Rose terpukau saat sampai di sebuah taman yang memiliki taman mawar dengan berbagai warna dan jenis. Pohon-pohon hijau yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Kolam-kolam air dengan air mancur di tengahnya dan rumput-rumput yang tertata rapi menghiasi semua halaman dengan ukiran indah sepanjang taman.
Rose bahkan bisa melihat sebuah danau dikejauhan dengan pohon-pohon berwarna orange kuning mengelilinginya.
"Taman ini sangat menakjubkan," ungkap Rose.
"Ya, aku paling suka berada di sini. Apalagi kursi di bawah pohon itu," ujar Jane.
Rose menatap tempat yang Jane tunjuk dan ia mengakui tempat itu akan sangat cocok untuk menikmati pemandangan, udara segar dan dengan adanya pohon di sana seseorang tak akan kepanasan saat duduk di bawahnya.
Setelah itu Rose diajak berkeliling ke semua ruangan dan kamar yang ada di istana itu. Tanpa terasa hari sudah sore dan Jane meminta Rose menemui mereka di ruang makan yang tadi pagi jika dia sudah selesai mandi.
Rose tak bisa menolak permintaan itu jadi dia hanya ke kamarnya saja dan menunggu sejenak baru berganti pakaian. Sebab dia tak mungkin mandi karena tak ingin kerepotan dua kali menyamarkan dirinya. Jadi dia baru akan mandi saat harus tidur.
Setelah dia rasakan sudah cukup menunggu, Rose kemudian keluar kamar dan mencari ruangan tadi tapi dirinya tersesat tak tahu ke mana dia melangkah hingga dia tiba di sebuah tempat dengan jendela terbuka di sana. Ia menemukan Keane berdiri di sana menatap keluar dengan kedua tangan berada di saku celananya.
Rose berbalik dan diam-diam akan pergi dari sana sebelum laki-laki itu menyadari kehadirannya. Tapi tiba-tiba Keane menatap padanya dan dirinya terkesiap saat melihat tatapan marah laki-laki itu yang membuat ia terpaku di sana tak mampu bergerak seolah-olah jika dia bergerak maka Keane akan menerkamnya sekarang juga.
Keane merasakan perasaan tergelitik seolah-olah tahu seseorang juga hadir di sana bahkan sebelum berbalik seolah dia tahu siapa itu dan benar saja saat dia memutar tubuhnya dan menemukan wanita itu berdiri di sana.
Dirinya memang semakin marah pada wanita itu, sebab para investornya hampir mengamuk padanya saat ini karena proyek yang terus tertunda. Kejadian di perpustakaan tadi tidak membuatnya lebih baik, bahkan seharian dia sangat ingin mencari wanita itu lagi dan entah melakukan apa padanya.
"Katakan berapa yang kamu inginkan agar menjual bangunan sialan itu?!"
"Tidak ada!"
Dengan kesal Keane menghampiri Rose yang bergegas mundur dengan ketakutan bahkan berbalik segera melarikan diri dari sana. Rose terus berlari tak tentu arah dengan Keane yang mengejarnya di belakang bahkan tanpa dia sadari dirinya berlari sampai taman tadi. Tanpa sengaja bahkan sanggulnya terlepas dan rambut panjangnya tergerai.
Rose terbelalak saat ia terpojok di dekat air mancur tak sanggup melarikan diri dari Keane lagi.
"Apa Anda akan membunuhku?" tanya Rose pelan saat akhirnya Keane berada di hadapannya dan menatapnya masih dengan pandangan marah.
"Aku tergoda ingin melakukannya," ujar Keane kembali berjalan satu langkah menghampiri Rose.
Rose juga berjalan mundur satu langkah menjauhi Keane.
"Anda tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena Anda akan masuk penjara."
"Tapi aku tidak akan masuk penjara jika tak ada yang tahu," ujar Keane dan kembali berjalan satu langkah mendekati Rose.
"Orang-orang akan tahu jika aku menghilang tiba-tiba."
"Aku bisa mengatakan jika kamu pulang karena merindukan kekasihmu.
"Aku tak punya kekasih seperti yang Anda katakan tadi."
"Tapi tak ada yang tahu termasuk tanteku."
Rose tertawa gugup mendengarnya.
"Lagi pula tanteku tak akan mencurigai keponakannya sendiri, aku bisa menenggelamkan tubuhmu di danau dan tak akan ada yang pernah menemukannya," ujar Keane kejam dan kembali melangkah mendekati Rose yang juga berjalan mundur satu langkah hingga mau tak mau dia bersandar di pinggir kolam dan semakin dekat dengan air mancur. Bahkan ia bisa merasakan air-air yang berjatuhan di sekitar kepalanya.
Napas Rose memburu saat Keane begitu dekat dengannya, meski laki-laki itu tak menyentuhnya tapi ia merasakan dirinya mulai panik atau takut ia tak yakin.
"Aku tak tahu jika rambutmu sepanjang ini," ujar Keane.
Keane menarik sejumput rambut lembut Rose di sela jari-jarinya. Ia melilit rambut itu di jarinya hingga Rose tertarik ke arahnya.
"Dan memiliki dua warna," sambung Keane.
Rose terbelalak mendengar penuturan Keane dan menyadari apa yang terjadi, jika rambut aslinya semakin tampak karena terkena air dari pancuran.
Dengan panik ia berusaha melepaskan diri dari Keane dan saat berhasil dirinya dengan cepat ingin pergi dari sana tapi ia lupa jika masih ada rambutnya di sela-sela jari-jari Keane yang belum melepaskannya hingga tubuhnya kembali terlempar ke pelukan Keane.
Ia bisa merasakan gelenyar merambatin tubuhnya karena bisa mengenali tubuh Keane yang menempel padanya.
"Kenapa kamu tampak begitu panik? Apa rahasia yang sudah kamu simpan?"
"Tidak ada!" tukas Rose cepat.
"Kenapa aku merasakan jika kita saling mengenal?"
"Tentu saja karena kita sudah pernah bertemu. Anda tidak amnesia bukan? Karena kita baru saja bertemu 3 hari yang lalu di Brisbane. Di rumah yang begitu ingin Anda rebut dariku."
Keane mengeretakan rahangnya saat kembali diingatkan oleh Rose alasan utama kemarahannya pada wanita itu. Dengan marah dia semakin menarik rambut Rose ke arahnya.
Dengan panik Rose mendorong Keane sekuat tenaga hingga laki-laki itu kehilangan keseimbangannya dan tercebur di dalam kolam.
Rose semakin terbelalak melihat apa yang sudah dilakukannya.
Dia akan benar-benar membunuhku sekarang, batin Rose.
"Maafkan aku!" ujarnya.
"s**t!" maki Keane saat berhasil bangun.
Rose berusaha menahan tawa melihat keadaan Keane yang biasanya rapi, tampak begitu berantakkan hingga ia tak bisa menahannya dan tawa meledak dari bibirnya.
"Aku akan membalasmu," ujar Keane marah saat melihat Rose menertawakannya.
"Maaf, aku tak bisa menahan diri karena biasanya Anda terlihat begitu berkilau tapi saat ini___." Tawa Rose kembali mengalir dari bibirnya hingga Keane semakin marah dibuatnya. Dengan geram dia keluar dari kolam itu.
Rose menghentikan tawanya saat melihat itu semua. Kepanikan kembali menghampirinya saat melihat Keane berjalan menuju arahnya. Dengan cepat ia berbalik dan bergegas melarikan diri dari sana dengan rambut panjangnya yang berkibar mengikutinya.
"Jangan sampai aku mendapatkanmu!" teriak Keane yang masih bisa didengar oleh Rose. Dirinya sama sekali tak berani melihat ke belakang lagi.
Rose berhasil tiba di kamarnya tanpa ia ketahui bagaimana caranya tapi ia bersyukur karena berhasil melarikan diri dari Keane. Dengan cepat ia mengunci pintu kamarnya dan segera menatap pantulan dirinya di kaca. Ia bisa melihat jika sebagian warna cokelat di rambutnya sudah hilang.
Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan rambutnya, ia memutuskan tak ingin makan malam lagi karena dirinya takut bertemu dengan Keane kembali.
***
Di kamarnya Keane dengan marah membuka semua pakaiannya dan kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dia merasa begitu kesal dan jika saat ini Rose berada di hadapannya maka dia akan membalasnya dengan perlahan.
"Apa yang akan aku lakukan padanya?" tanya Keane sambil membiarkan tubuhnya diguyur oleh air pancuran. Tanpa bisa dia tahan dirinya mengingat tawa wanita itu dan mengingat rasa tubuh mereka yang menempel sesaat sebelum wanita itu panik. Dia merasa tubuhnya mengenali rasa itu bahkan saat mengingatnya sekarang gairahnya langsung bangkit.
"s**t!" maki Keane kembali dan dengan cepat mengalihkan pikirannya tak mengerti kenapa wanita perawan tua itu bisa begitu menarik minatnya.
Selesai mandi Keane sudah tahu apa yang akan dia lakukan pada Rose dan dirinya bisa tidur dengan nyenyak.
***
Stok versi cetak masih ready ya.
Shopee : Angelvin
Tokopedia : Angelvin Onlineshop
WA : 081398520888