11

1234 Words
Keane menarik lengan Rose agar mengikutinya dan tanpa bisa ia kendalikan dirinya menatap genggaman tangan Keane pada tangannya. "Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Rose saat Keane memintanya naik ke sebuah bus. "Masih ada waktu sebelum malam dan aku ingin mengajakmu menikmati kota Roma." "Tapi kenapa tidak naik mobilmu saja? Jadi setelah itu kita bisa langsung pulang." "Karena aku ingin kamu menikmati waktumu lagipula jaraknya dekat sekali-kali aku ingin bersantai." 5 menit kemudian mereka sampai dan Keane kembali membawa Rose agar mengikutinya hingga mereka sampai di sebuah air mancur yang sangat indah di mana terdapat patung dewa laut Neptunus yang diapit oleh dua Triton. "Apa kamu masih ingin kembali ke Roma?" "Mungkin, aku ingin kembali kemari untuk mengunjungi semuanya suatu hari nanti bukan untuk bekerja." Keane memberikan sebuah koin pada Rose. "Lempar koin ke air mancur ini dengan tangan kanan di atas bahu kiri." "Untuk apa?" "Konon katanya jika kamu melakukan hal itu maka suatu hari kamu akan kembali lagi ke Roma." "Oh," ujar Rose dan mengikuti instruksi Keane. Meski ia tak percaya tapi tak ada salahnya bukan mencobanya. Setelah itu Keane mengajak Rose pergi ke Koloseum peninggalan sejarah yang dulunya merupakan arena gladiator. Untuk menghemat waktu mereka tidak lama di sana dan Keane kembali mengajak Rose makan malam sebelum mereka harus kembali pulang ke Palazzo. Mereka makan di sebuah kedai pinggir jalan yang membuat Rose begitu terkejut karena Keane mau makan di sana. Ia sungguh tak menyangka seorang Maxfield akan makan di pinggir jalan. Selesai makan Keane mengajak Rose pergi ke alun-alun yang dekat dari sana dan Rose dengan gembira menghampiri penjual bunga. Ia tersenyum bahagia saat Keane membelikannya setangkai bunga mawar. "Terima kasih untuk hari ini," ujar Rose dan tahu jika hari ini akan segera berakhir sebentar lagi. Keane menatap Rose yang berusaha menghindari tatapannya dan kemudian mereka kembali ke mobil Keane dan melaju pulang ke rumah dalam diam. Rose bergegas ke kamarnya saat mereka sampai dan besok ia akan kembali bekerja agar bisa segera menyelesaikannya hingga ia bisa segera pulang jadi dia tak perlu bersama Keane lagi. Bahkan ia berencana akan mulai mencari tempat tinggal baru yang layak bagi anak-anaknya dan menjual tempat itu untuk Keane hanya agar laki-laki itu tidak mengusik hidupnya lagi setelah ini. Rose takut jika dia akan jatuh cinta pada laki-laki itu dan ia sama sekali tak menginginkan kerumitan itu lagi di dalam hidupnya. *** Keesokan harinya Rose bekerja sejak selesai sarapan tanpa henti mengatur perabotan dan semua hal yang mereka beli kemarin. Saat sore hari akhirnya pekerjaannya selesai dan dia membawa Jane untuk menunjukkan hasilnya. "Sangat indah, Mary, dan hasilnya memang sangat sesuai dengan reputasimu, aku akan merekomendasikan namamu untuk teman-temanku nanti." "Terima kasih, Tante, kalau begitu besok pagi aku akan pulang." "Apa kamu tidak akan bersama Keane?" "Tidak, aku akan naik pesawat biasa saja dan Anda tidak perlu membiayainya." "Tidak itu tanggung jawabku dan jika itu yang kamu inginkan maka aku akan mengikuti keinginanmu, aku akan meminta Calvino mengirimkan bayaranmu." "Terima kasih, Tante," ujar Rose. "Aku senang bisa mengenalmu, suatu hari datanglah kembali ke sini dan dengan senang hati Tante akan menyambut kedatanganmu." "Ya," ujar Rose tersenyum. Rose kemudian berpamitan pada Jane dan meminta maaf karena tidak bisa ikut makan malam di ruang makan. Dia memutuskan untuk makan di kamar saja dengan alasan jika dia kelelahan padahal kenyataannya adalah dia ingin menghindari bertemu dengan Keane. Selesai makan Rose kemudian mandi dan membiarkan rambut indahnya tergerai. Ia duduk di ranjang dan tak bisa mengendalikan pikirannya untuk memikirkan Keane. Mengingat kembali bagaimana percintaannya dengan Keane dulu dan ia tahu hanya baginya saja hal itu berkesan sebab laki-laki itu merupakan yang pertama untuknya tapi ia yakin bagi Keane dirinya bukanlah siapa-siapa. Bahkan mungkin laki-laki itu sudah melupakannya dan membuang ingatan tentangnya seperti daftar-daftar wanita lainnya. "Tante mengatakan jika besok pagi kamu akan pulang sendiri dengan pesawat biasa?" tanya Keane saat memasuki kamar Rose. Rose hanya bisa terbelalak menatap laki-laki itu yang begitu mendadak memasuki kamarnya hingga ia tak bisa menyembunyikan dirinya lagi. Ia merutuki kebodohannya yang lupa mengunci pintu. Keane terpaku di tempatnya saat menatap Rose tanpa kacamata, kulit cokelat dan rambut panjangnya yang tergerai. Bagaimana rambut keemasannya membingkai wajahnya dan bibirnya yang merona merah. "Rose!" panggil Keane hingga Rose bisa melihat keterkejutan Keane berubah menjadi amarah. Ia berteriak saat Keane membanting pintu hingga tertutup. Ia semakin panik saat dengan langkah marah Keane menghampirinya di atas ranjang. "Jadi kamu Rose?!" bentak Keane menggelegar. "Kamu pasti tertawa sangat bahagia sebab berhasil mempermainkan aku dan menipuku dengan penampilan kutu buku dan perawan tuamu itu!" "Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkanmu." "Tapi kamu juga tidak mencoba memberitahuku!" bentak Keane marah. "Itu hanya seks satu malam, Mr. Maxfield, dan aku sudah memenuhi transaksi kita jadi aku sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk memberitahukan identitasku yang sebenarnya." Dengan marah Keane menangkap tubuh Rose dan merengkuhnya ke dalam pelukan. "Akh!" jerit Rose terkejut dan menahan kedua lengannya di d**a Keane. "Benarkah bagimu itu hanya sebuah transaksi? Jika itu hanya percintaan satu malam saja?" tanya Keane berbisik di depan bibir Rose. "Ya." "Pembohong!" ujar Keane dan memagut bibir Rose yang berada di hadapannya. Saat bibir Keane menyentuh bibirnya rasa nyeri nikmat langsung merambatin tubuh Rose dan akal sehatnya menghilang seolah ditiup angin. Ia menikmati ciuman Keane padanya dan mereka terus saling menikmati satu sama lain bahkan tak menyadari apa-apa lagi. Keane menuruni rahang Rose menuju lehernya dan ia menyibakkan pakaian tidur Rose agar dia lebih leluasa mencumbu leher wanita itu. "Sekarang aku mengerti kenapa kamu bisa menarikku layaknya sebuah magnet untukku," bisik Keane di leher wanita itu kemudian kembali mencumbu Rose. Rose merintih saat merasakan ciuman Keane padanya dan tanpa bisa ia kendalikan dirinya meraba d**a Keane dengan terburu-buru. Ketukan di pintu menyadarkan mereka dan dengan cepat Keane melepaskan Rose saat mendengar suara Jane. "Mary!" Dengan cepat Rose merapikan dirinya dan bergegas menjauh dari Keane. Pintu terbuka dan kepala Jane muncul dari sana. "Apa aku menganggu?" "Tidak, Tante, masuklah." "Keane kamu tidak macam-macam bukan?" tanya Jane menatap keponakannya curiga. Wajah Rose bersemu merah mendengarnya dan ia begitu malu pada Jane saat ini sebab hampir bercinta kembali dengan keponakan wanita itu dengan sukarela. "Maaf, Mary, jika Keane menganggumu, aku tak tahu dia akan semarah itu saat aku memberitahunya jika kamu akan pulang naik pesawat biasa besok." "Namanya Rose, Tante," geram Keane saat ingat Rose menipunya. "Tapi dia meminta Tante memanggilnya Mary." "Dia adalah Rose Sang Primadona Malam dan jika Tante mencari namanya diinternet, Tante akan menemukannya," ujar Keane sinis menatap tajam pada Rose. "Oh." Jane menatap bergantian antara Rose dan Keane dan ia tahu jika sudah terjadi sesuatu di antara kedua orang itu. "Baiklah, sebaiknya kamu tidur jika akan pulang besok pagi." "Dia akan pulang bersamaku besok siang," timpal Keane dan menatap Rose tajam. "Aku akan pulang sendirian, Mr. Maxfield." "Jika kamu berani melakukannya maka saat aku sampai di Brisbane kamu akan menerima akibatnya, jadi coba saja Rose!" ucap Keane dengan penuh ancaman dan kemudian berlalu dari sana meninggalkan Rose bersama Jane yang menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Apa kalian saling kenal lama?" "Rose Sang Primadona adalah hadiah bagi siapa saja yang menyumbangkan uang terbesar dan Keane salah satu pemenang itu." Jane menatap Rose tak menyangka. "Itu tidak seperti yang Tante pikirkan," ujar Rose saat menyadari ke mana arah pikiran Jane. "Para laki-laki itu hanya akan makan malam saja bersamaku, tidak lebih," ujar Rose tersenyum. Jane tersenyum akan pikirannya hingga sebuah pertanyaan terlintas di benaknya. "Bukankah kamu sudah menikah?" tanya Jane. "Belum, Tante." "Lalu anak-anakmu?" "Mereka hanya anak-anak asuhku saja." "Oh," ujar Jane tersenyum sangat senang mendengarnya. "Kamu ternyata memang sangat cantik, aku tak tahu kenapa kamu menyembunyikannya selama ini." "Karena kecantikan itu bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar," ujar Rose tersenyum getir. "Baiklah, Tante akan pergi dulu. Sebaiknya kamu beristirahat karena besok kalian akan melakukan perjalanan jauh." "Ya, terima kasih, Tante." *** Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD