2. On a Snowy December Night (2)

1146 Words
Chapter 2 : On a Snowy December Night (2) ****** SUARA pemuda itu terdengar pelan dan serak. Namun, Kanna tidak terlalu fokus ke sana. Kanna hanya merasa…senang, merasa lega, tatkala pemuda itu bersuara untuknya. Meresponsnya dengan kata-kata. Mengingat mereka yang sama-sama orang asing bagi satu sama lain, Kanna sempat memikirkan kemungkinan terburuk, yaitu ditolak mentah-mentah dan ditatap dengan sinis karena sok ingin mengasihani. Namun, rupanya ia mendapat respons positif seperti apa yang ia harapkan. Kanna pun lantas tersenyum dengan ramah. “Iya, boleh. Tidak apa-apa. Ayo.” Dengan kalimat itu, Kanna pun membawa pemuda itu ke apartemennya. Ini membuat Kanna jadi tidak mematuhi perintah ibunya untuk tidak sembarangan membawa orang asing ke dalam apartemennya, terutama seorang laki-laki. ****** Setelah sampai di dalam unit apartemennya yang berada di lantai tiga, Kanna pun menyuruh pemuda itu untuk duduk di sofa ruang tamu terlebih dahulu. Di sepanjang perjalanan menuju ke apartemen tadi, Kanna sudah mengetahui nama pemuda itu. Dia bernama Riley Winter. Kanna meletakkan payungnya di tempat penyimpanan payung—setelah membersihkan permukaan payung itu dari salju—lalu ia masuk ke kamar dan melemparkan tasnya dengan sembarang ke kasur. Ia lantas membuka lemari pakaiannya dan mulai mencari-cari pakaian yang kira-kira bisa Riley pakai. Kanna sebenarnya suka memakai piama atau t-shirt saat berada di dalam rumah, tetapi dia ragu. Apakah dia memiliki t-shirt polos yang ukurannya cukup besar untuk Riley? Soalnya…meski tubuh Riley terbilang kurus, dia masih lebih besar dan tinggi daripada Kanna. Setelah menemukan pakaian yang pas—yaitu kaus putih polos dan celana training berwarna abu-abu—Kanna pun bernapas lega dan tersenyum. Ia lantas keluar dari kamar dan menyuruh Riley untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian, Riley pun keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian yang Kanna berikan padanya. Riley tampak lebih rapi, lebih enak dipandang, lebih memiliki aura kehidupan tatkala mengenakan pakaian itu meskipun wajahnya masih terlihat pucat dan lemas. Kanna pun menyuruh Riley untuk duduk kembali di sofa. “Tunggu sebentar, ya,” Kanna mengatakan itu seraya tersenyum pada Riley. “aku akan memanaskan supnya terlebih dahulu.” Riley pun hanya menatap Kanna dengan mata mint-nya yang tak berbinar itu, lalu mengangguk perlahan. Kanna pun berbalik dan mulai masuk ke dapur. Ia tadi hanya sempat membuka jasnya tatkala Riley sedang berganti pakaian di kamar mandi; dia belum benar-benar berganti pakaian. Kanna adalah jenis manusia yang memiliki prinsip bahwa jika dia ingin mengganti pakaian, maka dia harus sekalian mandi. Di dapur, Kanna mulai memanaskan sup yang ia masak tadi pagi. Ia tadinya meletakkan sup itu di dalam kulkas, memang sengaja membuat sup karena sup akan terasa begitu nikmat untuk disantap saat cuaca dingin. Setelah memanaskan sup, Kanna pun mulai memeriksa kabinet yang tergantung di dinding. Dia memeriksa apakah ada minuman hangat yang bisa ia sajikan untuk Riley. Sayangnya, Kanna tidak pernah menyimpan kopi. Dia hanya selalu membeli bubuk teh dan bubuk coklat. Ia berencana untuk menghidangkan teh, tetapi rupanya bubuk teh yang ia miliki sudah habis. Menghela napas, Kanna pun mulai mengambil bubuk coklat dan membuatkan coklat hangat untuk Riley. Tatkala membawa keluar seluruh hidangan itu dengan nampan, Kanna pun melihat Riley yang masih duduk di sofa. Riley melihat ke arah Kanna tatkala menyadari kehadiran gadis itu, kemudian Kanna memberikannya sebuah senyuman. Saat Kanna meletakkan sup hangat dan coklat hangat itu satu per satu ke atas meja, Riley melihat hidangan itu dengan saksama. Ia sadar bahwa itu semua adalah buatan Kanna. “Umm…untuk minumannya…aku membuat coklat hangat. Apakah tidak apa-apa?” tanya Kanna yang berhasil membuat Riley menengadah, menatap gadis itu. Kanna tampak tersenyum dengan canggung; gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hmm.” Riley berdeham pelan, mengiyakan pertanyaan Kanna. “Terima kasih, Kanna.” Mendengar namanya disebut oleh Riley, Kanna spontan membelalakkan mata. Sejak mereka bertemu, baru sekaranglah namanya dipanggil oleh Riley. Namanya yang keluar dari mulut Riley, diucapkan oleh lidah Riley, entah mengapa terdengar begitu…indah. Kanna lantas tersenyum gembira. Ia pun jadi memiliki semangat, rasa lelahnya akibat lembur tadi sudah hilang entah ke mana. Kanna pun lalu memiringkan kepalanya dan bertanya lagi, “Mau nasi hangat? Aku ambilkan, ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Riley, Kanna langsung kembali berjalan ke dapur dan mengambilkan semangkuk nasi hangat untuk pemuda itu. Ia kembali ke ruang tamu seraya membawa nasi hangat tersebut, lalu meletakkan satu mangkuk nasi itu di atas meja. “Ini. Makan, ya.” Riley mengangguk pelan. Pemuda itu pun mulai meraih sendok yang Kanna sediakan, lalu mengambil sesendok sup. Saat satu sendok sup itu masuk ke dalam mulutnya dan melewati kerongkongannya, mendadak Riley melebarkan mata. Enak. Supnya terasa enak. Hangat… Tatapan mata Riley berubah menjadi sendu. Ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali dalam tempo lambat, seperti memikirkan sesuatu yang begitu…menyedihkan. Seolah-olah dipenuhi dengan perasaan haru. “Um… Riley?” panggil Kanna, sukses membuat Riley kembali menoleh kepadanya. Memecah apa pun yang tadi ada di dalam pikiran pemuda itu. Kanna pun tersenyum. “Apa kau masih kedinginan?” Mendengar itu, Riley mulai menggeleng. “Tidak lagi, Kanna.” “Apa kau…punya tujuan?” tanya Kanna. Riley diam sejenak. Dia seolah tengah mencerna maksud dari pertanyaan Kanna. “Tidak, Kanna,” jawab Riley pada akhirnya. Kanna memiringkan kepala. “Keluarga? Atau…kerabat?” Riley hanya menatap Kanna. Setelah itu, Riley menggeleng samar. “Tidak ada juga.” Setelah mendengar jawaban Riley itu, Kanna pun mengembuskan napasnya penuh iba. Dia memandang Riley dengan penuh kesedihan; ia benar-benar tak tega melihat Riley. Akan tetapi, pada akhirnya Kanna menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Menenangkan hatinya. Ia mencoba untuk tetap tersenyum dengan ramah pada Riley agar Riley merasa nyaman untuk mengobrol dengannya. “Apa supnya enak?” tanya Kanna lagi, mengalihkan pembicaraan. Mendengar pertanyaan itu, Riley mengangguk pelan. “Iya.” Riley pun mulai kembali memakan sup itu. Ada sayuran serta potongan-potongan daging sapi di dalam sup itu. Riley memakan sup itu bersamaan dengan nasi hangat yang Kanna sediakan. Kanna memperhatikan Riley yang sedang makan itu dengan perasaan senang. Melihat seseorang memakan masakannya dengan lahap, menikmatinya dengan anteng, membuat Kanna merasa seperti seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya makan dengan baik. Beberapa menit kemudian, Kanna pun mulai melontarkan pertanyaan yang sebetulnya sejak tadi ingin ia tanyakan. “Riley, mengapa kau…duduk sendirian di taman itu?” Secara mendadak, gerakan Riley terhenti. Tangannya yang tengah memegang sendok—hendak menyendok sup—itu terhenti di udara. Pemuda itu mematung. Matanya tampak melebar tatkala mendengar pertanyaan itu. Melihat reaksi dari pemuda itu, mata Kanna kontan terbelalak dan ia buru-buru mencairkan suasana. Dia memutuskan untuk men-cancel pertanyaan itu. Menunda seluruh rasa ingin tahunya dan menyisihkannya untuk nanti. Ia tidak ingin menanggung risiko berupa Riley yang merasa tidak nyaman dan langsung keluar dari unit apartemennya saat itu juga. Melihat respons Riley, sepertinya itu merupakan hal yang sensitif bagi pemuda itu. Kanna harus berhati-hati. Lagi pula, secara logika, tidak mungkin pemuda seperti Riley berada di taman itu dalam keadaan yang memprihatinkan, di bawah salju, kalau tidak karena keadaan yang sulit. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD