Chapter 5 :
Baisemain (2)
******
KANNA menghidupkan shower dengan cepat, lalu ketika air dari shower itu mengguyur tubuhnya, ia langsung menempelkan kedua tangannya ke dinding kamar mandi dengan kencang (hampir seperti memukul dinding itu). Setelah itu, ia serta-merta menunduk; matanya memelotot, lalu ia berteriak secara internal. Mulutnya terbuka lebar. Ekspresinya tampak panik bukan main.
AAAARGGHHH!!!! BAGAIMANA INIII??!! APA YANG BARU SAJA TERJADIII??!!
HUAAAA!! AKU SEKARANG TINGGAL BERSAMA SEORANG LAKI-LAKI!! SERIUS, NIH?!!! WTF AM I DOING?! WHY DID I LET A GUY LIVE WITH ME THAT EASY?! MENGAPA AKU PERCAYA BEGITU SAJA DENGAN LAKI-LAKI YANG BARU KUTEMUI?!
Kanna hampir saja membenturkan kepalanya pada dinding kamar mandi kalau saja dia tidak ingat bahwa dinding itu terbuat dari granit. Dia bisa-bisa masuk IGD terlebih dahulu sebelum bisa mencecap bagaimana rasanya tinggal bersama seorang lelaki tampan.
Jadi, sebelum Kanna pergi ke kamar mandi, dia dan Riley sudah membuat sebuah kesepakatan sederhana. Riley akan membuat sarapan, sementara Kanna akan mandi dan bersiap-siap karena mau berangkat ke kantor. Namun, kalau begini…rasanya seperti pengantin baru saja. Sial, pikiran Kanna jadi ke mana-mana! Dinginnya air yang mengucur dari shower itu ternyata tak mampu untuk meredakan panas di pipinya. Wajahnya memerah bukan main.
Kanna mandi dengan terburu-buru. Dia tak lagi peduli apakah tubuhnya benar-benar bersih atau tidak; dia hanya memastikan bahwa tidak ada lagi busa yang menempel di tubuhnya. Asal busanya hilang dan dia sudah gosok gigi, maka dia sudah oke untuk keluar. Saat ini jantungnya terlalu berdebar-debar dan ia tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi atau ia akan terlambat ke kantor karena terlalu lama salah tingkah.
Saat tubuhnya telah mengenakan bathrobe dengan sempurna, Kanna pun keluar dari kamar mandi. Begitu ia membuka pintu kamar mandi, aroma masakan yang enak dari dapur langsung tercium di hidungnya. Ini…aroma omelette. Kanna menghirup aromanya seraya memejamkan mata. Wah, sepertinya enak sekali.
Mendadak perut Kanna jadi merasa lapar. Berhubung lokasi kamar mandi sebenarnya tidak jauh dari dapur (hanya butuh berjalan beberapa langkah), maka Kanna pun langsung pergi ke dapur.
Di dapur, Kanna melihat Riley yang sedang menuangkan saus ke atas dua piring berisi omelette. Omelette-nya terlihat sempurna.
Ketika mendengarkan langkah kaki Kanna, Riley pun menoleh. Begitu sepasang mata berwarna mint miliknya melihat sosok Kanna yang berjalan ke arahnya, Riley langsung tersenyum semringah. Wajahnya tampak berseri-seri. Sinar mentari yang masuk melalui jendela dapur mendadak lari semua ke wajahnya. Dia terlihat begitu bersinar…
Kanna langsung memalingkan wajahnya sebentar dan memejamkan matanya kuat-kuat. Pipinya merona lagi. Dalam hatinya ia langsung berkata, ‘Sial, tampan sekali! Malaikat macam apa yang sedang ada di rumahku ini??!’
“Ah, Kanna,” panggil Riley dengan gembira. Kanna pun sontak menoleh kepada Riley lagi dan menemukan bahwa pemuda itu semakin tersenyum lebar pada Kanna hingga memperlihatkan barisan giginya. Lord, why is he so cute?!
“I—Iya, Riley,” jawab Kanna. Gadis itu berusaha untuk menormalkan ekspresinya, lalu berdeham. Dia tak boleh kelihatan salah tingkah terus, takutnya nanti Riley jadi tidak nyaman. “Kau…sudah selesai, ya?”
“Uh-hm!” jawab Riley. “Aku berusaha untuk membuat sesuatu yang simpel agar tidak membutuhkan waktu yang lama. Kau mau berangkat kerja soalnya. Apakah kau suka omelette?”
Kanna melebarkan mata. “Ah—iya, iya. Aku suka.” Apalagi kalau kau yang memasaknya.
Kanna akhirnya berdiri di dekat meja makan. Dia dan Riley kini berdiri berseberangan, tubuh mereka dipisahkan oleh meja makan yang berwarna krem. Riley meletakkan botol saus yang tengah ia pegang itu di atas meja, lalu menatap Kanna dengan lembut dan berkata, “Kau boleh bersiap-siap terlebih dahulu. Aku akan menunggumu.”
Kontan Kanna terperanjat. Oh, iya! Dia belum berpakaian! Astaga!
Dengan pipi yang merona, Kanna pun menarik bagian kerah bathrobe-nya agar menutupi seluruh bagian leher hingga dadanya, padahal sejak tadi tidak ada sedikit pun bagian dadanya yang terlihat. Gadis itu pun langsung panik dan cepat-cepat berjalan meninggalkan dapur seraya berkata, “A—Aku pakai baju dulu. Tunggu, ya. Tunggu! Aku hanya sebentar!!”
Kanna tampak memelesat ke kamarnya dengan tanpa rem. Ketika sudah masuk ke kamar, gadis itu langsung menutup pintu kamarnya dengan terburu-buru.
Riley memperhatikan gerakan mengebut Kanna hingga sosok gadis itu tak terlihat lagi di matanya. Tepat ketika Riley mendengar suara pintu—pintu kamar Kanna—yang tertutup, Riley pun menghela napasnya dan tersenyum lembut.
Ada-ada saja.
Kanna ini…imut sekali.
Akan tetapi, tiga detik kemudian…senyuman Riley perlahan-lahan menghilang. Memudar. Kedua mata milik pemuda itu yang tadinya selalu memberikan tatapan lembut…kini beralih memberikan tatapan dingin yang penuh dengan intimidasi. Dia seakan memenjarakan segala sesuatu yang ada di dalam jarak pandangnya. Untuk saat ini, matanya fokus menatap pintu kamar Kanna.
Seharusnya Kanna tidak usah pergi ke mana-mana.
******
Kanna keluar dari kamarnya dan langsung menemui Riley kembali. Dia lantas pergi ke meja makan—yang sebenarnya terletak beberapa langkah di depan dapur—karena ia tahu bahwa Riley pasti sedang menunggunya di sana. Dia kini sudah memakai setelan blazer serta rok pendek hitamnya. Ia memakai stocking berwarna hitam dan kemeja berwarna putih. Rambutnya dikucir satu dengan gaya yang simpel saja karena dia tidak punya banyak waktu. Tadi dia sudah bilang pada Riley bahwa dia tidak akan lama. Dia bahkan belum memakai makeup. Nanti saja, deh.
Begitu Kanna sampai di meja makan, Riley langsung menyambutnya dengan senyuman. Pemuda itu sudah duduk di salah salah satu kursi yang ada di dekat meja makan itu dan Kanna membalas senyumannya.
“Maaf. Lama, ya?” tanya Kanna seraya menarik kursi yang ada di seberang Riley.
Riley menggeleng. Ia tersenyum dengan semakin manis. “Tidak kok. Ayo makan.”
“Iya,” jawab Kanna. Gadis itu pun lantas mengambil sendok yang sudah disiapkan oleh Riley dan mengangguk. “Selamat makan.”
“Selamat makan,” ucap Riley. Mereka berdua pun mulai menyendok suapan pertama.
Begitu suapan pertama itu sampai di dalam mulut Kanna, Kanna kontan memelotot. Matanya langsung berbinar-binar. Wajahnya jadi berseri-seri.
Astaga, ini enak sekali!
Omelette-nya lumer di dalam mulut. Di dalamnya juga…ada nasi goreng. Lho, ini omurice!
“Hmmmmmmm!!” teriak Kanna secara refleks. Ia memegangi sebelah pipinya sendiri seolah sedang kesengsem. “Riley, ini enak sekaliiii!!”
Melihat reaksi Kanna, Riley awalnya agak melebarkan mata. Namun, ketika pemuda itu menyaksikan Kanna yang mulai memejamkan mata seakan benar-benar menikmati masakannya, ia pun tersenyum lega. Dia terlihat semringah, lalu mengembuskan napasnya seolah-olah ada satu beban yang akhirnya terlepaskan dari sana.
“Terima kasih, Kanna,” jawab Riley. “Tadi aku benar-benar takut kau tidak akan menyukainya. Namun, syukurlah kalau kau suka… Aku senang. Haha…”
Kanna kontan membuka matanya kembali. “Apa yang kau bicarakan?! Ini enak sekali, lho! Kau sangat pintar memasak, Riley! Di mana kau belajar memasak??!” Kanna memajukan tubuhnya, matanya membulat karena penasaran. Dia terlihat benar-benar excited sekarang.
Melihat itu, Riley jadi memiringkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda itu pun terkekeh pelan, meluruskan kepalanya kembali, lalu melihat Kanna seraya tersenyum.
“Aku…lumayan sering memasak untuk diriku sendiri. Aku juga sering melihat resep-resep…” jawab Riley, dia terlihat agak ragu tatkala menceritakan hal itu kepada Kanna. Namun, Kanna—yang sedang penasaran bukan main itu—kini justru melongo. Satu hal yang ada di pikiran Kanna saat ini adalah:
Oh, dear God in heaven, this guy is so precious. Please please please please just—
Ekspresi wajah Kanna betul-betul blank saat bertanya, “Riley, apakah seseorang pernah mencoba untuk menculikmu?”
Kontan mata Riley membulat.
Mereka sama-sama diam selama empat detik, lalu…
“Hahahahaha!” Riley tertawa. Pemuda itu benar-benar tertawa lepas! Tawanya sukses membuat Kanna meraih kesadarannya kembali, tetapi kesadarannya itu lagi-lagi direnggut karena ia mulai terpesona melihat Riley yang sedang tertawa.
Ya Tuhan. Ini luar biasa. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, wahai Kanna.
Entah mengapa Kanna mendadak seolah melihat ada sayap imajiner yang membentang di balik punggung Riley. Seakan ada bunga-bunga juga yang jadi latar belakang sosoknya. Ada bunga-bunga, ada kupu-kupu, dan…ada dua cupid yang sedang meniup terompet.
Aaaahhhh! Tampan sekaliii! Bungkus!
“Kanna ini ada-ada saja,” ujar Riley seraya masih mencoba untuk menghentikan tawanya. Ketika tawanya benar-benar berhenti, ia pun tersenyum lebar kepada Kanna. “Kau begitu menggemaskan.” []