12

980 Words
Pagi hari Rose terbangun dengan cemas memikirkan semuanya. Semalaman ia tak bisa tidur karena tak tahu harus memilih yang mana. Harus mengikuti keinginan Keane atau menuruti kata hatinya untuk tak pulang bersama laki-laki itu. Tapi amarah Keane semalam membuat ia tak berani menantang perintah laki-laki itu entah karena apa. Rose kemudian mandi dan bersiap untuk sarapan karena sepertinya mau tak mau dia memang harus pulang bersama Keane. Selesai merapikan dirinya seperti biasa dengan penampilan ala kutu bukunya, ia kemudian masuk ke ruang sarapan. Ia tak pernah tersesat lagi dan bisa dengan mudah menemukan ruangan itu tapi ia masih tak berani berjalan-jalan tanpa pemandu di istana itu. "Pagi, Tante, Mr. Saviero," sapa Rose saat bertemu mereka di ruang sarapan. "Pagi, Rose," timpal Jane dan mengangkat alis melihat penampilan Rose. Dirinya saling menatap dengan Calvino dan mereka bersiap-siap karena tak lama lagi mereka yakin akan melihat pertunjukan seru. Rose duduk di kursinya yang biasa dan mulai mengambil sarapan. Tak lama pintu kembali terbuka dan ia tahu jika itu pasti Keane. Rose menjerit saat Keane meraih pinggangnya dan mengangkatnya dari kursi itu bahkan laki-laki itu menggendongnya entah ke mana. "Apa yang Anda lakukan?!" jerit Rose tapi laki-laki itu bergeming hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kamar dan Keane terus membawanya masuk ke kamar mandi. Keane menurunkan Rose di sana dan menindihnya di dinding agar dia tidak bisa melarikan diri dan dia menyalakan air pancuran. "Hentikan!" bentak Rose marah saat rambutnya mulai basah begitu juga bajunya dan tentu saja perjuangannya untuk mewarnai rambutnya selama sejam hancur sudah. "Jika lain kali kamu menutupi lagi warna rambutmu Rose, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu!" geram Keane penuh ancaman. "Anda tidak berhak mengatur keinginanku akan anggota tubuhku," ujar Rose. "Sejak kamu menyerahkan keperawananmu untukku, aku berhak atas dirimu." Rose tertawa mendengar kearoganan laki-laki itu. "Anda tidak masuk akal, itu hanya keperawanan dan seks satu malam jadi bagian mana yang menjadikan hal itu hak untuk Anda mengatur hidupku?" "Bagian yang merupakan fakta jika aku laki-laki pertama untukmu dan sejak saat ini aku akan memastikannya jika hanya aku yang boleh memilikimu," bisik Keane di telinga Rose yang kemudian menangkup pipi Rose dengan tangannya dan dia mencumbu bibir Rose dengan penuh gairah di bawah air pancuran yang membasahi tubuh mereka. Napas mereka terengah saat Keane selesai mencumbu bibirnya dan Rose bisa merasakan jika bibirnya bengkak karena ciuman laki-laki itu. Rose menjerit saat Keane merobek pakaiannya yang sudah basah dan laki-laki itu tak peduli saat ia berusaha menjauhkan tangannya yang terus berusaha membuka semua pakaiannya. "Apa kamu akan memerkosaku?!" tanya Rose marah. Tapi Keane hanya memberikan senyum misterius untuknya hingga akhirnya dia kalah dan sepenuhnya ia berdiri telanjang di hadapan laki-laki itu. Rose berusaha menutupi tubuhnya dengan lengan dan tak bisa melarikan diri dari penindasan laki-laki itu padanya sebab saat dia ingin pergi maka Keane akan merengkuh pinggangnya dan mengembalikannya ke tempat semula. Keane memandikannya hingga warna cokelat pada rambut dan kulitnya hilang sepenuhnya. Rose dengan refleks mengalungkan lengannya pada leher Keane saat dia menggendong Rose keluar dari sana. Saat sampai di kamar, Keane mendudukkan Rose di kursi dekat meja rias serta memberikan handuk padanya, dengan cepat ia menutupi tubuhnya. "Lain kali aku tidak hanya akan menelanjangimu dan memandikanmu saja tapi aku akan bercinta denganmu di bawah pancuran jika kamu berani mewarnai rambutmu lagi. Jadi jika kamu mengubah warnanya secara permanen itu artinya undangan untukku agar terus bercinta denganmu," ujar Keane tersenyum licik sambil mengeringkan rambut Rose menggunakan hairdryer. Rose hanya bisa menatap laki-laki itu lewat cermin meja rias dengan terperangah tak tahu apa sebenarnya masalahnya. Kenapa Keane yang jadi begitu marah padahal rambutnya sendiri yang ia cat tapi tak ada yang bisa ia katakan akan ucapan Keane dan dirinya hanya bisa pasrah saat Keane terus memainkan rambutnya untuk mengeringkannya. "Apa kamu sering melakukan hal ini?" tanya Rose saat melihat betapa ahli Keane mengeringkan rambutnya. Setiap belaian Keane pada rambutnya membuat ia merasakan gelenyar pada tubuhnya apalagi jika tanpa sengaja tangan laki-laki itu menyentuh telinganya. "Tidak pernah, ini pertama kalinya aku mengeringkan rambut wanita," timpalnya. Sampai akhirnya rambut Rose kering sepenuhnya dan Rose bisa melihat senyuman tersungging di bibir laki-laki itu merasa begitu puas akan hasil pekerjaannya. "Aku akan meminta pelayan mengantarkan sarapan untuk kita." "Bolehkah aku kembali ke kamarku saja?" "Kenapa? Apa kamu takut tak bisa menahan diri dan akan tergoda dengan tubuhku?" tanya Keane. Rose membiarkan matanya menyusuri tubuh Keane yang tercetak jelas dari balik kemejanya yang basah. "Sama sekali tidak," sergah Rose dan mengalihkan tatapannya. Keane memutar Rose dari duduknya dan mengangkat dagu wanita itu dengan telunjuknya agar mau menatapnya. Dengan enggan Rose menatap Keane dan dirinya tak bisa mengendalikan pikirannya yang kembali membayangkan percintaan mereka. "Benarkah?" tanya Keane dengan suara serak. "Ya," lirih Rose. Keane melepaskan dagu Rose dan kemudian mulai membuka kancing-kancing kemejanya satu persatu di bawah tatapan Rose. Entah kenapa Rose seolah terhipnotis dan tak mampu mengalihkan pandangannya. Ia terus mengikuti jari-jari Keane hingga kemeja laki-laki itu terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan d**a telanjang laki-laki itu. Dengan susah payah ia menegak salivanya saat tubuh indah dan berotot Keane terpampang dihadapannya. Bagaimanapun ia tak melihat dengan jelas tubuh Keane saat itu sebab laki-laki itu terus sibuk mencumbu dan menindihnya. Rose terbelalak saat tangan Keane meraih celananya dan kemudian membuka resletingnya dan ia tetap tak bisa mengalihkan pandangannya bahkan hingga laki-laki itu telanjang sepenuhnya di hadapannya dan bagaimana miliknya juga berdiri tegak di hadapannya, ia tetap tak bisa memalingkan wajahnya. "Apa kamu menyukai apa yang kamu lihat?" tanya Keane. "Apa yang kamu lakukan?!" jerit Rose sambil menutup matanya sebab saat mendengar suara Keane hipnotis yang ia rasakan terputus dan membuat dirinya menyadari semuanya. Ia bisa mendengar Keane yang terkekeh geli akan apa yang ia lakukan. "Kamu sudah merasakan milikku berkali-kali memasukimu Rose jadi tak perlu malu lagi jika ingin menatapnya." "Dasar gila!" maki Rose dari sela-sela jarinya. "Kamu boleh membuka matamu," ujar Keane. Rose perlahan melepaskan jari-jarinya dan mengintip. Ia lega saat menemukan Keane sudah melilitkan handuk pada bagian bawah tubuhnya walau d**a telanjang Keane yang tampak tak membantu ketenangannya sama sekali. Ia masih bisa merasakan keinginan untuk bercinta lagi dengan laki-laki itu. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD