13. Soft and Warm (3)

1205 Words
Chapter 13 : Soft and Warm (3) ****** SEKARANG sudah jam 12 siang, jam istirahat kantor. Kanna belum makan siang. Biasanya, dia akan pergi makan siang di kantin bersama Naomi dan Yuki. Namun, saat ini, dia masih duduk di kursinya—di kubikelnya—karena jam istirahat baru saja dimulai. Dia baru saja menyimpan progress laporannya. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Ponsel itu ada di samping mousepad, tidak begitu digunakan karena ia sibuk membuat laporan sejak pagi. Kanna pun meraih ponsel itu. Ketika ia melihat layarnya, tiba-tiba saja pipinya merona. Jantungnya sempat mengeluarkan satu degupan kencang berupa ‘Deg’ ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. Riley🐻‍❄️ is calling… Kanna tersenyum lembut. Tanpa sadar, matanya menatap layar itu dengan penuh…atensi. Ah, ini terasa seperti…sedang dalam masa pendekatan. Kau akan merasa berbunga-bunga tiap dihubungi oleh orang yang kau suka. Beginikah rasanya ‘perut bak dipenuhi kupu-kupu’ yang selalu orang bicarakan? Kanna pun mengangkat panggilan telepon dari Riley…dan menempelkan ponsel itu di telinganya. Seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta, Kanna pun tersenyum saat mengatakan, “Riley…?” …dan suara Riley pun terdengar. “This is big.” Mata Kanna melebar. Satu detik kemudian, gadis itu pun memiringkan kepalanya dan mengerutkan dahi. “Eh…?” Suara Riley terdengar begitu dalam dan…rendah. Sedikit frustrasi, tetapi penuh damba. “This is big, Kanna…” katanya. “I’ve only been away from you for a short while, but I…already miss you.” Pipi Kanna semakin merona. Tubuhnya mematung…dan ia tak mampu merespons. Lidahnya kelu; degupan jantungnya sangat berisik. “I’m already missing the sound of your voice.” Hati Kanna rasanya ingin meledak. Riley bilang, pemuda itu…merindukan suaranya… Aduh. Mereka baru bertemu, tetapi rasanya sudah seperti pacaran saja. Apakah Riley…tidak berlebihan? Well, Kanna juga sadar bahwa dia sangat cepat tertarik kepada Riley, tetapi dia…tidak seberani Riley dalam mengutarakan perasaannya. Dia tahu bahwa terkadang, apa yang Riley katakan terdengar aneh—tidak wajar—dan berani, tetapi mengapa di sisi lain itu terdengar…hot? Dalam beberapa hari ini, Kanna agaknya mulai beradaptasi. Mungkin saja…Riley orangnya memang seperti itu. “I remembered the way we slept together these past two days…” ujar Riley kemudian. Suaranya terdengar semakin…rendah. “…and the way you eat the food I cooked cutely…” Merahnya wajah Kanna sudah hampir mirip dengan lampu lalu lintas. Mereka memang…tidur di ranjang yang sama dua hari belakangan. Akan tetapi, tadi Riley juga bilang kalau…Kanna terlihat imut saat memakan makanan yang dia masak. Apakah itu sebabnya Riley sering memandanginya saat dia sedang makan? Oh, well. Andai saja Kanna sadar bahwa sebenarnya…maksud Riley bukan hanya itu. Kemampuan analisisnya ditutupi oleh perasaan. “Aku tidak imut, Riley…” jawab Kanna. “tetapi aku memang sangat menikmati makanan yang kau buat.” Riley tertawa kecil. “Kau imut, Kanna. Pipimu chubby sekali saat mengunyah makanan yang kumasakkan untukmu. Aku senang sekali.” Kanna menggigit bibirnya. Panas di wajahnya sudah menjalar hingga ke telinga. His voice is so deep… “Kanna,” panggil Riley dari seberang sana. “Can I pick you up?” Kanna meneguk ludah. Menjemput? Riley mau menjemputnya? Ah. Apakah karena Riley sudah tahu alamat kantornya? Kanna agak kaget, tetapi dua detik kemudian…dia pun tersenyum lembut. “Boleh, Riley,” jawabnya. “Hati-hati, ya…saat jalan ke sini nanti.” “Hmm,” deham Riley. “Kau sangat baik, Kanna… Terima kasih. Aku akan berhati-hati.” Kanna mengangguk. “Baiklah. See you later, ya, Riley.” “Iya. Maaf sudah mengganggu jam makan siangmu. Aku ingin meneleponmu sejak tadi, tetapi aku takut mengganggu pekerjaanmu…” jawab Riley. Kanna tertawa kecil. Riley…sungguh menggemaskan. Nada bicaranya barusan terdengar seperti anak-anak yang ingin mengajak ibunya bermain (dengan mata berkaca-kaca), tetapi takut ibunya terganggu. “Terima kasih sudah meneleponku, Riley. Aku senang kau meneleponku,” ujar Kanna. “Jangan lupa makan siang, oke?” “Hmm!” Riley berdeham. “Aku tak sabar mau melihatmu. Selamat makan siang, Kanna.” Setelah berpamitan, Kanna pun mematikan panggilan telepon itu. Dia tersenyum…lalu memandangi layar ponselnya dengan penuh…kasih sayang. Ah…dia benar-benar suka pada Riley. Sial. Cinta memang selalu datang tanpa diduga. Tiba-tiba saja, Kanna mendengar dinding kubikelnya diketuk. Kanna tersentak; jantungnya hampir copot. Seketika, dia tertarik keluar dari ‘bubble cinta’ tadi dan langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Naomi yang sudah berdiri di belakangnya; Naomi sudah masuk ke kubikelnya. Gadis itu tengah tersenyum padanya. “Yuhuuu,” panggilnya. “Makan siang, yuk.” “A—Ah…” Kanna buru-buru menaruh ponselnya di saku kemejanya. “Yuk.” Saat Kanna mulai berdiri, tiba-tiba saja Naomi memiringkan kepalanya dan memprotes. “Hei, mengapa kau tidak membalas chat-ku tadi pagi?” Kanna kontan menyatukan alis. “Hah? Chat apa? Memangnya kau ada mengirimkan chat padaku, ya?” Naomi menganga. “Lahhh? Adaaaa, Kanna! Kaulah yang tidak membaca chat-ku.” Kini, giliran Kanna yang memiringkan kepala. “Oh ya? Kok aku tidak lihat ada chat yang masuk darimu, ya? Memangnya kau mengirim chat apa?” Sambil berjalan keluar dari kubikel itu bersama-sama, Naomi pun menjawab, “Aku mengajakmu kencan buta setelah pulang kerja nanti. Aku tahu kau tak pernah ikut kencan buta seperti ini, tetapi kami kurang satu orang. Aku ingin kau ikut, supaya malamnya kita bisa jalan-jalan bersama Yuki.” Yuki, yang kubikelnya cukup jauh dari kubikel Kanna, spontan berlari mendekati Kanna dan Naomi begitu dia melihat kedua orang itu lewat. Dia juga mau pergi ke kantin bersama-sama. “Oh…” Kanna menatap Yuki sejenak, lalu mengangguk perlahan. Dia mengerti maksud Naomi, tetapi…dahinya tiba-tiba berkerut. Dia langsung berpikir. Setelah pulang kerja nanti? Wait. Riley bilang, dia mau menjemputku… Kanna langsung tersenyum. Dia kembali merasa berbunga-bunga. “Sepertinya…aku tak bisa ikut, Naomi,” jawab Kanna seraya menggeleng. Naomi kontan menatap Kanna seraya menyatukan alis. Akan tetapi, tiba-tiba saja…Naomi tersenyum miring. “Mengapa tidak mau?” Naomi menaikturunkan alisnya jail. “Cieeee, jangan-jangan kau sudah ada pacar, ya? Itu tadi siapa, tuh, yang meneleponmu??” Pipi Kanna spontan memerah seperti kepiting rebus. “Ehhh?” Yuki tiba-tiba membuka suara. Gadis itu terdengar kaget, matanya melebar tatkala menatap Kanna. “Pacar?? Kanna punya pacar, ya?!” Naomi tertawa. “Tadi, aku mendengarnya bertelepon dengan seseorang sambil senyum-senyum.” “Waaaahhh!” Yuki bertepuk tangan kegirangan. Cewek berambut half ponytail itu langsung memeluk lengan Kanna dan menarik Kanna agar berjalan lebih cepat. Dia ingin segera sampai di kantin karena ingin mendengar detailnya. Dia penasaran. Kanna belum pernah berpacaran, jadi ini adalah berita yang sangat hot! Begitu sampai di kantin, mereka langsung duduk tanpa mengambil makan siang terlebih dahulu. Agaknya, perut yang lapar tiba-tiba jadi tidak penting saat ini. Mereka langsung memajukan tubuh mereka—mendekati Kanna—dan menatap Kanna dengan antusias tatkala sudah duduk nyaman. “Ayo, ceritakan!” seru Yuki. Kanna memandangi kedua temannya secara bergantian. Pipinya merona, tetapi agaknya Naomi dan Yuki benar-benar sudah menunggu ceritanya. Dia pun tak punya pilihan lain. Lagi pula, kedua makhluk itu adalah teman baiknya. Kanna menghela napas. “Aku…” Ah, Kanna jadi agak ragu mengatakannya. Soalnya, cerita antara dirinya dan Riley ini bukanlah cerita biasa. “Aku…menemukan seorang pemuda yang telantar…beberapa hari yang lalu,” ujar Kanna pada akhirnya. Naomi dan Yuki kontan membelalakkan mata. “HAH?!!” teriak mereka bersamaan. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD