Chapter 11 :
Soft and Warm (1)
******
BEBERAPA hari kemudian, Kanna sudah terbiasa melihat keberadaan Riley di rumahnya. Kanna sudah membelikan banyak pakaian untuk Riley (mereka belanja bersama). Waktu Riley sedang mencoba-coba pakaian, mata Kanna berkali-kali membulat. Mulutnya menganga karena terpukau melihat penampilan Riley.
Kanna membelikan Riley sepatu, jaket, t-shirt, celana jeans, jogger pants, pakaian-pakaian dalam (oh, ini tentu saja Riley sendiri yang memilih, haha), hoodie, dan berbagai pakaian lainnya. Ah, Kanna bersyukur sekali dia tak pernah berfoya-foya selama ini hingga gajinya banyak yang tertabung di bank.
Kanna tahu bahwa dia ceroboh, tetapi tatkala melihat Riley serta segala perilaku pemuda itu, rasanya…
…naluri keibuannya…muncul. Tak tahu mengapa. Seperti menemukan anak anjing golden retriever yang telantar. Kanna bertemu dengan Riley di titik terendah pemuda itu: dia terlihat sakit, tersesat, kedinginan, dan sendirian. Belum lagi, ketika diselamatkan, dia bersikap sopan, manis, grateful, dan wajahnya sangat tampan. Jadi, otak Kanna otomatis melakukan hal yang alami, seperti berpikir, ‘Oh, dia kasihan sekali…’, lalu dia mulai menunjukkan belas kasihan.
Sebenarnya, ini reaksi alami apabila kau memiliki empati.
Oh, ya, saat melihat Riley mencoba-coba pakaian, Kanna meneguk ludah bukan karena melihat sesuatu yang ‘seksi’, melainkan karena melihat betapa mematikannya visual Riley. Pemuda itu memang seperti idola yang nyasar. Apakah suatu hari nanti akan ada agensi yang mencarinya?
Semoga saja tidak.
Pagi ini, Kanna bangun pagi seperti biasa. Tidak terlalu pagi juga, sih, soalnya matahari sudah bersinar terang dan cahayanya sudah menembus tiap jendela rumah Kanna. Tiap pagi hingga sore, kalau cuaca tidak mendung, rumah Kanna akan sangat terang karena sinar matahari akan menyinari setiap sudutnya. Makanya, saat sore hari pun, sinar oranyenya akan masuk ke rumah. Tidak perlu menghidupkan lampu sebelum matahari terbenam.
Kanna membuka pintu kamarnya, lalu meregangkan otot-ototnya. Rasanya ngantuk sekali, tetapi dia harus pergi kerja hari ini. Ini bukan hari libur, melainkan hari Senin dengan segala siksaannya.
Begitu sudah berada di luar kamar, Kanna mencium aroma makanan yang sangat enak. Kanna langsung memejamkan matanya dan menghirup aroma itu dalam-dalam.
Wah, sepertinya enak sekali…
Kanna membuka matanya dan tersenyum riang. Tiba-tiba, dia sangat excited. Matanya berbinar-binar, jantungnya berdebar-debar. Dia kembali ingat bahwa di rumahnya ada Riley. Ada pemuda tampan di rumahnya yang akan memasakkannya makanan setiap hari.
Kanna langsung berjalan ke dapur. Senyuman melekat di wajahnya; ia tak sabar melihat Riley pagi ini…tetapi sebenarnya jantungnya juga berdegup kencang karena gugup. Ia tahu bahwa visual Riley terlalu luar biasa untuk menjadi nyata.
Ketika langkah kakinya membawanya ke dapur, Kanna spontan menahan napas. Bagaikan ada embusan angin yang datang menerbangkan helaian rambutnya, menerpa wajahnya…tatkala ia melihat apa yang ada di depan sana. Di dapurnya.
Mata Kanna melebar.
Di sana…di dekat kitchen counter, ia melihat Riley…yang sedang memindahkan sesuatu dari frying pan ke sebuah piring. Sepertinya, ia sedang menggoreng sesuatu.
Gila, aroma di dapur ini enak sekali. Sepertinya, ini aroma…garlic bread.
Namun, saat ini, yang mengalihkan fokus Kanna bukanlah makanan itu, melainkan…
…kokinya.
Riley terlihat sangat bersinar. Kulitnya yang seputih salju itu seakan-akan glowing dan memantulkan sinar matahari. Bersih dan lembut sekali. Rambut putihnya juga…oh, jangan ditanya. Pastinya warna putih itu akan membuatnya semakin bersinar. Matamu akan silau kalau melihatnya dalam waktu yang lama.
Belum lagi bola mata berwarna mint-nya…
Astaga. Apakah Riley ini benar-benar lahir dari rahim manusia? Apakah dia berasal dari dunia yang sama dengan Kanna? Soalnya, pemuda itu terlihat seperti berasal dari dunia lain. Dunia yang semua makhluknya seindah bidadari dan bidadara.
He is ethereal. Keindahannya agak tidak wajar. Divine.
Kalau di cerita-cerita fiksi, visual sepertinya biasanya merupakan karakter elf, malaikat, idol, atau pangeran kerajaan yang wajahnya disembunyikan saking tampannya.
Dia terlihat seperti keluar dari cerita fiksi. Buku, film, atau komik.
Aduh. Pagi-pagi begini…Kanna sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa.
Belum lagi…Riley…
Riley memakai celemek!
Oh, Tuhan. Kanna benar-benar mau meledak. Pipi Kanna langsung memerah. Tangan Kanna jadi sedikit bergetar.
Astaga, tampan sekali. Tampan sekali!
Melihat seorang pemuda tampan berdiri di dapurmu, dengan mata mint serta rambut putihnya yang bersinar, sedang memakai celemek dan memasakkan makanan untukmu…rasanya…
Seperti…
Seperti mimpi yang sangat indah.
Seperti…punya…
…suami…
Eh. Tunggu.
Aaaaaarghhh!!! Apa yang sedang Kanna pikirkan?! Suami?!! Ya ampun, apa-apaan?!! Bikin malu sajaaaa!
Pipi Kanna semakin memerah; warna merahnya mencapai telinga. Wajahnya memanas. Dia berkali-kali menggeleng kencang. Astaga. Astaga!!
Ini memalukan! Semoga saja…semoga saja Riley tidak menyadari semua ini atau Kanna akan menenggelamkan dirinya sendiri di bathtub sepuluh menit lagi.
Berusaha untuk mengesampingkan terlebih dahulu segala kegugupan serta fantasinya—agar rona merahnya hilang—Kanna pun menghela napas. Ia menghirup kembali aroma masakan itu—sekalian menarik napas—lalu membuka suara.
“Hmm…” katanya. “It smells good…”
Riley, yang baru saja selesai memindahkan masakannya ke piring, kontan menoleh kepada Kanna. Tatkala melihat sosok Kanna yang sudah bangun tidur dan menghampirinya ke dapur, senyum Riley langsung merekah. Mata dan wajah pemuda itu berbinar-binar. Ia bahkan membuka mulutnya karena excited.
“Kanna!” panggilnya. Dia terlihat sangat gembira. “Kau sudah bangun? Selamat pagi!”
Aduh. Siaaaal! Senyum dan wajahnya itu seolah-olah menembakkan panah asmara tepat ke hati Kanna.
“Kok dia lucu sekali, sih?!! Kuculik baru tahu rasa!!” teriak Kanna dalam hati.
Eh. Riley sudah ada di rumahnya, sih. Untuk apa diculik lagi?
Kanna lantas mencengkeram dadanya sendiri karena dia hampir saja meleleh ke lantai. Duh, imut dan tampannya Riley itu bikin pusing banget. Tolong dikondisikan dahulu, dong, sebelum memelet Kanna. Hatinya bisa-bisa meledak!
Oke, Kanna. Tenang dulu.
Kau harus menjawab sapaan Riley terlebih dahulu. Jangan meledak di sini.
Kanna berdeham, pura-pura ‘membersihkan’ tenggorokannya. “Selamat pagi, Riley. Sedang memasak apa?”
“Ah…” Riley berbalik, meletakkan frying pan di atas kompor, dan kembali menoleh kepada Kanna. Pemuda itu mengangkat piring berisi masakan yang telah ia buat dan menunjukkan isi piring itu kepada Kanna seraya tersenyum. “Aku membuat…sarapan.”
Kanna mendekati kitchen counter seraya tersenyum. Saat sampai di sana, Kanna langsung melihat makanan-makanan itu dengan mata yang berbinar-binar. Air liur langsung berkumpul di dalam mulutnya; perutnya mulai berbunyi.
(Tidak sampai berbunyi keras, sih, untungnya).
Kanna meneguk ludah. Di depannya, ada dua buah piring yang isinya sama, yaitu: dua sosis, dua brokoli, dua telur mata sapi, potongan wortel, satu mangkuk mini saus tomat, dan satu mangkuk mini saus keju. Di sebelah kiri dua piring itu ada sekeranjang garlic bread yang potongannya sangat rapi.
Kanna menoleh ke kiri lagi…dan…
“Oh, ya!” Riley tiba-tiba bersuara. Matanya agak melebar seolah-olah teringat sesuatu. Dia pun berjalan sekitar dua langkah ke sebelah kiri—tempat di mana Kanna menoleh—untuk mengambil sesuatu dan meletakkannya di samping garlic bread.
“Ini, ada pie apel dari Bibi yang tinggal di sebelah…” sambungnya. Dia tampak riang. Senyumnya lembut sekali. “Aku lupa memberitahumu.”
Kanna menyatukan alis. “Bibi…yang tinggal di…sebelah?”
“He-em,” deham Riley.
Kanna menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Lho? Bibi itu…biasanya…jarang bicara padaku.”
Riley mendadak menatap pie apel itu—mengalihkan tatapannya dari wajah Kanna—dan tersenyum canggung. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah…tadi dia…” []