6. Baisemain (3)

1124 Words
Chapter 6 : Baisemain (3) ****** PIPI Kanna merona. Ia langsung sadar bahwa pertanyaannya tadi terdengar t***l setengah mati. Namun, mau bagaimana lagi? Itulah hal pertama yang terlintas di kepalanya beberapa saat yang lalu. Riley ini terlalu polos dan terlalu…unreal. Terlalu sayang untuk dilewatkan. Bisa-bisanya Riley telantar di taman itu semalam. Untung saja Kanna menemukannya lebih dulu. Ya…siapa cepat dia dapat, dong. “Habisnya…” Kanna tak melanjutkan kalimatnya karena merasa malu; dia tak ingin menyuarakan isi pikirannya yang tak-boleh-diketahui itu pada Riley. Riley tersenyum geli. Namun, sesaat kemudian Riley memiringkan kepalanya dan bertanya, “Kanna suka makan apa? Lain kali aku akan mencoba untuk memasak makanan favoritmu.” Kanna melebarkan matanya. “Eh? Aku…? Umm…” “Hmm?” deham Riley lembut, menunggu jawaban Kanna. Kanna hampir meleleh karena mendengar Riley berdeham, tetapi gadis itu berusaha untuk tetap fokus. Dia meletakkan jemarinya di dagu dan melihat ke arah lain; dia sedang berpikir. Sesaat kemudian, dia pun menatap Riley kembali. “Aku suka… Hamburger steak!” “Oooh…begitu, ya,” jawab Riley. Pemuda itu mengangguk perlahan. “Kalau…dessert-nya?” Kanna tersenyum lebar. Kali ini ia langsung menjawab Riley dengan yakin, “Apa pun, yang penting ada coklatnya.” Riley terkekeh. “Baiklah. Aku akan mempelajari banyak resep untukmu.” “Sebenarnya, kau tak perlu…” Kanna mulai cemas karena dia tak ingin melihat Riley kesulitan, tetapi Riley langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Kanna dan menggeleng. “Sssh… Kanna, kita sudah bicara soal ini. Tolong biarkan aku melakukannya, ya?” Akhirnya, Kanna yang tadinya membelalakkan mata—karena jari telunjuk Riley menempel pada bibirnya—kini mulai mengembuskan napasnya pasrah. Begitu jari telunjuk Riley menjauh dari bibirnya, Kanna pun mulai berbicara meskipun sambil cemberut, “Baiklah…” Riley tersenyum. “Kau pulang jam berapa, Kanna?” Mereka mulai menyuap potongan omelette ke dalam mulut mereka masing-masing, lalu Kanna menjawab, “Hmm…biasanya sore. Jam lima sore. Hari ini juga begitu.” Diam sejenak. Mereka sama-sama makan selama beberapa detik; tidak ada jawaban sama sekali dari Riley. Setelah diam selama enam detik, tiba-tiba suara Riley terdengar. “Kau akan kembali, ‘kan?” “Eh?” Kanna kontan menoleh kepada Riley dan melebarkan kedua matanya. Ia melihat Riley yang sedang menatapnya, tetapi dengan tatapan mata yang…agak berbeda. Pemuda itu kali ini terlihat serius. Tidak ada senyuman sama sekali di wajah tampannya. Ia bagai menjebak Kanna menggunakan tatapan matanya dan entah mengapa hal itu berhasil membuat tubuh Kanna jadi mematung. Kanna jadi tidak kuasa untuk bergerak dengan bebas. Tekanannya seolah membelenggu Kanna. Gadis itu berusaha untuk mencerna pertanyaan dari Riley sejenak. Namun, pada akhirnya Kanna mencoba untuk menguasai dirinya. Dia sendiri heran mengapa tadi tubuhnya tiba-tiba mematung, padahal…apa juga yang akan terjadi? Tidak ada apa-apa di sini. Hanya ada Riley yang polos. Pasti tubuh Kannalah yang sedang eror. Mencoba untuk menghilangkan suasana yang tegang dan canggung itu, Kanna pun tersenyum. “Y—Ya, tentu saja. Memangnya kenapa, Riley?” Riley hanya diam. Setelah bungkam selama empat detik lamanya, pemuda itu lalu tersenyum. Ia pun kembali bersuara. “Aku akan menunggumu.” Kedua mata Kanna membeliak. Kanna sadar bahwa kalimat Riley kali ini terdengar berbeda…meskipun pemuda itu masih mengucapkannya dengan suara dan nada yang sama. Pemuda itu tersenyum manis, kedua kelopak matanya nyaris tertutup seakan ikut tersenyum. Ia masih berbicara dengan suara lembutnya dan nada ramahnya. Semuanya sama seperti sebelumnya, tetapi mengapa…yang kali ini terdengar dan terasa agak berbeda? Meskipun demikian, Kanna langsung menepis segala perasaan itu. Dengan wajah yang semringah, Kanna pun tersenyum manis; ia membalas senyuman Riley. “Baiklah. Tunggu aku, ya.” ****** Your data has been saved successfully! Dialog box itu muncul saat Kanna baru saja selesai menyimpan data yang sejak tadi ia input ke website. Kanna langsung mengembuskan napasnya lega. Huah. Akhirnyaaaa! Akhirnya, pekerjaan hari ini selesai juga. Kanna meregangkan otot-ototnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia memejamkan mata, lalu memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Lehernya terasa pegal-pegal semua. Capek sekali, ya ampun. Sekarang aku bisa pulang, deh! Kanna tersenyum. Dia jadi ingat dengan Riley yang sedang menunggunya di rumah. Ah, jantungnya jadi berdebar tak keruan. Dia jadi excited. Semangatnya naik drastis; lelah yang ia rasakan tadi mendadak hilang begitu saja tatkala mengingat bahwa ada sosok Riley yang sedang menunggunya di rumah. Ah, rasanya seperti pasangan suami is— …ups. Mulai lagi, deh, imajinasi Kanna. Kanna menggeleng, ia hampir saja tertawa. Gadis itu pun mulai mematikan komputernya dan membereskan meja kerjanya dengan semangat. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas seraya tersenyum. Ini sudah jam pulang; beberapa teman Kanna sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Setelah selesai beres-beres, Kanna pun meraih tasnya dan menyampirkan tas selempang itu di pundaknya. Ia bangkit dari duduknya dan baru saja mau belok ke kanan untuk keluar dari kursinya tatkala tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Kannaaa!!” Kanna tidak jadi melangkah. Matanya melebar, tubuhnya langsung terdiam sejenak. Namun, akhirnya Kanna mulai mengangkat kepalanya untuk melihat ke asal suara. Itu seperti…suara Bu Erika, Sekretaris Bos. Belum sempat Kanna menjawab panggilan tersebut, tiba-tiba Kanna melihat ada seseorang yang lewat di depan kubikelnya. Hanya terlihat rambutnya, tetapi Kanna tahu bahwa orang itu sedang menuju ke kubikelnya. Kedua mata Kanna pun lantas mengikuti pergerakan rambut orang tersebut. Orang itu kini mulai berbelok dan berjalan di samping kubikel Kanna. Tiga detik kemudian, orang itu pun akhirnya sampai di kubikel Kanna dan benar-benar berhadapan dengan Kanna. Dia berdiri di dekat ‘pintu masuk’ kubikel Kanna dan mulai mengetuk dinding kubikel Kanna yang terbuat dari papan phenolic. “Ya, Bu?” jawab Kanna karena kini dia sudah yakin bahwa orang yang memanggilnya tadi adalah Bu Erika. “Ada apa, Bu?” Bu Erika pun tersenyum dengan canggung, ia agaknya merasa tidak enak. “Ah…kau sudah mau pulang, ya.” “Oh—iya, Bu, haha…” Kanna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu gadis itu tertawa hambar. “Memangnya ada apa, Bu? Bu Erika mengembuskan napasnya samar. “Begini, Kanna. Bos kita ada presentasi dadakan besok. Aku minta maaf karena sudah menganggu jam pulangmu, tetapi…presentasi itu harus selesai malam ini, Kanna. Bos berkata bahwa dia akan rapat bersama kita—staf-staf yang terlibat—sebentar lagi. Sayang sekali kau belum boleh pulang, Kanna… Hari ini kau lembur dulu, ya?” Kanna spontan saja melebarkan kedua matanya. Lembur? Ah, siaaaal… Kemarin Kanna sudah lembur. Hari ini lembur lagi? Siaaaaaaaalllll, padahal sudah semangat sekali mau pulang… Kanna tertunduk. Gadis itu merutuk kesal di dalam hati. Ia menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak mengeluarkan erangan kecewa di depan Bu Erika. Aiiishhh. Pengin pulang…huaaaaa! Tiba-tiba kedua mata Kanna melebar penuh. Oh iya, Riley! Bagaimana dengan Riley?! Kanna sudah bilang pada pemuda itu bahwa Kanna hari ini pulang jam lima sore. Kalau lembur begini, Kanna pasti akan pulang telat! Aduh, bagaimana ini?! []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD