Rose berjalan sedikit jauh dari Keane karena ia sama sekali tidak ingin Keane sampai menyentuhnya. Walau ia yakin Keane tidak akan mengenalinya tapi sentuhan laki-laki itu bisa membangkitkan kenangan yang begitu ingin dia lupakan.
Dirinya bersyukur karena tidak mengandung anak Keane sebab jika ia sampai hamil entah apa yang harus ia lakukan karena ia tak mungkin meminta pertanggung jawaban Keane jika tidak ingin dihina dan dipermalukan laki-laki itu lagi.
"Kamu akan mengajakku ke mana?" tanya Rose memecah keheningan.
Keane hanya diam dan Rose berhenti agar dia berjalan di depannya jadi ia bisa mengikutinya. Sebab jika ia yang berada di hadapan laki-laki itu, ia bisa merasakan punggungnya berkeringat dan seolah terbakar oleh tatapan laki-laki itu.
Keane kemudian membuka sebuah pintu di mana saat memasukinya Rose bisa melihat jika itu ruang perpustakaan yang sangat besar dengan buku-buku yang berbaris rapi di dinding-dinding hingga mencapai langit-langit ruangan. Rose berjalan masuk dengan cepat ke dalam dan menatapnya dengan takjub.
"Berapa banyak buku di ruangan ini?"
"200.000 buku."
Rose menatap Keane tak percaya akan jawabannya. "Apa aku boleh membaca buku-buku yang ada di sini?"
"Tentu saja, melihat dari penampilanmu yang mirip kutu buku, aku tahu kamu pasti akan menyukai ruangan ini dan kamu bisa terus di sini sampai malam jadi aku tak harus menemanimu seharian," ujar Keane tersenyum sinis karena berhasil menyingkirkan Rose begitu cepat.
"Apa Anda pikir aku suka berada dekat dengan Anda, Sir? Aku bahkan bergidik ngeri jika harus terus bersama Anda seharian. Lihatlah karena begitu ketakutan hingga bulu-bulu di lenganku meremang semua," ujar Rose memperlihatkan lengannya.
Keane mengenggam tangannya dengan erat, merasa sangat ingin mencekik leher wanita itu. Tanpa dia sadari dirinya berjalan ke arah Rose yang dengan cepat mundur menjauhi Keane.
Keane berhenti saat sadar jika dia hampir lepas kendali. "Aku tidak akan menyentuhmu jika itu yang kamu takutkan, kamu sama sekali bukan tipeku," ujar Keane sinis.
"Anda juga bukan tipeku, Mr. Maxfield," balas Rose tak mau kalah.
Keane tertawa mendengarnya karena dia tahu jika wanita ini sama sekali tak pernah berkencan, tak pernah memiliki kekasih jadi tak mungkin bisa memiliki tipe tertentu.
"Apa ada yang lucu?"
"Wanita sepertimu bahkan tak bisa memilih, Nona, kamu harus bersyukur jika ada yang akan tertarik padamu," ujar Keane.
"Jangan menilai seseorang dari sampulnya, Sir, karena Anda tak tahu mungkin di dalamnya ada sebongkah berlian. Atau bisa saja bagian luarnya ditutupi sebongkah berlian tapi bagian dalamnya menyimpan kebobrokan seperti seseorang yang aku kenal. Tampan di luar tapi kejam seperti iblis di dalam," sindir Rose.
Rose bisa melihat rona gelap menghiasi pipi Keane dan saat laki-laki itu benar-benar hilang kendali dirinya berteriak sambil berlari secepat mungkin menjauh darinya.
"Jangan sampai aku mendapatkanmu nanti," ujar Keane dingin berlalu dari sana meninggalkan Rose yang menghembuskan napas lega menatap punggung laki-laki itu yang menjauh. Ia duduk di atas kursi saat akhirnya Keane menghilang dari hadapannya.
Setelah menenangkan dirinya sejenak, Rose berkeliling ruangan itu dan melihat-lihat buku di sana. Dirinya merasa bingung harus mulai dari mana karena begitu banyak buku di sana. Ia kemudian mengambil sebuah buku yang menarik minatnya dan ia membukanya.
Buku itu dalam bahasa Italia jadi dia sama sekali tidak tahu apa artinya tapi terdapat gambar-gambar di sana dan ia melihat-lihat gambar tersebut. Menyadari jika itu merupakan kisah cinta pasangan kekasih yang harus berpisah karena tak direstui keluarga.
Ia juga bisa melihat jika sang wanita dipaksa menikah dengan orang lain dan kemudian si laki-laki nekad datang ke rumah si wanita hingga dia dipukuli oleh para pengawal orang tua si wanita.
Di penghujung cerita sang wanita menangis tersedu-sedu di atas kuburan laki-laki yang ternyata meninggal saat dipukuli oleh pengawal-pengawal itu.
"Untung saja bahasanya Italia jika aku membacanya dari awal dan ternyata akhirnya berakhir tragis seperti ini, hal itu akan sangat mengesalkan," ujar Rose dan menutup buku itu, sama sekali tak ingin melihat lagi akhir kisahnya. Jika sang laki-laki saja sudah mati, tentu saja cerita itu pasti sad ending dan ia paling benci dengan cerita yang sad ending.
Rose kemudian berpindah ke rak lainnya dan kembali melihat-lihat sampai akhirnya dia menemukan sebuah buku tentang desain khas Italia. Dekorasi bergaya Baroque, gaya hidup yang mendominasi gaya Eropa di tahun 1800an.
Rose mengetahui jika arsitektur Baroque pada zaman itu menunjukkan kemegahan dan kekuasaan, agar masyarakat pada zaman itu tunduk dan patuh pada morarki.
Ia menghabiskan waktunya melihat-lihat gambar dan mempelajari arsitektur itu hingga bahkan dirinya tak menyadari lagi jika ia sudah begitu lama di sana. Ponselnya yang berbunyi membuatnya menyadari waktu dan ia menjawab panggilan itu.
"Halo, Tante, apa ada masalah?" tanya Rose cemas karena tak pernah tantenya menelepon saat ia begitu jauh sebab biaya telepon akan membengkak.
"Kiara tak mau makan Rose dan dia terus mencarimu, Tante tak tahu lagi apa yang harus Tante lakukan."
"Biarkan aku berbicara dengannya," ujar Rose.
"Mama Rose."
"Ya, sayang. Nenek bilang Kiara nakal ya? Dan tak mau makan? Apa Kiara tidak sayang sama Mama?"
"Maaf Mama, Kiara begitu merindukan Mama hingga Kiara tak nafsu makan."
Rose tertawa mendengarnya.
"Mama juga begitu merindukan Kiara, jadi jika Kiara tidak mau makan maka Mama juga tidak mau makan. Jadi nanti kalau kita sakit, kita bisa pergi ke dokter dan minta dokter suntik obat biar tidak sakit lagi," ujar Rose dan menahan senyum.
"Nenek, Kiara mau makan!" teriaknya di ujung telepon dan Rose membekap mulutnya agar dia tidak tertawa mendengarnya karena taktik itu akan selalu berhasil untuk menaklukkan Kiara.
"Kiara mau makan dulu ya, Mama, jangan lama-lama pulangnya karena nanti Kiara jadi sakit rindu dan harus ke dokter."
"Ya, sayang, setelah pekerjaan Mama selesai, Mama akan segera pulang," ujar Rose berjanji dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat panggilan itu berakhir, ia membiarkan air matanya mengalir dan tak menyesali apa yang sudah ia lakukan 1 bulan lalu. Pengorbanannya sama sekali tak sia-sia dan dia tak akan pernah membiarkan Keane merampas rumah itu dari mereka.
Walau mungkin laki-laki itu akan mencoba menghancurkannya, dia tak akan menyerah mempertahankan tempat itu.
Rose kemudian mengembalikan buku itu ke tempatnya dan bergegas mencari Jane. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini karena dia sudah merindukan anak-anaknya.
Rose akhirnya menemukan Jane di ruang santai setelah bertanya pada pelayan.
"Mary, apa kamu sudah melihat semuanya dan di mana Keane?"
"Aku tadi memintanya meninggalkanku di perpustakaan saat melihat betapa banyak buku di sana dan setelah itu aku tak tahu ke mana Mr. Maxfield pergi."
"Anak itu! Aku memintanya mengajakmu berkeliling tapi dia malah pergi entah ke mana."
"Saya tidak keberatan Mrs. Saviero, saya yakin Mr. Maxfield sangat sibuk dan saya tidak ingin menyita waktunya."
"Aku sengaja memintanya kemari hanya agar dia tidak terus bekerja. Umurnya sudah 29 tahun tapi calon istri saja dia tak punya," ujar Jane frustrasi. "Dan kamu! Aku memintamu memanggilku Jane sejak tadi."
"Maaf, Mrs. Saviero, saya tidak mau lancang hanya memanggil Anda dengan nama saja."
"Berapa umurmu?"
"25 tahun."
"Kenapa penampilanmu seperti wanita berumur 40 tahun? Kenapa kamu sengaja menyembunyikan kecantikanmu?"
Rose hanya terbelalak mendengarnya, tak menyangka jika Jane tahu kebenarannya.
"Tidak apa-apa, saya hanya menyukai penampilan seperti ini."
"Baiklah, tidak apa-apa jika kamu tidak mau menceritakannya. Bagaimana jika kamu memanggilku Tante saja? Seperti Keane."
"Baiklah," ujar Rose setuju karena tak ingin Jane sampai marah jika dia menolak permintaannya lagi.
"Tante, kamar mana yang harus aku dekorasi? Karena aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku."
"Kenapa? Apa ada hal mendesak lainnya? Aku ingin kamu mempelajari dulu gaya arsitektur bangunan ini agar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dengan kamar tambahan itu."
"Baiklah," ujar Rose pasrah.
"Ayo, kita pergi ke taman."
"Ya."