Rose mendesah lega saat laki-laki itu pergi dari rumahnya. Dirinya tersentak kaget saat menemukan Keane berada di dalam rumahnya. Ia bersyukur karena laki-laki itu tak mengenalinya. Tentu saja tak mungkin ada yang akan mengenalinya jika ia begitu berbeda dari Rose sang primadona.
Satu bulan yang lalu setelah kabur dari kamar Keane ia bergegas pergi ke bank menunggu di sana hingga bank buka dan saat sudah buka ia segera menyetor uang itu.
Ia sengaja meminta uang tunai karena tak ingin Keane tahu nama lengkapnya hingga laki-laki itu mungkin akan menemukannya.
Kemudian ia segera mengirimkan uang yang didapatnya pada Aquila dan dia memutuskan menenangkan diri sejenak. Setelah itu dia meminta Aquila tak mengadakan lagi acara penggalangan dana dan mereka menghilang dari dunia kalangan atas.
Sekarang dia memiliki penghasilan lebih baik setelah mendesain bagian dalam rumah seorang politisi hingga sudah banyak orang yang menginginkan jasanya. Bahkan mengantri hanya untuk memakai jasanya.
Mereka sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk menjalankan panti asuhan ini. Rose masih mengumpulkan dana tapi secara online saja dan dirinya juga membuka peluang pagi orang tua yang tak memiliki anak untuk mengadopsi anak-anak di sini. Meski ia berat berpisah dengan mereka tapi anak-anak itu pantas mendapatkan keluarga lengkap.
Rose berhati-hati dalam menerima keluarga yang akan mengadopsi anak-anaknya. Dia akan memeriksa latar mereka dengan saksama karena tak ingin hal yang buruk menimpa anak-anak asuhnya.
Sejak hari itu juga ia tak pernah menjadi Rose lagi jadi dia harus mewarnai rambutnya setiap hari dengan warna cokelat karena ia tak tega mewarnainya secara permanen.
"Mama Rose apa akan pergi lama?"
Rose mengalihkan tatapannya pada seorang gadis cilik berumur 5 tahun bernama Kiara. Ia dibuang orang tuanya di depan panti karena sakit-sakitan tapi berkat mereka yang menjaganya dan selalu memperhatikan kesehatannya, sekarang gadis cilik itu lebih baik.
"Mama belum tahu, Sayang. Mungkin Mama harus di sana selama satu minggu tapi Mama akan segera pulang saat sudah selesai. Kiara jadi anak manis ya dan harus mendengarkan ucapan Nenek Aquila."
"Baik, Mama."
"Anak pintar."
"Rose apa tadi pemilik Group Maxfield datang kemari?"
"Iya, Tante, dia ingin membeli tempat ini, aku mengusirnya tapi sepertinya dia masih akan datang lagi."
"Oh, apa kamu akan lama? Tante tidak mau saat dia datang kamu tak ada."
"Mungkin aku akan pergi selama 1 minggu, Tante. Tidak usah membuka pintu jika dia datang saat aku tak ada."
"Apa tidak apa-apa kita menantang dia? Kamu tahu seberapa berkuasanya dia."
"Ya, aku tak peduli Tante."
"Mudah-mudahan kamu tak akan menyesalinya."
"Ya."
Rose harus pergi ke Italia untuk mendesain rumah seorang bangsawan di sana dan bayarannya sangat besar jadi dia tak mungkin menolaknya apalagi seluruh biaya transportasinya akan ditanggung mereka.
***
"Bagaimana apa kamu menemukan cela apa pun tentang wanita itu?"
"Aku akan mengirim semua yang aku dapat untuk Anda, Sir."
"Baiklah kirimkan sekarang."
"Baik, Sir."
Keane segera membaca fax yang dikirimkan oleh detektif yang ia sewa untuk mencari info tentang pemilik panti asuhan itu.
"Mary, berusia 25 tahun dan tidak menikah, tidak memiliki kekasih dan merupakan desain interior yang baru terkenal tidak lama ini."
Keane terus membaca data tentang Rose di sana dan ia bisa melihat betapa membosankannya hidup wanita itu. Pantas saja jika dia tak memiliki kekasih satu kalipun sampai usia 25 tahun apalagi dengan tampang mirip wanita tua seperti itu.
Dengan kesal Keane membanting berkas itu karena tak ada hal apapun yang bisa dia pakai untuk memaksa wanita itu menjual tempatnya.
"Tidak ada orang yang memiliki riwayat sebersih itu. Aku pasti akan menemukan celamu Mary."
Keane kemudian bersiap-siap untuk segera berangkat ke suatu tempat di mana tantenya tinggal. Tantenya memaksanya untuk datang agar bisa menanyai pendapatnya tentang sebuah bangunan miliknya. Dia tak bisa menolak permintaan wanita itu sebab dia hampir seperti ibu kedua baginya karena wanita itu yang membesarkannya saat dia tak memiliki siapapun lagi.
***
Rose sampai di bandara Turin Caselle Airport setelah melalui perjalanan selama 32 jam dari bandara Brisbane, Australia, di mana perjalanan itu terdiri dari 3 kali transit hingga akhirnya dia sampai di sini.
Sudah ada seorang sopir yang menjemputnya di sana dan ia menghela napasnya dengan lega saat akhirnya bisa duduk di kursi belakang mobil. Ia yakin jika mungkin ia akan tampak sangat berantakan saat ini dan berharap semoga wanita yang menyewa jasanya tidak berteriak ketakutan.
Setengah jam kemudian ia sampai di sebuah Palazzo, sebuah istana yang luas dan megah lengkap dengan tamannya yang indah.
Seorang pelayan menyambut Rose dan membawanya ke kamarnya agar ia bisa membersihkan diri dan beristirahat. Rose tiba di tempat itu saat hari sudah malam dan ia lega karena memiliki waktu semalaman untuk beristirahat sebelum bertemu pemilik istana ini.
Saat sudah diantarkan ke kamarnya, Rose menatap ruangan itu di mana dinding kamar itu dicat dengan warna cokelat muda dan Rose menyadari jika dinding itu dicat dengan teknik pengecatan khusus hingga membuatnya terasa hangat, klasik dan romantis.
Rose kemudian menatap jendela dimana gorden dan tirainya berwarna dusty pink dilengkapi dengan gorden tebal dengan panjang menjuntai ke lantai.
Gorden itu menambah kesan mewah dan elegan ruangan itu. Juga menambah kesan klasik dan hangat kamar itu.
Di ruangan itu juga terdapat kursi dan meja kecil yang bermaterial kayu dengan desain yang rumit dan banyak ukiran. Di kamar itu juga tergantung lukisan klasik, lukisan seorang wanita yang dikelilingi keranjang-keranjang buah jualannya.
"Jika semua ruangan di istana ini seindah ini sepertinya tak ada gunanya aku kemari," ujar Rose dan mulai membereskan barang-barangnya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi dan dirinya bisa melihat warna rambutnya yang luntur saat terkena air dan rambutnya kembali ke warna asalnya.
Ia tahu jika hal itu terlalu merepotkan sebab setiap pagi ia harus selalu menutup warna asli rambutnya tapi dia lebih menyukai kerepotannya daripada harus mewarnainya secara permanen. Lagi pula cat rambut itu alami jadi tidak akan merusak rambutnya sama sekali.
Setelah selesai mandi dia kemudian berpakaian dan bersiap-siap untuk tidur. Saat kepalanya menyentuh bantal dirinya langsung terlelap dalam mimpi karena tubuhnya benar-benar merasa begitu kelelahan.