14. Soft and Warm (4)

1267 Words
Chapter 14 : Soft and Warm (4) ****** “SSSHHHH!!!” Kanna langsung meletakkan telunjuknya di depan mulut, memperingati kedua orang itu. “Jangan kuat-kuat, astagaaa!!” Oh, ya ampun. Untuk sejenak, semua orang di kantin itu menoleh kepada mereka seraya mengernyitkan dahi. Naomi dan Yuki memang tak bisa diharapkan. “Hehehe.” Yuki cengar-cengir tanpa dosa. “Maaf, maaf.” “Terus, bagaimana??!” tekan Naomi. Mata gadis itu melebar, dia semakin memajukan tubuhnya ke arah Kanna karena penasaran setengah mati. Dia kaget karena cerita Kanna ini benar-benar gila. Apa maksudnya Kanna bertemu dengan pemuda yang telantar?! Apakah Kanna akhirnya memungut pemuda itu?! “Aku menemukannya di taman yang ada di kompleks perumahan. Kalian pernah melihat taman itu, ‘kan, saat main ke rumahku?” tanya Kanna. “Hmm, hmm.” Naomi dan Yuki mengangguk. Mereka berdeham—mengiyakan Kanna—bersama-sama. “Aku menemukannya duduk di sana saat aku pulang kerja. Malam-malam. Malam itu bersalju, tetapi dia duduk di sana dengan piama putih yang agak kotor. Dia terlihat sedih; tatapannya kosong. Seperti…tidak ada harapan lagi,” ujar Kanna. Otaknya kembali mengingat betapa menyedihkannya Riley saat itu. Naomi menganga. Yuki pun menggeleng, lalu kembali bertanya, “Apakah kau pernah melihatnya sebelumnya?” “Tidak pernah.” Kanna menggeleng. “Dia agaknya…berasal dari tempat lain. Aku kasihan padanya, jadi aku menghampiri dan memayunginya.” “What does he look like?” tanya Naomi. Kanna agak menunduk. Dia memandangi meja, tetapi tidak benar-benar melihat ke sana karena pikirannya melanglang buana. Dia memikirkan rupa Riley. “Wajahnya tampan. Tampan sekali,” terang Kanna. “Kulitnya seputih salju. Bola matanya berwarna mint. Rambutnya di-bleaching warna putih. Dia terlihat tidak nyata, kalau boleh dibilang. Bukan seperti orang biasa, melainkan seperti…seorang idol, karakter film, atau sesuatu sejenis itu. Aku sangat terkesima tiap kali melihatnya. Akan tetapi, tubuhnya cukup kurus. Menandakan bahwa hidupnya kurang baik selama ini.” Mendengarkan penjelasan itu, Naomi dan Yuki jadi merasa kagum. Mata mereka berbinar-binar. Mereka menggeleng tak percaya. “Apa kau…serius?” tanya Naomi. “Bagaimana bisa ada orang seperti itu tersesat di daerah rumahmu?!” ujar Yuki. Dia benar-benar tak habis pikir. Kanna mengedikkan bahu. “Aku tak mengerti. Aku juga ingin tahu soal itu. Aku sempat menanyakan itu padanya, tetapi dia menolak untuk menjawabku.” “Apakah dia trauma?” Naomi memiringkan kepala. “Sepertinya, itulah satu-satunya alasan dia tak mau menjawabmu.” “Mungkin…” jawab Kanna seraya menghela napas. “Apakah dia memberitahumu namanya? Bagaimana dengan sifatnya?!!” tanya Yuki dengan antusias. “Namanya Riley Winter,” jawab Kanna. “Sifatnya…umm…dia begitu lembut dan…hangat. Manis. Seperti anak anjing yang lucu. Dia lugu, seperti kanvas putih. Seperti orang yang tak pernah benar-benar mengenal dunia luar. Tak pernah berinteraksi dengan orang banyak. He’s like an angel. Maaf kalau aku terdengar berlebihan, tetapi itulah kesan yang kudapat tiap kali berinteraksi dengannya.” “Bahkan namanya pun terdengar tampan,” ujar Yuki seraya pura-pura menghapus air matanya. Dia meleleh saat mendengar deskripsi tentang Riley barusan. “Kok kau beruntung sekali, sih?!” “Iya, kau seperti mendapat jackpot.” Naomi menimpali. “Dia terdengar seperti hadiah dari surga, astaga.” “Jadi, katakan padaku.” Yuki menatap Kanna dengan serius. Membuat Kanna refleks meneguk ludahnya. “Apakah kau membawanya masuk ke rumahmu?!” Kanna tersentak. Jantungnya hampir berhenti berdegup tatkala mendengar pertanyaan itu. Well, mau bagaimana lagi? Pertanyaan ini pasti akan dilontarkan oleh teman-temannya. Maka dari itu, dua detik kemudian…Kanna pun mengangguk. “Iya. Dia tinggal di rumahku hingga saat ini.” Yuki dan Naomi spontan berteriak histeris. Mereka berpelukan dan memantul-mantul di kursi mereka; mereka excited bukan main. “Aaaaaaaagghhhhh! Kalian tinggal bersamaaa?!!! Kau jadi seperti memelihara pemuda tampannnn, Kanna!!! Aaaaarrggghhhh, mantap sekaliii!” Kanna jadi panik. Dua temannya berkata ‘memelihara pemuda tampan’ dengan kencang, seolah-olah di kantin itu tidak ada orang lain. “Heeiiii!!!! Shhhhh!! Jangan keras-keraaas!” Laknatnya, Naomi dan Yuki malah tertawa terbahak-bahak dan melepaskan pelukan mereka. “Ya bagaimanaaaa, soalnya kau beruntung sekali, sih!!” “Aku juga mau dapat keberuntungan seperti itu, Tuhaaan,” ujar Yuki seraya mendongak dan memasang posisi berdoa. Naomi spontan memukul pundak gadis itu dan tertawa. Kanna ujung-ujungnya menyerah. Well…apa yang dia ekspektasikan? Memang beginilah respons orang seharusnya, kalau mereka normal. Soalnya, cerita ini terdengar begitu…tidak biasa. Menghela napas, Kanna pun kembali berbicara. “Akan tetapi, kadang-kadang, Riley mengatakan atau melakukan sesuatu yang…” Kanna mengerutkan dahi. “…sedikit…tak bisa kumengerti.” Kedua teman Kanna mulai berhenti tertawa. Mereka langsung kembali ke posisi mereka semula: mereka mengernyitkan dahi dan menatap Kanna dengan serius. “Maksudnya?” tanya Naomi. “Ya…bagaimana, ya…” Kanna melipat bibirnya, agak ragu mau mulai dari mana. Namun, dua detik kemudian, Kanna pun melanjutkan, “Aku menemukannya malam-malam, lalu keesokan paginya, dia memintaku untuk…menggunakannya. Dia ingin melayaniku, sebagai balasan karena aku sudah menyelamatkannya.” Naomi dan Yuki membelalakkan mata. “Dia juga… Aduh, aku ragu mau mengatakan ini, tetapi dia…sampai mencium tanganku saat itu. Maaf kalau terdengar agak…too much information, tetapi aku sangat heran, jadi aku ingin mendengar pendapat kalian soal ini,” lanjut Kanna. “Dia agak bersikeras soal itu, jadi aku memintanya untuk…membantuku dalam pekerjaan rumah.” “Tunggu…” Naomi tiba-tiba menyela. “Itu…dia benar-benar mencium tanganmu? Dia terdengar seperti...seorang butler yang setia pada tuannya, astaga! Apakah dia…somehow…terlatih dalam melakukan itu? Soalnya, dia melakukannya tanpa keraguan. Seolah-olah sudah terbiasa…” Kanna mengembuskan napasnya lewat mulut, seolah-olah hal itu juga mengganggu pikirannya. “Iya, aku juga sempat berpikir begitu.” Yuki mengedikkan bahu. “Bisa saja dia memang laki-laki yang manis? Seperti seorang gentleman.” “Aku sempat kaget juga waktu itu, saat kami sarapan bersama. Dia tahu bahwa aku akan berangkat kerja, tetapi dia sempat bertanya, ‘Kau akan kembali, ‘kan?’ seolah-olah dia takut aku akan meninggalkannya sendirian di rumah itu,” ujar Kanna. Sebelum kedua temannya sempat merespons, Kanna pun melanjutkan, “Akan tetapi, hal yang paling aneh adalah…malamnya, ketika aku pulang kerja, aku menemukannya duduk di balik pintu…dan menangis. Dia menungguku di sana…karena aku pulang lebih lama daripada seharusnya. Aku lembur saat itu.” Mata Yuki dan Naomi melebar sempurna. “Dia memeluk kakiku saat aku sudah pulang. Dia kira…aku meninggalkannya,” sambung Kanna. “Dia bilang, dia memikirkanku sepanjang hari. Dia khawatir. Dia memikirkan apa yang sedang kulakukan, dengan siapa aku berbicara…lalu dia memohon padaku untuk tidak meninggalkannya.” Naomi menganga. Yuki juga menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. “K—Kanna…” Yuki menggeleng. “Apa yang—” “Tidak, tidak. Tunggu dulu. Itu agak aneh! Mengapa dia terdengar seperti sudah…bergantung padamu?” Naomi menyatukan alis. “Dia benar-benar menunggumu di balik pintu, lho! Jadi, kau jawab apa?!” “Awalnya, aku heran setengah mati,” ujar Kanna. “Aku heran mengapa pikirannya sampai sejauh itu, mengapa dia terdengar sangat putus asa, padahal kami baru bertemu. Namun, melihatnya menangis seperti itu, lama-lama…aku jadi bersimpati. Kupikir, pulang terlambat tanpa memberikan informasi apa-apa padanya…telah men-trigger sesuatu di dalam dirinya tanpa kusadari. Lagi pula, dia itu telantar. ‘Ditinggalkan sendirian’ mungkin merupakan ketakutan terbesarnya.” Akhirnya, Naomi menunduk. Keningnya berkerut. Sementara itu, Yuki menatap Kanna dengan penuh simpati. Iya, itu memang terdengar aneh. Akan tetapi, kalau kau berada di posisi Kanna dan melihat keadaan pemuda itu secara langsung, bisa dimengerti mengapa Kanna menepis segala pikiran negatifnya. Dia pun mungkin akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisi Kanna, apalagi Kanna sudah tertarik pada pemuda itu. Agaknya, Naomi juga memikirkan hal yang sama dengan Yuki. Sesaat kemudian, Naomi pun kembali menatap Kanna. Keningnya masih berkerut; ia tampak…sedikit prihatin sekaligus penasaran. “Apakah dia…pernah ditinggalkan seseorang atau sesuatu semacam itu?” tanya Naomi. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD