4. Baisemain (1)

1390 Words
Chapter 4 : Baisemain (1) ****** TEPAT setelah Kanna mengatakan itu, kontan saja kedua mata Riley membulat sempurna. Melihat reaksi Riley, Kanna lantas merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Sial! Riley pasti kaget sekali! Ah, apa aku terlalu berlebihan, ya? Aku terlalu terbawa suasana, sementara Riley belum tentu mau! Akan tetapi, di luar dugaan Kanna, mendadak ekspresi Riley berubah. Kedua mata pemuda itu menatap Kanna dengan lembut. Bukan hanya terlihat lembut dan penuh kasih, dia juga terlihat sangat lega. Dia tersenyum pada Kanna, senyuman yang mampu memberitahu Kanna bahwa ia sedang lega, senang, dan juga kagum kepada Kanna. Kagum, bangga, atau sesuatu sejenis itu. Seolah ia tak pernah menemukan manusia seperti Kanna sebelumnya. Ekspresinya itu jelas membuat Kanna kaget. Kanna terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Kedua mata Kanna melebar; ia benar-benar tak menyangka sekaligus terpesona. Di luar dari apa pun jawaban Riley nantinya, Kanna kembali mengakui bahwa Riley ini memang benar-benar tampan. Apakah Riley bahkan sadar bahwa dia memiliki paras yang begitu indah? Bukan Kanna yang seperti malaikat, Rileylah yang seperti malaikat! Sosoknya bersinar sekali bagai baru saja turun dari surga. Walau tadi Kanna sempat menyesali tawaran yang keluar dari mulutnya, kini ia kembali ingat mengapa ia memberikan tawaran itu kepada Riley. Entah apa pun itu yang terjadi pada kehidupan Riley—hingga ia telantar di taman itu—bagi Kanna Riley ini tampak seperti sehelai kertas putih yang masih polos. Di mata Kanna, Riley terlihat seperti seseorang yang benar-benar innocent; dia tidak pernah mengetahui dunia luar, tidak bisa membedakan mana orang yang jahat dan mana orang yang baik, serta tidak pernah berinteraksi dengan orang banyak. Inilah yang membuat Kanna merasa kalau dia harus…merawat Riley. Harus mengurusnya. Melindunginya. Orang seperti Riley terlalu berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran seorang diri. Di luar sana banyak orang jahat...bukan? Riley mirip seperti sebuah kanvas putih. Benar-benar masih lugu. Mereka berdua saling bertatapan dengan intens. Ada sesuatu yang seolah menarik Kanna untuk terus menatap wajah Riley. Kedua mata berwarna mint milik pemuda itu, wajah tampannya, senyum lembutnya, keindahan dan kepolosannya… Namun, sesaat kemudian Riley akhirnya mulai bersuara. Matanya masih menatap Kanna dengan penuh kasih. Dengan suara yang lembut…pemuda itu pun berkata, “Kau benar-benar seperti malaikat, Kanna.” Suaranya terdengar begitu khas. Serak. Bariton. Di luar penampilannya yang terlihat begitu polos, dia ternyata memiliki suara yang sangat…bagus. Jenis-jenis suara yang sangat ingin kau dengarkan ketika sedang sleep call atau pillow talk. Suara yang akan membuat hatimu meleleh secara instan. Membuatmu semakin sayang dan semakin terlena. Begitu dalam, lembut, dan menenangkan. Memanjakan telinga. Kanna masih diam. Gadis itu masih terpesona. “Aku berencana untuk menjagamu dari kejauhan sebagai bentuk terima kasih,” lanjut Riley kemudian. Pemuda itu semakin melebarkan senyumnya, lalu memiringkan kepalanya. “tetapi karena kau menawarkanku untuk tinggal bersamamu…aku sangat bersyukur.” Belum sempat Kanna bereaksi apa pun, Riley mulai beringsut semakin mendekat kepada Kanna dan meraih tangan kanan gadis itu. Riley menggenggam tangan kanan Kanna, mengangkatnya, lalu mengarahkan jemari tangan gadis itu ke bibirnya. Ia mulai mencium jemari tangan Kanna. Kanna lantas semakin melebarkan mata. Setelah Riley melepaskan ciumannya dari tangan Kanna, pemuda itu pun kembali tersenyum lembut. Ia mengangkat kepalanya dan kembali memandangi wajah Kanna. Tatapan matanya masih sama. Ia seakan tengah melihat seorang dewi, malaikat—atau apa pun itu—yang begitu ia kagumi, begitu ia banggakan, dan begitu berarti di dalam hidupnya. “Aku akan melayanimu,” ujar Riley kemudian. “Biarkan aku melayanimu, Kanna.” Akan tetapi, tepat setelah mendengar kata-kata Riley itu, tiba-tiba Kanna tersadar. Spontan saja tubuh gadis itu menegang, mulutnya menganga lebar. Ia langsung menegakkan posisi tubuhnya dan menarik tangan kanannya dari genggaman Riley, lalu menggerakkan kedua tangannya itu ke kanan dan ke kiri dalam tempo cepat sebagai pertanda penolakan. Kanna bahkan membuat gestur menyilangkan kedua tangannya membentuk ‘X’ tepat di depan tubuhnya. Gadis itu jadi panik bukan main. “Tidak tidak tidak!! Astaga, Riley, tidak!” teriak Kanna panik, sukses membuat Riley jadi terlihat agak bingung. Pria itu tampak memiringkan kepalanya dan menaikkan kedua alisnya hingga matanya membulat lucu seperti kelinci. Kanna menggigit bibirnya dengan gelisah, mengerutkan dahinya, lalu melanjutkan, “Bukan begitu, Riley. Aku tidak menyuruhmu tinggal di sini untuk melayaniku! Ma—maksudku, kau boleh tinggal di sini dan hidup seperti biasa. La—lagi pula, aku…” Mendadak pipi Kanna merona. Gadis itu membuang muka dan tak mampu melanjutkan perkataannya. Dia hanya kembali menggigit bibirnya, tetapi kali ini bukan karena gelisah, melainkan karena malu. “Aku…?” tanya Riley dengan mata bulatnya, pemuda itu menatap Kanna dengan rasa ingin tahu. “Aku…” Kepala Kanna perlahan menghadap ke arah Riley lagi, tetapi gadis itu masih tertunduk. Masih enggan menunjukkan wajahnya sepenuhnya kepada Riley. Setelah dua detik lamanya, akhirnya Kanna pun melanjutkan. “Aku…kesepian.” Tak ayal kedua mata Riley membeliak. Kini gantian Riley yang terperangah. Kanna…kesepian? Tepat setelah mengatakan itu, Kanna perlahan mulai mengangkat wajahnya. Gadis itu menatap Riley dengan polos. Bibirnya melengkung ke bawah, agak merajuk karena terlalu malu. Matanya jernihnya itu agak berkaca-kaca dan tampak…memelas. Seperti seekor anjing kecil. Tanpa Kanna sadari, jemari tangan kanan Riley tampak sedikit bergetar tatkala melihat ekspresi Kanna itu. Jemarinya bergerak kecil—seakan ingin melakukan sesuatu—tetapi ia tahan dengan sekuat tenaga. Karena memutuskan untuk menahannya, pemuda itu pun lantas mengepalkan tangannya. Riley mulai tersenyum manis lagi pada Kanna. “Aku senang mendengarnya, Kanna,” jawab Riley. “tetapi aku tak mau menjadi bebanmu. Anggaplah ini sebagai caraku untuk berterima kasih padamu.” Riley pun kembali meraih jemari tangan Kanna dan menciumnya. “Please use me, Kanna.” Kanna terkesiap. Ia kaget sekaligus bingung setengah mati! Ya Tuhan, apa ini? Kanna harus bagaimana? Harus menjawab apa? Terus terang saja, Kanna memang tak pernah berniat untuk ‘memanfaatkan’ atau ‘menggunakan’ Riley. Dia tak pernah berpikir untuk menjadikan manusia lain, terutama manusia yang membuatnya tertarik, sebagai pelayannya! Riley menatap Kanna dengan penuh pengertian. Dia mencoba untuk meyakinkan Kanna dan berkata, “Kalau kau tidak ingin aku jadi pelayanmu, kau bisa menggunakanku untuk hal yang lain. Mintalah aku untuk melakukan sesuatu, apa pun itu, Kanna. Ini permintaanku kepadamu selaku penyelamatku.” Kanna memandangi Riley sebentar, lalu tertunduk. Gadis itu kembali menggigit bibirnya karena bingung. Isi kepalanya kalut untuk beberapa saat. Alisnya menyatu dan dahinya berkerut; ia tengah berpikir keras. Eh, tetapi…tunggu sebentar. Riley tadi bilang…‘melakukan sesuatu, apa pun itu’, bukan? Berarti… “Baiklah,” ujar Kanna tiba-tiba, gadis itu langsung menatap Riley dengan serius. Kedua matanya mendadak terlihat begitu berapi-api. Berkilat penuh semangat. Dipenuhi dengan tekad. Dia kini sudah yakin harus mengatakan apa. “Kalau begitu…kau bisa membantuku beres-beres rumah,” ujar Kanna. “Selain itu, pekerjaanmu simpel: pertama, kau harus makan dan minum dengan teratur. Kedua, hiduplah dengan baik agar tubuhmu sehat. Lakukan itu untukku.” Riley sontak membulatkan kedua matanya. Pemuda itu terdiam sepenuhnya. Namun, sesaat kemudian pemuda itu mulai tersenyum; dia kembali tersenyum lembut pada Kanna. Dia menatap Kanna dengan penuh ketertarikan. Penuh kekaguman. Penuh dengan afeksi. “Kanna, you’re so cute…” puji Riley dengan lembut. “Belum pernah ada orang yang menyuruhku untuk makan, minum, serta hidup dengan baik…” Wajah Kanna serta-merta memerah. Dia ingin memalingkan wajahnya dari Riley, tetapi Riley langsung memegang pipinya. Otomatis mereka jadi kembali bertatapan. Akan tetapi, kali ini wajah mereka jadi nyaris menempel karena Riley ternyata telah mendekatkan wajahnya ke wajah Kanna. Wajah tampan milik Riley itu tampak bersinar. Bercahaya. Indah. Bagaikan sesuatu yang terlihat begitu jauh untuk Kanna gapai dengan kedua tangannya; bagaikan sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini. Wajah pemuda itu juga terkena serpihan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden. Wajah Riley itu tak memiliki kecacatan sama sekali. Mulus. Wajahnya juga sudah memiliki rona sejak diselamatkan oleh Kanna semalam. Oh, Tuhan. Kanna lagi-lagi sadar bahwa: ada seorang laki-laki yang tadi malam tidur bersamanya. Laki-laki itu sekarang sedang mengobrol dengannya di atas ranjang, hanya memakai pakaian rumahan berupa kaus putih polos dan celana training abu-abu. Laki-laki itu berwajah tampan, memiliki rambut yang di-bleaching putih—mungkin—seperti seorang idola atau karakter komik. Rambutnya itu tampak lurus dan jatuh; tidak ikal dan tidak tegak-tegak. Rambut itu tampak begitu halus dan lembut, polos khas baru bangun tidur. Situasi mereka yang seperti roommate ini membuat Kanna jadi semakin gugup. Dia salah tingkah. Pipinya semakin merona. Namun, Riley masih tersenyum. Seraya mengusap pipi Kanna dengan lembut menggunakan jempolnya, ia pun berkata, “Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sarapan, ya.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD