BERTANI BERSAMA

1005 Words
"Pak ini minuman nya," Tawar Andine lalu meletakkan minuman di atas meja. "Benar Andine kamu mau ngajarin Miksel mengaji?" tanya bapak. "Iya, pak! tapi Andine juga bingung soal nya, siang ini akan ada jadwal buat mengajar anak-anak," ucap Andine. "Loh kenapa bingung? kamu bisa pergi ajarin mereka seperti biasanya," ucap bapak "Tapi bapak dan Miksel kan kerja di sawah, bagaimana mungkin? ujar Andine. "kita akan kembali setelah matahari semakin terik," jawab bapak. "Hmm.. Andine boleh ikut gak ke sawah?" pinta Andine malu-malu. "Loh kenapa meski di tanya? selama ini kan Andine terkadang bantuin bapak di sawah kalau tidak ada kegiatan," ucap bapak heran. "Yaudah kalau gitu Andine pamit sama ibuk dulu ya pak," jawab Andine yang masuk kedalam rumah. "Ibuk, Andine ikut sama bapak ya ke sawah?" pamit Andine. "Memang nya kamu tidak ada pengajian hari ini?" tanya ibuk. "Andine akan pulang lebih awal buk, kebetulan udah lama juga gak bantu-bantu bapak di sawah." "Ayo pak! Andine udah pamit sama ibuk," ucap Andine yang berdiri di depan pintu. Bapak pun segera bangkit dari tempat duduknya dan di susul pula dengan Miksel. mereka pun bergegas hendak berangkat menuju sawah. "Pak, tunggu dulu!" panggil ibuk yang berlari dari dalam rumah menuju pintu. "Ada apa buk? sampai lari-lari seperti itu?" tanya bapak. "Ini loh pak, ada sedikit cemilan buat makan nanti saat di sawah," jawab İbuk yang memberikan makanan di dalam rantang pada Andine. "Owalah ibuk, rajin sekali," puji bapak. Ibuk yang mendengarnya hanya tersenyum tersipu malu. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sawah, sesekali Miksel melirik ke arah Andine yang berjalan di samping bapak nya. "Nah, untuk hari ini, kamu akan belajar sama Andine bagaimana cara nya menanam padi," ucap Bapak pada Miksel. Bapak pun mulai berkeliling melihat-lihat padi. "Ayo kita mulai!" ajak Andine. Miksel yang hanya mengangguk mengikuti langkah Andine untuk memperhatikan nya cara menanam padi, Andine menerangkan pada Miksel bagaimana cara nya menanam padi. "Andine aku tebak, kamu pasti punya paras wajah yang indah," puji Miksel dengan senyuman. "Jangan katakan itu pada ku! hey lihat di sana masih ada tanah kosong, kita kesana untuk menanam padi di sana," ucap Andine berjalan ke tanah kosong tersebut. Miksel hanya mengikuti langkah Andine dari belakang, mereka pun mulai menanam satu persatu bibit padi di tanah kosong tersebut. "Wah kamu cepat juga ya menguasai cara menanam padi," ucap Bapak yang datang tiba-tiba menghampiri mereka. "Ini guru nya dengan sabar mengajari saya dari awal,pak!" ucap Miksel melirik Andine. Andine yang mendengar pujian tersebut, merasa malu-malu. "Sudah-sudah henti kan dulu pekerjaan untuk hari ini, kita makan cemilan yang dibawa kan ibu dulu, setelah itu kita kembali pulang," ajak bapak. "Pak Andine langsung pulang aja ya? soal nya Andine takut anak-anak udah nungguin," pinta Andine. "Saya juga ya pak? soal nya kan mau belajar ngaji sama Andine," pamit Miksel. "Masa bapak sendiri yang ngabisin cemilan dari ibuk, yasudah kalau begitu kita pulang aja kerumah," ucap bapak tertawa. Mereka pun kembali pulang, begitu pula dengan Miksel berpisah di persimpangan jalan dengan Andine dan bapak, kerena mempunyai arah rumah yang berbeda. "Mau kemana kamu? Rapi banget, kamu ada kencan ya?" tanya Arman. "Engak kok, aku cuma mau belajar ngaji," jawab Miksel. "Alhamdulillah, akhirnya sahabat ku dapat hidayah," ucap Arman sambari memukul pundak Arman. "Iya Alhamdulillah, dengan berjalan nya waktu aku semakin sadar, hidup hanya sementara, dan aku juga semakin bisa membedakan mana yang benar dan salah." ucap Miksel tersenyum. "Tapi kamu mau belajar ngaji sama siapa? kok aku baru tau kamu belajar ngaji mendadak?" tanya Arman penasaran. "Sama Andine," jawab Miksel dengan polos. "Apa? kenapa sama Andine?" jawab Arman terkejut. "Memang nya kenapa? apa salahnya?" jawab Arman mengerutkan keningnya. "Aneh aja! kenapa mendadak seperti in?" jawab Arman merasa mulai cemburu dengan kedekatan Miksel dan Andine. "Apa yang aneh si,Man? aku niat nya baik, dan Andine juga ikhlas buat ngajarin aku," jawab Miksel. "Kenapa harus belajar sama dia? sebelumnya kamu tidak pernah meminta pada ku untuk mengajari mu?" tanya Arman mulai cemburu. "Kamu kenapa sih? tenang aja! aku gak bakal merebut Andine dari kamu," ucap Miksel, meski pun dia tak yakin dengan hati nya. "Yaudah ah, aku pergi dulu ya, takut nya telat," pamit Miksel. "Tumben kamu ngomong pake Aku, biasanya pake gue?" tanya Arman. "Bawel banget sih kamu,Man?, udah ah aku pergi dulu, dosa Lo mencegah orang untuk menuju kebaikan," ucap Miksel sembari mengedipkan sebelah matanya. Arman terdiam mendengar Miksel akan belajar mengaji dengan Andine, "Ada apa dengan ku? kenapa aku jadi berburuk sangka pada Miksel? seharusnya aku bahagia melihatnya sudah banyak berubah saat berada di kampung ini," Gumam Arman dalam hati. Andine yang terlebih dahulu sampai di pondok, tak juga melihat Miksel datang ke pondok, sudah lama dia menunggu, saat Andine sampai di pondok. Tak berapa lama setelah menunggu, Andine melihat Miksel berjalan menuju ke arah pondok. Hati Andine lega melihat Miksel datang, sebuah senyuman terpancar dari bibirnya. "Assalamualaikum," Sapa Andine. "Waalaikumsalam, maaf ya aku agak telat datang nya, tadi berdebat sedikit dengan Arman?" terang Miksel. "Berdebat kenapa? kalian berantem?" ucap Andine khawatir. "Tidak, bukan perkelahian seperti yang kamu maksud, hanya saja Arman sedikit terkejut dan tidak percaya, jika aku sedang belajar mengaji dengan mu," terang Miksel. Andine tertawa mendengar penjelasan Miksel "Memang nya kamu dulu sejahat apa sih?" tanya Andine penasaran. "Jangan di bahas ya! aku malu menceritakan nya, lagian itu udah masa lalu kok, Miksel yang sekarang ingin berubah menjadi lebih baik lagi," ucap Miksel tersenyum. "Alhamdulillah, kalau kamu punya niat seperti itu, aku sangat bahagia untuk mendengar nya, semoga kamu benar-benar ingin berubah, agar kita menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi kedepannya." ucap Andine. "Iya insyaallah Andine, aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, bimbing aku ya?" ucap Miksel penuh harap. Andine yang mendengar permintaan Miksel membuat hati nya semakin berdebar, dia merasa takjub dengan perubahan Miksel yang begitu cepat. "Kak Andine, apakah teman baru kita belum datang juga?" ucap seorang anak yang berdiri di depan pintu pondok. "Iya kak Andine akan segera datang," ucap Andine dan mengajak Miksel masuk kedalam pondok. Bersambung ... happy reading ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD