Keane menawarkan diri untuk membawa makan siang Rose saat tantenya meminta pelayan mengantarnya.
"Apa tidak apa-apa, Keane?"
"Ya, Tante, sebab aku memang ingin pergi ke sana. Aku penasaran sudah sejauh mana pekerjaannya."
"Baiklah jika begitu."
"Aku juga ingin mengajaknya jalan-jalan di taman apa tidak apa-apa, Tante?"
"Ya, dia memang bekerja terlalu keras selama dua hari ini, bantulah agar dia tidak menjadi sepertimu yang gila kerja," ujar Jane dan Keane tertawa mendengarnya.
Keane kemudian bergegas keluar dari sana tapi dia menginstruksikan pelayan agar melakukan sesuatu untuknya terlebih dahulu sebelum dia menemui Rose.
Saat tiba di kamar itu, dia mengetuk pintu karena tak ingin Rose terkejut lagi dengan kehadirannya. Ia bisa melihat sudah banyak perubahan pada kamar itu, dinding-dindingnya sudah dicat rapi, jendela sudah ditutupi gorden yang indah, langit-langit sudah dihiasi gambar, lampu-lampu yang indah juga sudah mengantung indah di sana.
Sepertinya sebentar lagi pekerjaannya akan selesai.
"Aku mengantarkan makan siangmu," ujar Keane saat Rose memandangnya dengan curiga.
"Oh, terima kasih," ujar Rose menghampiri Keane dan menerima makanan itu. Berusaha menghindari bersentuhan dengannya yang tampak sangat jelas.
"Bisakah besok kamu membawaku mencari furniture yang cocok untuk kamar ini?" tanya Rose saat sudah selesai makan.
"Baiklah dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aku ingin kamu beristirahat saat ini dan menemani aku berjalan-jalan di taman."
"Untuk apa?" tanya Rose curiga akan motif Keane.
"Tante yang memintanya sebab dia tak ingin kamu jadi gila kerja sepertiku."
Rose masih menatap curiga pada Keane, "Aku masih ada pekerjaan," ujar Rose menolak.
"Kalau begitu aku juga ada pekerjaan besok," ujar Keane datar.
Rose merasa sangat kesal dengan laki-laki itu dirinya tampak seperti anak kecil saja.
"Baiklah," ujar Rose kesal akhirnya dan melangkah keluar dari kamar itu.
Keane mengikuti Rose dari belakang dengan kedua lengannya berada di dalam saku celananya. Dia tahu jika wanita itu pasti sangat kesal padanya dan dia tak peduli.
Sampai akhirnya wanita itu berhenti dan menunggunya berjalan di depan agar dia bisa menunjukkan jalan, baru mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Apa kamu memang tak akan menjual rumah itu?"
"Tidak akan! Jika Anda berpura-pura baik agar aku menjualnya, sebaiknya Anda berhenti karena hal itu tak akan berhasil sebab rumah itu sangat berarti untukku."
Mereka akhirnya sampai di taman tapi Keane terus berjalan hingga akhirnya dia sampai di atas rumput.
"Kemarilah," ujar Keane saat Rose ragu-ragu menatap padanya karena tak tahu apa yang Keane inginkan dengan mengajaknya jalan-jalan di atas rumput yang indah itu. Ia tak tega menginjak rumput itu.
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu," ujar Keane.
"Apa?" tanya Rose waspada sebab menurutnya tak ada yang bisa dilihat di sana.
"Mendekatlah, kamu akan mengetahuinya," ujar Keane lagi.
Mau tak mau Rose mendekat hingga dia hanya berjarak dua langkah kaki dari Keane.
Tiba-tiba air memancar keluar dari dalam tanah dan sangat banyak hingga Rose hanya bisa berteriak panik. Ia berusaha kabur dari sana tapi Keane menangkap pinggangnya tak membiarkannya lari bahkan kemudian dia membuka sanggul rambut Rose dan membiarkan rambut panjang Rose tergerai.
"Apa yang Anda lakukan?!" jerit Rose marah.
"Mencari tahu warna rambutmu yang sesungguhnya."
"Lepaskan!" bentak Rose memukul Keane agar melepaskannya tapi ia tahu semua itu sia-sia dan ia sudah masuk ke dalam jebakan Keane. Mereka terus berada di sana hingga 15 menit kemudian bahkan tubuh mereka sudah basah kuyup hingga mereka menempel begitu erat.
Keane mengangkat rambut panjang Rose yang basah kuyup dan menatapnya, ia bisa melihat seutuhnya rambut Rose yang berwarna keemasan madu bahkan warna kulit Rose juga berubah.
"Apa kamu bunglon?"
"Tentu saja aku manusia!" bentak Rose kesal.
"Kenapa warna kulitmu berubah?"
"Karena aku suka warna kulit itu."
"Dan kenapa kamu juga menyembunyikan rambut seindah ini?" tanya Keane.
"Aku tak menyukainya."
"Pembohong! Jika kamu tak menyukainya maka kamu akan menghilangkannya secara permanen."
"Sepertinya itu bukan urusan Anda, sekarang tolong lepaskan aku, Anda sudah mendapatkan apa yang Anda mau jadi aku akan kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian."
Keane melepaskan Rose yang dengan cepat langsung memalingkan wajahnya membelakangi Keane. Ia segera berlalu dari sana sambil memegangi rambutnya agar Keane tetap tidak mengenalinya.
"Jika kamu mengecatnya lagi maka aku akan menghilangkannya lagi!" teriak Keane saat Rose mulai menjauh.
"Jangan campuri hidup saya!" balas Rose dan bergegas pergi dari sana.
***
Keesokan harinya Keane begitu marah saat Rose masuk ke ruang makan masih dengan penampilannya yang biasa dan saat wanita itu duduk ia menyiramkan air di atas kepalanya.
"Keane!" bentak Jane marah. "Apa yang kamu lakukan?!"
"Aku sudah memperingatkannya agar tidak mengecat rambutnya lagi tapi dia masih melakukannya."
"Apa maksudmu?" tanya Jane dan menatap Rose yang saat itu warna rambutnya sudah kembali ke asalnya.
Dengan marah Rose bangun dari sana dan akan kembali ke kamarnya.
"Jika Anda menyiram saya lagi maka saya akan mengubah warnanya secara permanen," ujar Rose dingin kemudian keluar dari sana.
Keane mengenggam tangannya dengan erat dan jika tatapan bisa membunuh seseorang mungkin punggung Rose sudah berlumuran darah.
Jane dan Calvino hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka. Perlahan senyum tersungging di bibir Jane saat Keane dengan marah berderap keluar juga dari ruangan itu.
"Apa yang otak cantikmu itu pikirkan?"
"Aku rasa Keane sudah tertarik pada Mary dan saat dia mengatakan jika teman wanitanya mengecat rambutnya aku sekarang yakin jika itu pasti Mary."
"Jadi?"
"Apa kamu lupa betapa sensitifnya dirimu saat aku ingin memotong rambut panjangku?"
"Ya, sekarang aku mengerti," ujar Calvino. Karena bisa melihat jika Keane tampak seperti dirinya yang begitu marah hanya karena Rose mewarnai rambutnya. Mereka tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Rose sampai menggunting rambutnya.
***
Siang hari Rose dan Keane melaju ke Roma untuk menemukan furniture bagi kamar itu. Keane menahan diri dengan marah saat melihat Rose kembali mengecat rambutnya tapi dia tak ingin Rose mengubah warnanya secara permanen jadi dia hanya bisa menahan semuanya di dalam hatinya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Setiap jalan, bangunan dan tempat yang mereka lalui semakin membuat Rose melupakan kekesalannya dan ia akhirnya bisa menikmati pemandangan dengan gembira.
Setengah jam kemudian mereka tiba di bagian Roma yang menjual furniture-furniture yang mereka butuhkan. Setelah berbagai pilihan, beberapa kali perbedaan pendapat bahkan beberapa pertengkaran kecil akhirnya mereka menemukan apa yang mereka inginkan.
"Apa kalian pengantin baru?" ujar penjaga toko yang menjual ranjang hingga wajah Rose merona merah mendengarnya. Penjual itu tahu jika mereka seorang turis jadi karena itulah dia berbicara pada mereka menggunakan bahasa mereka.
"Kami bukan__"
"Ya, kami baru saja menikah dan aku baru saja membelikan rumah untuk istriku di sini tapi kami sama sekali belum mengisi perabotannya. Jika tak ingin menghabiskan malam pengantin di atas lantai, kami harus segera menentukan pilihan," ujar Keane.
Mereka berdua tertawa mendengar ucapan Keane tapi tidak dengan Rose. Dia merasa ingin menendang Keane saat ini. Hingga akhirnya mereka menentukan juga pilihannya dan setelah membeli beberapa lukisan, hiasan dan sebuah guci yang sangat Rose sukai mereka kemudian bisa lega.
Tak terasa mereka berbelanja hanya dalam waktu dua jam saja jadi Keane rasa mereka masih memiliki waktu untuk jalan-jalan sebentar.