Keesokan harinya Rose diantar ke ruang makan oleh pelayan saat ia selesai merapikan dirinya dan tentu saja setelah menyamarkan dirinya kembali. Sepanjang jalan ia memanjakan matanya dengan ukiran-ukiran unik lorong Palazzo yang juga terdapat lukisan gambar-gambar yang indah di langit-langitnya.
Hingga akhirnya Rose tiba di sebuah ruang makan dengan meja yang begitu panjang dan kursi-kursi dengan material kayu yang juga memiliki ukiran unik dan rumit seperti di kamarnya.
"Signora sudah menunggu Anda di ruangan yang berada di balik pintu itu, Signorina," ujar pelayan tersebut.
Rose mendesah lega saat ternyata ia tidak harus sarapan di meja makan itu yang tampak menyeramkan baginya. Bagaimana ia tidak ketakutan saat menatap meja dan menemukan 8 peralatan makan dengan hitungan cepat lewat sudut matanya.
Rose membuka pintu dan masuk ke ruangan itu dan dia menemukan seorang wanita dengan rambut yang tersanggul rapi di atas kepala dan pakaian elegan sedang duduk di kursi meja makan untuk 6 orang bersama seorang laki-laki yang sedang membaca koran.
"Ah, kamu sudah tiba."
"Ya, Nyonya. Perkenalkan saya Mary."
"Panggil saja aku Jane dan perkenalkan ini suamiku, Calvino."
Laki-laki yang Jane perkenalkan pada Rose hanya menatapnya sejenak, menganggukkan kepalanya dan kembali menekuni korannya lagi.
"Ayo, kita mulai sarapan."
"Terima kasih," ujar Rose dan bergegas ikut duduk di kursi meja makan di mana sudah terdapat hidangan di sana.
Tak lama kemudian pintu kembali membuka dan langkah kaki terdengar memasuki ruangan itu.
"Ah! Dirimu selalu saja harus membuat kami menunggu."
"Maafkan aku tanteku tersayang, ranjang di istanamu ini selalu saja begitu nikmat hingga aku tak ingin bangun dari sana."
Tubuh Rose menegang mendengar suara itu dan tak mengira jika ia akan sesial ini. Tulang punggungnya mengelenyar saat suara itu terdengar di telinganya dan bahkan tanpa berbalik ia tahu siapa orang yang saat ini sedang memasuki ruangan.
Rose menundukkan kepalanya sedalam mungkin saat laki-laki itu mengecup pipi Jane dan kemudian duduk tak jauh darinya.
"Aku tak mengerti kenapa Tante harus memaksaku untuk datang padahal Tante sudah menyewa tenaga profesional."
"Tante ingin kamar itu menjadi kamarmu dan pengantinmu nanti jika kamu menikah jadi tentu saja pendapatmu juga sangat penting."
Keane tertawa mendengarnya, "Mungkin seratus tahun lagi, Tante, karena aku sama sekali tidak ingin menikah. Aku menikmati masa lajangku dan tak ingin kehilangannya demi seorang wanita."
"Kamu akan menemukan seorang wanita nanti seperti ommu yang menemukan Tante," ujar Jane menatap suaminya penuh cinta.
"Om pasti menemukan Tante saat berada di ruangan gelap hingga tak bisa melihat betapa diktatornya Tante," ujar Keane tertawa.
"Keane!" bentak Jane marah.
"Sudah, abaikan saja keponakanmu, saat dia jatuh cinta kamu bisa membalasnya," ujar Calvino menenangkan Jane.
"Kamu benar," timpal Jane.
"Tante harap kamu akan sangat susah mendapatkan wanita yang kamu cintai itu, Keane, hingga kamu akan menyadari betapa berharganya dia."
"Itu tak akan terjadi, Tante," ujar Keane hingga kemudian tatapannya berpaling pada Rose yang baru dia sadari kehadirannya.
Rose yang hanya diam saja sejak tadi bahkan terlihat mirip patung tidak mungkin akan membuat laki-laki itu menyadari kehadirannya lebih cepat.
Jane yang sesaat tadi sempat melupakan Rose juga akhirnya kembali sadar saat melihat ke mana keponakannya menatap. "Keane, perkenalkan ini Mary orang yang akan membantu kamu dan Tante mendesain kamar itu."
"Apa kamu menguntitku?" tanya Keane saat menyadari siapa Rose.
"Jangan besar kepala, Mr. Maxfield, karena di sini mungkin Anda yang menguntitku agar bisa mendapatkan apa yang Anda mau," balas Rose tenang.
"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Jane tak percaya.
"Ya, wanita itu yang menyebabkan proyekku terhambat dan aku rugi ratusan juta karenanya."
"Laki-laki itu merupakan pengusaha egois yang ingin mengusur sebuah rumah untuk sebuah mall yang tak dibutuhkan karena sudah banyak mall di sana," timpal Rose sinis membalas tatapan marah Keane dengan berani.
"Kalian bisa mengakrabkan diri saat selesai makan," ujar Calvino sebab bisa melihat jika mereka berdebat lebih lama mungkin piring-piring akan berterbangan dan dia segera mulai makan agar hal itu tidak terjadi hingga mau tak mau Rose dan Keane memutuskan tatapan permusuhan mereka dan juga mulai makan.
Mereka semua makan dalam diam walaupun Rose bisa merasakan tatapan tajam laki-laki itu padanya tapi ia tak mau menatap laki-laki itu satu kali pun. Hal itu tentu saja membuat Keane begitu geram karena tak pernah dia diabaikan seperti itu apalagi oleh seorang wanita yang tampak tak menarik sama sekali.
Semua itu tak luput dari pandangan Jane dan dia tersenyum melihat itu semua sebab tak ada yang mampu membuat keponakannya begitu mudah marah. Selama ini keponakannya memiliki pengendalian yang begitu tinggi bahkan mendekati keterlaluan dan baru kali ini ada seseorang yang mampu membuat dia begitu mudah lepas kendali.
"Keane maukah kamu mengajak Mary berkeliling tempat ini sebelum dia harus mulai bekerja?" tanya Jane saat mereka selesai makan.
Rose terbelalak mendengar penuturan Jane dan tanpa bisa ia cegah dirinya juga menatap Keane yang tampak marah mendengar permintaan tantenya.
"Anda bisa meminta pelayan saja yang mengajakku berkeliling, Mrs. Saviero, aku yakin Mr. Maxfield punya kesibukan lain," ujar Rose.
"Aku akan mengajaknya berkeliling dan mungkin saat kami selesai maka kami akan semakin akrab," ujar Keane tersenyum sinis memandang Rose.
Rose hanya menatap kesal pada laki-laki itu padahal ia tahu jika laki-laki itu tak ingin melakukan semua itu tapi dia sengaja menerimanya hanya untuk membuatnya marah.
"Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling, aku tak pernah bisa menolak permintaan tanteku yang cantik," ujar Keane menatap Jane kesal karena tahu tantenya sengaja melakukan hal itu.
Rose berjalan di hadapan Keane terlebih dahulu dan mereka segera keluar dari ruangan itu.
"Apa kamu melihatnya Cal?" tanya Jane pada suaminya yang sejak tadi hanya diam.
"Aku tahu apa rencanamu, Jane, dan jangan mencobanya karena mereka tampak sangat ingin saling membunuh saat ini."
"Aku tak pernah melihat Keane seperti itu, itu akan sangat menyenangkan," ujar Jane tertawa.
"Ya, memang, tapi gadis itu pasti punya alasan hingga dia sengaja menyembunyikan kecantikannya."
"Jadi kamu juga menyadari jika dia sangat cantik?"
"Aku yakin Keane juga menyadarinya tapi konflik karena bangunan itu membutakan matanya."
"Semoga saja setelah mereka selesai berkeliling, kita tidak harus menguburkan siapa-siapa," ujar Jane tertawa.