15. Soft and Warm (5)

1397 Words
Chapter 15 : Soft and Warm (5) ****** “AKU tak tahu.” Kanna mengedikkan bahu. “Akan tetapi, karena kejadian malam itu, aku jadi membelikannya sebuah ponsel agar aku bisa menghubunginya kalau aku pulang telat.” Naomi dan Yuki terperanjat. Mereka langsung menganga. “Apaaaaaa?!!!!” teriak Yuki. Naomi menggeleng tak percaya. “Wah, Kanna. Apakah kau serius?! Aku tahu bahwa kau terpincut padanya, tetapi kalau kau bersikap seperti itu kepada seseorang yang baru kau temui, kau akan mudah dibohongi. Kau begitu mudah percaya dan mudah menyerahkan harta bendamu begitu saja. Aku tahu ini terdengar sedikit kasar, tetapi sebagai teman, aku ingin memperingatimu.” Kanna tersenyum. Dia menghela napas. “Tidak apa-apa, Naomi. Aku sendiri sadar itu kok. Aku juga…kurang mengerti…mengapa aku bertidak seperti ini. Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin mengurusinya, melindunginya.” Naomi menghela napas. Dia menatap Kanna dengan penuh pengertian. “Aku mengerti perasaanmu. Kalau kau tak punya empati yang besar, sejak awal kau takkan menghampirinya di taman itu. Namun, tetap saja, kau harus berhati-hati pada setiap orang. Jangan terlalu cepat percaya. Syukur-syukur kalau pemuda ini tidak berniat jahat padamu—dan kuharap begitu—tetapi bagaimana kalau dia adalah orang jahat? Kau tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke duniamu segampang itu, oke?” Yuki mengangguk. Dia mengusap bahu Kanna. “Iya, Naomi benar. Kami takut sesuatu terjadi padamu jika kau tidak berhati-hati. Tidak semua orang memiliki pikiran yang baik, Kanna.” Kanna menunduk. Iya. Itu benar. Selama ini, dia merasa aneh karena dia terlampau…‘invest’ pada Riley, tetapi dia selalu menepis pikiran itu karena rasa simpatinya kepada Riley. Entah bagaimana, dia percaya bahwa Riley takkan jahat padanya. …padahal dia baru mengenal Riley. Well, manusia-manusia yang memiliki ethereal beauty selalu memiliki daya tariknya sendiri; mereka membuat orang-orang ragu untuk mempertanyakan apa pun. Jika seseorang tampak seperti keluar dari sebuah lukisan, secara naluriah kau ingin percaya bahwa orang itu tidak berbahaya. Jadi, ketika Riley berdiri di sana dengan sinar terangnya, mata mint-nya, dan suaranya yang lembut…otakmu akan otomatis berkata, “Orang seindah itu tak mungkin melakukan sesuatu yang buruk.” Kanna pun mengangguk perlahan. “Hm,” dehamnya. Dia kembali menatap kedua temannya. “Terima kasih, ya.” Naomi dan Yuki memberikan Kanna tatapan teduh. Mereka mengangguk. Naomi mengusap punggung tangan Kanna. “Beritahu kami kalau kau perlu bantuan, oke?” ujar Yuki. Kanna pun tersenyum seraya menghela napasnya. “Iya.” “Okeeee!” teriak Yuki tiba-tiba. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. “Ayo kita makan siaaanggg! Perutku sudah lapar sekali, nih!” Ujung-ujungnya, Kanna dan Naomi jadi tertawa. Mereka bangkit, mengambil makan siang mereka—yang tertata di ujung sana seperti prasmanan—lalu kembali ke meja itu. Mereka makan di sana sambil mengobrol santai…hingga jam istirahat berakhir. ****** Kanna baru saja keluar dari lift bersama Naomi dan Yuki. Ini sudah jam lima sore, jadi Kanna dan teman-temannya sudah pulang kerja. Mereka berencana untuk keluar kantor bersama-sama. Saat baru berjalan di lobi, tiba-tiba ponsel Kanna berbunyi. Ada sebuah chat yang masuk. Kanna langsung mengambil ponsel itu dari saku jasnya dan tersenyum tatkala melihat siapa pengirim chat itu. Itu Riley, tentu saja. Riley🐻‍❄️ Kanna, apakah kau sudah pulang? Kanna Inori Sudah, Riley ☺️ Riley🐻‍❄️ Ah, benarkah? Aku sudah di depan tempat kerjamu ^_^ Mata Kanna melebar. Riley sudah ada di depan? Kanna Inori Oh ya? Riley🐻‍❄️ Yup! See you soon, Kanna ☺️ Kanna tersenyum semringah. Dia pun menyimpan kembali ponsel itu ke saku jasnya, lalu berjalan ke pintu utama gedung bersama Naomi dan Yuki. Naomi dan Yuki sedang mengobrol soal kencan buta yang telah mereka rencanakan. Ketika sudah benar-benar berada di luar—sedang berjalan melewati halaman gedung, ingin menuju ke area parkir—mereka bertiga tiba-tiba mendengar sebuah suara. “Kanna!!” Kanna, Naomi, dan Yuki kontan melihat ke asal suara. Ke dekat gerbang. Mereka bertiga berhenti berjalan. Ketiganya langsung melebarkan mata, terutama Naomi dan Yuki. Yuki sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Di sana, terlihatlah seorang pemuda berambut putih yang sedang melambaikan tangan. Kulit pemuda itu putih glowing, seperti titisan bidadara dari surga. Wajahnya sangat tampan, terlihat begitu bersahabat…dan penampilannya menyilaukan. Pemuda itu memakai kaus turtleneck hitam yang dilapisi dengan hooded jacket berwarna abu-abu. Jaket itu tidak di-zipper, jadi kaus turtleneck-nya terlihat. Dia juga memakai jogger pants berwarna abu-abu (senada dengan jaketnya) serta sepatu olahraga berwarna putih. Gila. Itu penampilan santai, sporty, tetapi…bisa mematikan. Efektif sekali untuk membuat para perempuan menahan napas. Bagaimana, sih, cara menjelaskannya? Kalau kau masih sekolah, ini seperti melihat cowok-cowok populer yang ganteng dan kerennya minta ampun. Rasanya, di belakang cowok itu ada background imajiner berupa kelopak bunga yang beterbangan. Tidak hanya mereka bertiga, semua orang yang ada di halaman gedung itu pun terpesona. Mereka melihat ke arah yang sama dan mengucapkan ‘Wah…’ dalam hati. Pemandangan itu sungguh fresh. Menyegarkan mata. Rasanya, seluruh rasa penat setelah kerja jadi hilang begitu saja. Banyak orang yang mulai berbisik-bisik sambil senyum-senyum. Ada yang mengatakan, “Wah, ada cowok ganteng.” kepada temannya, lalu temannya mengangguk-angguk dengan heboh. “Iya, benar! Siapa itu?!” Namun, berbeda dengan orang-orang itu, Naomi dan Yuki… …langsung menoleh kepada Kanna. Kalau dilihat dari mata dan mulut mereka yang terbuka lebar, Kanna tahu bahwa mereka mencoba untuk berkata: ‘Hei. Apakah pemuda itu…’ Namun, ujung-ujungnya, Naomilah yang pertama kali sanggup membuka suara. Gadis itu menggeleng tak percaya. Dia seperti baru saja melihat seorang artis. “K—Kanna—” ujarnya, sedikit terbata-bata. “A—Apakah itu—” Kanna menatap Naomi, lalu gadis itu menghela napas. Dia mengangguk. “Iya.” Naomi dan Yuki langsung kaget bukan main. Napas mereka serasa terhenti di tenggorokan. “Oh. My. God,” ujar Yuki dengan takjub. “Itu orangnya?!! Astaga, apakah dia anggota boy band atau semacamnya?! He is gorgeous!! That face card is so lethal, my goodness!” “Yes…” ujar Naomi. Dia dan Yuki kembali melihat ke arah Riley di depan sana. Riley tengah menunggu Kanna seraya tersenyum manis. “He looks so soft…and sweet. So pure…” “Ah, indahnya ciptaan Tuhan…” puji Yuki seraya memegang pipinya sendiri. Dia benar-benar kesengsem. “So radiant…” Naomi agaknya masih melanjutkan perkataannya sebelumnya. Yuki mengangguk setuju. “Uh-hm! He also looks very warm. Perfect for cuddling.” “Iya,” kata Naomi. “Pasti nyaman dipeluk.” Mendengar itu, mata Kanna spontan membulat. Kanna langsung memukul pundak Naomi. “Heh! Tahan sedikit mulutmu itu!” Naomi dan Yuki kontan tertawa kencang. Kanna memijit keningnya frustrasi—karena teman-temannya sangatlah frontal—tetapi diam-diam pipinya merona. Ya bagaimana, ya, soalnya Riley memang terlihat sangat tampan di depan sana. Kanna pun lagi-lagi menghela napas—mencoba untuk meredakan detak jantungnya yang menggila—lalu dia menatap kedua temannya dan berpamitan. “Aku ke sana dulu, ya. Dia menungguku.” Naomi dan Yuki tersenyum riang, lalu mengangguk. Yuki mengacungkan jempol pada Kanna. “Oke! Hati-hati, ya. Kapan-kapan kenalkan kami pada pemuda tampan itu, oke?” Naomi tertawa. “Benar, itu. Benar. Haha.” Kanna memutar bola matanya, lalu berdecak. “Iya, iya. Kapan-kapan. Daah!” “Dadaaahhh!” teriak Yuki. Naomi melambaikan tangannya pada Kanna saat Kanna mulai berlari ke depan sana, mendekati Riley. Riley menyambutnya dengan sukacita. Saat Kanna sudah cukup jauh dari mereka, Naomi pun memandangi Kanna dengan senyuman lembut. Dia menghela napas lega. Namun, tiba-tiba saja, dia mendengar Yuki bersuara. “Pantas saja Kanna lupa diri. Kuharap Tuhan memberikanku pemuda telantar juga.” Naomi kontan tertawa terbahak-bahak. ****** Di dalam pos keamanan yang lokasinya ada di dekat pagar, terdapat sekitar tiga orang security. Ada beberapa security yang berjaga di pagar dan ada juga yang berada di dalam pos. Biasanya, security yang berjaga di gedung itu akan berganti-ganti, sesuai dengan shift-nya. Saat ketiga security—yang ada di dalam pos—itu melihat Kanna dan Riley pergi meninggalkan gerbang (mereka mulai berjalan berdua di trotoar), salah satu security pun mulai membuka suara. “Pemuda tampan itu…kenalannya Bu Kanna, ya?” Security yang lain langsung menggeleng. “Sepertinya, itu pacarnya.” “Akan tetapi, kalau itu adalah pacarnya…” ujar security yang satu lagi. “…mengapa dia tak tahu jam pulangnya Bu Kanna?” Dua security yang berbicara sebelumnya langsung terdiam. Benar juga. “Soalnya…” sambung security yang tadi. “pemuda tampan itu sudah menunggu di depan pagar sejak dua jam yang lalu.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD