Chapter 3 :
On a Snowy December Night (3)
******
KANNA tertawa canggung. Ia buru-buru mengangkat kedua tangannya ke depan d**a, menggerakkannya ke kiri dan ke kanan, mengisyaratkan ‘tidak’ melalui gestur itu. “A—aahh, tidak, tidak. Tidak apa-apa kalau kau tak mau menjawabnya. Silakan makan lagi.”
Pada akhirnya, Kanna pun hanya berdiam diri di sofa itu—di samping Riley—dan memperhatikan Riley yang tengah memakan sup beserta nasinya sampai habis. Riley juga meminum coklat hangat yang Kanna sediakan. Setelah Riley benar-benar selesai, Kanna pun tersenyum dan mulai mengangkat mangkuk-mangkuk serta gelas yang kotor itu. Gadis itu lantas permisi pada Riley untuk pergi mencuci piring dan mandi; ia meminta Riley untuk menunggunya sebentar.
Riley mengangguk.
Kanna menghidupkan televisi untuk Riley dan menawarkan Riley untuk menunggunya seraya menonton televisi.
Akan tetapi, tatkala Kanna sudah selesai mandi—gadis itu memakai piama berwarna biru dan ada sebuah handuk yang melingkar di kepalanya—dan berjalan ke ruang tamu, ia malah melihat pemandangan yang begitu…menenangkan.
Ia melihat Riley yang tertidur di sofa. Pemuda itu berbaring menyamping—menghadap ke arah televisi—dan kedua kakinya naik ke atas sofa, sedikit terlipat. Wajahnya terlihat begitu tampan, begitu innocent, dan begitu damai. Tentram. Napasnya berembus dengan teratur. Ia tertidur dengan begitu nyaman.
Kanna pun tersenyum. Gadis itu lantas masuk ke kamarnya, membuka lemari pakaian, dan mengambil salah satu cadangan selimutnya dari dalam sana. Setelah mengambil selimut itu dan menutup lemari pakaiannya kembali, Kanna pun berjalan lagi ke sofa yang ada di ruang tamu, lalu menyelimuti tubuh Riley.
Ia menghela napas dan melihat Riley dengan tatapan lembut. Senyuman di bibirnya belum sirna. Baru kali ini ia memiliki impresi seperti ini kepada orang asing. Ia seolah ingin…merawat Riley…
Setelah beberapa detik lamanya memandangi Riley, Kanna pun akhirnya beranjak masuk ke kamarnya dan tidur.
******
Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden itu sukses menerpa kedua mata Kanna yang masih tertutup. Kanna merasa cahaya itu seolah menembus masuk melalui kelopak matanya yang tertutup. Gadis itu langsung merasa silau dan dengan refleks ia mengerutkan dahinya. Tubuhnya pun secara alami mulai menggeliat. Kedua tangannya terentang ke atas dan kakinya ia dorong ke bawah; ia langsung meregangkan otot-ototnya.
Tatkala kedua kelopak matanya terbuka, Kanna sempat menyipitkan matanya karena merasa silau. Cahaya matahari langsung menabrak pupilnya. Namun, saat matanya sudah mulai beradaptasi dengan cahaya itu, Kanna justru mulai merasakan hal yang lain.
Seperti ada sesuatu yang kokoh di sebelah kakinya.
Kanna lantas melihat ke bawah—ke arah kakinya—dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat bahwa ada Riley di sana, di samping kakinya, sedang tertidur dalam posisi meringkuk dan menghadap ke kaki kirinya.
Sontak mata Kanna terbelalak. Gadis itu langsung terbangun sepenuhnya, dia sontak terduduk dan melihat Riley dengan mata yang terbuka lebar.
Sebentar, mengapa Riley ada di sini?
Kanna melihat ke pintu kamarnya. Pintu kamar itu tertutup. Akan tetapi, satu detik kemudian mulut Kanna menganga karena ia teringat sesuatu.
Ia memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
Namun, mengapa Riley memilih untuk…tidur di sini?
Tiba-tiba Kanna melihat ada sedikit pergerakan dari tubuh Riley. Tubuh Kanna sontak menegang, matanya semakin melebar. Ia benar-benar gugup.
Riley ada di sini!
Mereka…yang sama-sama orang asing, tidur bersama tadi malam!
Secara perlahan, Riley terlihat membuka kedua matanya. Setelah itu, pemuda itu mulai mendongak. Menatap Kanna dengan iris mata berwarna mint miliknya.
Anehnya, pagi ini…mata itu tak terlihat se-lifeless tadi malam. Pagi ini, ada sebuah…binar di mata itu. Belum terlalu kentara, tetapi sudah ada.
Riley akhirnya bangkit. Perlahan-lahan pemuda itu pun duduk di hadapan Kanna.
“Selamat pagi, Kanna,” sapa Riley pelan seraya menggosok matanya. Suara pemuda itu terdengar serak. Itu adalah suara pertamanya di pagi hari. “Maafkan aku, ya. Aku pindah tidur ke sini karena tadi malam aku bermimpi buruk. Maaf kalau aku membuatmu terkejut.”
Mendengar penjelasan dari Riley, Kanna yang tadinya agak shock itu kontan menggeleng. Dengan mata yang masih melebar, buru-buru Kanna menjawab, “Ah, t—tidak apa-apa kok. Aku hanya…sedikit terkejut.”
Setelah itu, tanpa disangka sangka…
Riley tersenyum.
Seulas senyuman terbit di wajah tampannya yang kini tidak lagi pucat. Sudah ada warna di pipi serta bibirnya. Senyuman itu tampak begitu lembut…begitu pula dengan tatapannya.
“Terima kasih karena sudah membiarkanku tidur di sini semalam, Kanna,” ujar Riley kemudian.
Kanna, yang masih terpaku karena keterkejutan yang bertubi-tubi itu, kini kembali dibuat kaget. Jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya, mencelus ke perut, tatkala tiba-tiba,
…Riley merangkak mundur, merundukkan kepalanya, lalu mencium kaki Kanna.
Riley mencium kaki Kanna seraya memejamkan mata. Ciuman itu terasa selembut kapas. Riley melakukan itu dengan perasaan yang tulus. Waktu seolah berjalan dengan begitu lambat, begitu penuh dengan penghayatan, tatkala Riley melakukan itu.
Sekarang tubuh Kanna benar-benar kaku. Ia benar-benar mematung, tak bisa bergerak. Matanya terus menatap Riley dengan penuh keterkejutan, keheranan, dan ketidakpercayaan.
Tak lama kemudian, Riley kembali mengangkat wajahnya. Ia pun tersenyum lembut pada Kanna.
“Kau seperti malaikat, Kanna…” ujar Riley dengan tulus.
Untuk beberapa detik lamanya, mereka hanya saling menatap. Saling memberikan tatapan yang dalam, fokus, dan saling terikat. Seolah tak mampu mengalihkan pandangan ke arah lain. Terpaku dan menarik satu sama lain seperti magnet. Saling tenggelam di dalam tatapan masing-masing…seolah menemukan sebuah dunia yang begitu menyesatkan. Memabukkan.
Kanna mulai punya feeling bahwa ini adalah situasi yang gawat. Tubuhnya seakan mulai menyampaikan sinyal darurat…sebab di dalam hati dan benaknya mulai tebersit keinginan untuk mempertahankan situasi ini. Gadis itu mulai berpikir bahwa:
Akan lebih baik jika keadaan terus berjalan seperti ini…
Dia mulai berpikir bahwa dia tak ingin lepas dari Riley. Tak ingin…melepaskan Riley.
Dia agaknya mulai membawa perasaannya ikut serta, bukan hanya sekadar rasa iba.
Dia betah, sangat betah, melihat Riley ada di sini bersamanya.
Karena terpengaruh oleh pikiran itu, dibutakan oleh perasaannya sendiri, Kanna pun mulai terbawa suasana. Gadis itu tanpa sadar mulai berbicara.
“Riley,” panggilnya. “ke mana…kau akan pergi setelah ini?”
Kanna melihat Riley yang hanya semakin melebarkan senyumannya. Menatap Kanna dengan kelembutan yang masih sama. Dengan pelan, pemuda itu sedikit memiringkan kepalanya dan mulai menjawab.
“Aku tak tahu. Apakah Kanna khawatir padaku?”
Mendengar jawaban Riley, Kanna kontan melebarkan matanya. Untuk beberapa saat, Kanna hanya diam. Ia pun mulai mengedipkan matanya dengan ragu; dahinya sedikit berkerut dan kedua tangannya mulai mengepal. Ia meremas jemarinya sendiri akibat merasa gelisah.
Ia merasa gelisah karena mungkin saja…apa yang akan keluar dari mulutnya beberapa detik ke depan akan ditolak mentah-mentah oleh Riley. Namun, kalau…kalau saja Riley menyetujuinya, maka hal itu akan membuat dunianya betul-betul jungkir balik. Berubah 180 derajat. Begitu pula dengan dunia Riley.
Akhirnya, meski timbul keringat dingin yang amat tipis di dahinya, Kanna pun memberanikan dirinya untuk berbicara pada Riley. Ia mulai menatap Riley dengan penuh keyakinan; ia seolah sudah memantapkan keputusannya. Dia harus berani. Berani satu kali atau menyesal selamanya. Kesempatan ini hanya ia miliki sekali seumur hidup.
“I—itu… Kalau kau mau…” ujar Kanna, ia agak terbata-bata. Kanna menggigit bibirnya sejenak, kemudian ia melanjutkan perkataannya dengan lebih berani. Lebih yakin lagi. “Kau boleh…tinggal di sini.” []