Rose mengeliatkan tubuhnya saat terbangun. Dirinya terbelalak saat mengingat apa yang terjadi semalam dan bahkan setelahnya ia tak bisa tidur. Ternyata tanpa dia sadari akhirnya dirinya bisa tidur juga.
Ia begitu cemas memikirkan apa yang mungkin akan Keane lakukan padanya.
"Hmmm...andai aku sudah menyelesaikan pekerjaanku," keluh Rose. Tapi dia tak punya pilihan selain menghadapi Keane dan hanya bisa pura-pura lupa akan apa yang semalam terjadi.
Selesai merias dirinya dengan penampilannya yang seperti biasa, ia meminta pelayan untuk mengantarkannya ke ruang makan agar ia tak tersesat lagi.
"Mary, kenapa kamu tidak makan malam semalam?" tanya Jane saat Rose masuk dan sudah duduk. Di sana juga sudah ada Keane yang tak berani ia lihat sejak dirinya masuk ke ruangan itu.
"Maaf, Tante, aku tertidur. Sepertinya aku masih merasa lelah karena perjalanan yang panjang."
"Jika Tante tahu kalian berdua saling mengenal, Tante akan meminta kamu bersama Keane saja karena dia punya pesawat pribadi jadi dia bisa sampai lebih cepat."
Tapi aku yang tak mau berduaan saja dengan laki-laki itu di atas ketinggian 30.000 kaki. Bahkan jika bisa memutar waktu aku tak ingin mengenalnya.
"Terima kasih tawarannya Tante, tapi aku tak ingin menyusahkan Mr. Maxfield."
"Tak akan repot sama sekali, kita bisa pulang bersama nanti," ujar Keane.
Rose menatap Keane tak punya pilihan, "Itu tidak perlu, Mr. Maxfield, terima kasih karena sudah berbaik hati menawarkannya padaku."
"Aku ingin kita semakin akrab apalagi mengingat apa yang sudah terjadi semalam," ujar Keane tersenyum sedikit di ujung bibirnya. Dia merasa sangat senang saat melihat kepanikan di kedua mata Rose.
Apa kamu pikir aku akan melupakannya? batin Keane masih sangat kesal. Dirinya semakin kesal sebab saat memandang wanita itu bahkan dia kembali menginginkannya.
Keane sungguh tak mengerti bagian mana dari wanita itu yang menarik minatnya dan dia terus memandang Rose mencoba mencari tahu sedangkan yang dipandang semakin panik.
"Semalam?" tanya Jane menatap mereka bergantian.
"Oh, kami hanya jalan-jalan di taman sebentar Tante tapi kemudian tanpa sengaja aku tercebur ke kolam, beruntung Mary berbaik hati menolongku," sindir Keane hingga membuat Rose merona merah mendengarnya.
"Apa kamu anak kecil, Keane? Hingga bisa tercebur di dalam kolam."
"Mungkin, Tante, tapi nanti aku pasti akan membalas kebaikan Mary," ujar Keane lagi hingga membuat Rose tersedak mendengarnya yang saat itu mencoba minum untuk menenangkan dirinya.
Keane tak bisa menahan senyuman di bibirnya karena tahu jika Rose pasti semakin takut akan pembalasannya dan dia yakin saat dirinya mendapatkan pembalasan itu semuanya akan terasa sangat manis.
Rose kemudian mencoba tak memedulikan lagi ucapan Keane, ia berharap dirinya tak akan pernah berduaan dengan laki-laki itu atau ia tak tahu nasib apa yang akan menghampirinya.
"Hari ini Tante akan meminta pelayan membawa kalian melihat kamar itu dan kalian bisa mulai mengerjakan serta mendiskusikan dekorasi dan lainnya."
"Tante tidak serius bukan menginginkan pendapatku?" tanya Keane.
"Tentu saja Tante serius."
"Aku tahu Tante sengaja ingin menjauhkanku dari pekerjaan dengan memintaku kemari dan aku akan menurutinya, aku baru akan pulang setelah Mary selesai jadi Tante tidak perlu lagi menggunakan alasan itu untuk menahanku."
"Benarkah?!" tanya Jane gembira karena taktiknya berhasil untuk menjauhkan keponakannya sejenak dari pekerjaannya.
"Ya," ujar Keane tak menyadari jika Rose sejak tadi menahan napas mendengarkan pembicaraan mereka. Dirinya menghela napas lega saat mendengar Keane tidak akan membantunya di kamar itu.
"Baiklah tapi kamu bisa bukan menemani Mary mencari-cari furniture untuk kamar itu atau apapun yang dibutuhkan Mary?"
"Ya, tapi hari ini aku tak bisa karena aku harus bertemu temanku."
Rose sungguh lega mendengarnya karena itu artinya laki-laki itu tak akan ada di sini hari ini.
"Tidak apa-apa, lagipula masih beberapa hari lagi Mary baru akan mencari furniture itu dan nanti kalian bisa sekalian jalan-jalan serta kamu bisa mengajak Mary melihat-lihat kota Roma."
"Itu tidak perlu, Tante, karena aku datang kemari untuk bekerja bukan untuk jalan-jalan," timpal Rose.
"Tidak ada salahnya bukan? Sebab kapan lagi kamu akan bisa menikmati tempat ini."
"Tapi aku harus segera pulang."
"Kenapa?"
"Karena anak-anakku akan merindukanku dan tanteku pasti kerepotan mengurusi mereka sendirian."
"Kamu sudah punya anak?"
"Ya," ujar Rose tersenyum.
Jane sangat kecewa mendengarnya karena dia berharap jika Rose akan menjadi kekasih Keane. Dia sangat berharap jika Rose merupakan jodoh Keane tapi jika wanita itu sudah memiliki anak, tentu saja dia juga sudah memiliki suami.
"Aku yakin jika hanya satu hari saja kamu jalan-jalan tidak akan apa-apa," ujar Jane.
"Baiklah, jika tak menyusahkan, Mr. Maxfield," ujar Rose menyerah karena tahu dia tak akan pernah menang.
"Panggil saja aku Keane, Mary, karena setelah urusanku dengan temanku berakhir, aku ingin kita bisa lebih akrab lagi," ujar Keane menatap Rose. Dia tahu jika wanita itu sangat gembira saat mendengar dirinya akan pergi.
Tak semudah itu aku akan melepaskanmu, batin Keane.
Rose tak menjawab ucapan Keane dan kemudian makan dalam diam walaupun dia tahu jika Keane terus menatapnya.
Setelah itu Jane meminta seorang pelayan mengantarkan Rose ke kamar yang dia maksud.
Saat ia memasuki kamar yang Jane inginkan untuk dia dekorasi. Ia menatap kamar itu yang tampak begitu besar hingga bahkan sebesar ruang tamu di rumahnya.
Berbagai ide mulai berkelebat diotaknya, warna, aksesoris, gorden, furniture apa yang mungkin akan cocok dengan kamar ini. Bahkan Jane membiarkan saja kamar ini belum dicat sama sekali. Semuanya benar-benar kosong hanya lantai saja yang menghiasinya.
Rose mulai bekerja menggambar dan memadu padankan berbagai warna yang cocok untuk kamar itu. Ia terus bekerja tanpa henti dan hanya akan berhenti saat dia butuh minum atau pun saat pelayan mengantarkan camilan untuk mereka.
Dirinya tersentak saat tiba-tiba Keane sudah berada di belakangnya dan berdiri begitu dekat padanya. Mencoba mengintip apa yang sedang ia kerjakan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Rose tak menyangka akan kehadiran laki-laki itu. "Bukankah Anda sedang menemui teman Anda?" tanya Rose kemudian dengan cepat ia berdiri sejauh mungkin dari laki-laki itu.
"Temanku tiba-tiba ada urusan penting. Jadi daripada aku pengangguran lebih baik aku datang ke sini."
"Tak ada juga yang bisa Anda lakukan di sini," ujar Rose berusaha mengusir Keane.
"Aku bisa membantumu untuk membalas kebaikanmu semalam," ujar Keane dengan sangat menyebalkan.
"Aku tak tahu selain murahan dan kejam Anda ternyata juga sangat menyebalkan," ujar Rose sudah lelah dengan ancaman-ancaman terselubung laki-laki itu.
"Murahan?!" tanya Keane dengan nada memperingatkan.
"Ya, bercinta dengan wanita manapun yang membuat Anda tertarik. Bukankah kalian menganggap wanita yang seperti itu murahan? Jadi hanya karena Anda laki-laki lantas hal itu tak berlaku untuk Anda? Sayang sekali menurutku itu juga murahan walaupun Anda yang membayar wanita bukan sebaliknya. Jika sebaliknya aku akan menyebut Anda gigolo bukan murahan," ujar Rose tersenyum sangat manis.
Dirinya bersorak di dalam hati saat berhasil memancing kemarahan Keane lagi dan dia berharap Keane akan segera pergi dari sini.
Keane menatap Rose dengan pandangan membunuhnya dan berjalan mendekat pada wanita itu.
"Katakan," ujar Keane dengan suara sangat pelan.
"Apa?" tanya Rose sedikit panik.
"Apa yang harus aku lakukan padamu saat ini?" tanyanya masih dengan pelan tapi sarat ancaman.
Rose hanya bisa terbelalak dan memikirkan akan menjawab apa karena dia tahu betapa marah Keane saat ini dan ia tak ingin salah menjawab.
"Katakan juga bagaimana caraku membalas perbuatanmu semalam?" tanya Keane saat Rose masih diam saja. Rasa kesalnya sudah mencapai tahap akhir hingga bahkan dia merasa akan meledak jika tak menyalurkannya.
"Aku tak tahu," cicit Rose semakin mundur hingga dirinya terjebak di antara dinding dan Keane yang hanya berjarak tiga langkah kaki darinya.
"Karena kamu tak tahu jawabannya, aku yang akan menentukannya untukmu," ujar Keane menarik lengan Rose hingga terlempar ke dalam pelukannya.
"Lepaskan!" jerit Rose terkejut dan meronta dari pelukan Keane tapi laki-laki itu bergeming dan terus merengkuh pinggang Rose membawanya entah ke mana.
Saat Rose menyadari ke mana Keane akan membawanya, semuanya sudah terlambat untuknya menghentikan Keane sebab saat ini mereka sudah berada di kamar mandi.
Tidak! Apa yang akan dilakukannya? batin Rose panik karena jika berhubungan dengan air saat sedang menyamar hal itu tentu saja membuatnya ketakutan.
Rose berusaha menyelinap dari samping Keane saat laki-laki itu menurunkannya di lantai kamar mandi tapi laki-laki itu merengkuh pinggangnya dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Anda mau apa?" tanya Rose panik.
"Tenang saja aku tak tertarik untuk menelanjangimu terlepas betapa murahannya aku menurutmu. Yang ingin aku lakukan hanyalah bersikap adil padamu," ujar Keane melepaskan rambut panjang Rose dari ikatannya kemudian menyalakan air pancuran menyirami Rose.
"Akh!" teriak Rose dan dengan panik mematikan air pancuran itu. Saat Keane ingin menyalakannya lagi dirinya menghalangi tubuh Keane.
Rose hanya bisa terdiam saat Keane begitu dekat padanya serta kembali melilitkan rambut panjangnya pada jari-jari laki-laki itu.
"Anda mau apa?" lirih Rose tak berani memandang wajah Keane.
"Katakan!"
"Apa?" lirih Rose.
"Apa yang kamu lakukan padaku?"
Rose memberanikan diri memandang Keane karena tak mengerti apa maksudnya.
"Aku minta maaf, aku sungguh tak sengaja melakukannya semalam," ujar Rose.
Tapi laki-laki itu bergeming dan malah semakin mendekat pada Rose yang merapatkan tubuhnya pada dinding hingga ia terjebak di sana.
Keane memanfaatkan hal itu dengan menarik rambut Rose agar mendongak padanya. Kemudian dia menempelkan bibir mereka, mencium wanita itu dengan gairah yang mengebu-gebu.
Pukulan dan rontaan Rose di dalam pelukannya tak ia pedulikan dan dirinya baru mencium Rose dengan perlahan saat wanita itu tak memberontak lagi dan menyerah dengan kekuasaan bibirnya sepenuhnya.
Tanpa sadar Keane merengkuh kepala Rose dan merapatkan tubuh mereka agar bisa memperdalam ciuman mereka saat gairahnya semakin berkobar karena ciuman itu. Dia baru berhenti saat napas mereka hampir habis dan dia sudah puas menghukum wanita itu.
"Apa ini ciuman pertama yang kamu terima? Aku yakin jika ini pasti ciuman pertama untuk wanita sepertimu. Karena itulah kamu langsung luluh di dalam pelukanku," ujar Keane untuk menutupi jika dia tanpa sadar mencium wanita itu.
Tubuh Rose menegang mendengarnya dan dengan cepat ia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Keane.
"Sayang sekali tebakan Anda salah, ini bukan ciuman pertamaku," ujar Rose dingin akhirnya menyadari jika Keane melakukan itu untuk membalasnya.
Walau dirimulah yang memang sudah merampas ciuman pertamaku, batin Rose.
Rose mendorong Keane agar menyingkir dari hadapannya dan ia lega saat laki-laki itu melepaskannya. Dengan cepat dia berlari pergi dari kamar itu untuk kembali ke kamarnya.
Keane terpaku melihat Rose yang melarikan diri dengan cepat darinya. Dia menatap tangannya di mana terdapat warna kecokelatan yang menempel di sana dan dia menyadari jika itu berasal dari rambut Rose yang sudah dia sentuh saat menciumnya tadi.
"Apa yang sudah kamu sembunyikan?" tanya Keane.
***
Dua hari berlalu sejak kejadian itu dan Keane sangat penasaran apa yang Rose kerjakan hingga bahkan dia tak melihat wanita itu di meja makan.
Pikiran akan kepanikan wanita itu saat tersiram air mancur dan warna cokelat di tangannya saat di kamar itu juga terus menghantuinya dan dia sungguh penasaran ingin tahu penyebabnya kenapa rambut Rose bisa luntur. Saat ini dia sedang menemani Jane makan siang, tanpa Calvino dan Rose. Sebab suami Jane sedang di kantor dan Rose sedang bekerja.
"Tante."
"Ya?"
"Apa Tante tahu kenapa rambut seseorang bisa luntur terkena air?"
"Apa maksudmu?"
"Rambut teman wanitaku luntur saat aku menyentuh rambutnya yang basah dan warna itu menempel di tanganku."
"Sepertinya dia mengecat rambutnya."
"Bukankah seharusnya tidak akan luntur?"
"Dia mengecatnya dengan cat yang tidak permanen jadi cat itu akan luntur saat terkena air. Beberapa orang melakukannya karena ingin memiliki warna rambut yang berbeda setiap harinya tapi beberapa melakukannya karena ingin menyembunyikan warna asli rambutnya tapi tidak mau menghilangkan warna asli rambutnya secara permanen."
Keane memikirkan semua itu dan dia ingat jika sempat melihat warna keemasan pada rambut Rose dan dia sungguh penasaran apakah Rose memang menyembunyikan warna rambut aslinya karena jika ingin memiliki warna rambut berbeda hal itu tak mungkin sebab setiap harinya rambut Rose berwarna cokelat membosankan.
"Terima kasih, Tante, untuk jawabannya."
"Ya, siapa teman wanitamu itu?"
Keane tertawa mendengarnya dan dia tahu tantenya akan semakin penasaran jika dia tak mau menceritakannya.
"Istri temanku," ujar Keane dan dia bisa melihat raut kecewa dikedua mata Jane mendengar jawabannya.
Keane tak sabar lagi ingin menemui Rose dan mencari tahu apa saja yang sudah wanita itu selesaikan karena ia mendengar jika wanita itu sudah meminta beberapa tukang dipanggil.