi belum pasti, Sinar tidak boleh egois.
"Enak nih kayaknya Nai, lu pesan ini, gue pesan ini ya, nanti kita saling icip." kata Mimi mengurai pemikiran negatif yang bertumpu di pusat otaknya.
"Oke, tulis aja, Mas kamu—"
Ibarat menyetir di jalan yang licin, seketika itu pedal rem ditekan hingga ke dalam saat satu tangan menghentikan kecepatan dirinya. Sinar menjeda ucapannya dan mengulum bibir ke dalam saat Fachri mencegahnya untuk bicara lewat bahasa tubuh. Telinganya dipaksa untuk mendengar dan menelaah jelas intonasi dan penyebutan kata menjadi makna yang sangat spesial.
"Halo, Mas lagi di luar, makan dengan teman. Nanti saja kita ngobrol ya, kamu hati-hati kerjanya, sekarang lagi jam istirahat juga 'kan. Nanti mau dijemput pulang. Ya sudah, sampai ketemu nanti."
Sepak terjang kaki Mimi begitu keras menyentuh tulang kakinya. Kesal, karena dari tadi dia melirik, Sinar hanya fokus menatap menu. Kepalan tangan Mimi di atas meja sebagai petanda bahwa wanita itu mendeteksi hal yang sama dengannya.
Sinar tersenyum tegas dan mendorong menu ke arah Fachri. Dia tak lagi ingin memilhkan makanan yang mungkin sesuai selera pria ini. Sementara Mimi hanya di liriknya sekilas. Raut wajah Mimi menatap geram Fachri yang sedang merunduk melihat menu. Tetiba bibir tipis Mimi menyemburkan pernyataan sinis,
"Pak Fachri, kerjaan Sinar banyak loh. anak buah Pak Fachri larinya ke dia semua. Tuh mata udah kayak panda, kalau foto sama panda mungkin dikira serumpun. Pak Fachri kayaknya lagi senang nih, boleh dong ambil kerjaan Nai."
Mata Sinar melirik kesal padanya yang pasang tampang tak berdosa menuntut pria tampan ini. Bukan hanya Sinar yang merasakan sesuatu terjadi pada Fachri tapi juga orang lain. Sinar berharap, jangan di sini, di tempat umum, di depan Mimi, jika memang ada sesuatu yang spesial dihati Fachri. Hal itu pasti berat untuk dia terima.
"Eh kamu, tahu saja saya lagi senang. Iya nanti kerjaan Nai saya ambil alih tapi katanya pengangkatan jadi Dekkan minggu depan. Kita akan cari dosen baru untuk gantikan saya. Sabar ya Nai, nanti saya bantu kok," jawabnya menatap Nai dengan tatapan tulus seperti biasa.
Sinar tersenyum mengangguk, meskipun otak dan degup jantungnya tidak harmonis. Otaknya memikirkan ada sesuatu yang mungkin membuat dia mundur berharap tapi detak jantungnya masih merasakan kehangatan dari tatapan itu.
Makan siang bertiga, sedikit ada kecanggungan terutama pada Sinar. Dia manusia yang selalu ingin kepastian dengan segera. Penasaran tentang sikap Fachri yang berbeda dari biasanya. Sambil makan pun Fachri terus mengetik pesan di ponsel. Seperti anak muda yang sedang kasmaran.
Sudah selesai makan, Fachri berdiri dan akan membayar tagihan. Sinar dan Mimi keluar lebih dulu dari cafe. Mimi tanpa basa-basi langsung memberi peringatan pada Sinar. "Gue hanya bisa bilang kalau kemungkinan Lu zonk. Tapi gue yakin Elu gak akan pernah dia lepas karena demi kelangsungan hidup dia yang panjang. Cukup sekali, Lu selamatkan dia. Jangan pernah lagi jadi dermawan!"
Mimi pamitan pergi duluan saat Fachri menghampiri mereka. Sinar dan Fachri kembali ke mobil. Perkataan Mimi tadi mempengaruhi mood Sinar.
"Kita mau ke mana?" tanya Sinar ketus, saat mobil telah meninggalkan lokasi parkir.
"Ke pantai bentar yuk, pulang mungkin sedikit macet gak apalah ya. Soalnya ini penting," kata Fachri. Sinar tak ada semangat untuk membantah atau bertanya lagi,sepenting apa dan apa.
Sinar lebih banyak diam, dia menyiapkan hatinya untuk sesuatu yang mungkin tidak sejalan dengan harapannya. Bukannya dia menolong tanpa pamrih. Dan dia tidak perlu mendapatkan imbalan yang wah.
"Kamu banyak diam ya sekarang, kita seperti canggung karena sudah jarang komunikasi," kata Fachri memecah kesunyian diantara mereka. Perjalanan menuju pantai lumayan lama karena terjebak macet di beberapa titik.
"Iya pikiran lagi gak sinkron karena capek, maaf," balas Sinar.sekenanya.
"Iya gak apa, aku paham kok. Kalau aku jadi Dekkan nanti, kamu bakal aku kasih spesial deh. Gak boleh capek-capek lagi. Nanti aku juga yang repot."
"Eh, kok repot," sela Sinar cepat, bak ikan yang lapar menyambar umpan.
"Ya iyalah, aku takut mamah kamu marah sama aku. Gak dianggap menantunya nanti."
Sinyal terang mulai muncul, Sinar tersenyum begitu juga Fachri yang tak canggung lagi. Mereka kembali mengobrol. Tentang hal random kebiasaannya di rumah dan akan jadi apa jika mereka serumah.
Sampai di pantai, angin segar menyapu wajah Sinar yang ceria. Bibirnya merekah lebar tertawa lepas dengan candaan Fachri yang seperti biasa. Harapan dan khayalan yang manis muncul dibenaknya, jika mereka serumah nanti. Mungkin akan sering bertengkar dengan banyaknya aturan yang bertentangan.
"Di sini aja ya kita duduk, sambil lihat senja, bagus kayaknya senja sore ini," kata Fachri merebahkan tubuhnya di atas kursi.
"Iya aku mau abadikan momen juga, bolehkan? " balas Sinar meminta izin pada Fachri. Selama ini mereka tidak pernah foto bersama meskipun dekat, dengan alasan Fachri gak mau jadi kenangan yang menyakitkan kalau dia dipanggil Allah lebih dulu.
Bagi Sinar ini adalah momen spesial, kemungkinan Fachri akan melamarnya di depan pantai sembari melihat senja. Tetiba Fachri mengeluarkan kotak beludru kecil dari dalam kantong celananya.
Kotak berwarna merah yang sudah pasti isinya adalah cincin. Sinar tersipu malu, dia tersenyum sembari menekan video pada layar ponselnya untuk merekam setiap perkataan Fachri.
"Ini, aku beli sesuai dengan ukuran kamu dan mudah-mudahan pas."
Sinar mengangguk, menahan hati bahagia dengan mengulum bibirnya ke dalam. Fachri membuka kotak itu dan melihatkan cincin putih bertakhta berlian yang berkilau.
"Kamu adalah penyelamat aku, kamu adalah malaikat yang diutus Allah untuk kebahagiaan aku. Dari dulu aku sangat mengagumimu, tapi aku ragu untuk memintamu menjadi milikku saat itu. Tapi hari ini, berkat kebaikan dan ketulusanmu, aku yakin bisa membahagiakanmu, terimalah cintaku—"
Air mata kebahagiaan Sinar sudah siap terjun bebas menunggu namanya disebut oleh Fachri, namun seketika tertahan saat Fachri mengatakan, "Sekar Bintari Binti Zainal maukah kau menikah denganku?"
"Sekar?" ulang Sinar dengan mulut menganga.
"Iya Sekar, dia menelepon aku dan berkata bahwa dia yang mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk aku. Dia yang merawat aku juga pasca operasi kemarin sampai aku pulih. Mungkin kamu yang nyuruh ya, makanya kamu gak mau ganggu kami dan gak pernah jenguk aku. Aku gak nyangka dia yang aku taksir sejak dulu adalah malaikat buatku."
Air mata Sinar terjun bebas begitu saja. Tubuh ringkihnya seketika dipeluk sekilas oleh Fachri. Tidak lama, hanya sekian detik. "Makasih ya Nai, aku gugup mau nembak dia jadi kamu perantara dulu. Maaf, terlalu mendramatisir keadaan. Kamu tahu, kalau aku gak pernah menghadapi seorang perempuan apalagi menyatakan cinta. Makasih, udah jadi penawar dalam hidup aku."
Air matanya pun cepat dia hapus dan tak berani menatap lawan bicaranya ini yang sedang mengungkapkan betapa bahagianya mendapatkan seseorang yang diinginkan sejak lama.
Jantung Sinar seperti ditikam belati yang tajam menancap seketika. Bukan hanya karena pengkhianatan Sekar tapi karena pria yang dia cinta, telah mengagumi kembarannya sejak dulu.
Bukan Sekar yang telah berkorban banyak untuknya, tapi dia, Sinar! Bukan sebulan tapi sejak bertahun-tahun yang lalu. Berapa liter darahnya yang masuk ke dalam pria ini, tapi tak menjadikannya soulmate seumur hidup.
"Kita akan jadi saudara yang klop. Mamah senang akhirnya kita bisa lebih dari sekedar teman. Eh, kamu nangis Nai, kenapa?"
"Aku terharu, aku bahagia, akhirnya kamu akan menikah. Selamat ya Mas, telah mendapatkan pujaan hati. Siapa pun itu, dia sangat beruntung. Sekali lagi Selamat. " ucapnya terbata bersama isak tangis yang begitu pedih diiringi senyuman manisnya yang menutupi kesakitan batinnya yang meronta.
Sakit, pedih yang mengiris hati. Sinar menggengam erat tangannya untuk tidak berteriak. 'Itu aku yang berkorban, aku!'