Mereka sarapan dalam diam saat makanan diantarkan ke kamar Keane. Kamar yang laki-laki itu tempati hampir mirip dengan miliknya kecuali warnanya yang membuat kamar ini cocok untuk laki-laki.
"Apa kamu sudah membereskan pakaianmu semalam?" tanya Keane saat mereka selesai sarapan.
"Ya."
"Kita akan berangkat jam 10 nanti."
"Baiklah."
Keane menyerahkan jubah pada Rose yang segera ia kenakan dan ia menunggu Keane yang kembali berpakaian. Dirinya berdiri sedikit jauh dari Keane karena tak tahu apa yang mungkin akan laki-laki itu lakukan jika ia terlalu dekat.
"Sebaiknya aku ke kamarku," ujar Rose dan berjalan ke arah pintu.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu," ujar Rose dan dengan cepat membuka pintu serta mengintip situasi di luar. Saat melihat tak ada siapa-siapa dengan cepat ia keluar dari kamar itu menuju kamarnya.
Saat tiba dengan selamat di kamarnya ia segera mencari pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Lalu Rose menyanggul rambutnya kembali ke atas kepalanya tapi ia tak berani lagi mewarnainya karena ingat akan ancaman Keane padanya.
Saat jam menunjukkan pukul 09.30, Rose beranjak dari kamarnya membawa kopernya dan ia mencari keberadaan Jane. Ia menemukan mereka di ruang santai.
"Tante, Mr. Saviero, aku pamit pulang dulu, terima kasih untuk semuanya," ujar Rose.
"Sama-sama, aku harap kita akan bertemu lagi," ujar Jane menghampiri Rose dan memeluknya erat. Calvino hanya menganggukan kepalanya saat Rose berpamitan.
"Tante, jangan rindukan keponakanmu yang tampan ini," ujar sebuah suara di belakang Rose.
Mata Jane sudah berkaca-kaca sejak tadi dan saat ini air matanya mulai mengalir.
"Sering-seringlah mengunjungi tantemu yang sudah tua ini," ujar Jane memeluk Keane.
Keane tertawa mendengarnya, "Tua apanya, Tante mirip wanita yang berusia 25 tahun dan aku yakin Om masih kewalahan melayani Tante," ujar Keane.
"Kamu ini!" sergah Jane kesal dan memukul keponakannya sedangkan Calvino hanya tersenyum mendengarnya.
"Tante harap saat nanti kamu kembali ke sini, kamu sudah membawa istrimu," ujar Jane menatap Rose penuh arti hingga yang ditatap merona merah karena tahu apa maksud Jane.
Keane tak membalas ucapan Jane dan hanya mengecup pipinya lembut dan memeluknya. Kemudian dia menghampiri Calvino dan memeluknya juga. Setelah itu ia menarik tangan Rose agar mengikutinya dan mereka masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil Rose duduk sejauh mungkin dari Keane hingga ia merasakan tangan laki-laki itu berada di kepalanya dan rambutnya jatuh tergerai.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Rose kesal.
"Kembalikan!" bentak Rose meminta pengikat rambutnya yang Keane ambil tapi laki-laki itu malah membuka jendela mobil dan membuangnya keluar.
"Mungkin aku gunting saja rambut ini," ujar Rose kesal dan Keane menghadiahinya tatapan membunuh hingga ia sedikit bergidik ngeri melihatnya.
"Lakukan saja jadi aku bisa menikmatimu sepuasku lagi," ujar Keane tersenyum licik.
Rose hanya diam dan pura-pura tidak mendengar ucapan Keane.
Setengah jam kemudian mereka sampai di bandara dan tak lama kemudian mereka sudah mengudara menggunakan pesawat pribadi Keane.
Keane duduk di hadapan Rose yang terus berpura-pura tak tahu akan tatapan laki-laki itu padanya.
"Jadi untuk apa uang 500 juta yang kamu dapatkan kemarin?"
"Itu bukan urusanmu."
"Aku akan mengetahuinya suatu hari nanti jadi sebaiknya kamu katakan saja."
"Kalau begitu Anda harus bersabar sampai suatu hari itu tiba," ujar Rose tersenyum.
"Kenapa kamu dan tantemu tidak mengadakan acara amal glamour itu lagi? Apa gaya hidupmu sudah berubah?"
"Itu juga bukan urusanmu," ujar Rose.
"Aku akan membiayai hidup mewahmu jika kamu mau menjadi simpananku?"
Rose menatap terperangah akan ucapan laki-laki itu dan tawa lolos dari bibirnya.
"Maaf aku tak tertarik menjadi simpanan siapa-siapa. Lagipula aku sudah punya penghasilan sendiri sekarang."
"Karir desainermu?"
Rose hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Aku bisa menghancurkannya hanya dengan menjentikkan jariku, dan kamu akan menjadi simpananku saat itu terjadi."
"Mungkin aku malah akan membencimu, Mr. Maxfield," ucap Rose tenang.
Rose kemudian memejamkan mata dan tak memedulikan Keane lagi sampai akhirnya dirinya terlelap tidur bahkan tak sadar saat Keane membopongnya dan membawanya ke kamar yang ada di pesawat itu. Mereka tidur berpelukkan untuk menghabiskan waktu yang panjang di udara.
Akhirnya mereka tiba kembali di Brisbane setelah berhenti 2 kali di beberapa bandara dan melalui beberapa jam kemudian di udara. Rose tak peduli lagi saat Keane memeluknya karena dia memang kelelahan. Bekerja keras selama beberapa hari kemarin membuat ia baru merasakan efeknya saat ini.
Mereka tiba di Brisbane saat hari sudah malam. Rose ingin segera pulang ke rumah tapi Keane melarangnya.
"Keluargamu pasti sudah tidur jadi percuma saja kamu pulang tengah malam seperti ini. Kamu hanya akan mengganggu mereka saja jadi sebaiknya kamu ikut aku ke apartemenku."
"Tapi aku merindukan anak-anakku."
"Aku penasaran bagaimana caranya kamu memiliki anak jika bahkan kamu masih perawan."
"Mereka anak-anak asuhku."
"Berapa banyak?"
"Untuk apa kamu tahu?"
"Hanya ingin tahu."
"Setelah ini kita tidak punya urusan lagi jadi sepertinya kamu tak harus tahu."
Keane mendorong Rose masuk ke dalam apartemennya saat mereka sampai. Dia menuangkan minuman dan memberikannya pada Rose. Lalu menuangkan untuk dirinya sendiri juga.
"Kamu salah," ujar Keane.
"Apa?"
"Kamu akan terus berurusan denganku, ingat masih ada tanah dan rumahmu yang ingin aku beli."
"Dan aku tak akan menjualnya."
"Kita lihat saja nanti."
"Aku tak akan pernah menjualnya, Keane, rumah itu sangat berharga untukku."
Kecuali jika aku bisa menemukan penggantinya yang lebih layak untuk anak-anak, batin Rose tapi ia tak ingin mengungkapkannya pada Keane.
"Aku suka mendengarmu akhirnya mau memanggil namaku."
Dengan marah Rose menegak sisa minumannya dan tak menggubris Keane lagi karena ia tahu Keane sengaja pura-pura tidak mau mendengar ucapannya tentang tak akan menjual rumah itu.
"Berendamlah di bathtub sedikit lama, aku tahu kamu pasti sangat lelah," ujar Keane.
Rose mengikuti ucapan Keane karena dia memang merasakan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Ia masuk ke kamar yang Keane tunjuk, melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub yang sudah mulai terisi air panas. Ia memejamkan mata saat air hangat membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
Saat air mulai mendingin ia segera menyelesaikan mandinya dan keluar menuju kamar. Ia menemukan Keane sudah menyiapkan kimono untuknya dan ia memakainya karena saat ini dirinya sama sekali tak ingin membongkar barang-barangnya.
Rasa lelah membuat Rose berbaring di atas ranjang dan dirinya kembali tertidur di sana bahkan tak menyadari saat Keane masuk dan tidur di sampingnya.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^