Chapter 12 :
Soft and Warm (2)
******
1 JAM YANG LALU
PAGI INI, Riley baru saja pulang dari convenience store untuk membeli bahan-bahan makanan. Pemuda itu membawa sebuah paper bag yang isinya penuh dengan bahan makanan; dia baru saja sampai di depan pagar rumah Kanna. Tiba-tiba saja, ada seorang ibu-ibu yang menghampirinya. Ibu itu membawa sebuah kotak yang bagian atasnya transparan. Saat posisi mereka sudah dekat, ibu itu langsung menyapa Riley.
Sang ibu terlihat kagum; dia sangat ramah kepada Riley. Excited, bak tengah bertemu dengan seorang artis. Senyumnya langsung merekah. “Halooo, selamat pagi!”
Riley—yang tadinya baru mau membuka pagar—jelas langsung menoleh ke asal suara dan melihat ada ibu-ibu berbaju ungu yang sedang menghampirinya. Riley tertawa canggung, tetapi masih terdengar ramah. “A—Ah… Halo, Bu. Selamat pagi.”
Mereka bersalaman sejenak. “Salam kenal, ya! Aku tinggal di sebelah. Apakah kau tinggal bersama Nona Kanna?”
Riley menatap rumah sebelah—yang sebenarnya letaknya agak jauh dari rumah Kanna—dan menoleh kembali kepada ibu itu. “Oh... Salam kenal juga, Bu. Iya, saya tinggal bersama…Kanna.”
“Apakah kalian sepasang kekasih?” tanya si ibu dengan antusias.
Mata Riley melebar.
Untuk sejenak, semburat merah muncul di pipi Riley. Pemuda itu lalu tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya. “Ah… Tidak, Bu.”
Ibu itu tertawa. Setelah itu, seakan-akan sedang meledek jawaban Riley, dia pun berkata, “Waah, apa benar…? Apa lagi, dong, kalau bukan sepasang kekasih? Masa teman tinggal bersama?”
Riley ikut tertawa, tetapi pipinya semakin memerah. Dia terlihat sedikit bingung harus menjawab bagaimana.
Segera setelah itu, mendadak ibu itu menyerahkan kotak yang ia bawa kepada Riley. Ia menyerahkan kotak itu dengan cara yang tidak santai, seolah-olah tak ingin Riley menolaknya; dia menyodorkan kotak itu hingga kotak itu menabrak d**a Riley.
Riley membelalakkan mata, pemuda itu spontan menunduk (untuk melihat kotak itu). Dia memegang kotak itu dengan sebelah tangannya yang bebas. Berhubung bagian tutupnya transparan, Riley pun bisa melihat bahwa isinya adalah satu loyang pie apel.
“Ini!” ujar si ibu dengan cepat, membuat Riley langsung mengangkat wajahnya kembali. “Ambil. Ambil, oke? Ini pie untukmu. Kau tampan sekali!!”
Riley agak kaget, dia langsung menyodorkan kembali kotak kue itu kepada si ibu. “Bu, aku—"
Namun, ibu itu justru menepuk pundak Riley seraya tersenyum manis. “Tak apa, tak apa. Terima saja, oke? Itu hadiah untuk pemuda tampan sepertimu.”
Setelah mengatakan itu, si ibu langsung berbalik dan kembali ke rumahnya. Meskipun Riley terus memanggil-manggilnya seperti: “Bu!”, ibu itu tidak menggubrisnya lagi.
Riley menghela napas dan menatap kue itu dengan kening berkerut.
Kanna suka pie apel tidak, ya?
******
“Begitu katanya…” ujar Riley usai menceritakan kejadian itu. Dia masih menggaruk tengkuknya; dia tertawa canggung karena agak malu. Ada warna merah tipis yang muncul di pipinya. “Aku tak tahu bahwa aku…bisa terlihat tampan…”
Oke, Kanna baru saja meleleh ke lantai secara mental. Pusing. Pusing sekali melihat keimutan ini. Hahhhh.
But…wait.
WHAT THE HECK?
Riley tak sadar bahwa dia tampan?
What do you mean ‘bisa terlihat tampan’??
Hei, Riley, kau itu tampan sekali, malah! Apa kau butuh kaca?!
Kanna mendengkus. “Riley, kau memang tampan.”
Riley melebarkan mata. “Oh ya?”
Kanna mengangguk. “Iya. Aku akan memerangi siapa pun yang bilang kalau kau jelek.”
Satu detik kemudian, Riley tersenyum lembut. Matanya menatap Kanna dengan penuh kasih sayang; semburat merah di pipinya masih ada.
“Ah…” katanya lirih. “Mendengarnya darimu membuatku jadi semakin malu…”
Menyadari Riley yang menatapnya dalam seperti itu, tubuh Kanna sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Gadis itu meneguk ludah, mendadak kakinya terasa selembut jelly.
Pipinya jadi merona.
“Akan tetapi, meskipun malu…” Suara Riley kembali terdengar. Serak, seksi, dan lirih. “…aku senang karena berarti…aku terlihat menarik di matamu.”
Deg.
Ah…ini tidak adil.
Rasanya seperti mendengar pernyataan cinta…padahal tidak.
“Ayo sarapan, Kanna,” ajak Riley kemudian. Pemuda itu membuka celemeknya, lalu mengambil makanan yang ia siapkan. Kanna tersentak; gadis itu mengangguk, lalu membantu Riley menaruh makanan-makanan itu di atas meja makan. Mereka berdua pun duduk berseberangan.
Untuk yang kesekian kalinya, Kanna suka sekali masakan Riley. Kematangannya pas di lidah Kanna, penataannya juga cantik. Belum lagi rasa garlic bread-nya…
Ah. Semenjak ada Riley, hidup Kanna merdeka sekali.
Sekitar dua menit kemudian, Riley pun membuka suara.
“Kanna, di mana kau bekerja?”
Kanna spontan menatap Riley, lalu menelan makanannya. “Eh? O—Oh… Gedung perusahaannya tak jauh dari sini, Riley.”
Riley memiringkan kepala. “Oh ya? Itukah sebabnya kau sering berjalan kaki saat pergi atau pulang kerja?”
Kanna tersenyum, lalu mengangguk. “He-em. Itu sebabnya.”
Riley tertawa kecil, lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kanna pun melakukan hal yang sama.
Begitu menelan makanan itu, Riley kembali berbicara, “Di dekat mana, memangnya?”
Kanna menatap Riley, lalu tersenyum lembut. Dengan tanpa ragu, Kanna pun mengucapkan alamat kantornya. Setelah itu, ia berkata, “Itu sekitar 1 km dari sini. Bila kau keluar dari area kompleks perumahan, kau akan berada di jalan besar. Ikuti jalan itu…lalu saat melihat pertigaan, beloklah ke kanan. Ikuti jalan itu dan kau akan menemukan gedungnya di sebelah kanan.”
Riley pun mengangguk. Dia tersenyum. “Ah…begitu, ya.”
“Iya,” jawab Kanna seraya mengangguk. “Masih di daerah sini kok.”
Riley tertawa kecil. “Syukurlah. Oh, ya, Kanna, aku lupa bertanya padamu. Berapa usiamu?”
“Aku…26. Bagaimana denganmu?” tanya Kanna.
Riley melebarkan mata. Dia tampak senang. “Ah, kita sama! Aku juga 26. Wah, I…like this. Ini membuatku merasa lebih dekat denganmu.”
Pipi Kanna merona, tetapi Kanna berusaha untuk mengabaikan rasa malunya sejenak dengan tertawa. “Ahaha… Benar juga, ya. Ini kebetulan yang bagus.”
“Uh-hm!” Riley mengangguk. “Kanna lahir bulan berapa?”
“Bulan Mei,” jawab Kanna. Gadis itu mulai balas bertanya dengan antusias. “Kalau Riley, bulan berapa?”
“Hm…” Riley tertawa kecil, lalu memiringkan kepalanya. “Itu rahasia. Setidaknya aku tahu bahwa aku lahir lebih awal daripada Kanna.”
“Iish!!” Kanna sedikit mengentakkan kakinya di bawah meja. Dia ngambek—tetapi tidak serius—pada Riley. Sambil menahan senyum, dia pun berkata, “Tidak adil, dong, kalau main rahasia-rahasia begitu!”
Riley kontan tertawa. Percakapan itu pun bertahan lama; mereka asyik mengobrol selama mereka makan. Hal-hal yang terjadi beberapa hari belakangan, hal-hal yang belum sempat ditanyakan…mereka membicarakan hal-hal yang ringan, tetapi tiap momennya terasa intim.
Setelah selesai makan, Kanna pun mulai mandi. Riley tetap duduk di sana, mengangguk seraya memberikan Kanna senyuman manis tatkala Kanna pamit untuk mandi terlebih dahulu. Riley bilang, dialah yang akan membersihkan meja serta piring-piring kotor itu (dia melarang Kanna saat Kanna mau mengangkat piring-piring itu).
Sepeninggal Kanna, tiba-tiba saja ponsel Riley berbunyi. Riley mengambil ponsel itu dari saku celananya, lalu membuka kunci layar ponsel itu.
Ada sebuah chat yang masuk. Riley menggeser status bar ke bawah; dia melihat notifikasinya dari atas tanpa benar-benar membuka chat tersebut.
[Kanna Inori’s Mobile Device]
[w******p]
Naomi Kai: Kanna! Nanti pas pulang kerja, ikut kencan buta, yuk! Kita kurang 1 orang lagi, nihh!
Melihat isi chat itu, ekspresi wajah Riley…
…langsung berubah.
Senyuman di wajahnya seketika sirna. Tatapan hangatnya, matanya yang berbinar-binar itu tiba-tiba menggelap. Kelopak matanya pelan-pelan turun; dia menatap layar ponselnya dengan tatapan menusuk.
Saat itu, tidak ada lagi kesan lembut, imut, canggung, atau hangat…yang tertinggal di wajahnya.
Dia terlihat…
…dingin.
Dingin yang menusuk. Pahit. Mengancam. Layaknya badai salju.
Riley langsung membuka aplikasi itu dan menghapus chat Naomi tanpa membukanya sama sekali. Menghilangkan jejak chat itu seketika, seolah-olah tak pernah ada.
Riley meletakkan ponsel itu di atas meja, lalu bersandar di kursinya. Dia menyilangkan lengannya di depan d**a, lalu memiringkan kepala.
‘Naomi Kai’, ya…? []