14

1095 Words
Rose pulang ke rumah kembali diantarkan oleh sopir Keane sebab laki-laki itu harus segera kembali ke kantor tapi Rose bersyukur karena ia tak mau laki-laki itu ikut bersamanya. Ia sudah tak sabar lagi bertemu anak-anaknya. "Halo," panggil Rose saat sampai di dalam rumah tapi tak melihat siapapun di sana. "Mama Rose!" teriak anak-anak berhamburan turun dari lantai atas. "Kalian hati-hati!" teriak Rose saat mereka berhamburan menuruni tangga menyambut kepulangannya. Saat tiba di tempat Rose mereka memeluknya dengan erat dan berceloteh riang mengungkapkan rasa rindu mereka. "Kami merindukan, Mama!" "Kenapa Mama lama sekali perginya?" Berbagai pertanyaan mereka utarakan hingga bahkan ia tak tahu lagi siapa yang bertanya. Anak-anak yang lebih besar hanya menatapnya dari jauh tapi ia tahu mereka juga merindukannya. "Kemarilah!" panggil Rose pada mereka dan dengan cepat mereka menghampirinya dan memeluknya erat. "Aku juga merindukan kalian," ungkap Rose dan membiarkan air matanya mengalir. Di dekat anak-anaknya ia memang selalu tak bisa menahan emosinya karena ia sangat menyayangi mereka. Maurel gadis umur 18 tahun berambut ikal, berkulit gelap berusaha di jual bibinya saat dia berusia 12 tahun dan Rose membelinya kemudian merawatnya. Sekarang gadis itu sudah berusia 18 tahun dan dia tak mau meninggalkan panti itu tapi malah ikut membantu Rose. Begitu juga Joseph 14 tahun, Christopher 16 tahun dan Laudia 15 tahun. Mereka tak pernah mau diadopsi meski ada yang ingin mengadopsi mereka. Rose sudah menasehati mereka jika lebih baik mereka memiliki keluarga lengkap. Mereka mau mengikuti permintaannya tapi 3 hari kemudian setelah ikut keluarga angkat mereka, ia malah menemukan mereka ada di depan rumahnya lagi jadi ia menyerah mencoba membuat mereka mau diadopsi. Sekarang mereka hanya membantunya dan Aquila mengurusi panti itu sebab mereka tak memiliki biaya lebih untuk menyewa tenaga tambahan. "Ayo, sekarang kalian semua mandi dan ikuti perintah kakak-kakak kalian," ujar Rose pada anak-anak yang lebih kecil. Maurel dan Laudia akan mengurus anak-anak perempuan sedangkan Joseph dan Christhoper akan mengurusi anak-anak laki-laki. Lantai 2 merupakan kamar para anak perempuan lantai 3 merupakan kamar anak laki-laki sedangkan lantai 1 merupakan ruang belajar mereka. Rose memang menyewa guru private untuk mengajari mereka walaupun hal itu sangat jauh berbeda dibandingkan jika mereka pergi ke sekolah yang sesungguhnya tapi setidaknya mereka menuntut ilmu sebab ia tak mampu membiayai mereka untuk pergi ke sekolah. Di lantai dasar merupakan dapur dan ruang makan juga tempat bermain. Tak gampang mengurusi anak-anak dalam jumlah banyak tapi ia dan Aquila tak akan menyerah akan mereka. Rumah ini memang besar tapi Rose tahu jika beberapa bagian butuh perbaikan. Sekarang karena ia mendapatkan bayaran yang lumayan dari Jane ia bisa memperbaiki bagian yang paling membutuhkan perbaikan. Saat anak-anak selesai mandi, Rose membantu Aquila dan anak-anak yang lebih besar menyiapkan makanan mereka. Sekarang tinggal 30 anak yang bersama mereka sebab sejak Rose kembali membuka jalur adopsi, beberapa anak sudah mendapatkan keluarga yang benar-benar menyayangi mereka. Rose sempat tak membiarkan orang-orang mengadopsi karena sebuah kejadian di mana orang tua angkat memukul anak asuhnya. Karena itulah sekarang ia lebih berhati-hati dan mungkin Tuhan juga memberikan jalan untuknya hingga dia bisa bertemu teman sekolahnya yang merupakan mantan agen rahasia pemerintah yang sekarang menjadi detektif di sebuah tempat tapi ia tak tahu bagian mana jadi dia hanya menganggapnya polisi saja. Yang penting dia bisa meminta bantuannya untuk menyelidiki info tentang orang tua yang ingin mengadopsi anak-anaknya. Di rumah itu selain Rose dan Aquila, ada juga Cynthia yang bertugas sebagai juru masak dan sudah bersama Rose dan Aquila semenjak Rose masih kecil. Bahkan Cynthia yang membantu Aquila mengurusi Rose. Rose ikut bersama Aquila saat berusia 12 tahun karena kedua orang tuanya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan. "Setelah ini Mama mau kalian masuk ke ruang belajar karena Miss Lauren akan datang sebentar lagi untuk mengajari kalian." "Baik, Mama," ujar mereka serempak. Saat anak-anak sudah masuk ke ruang belajar, Rose kemudian pergi ke ruang kerjanya dan mulai mengatur semua hal yang harus dikerjakannya. "Rose!" panggil Aquila saat masuk ke ruang kerjanya. Rose mengangkat tatapannya dari tagihan yang sedang ia pelajari dan bagaimana tagihan itu sudah jatuh tempo selama 1 minggu ini. "Ya, Tante." "Tumben kamu tidak mengubah warna rambut dan kulitmu?" tanya Aquila heran. Wajah Rose bersemu merah dan tak tahu apa yang harus dikatakannya karena Aquila sampai sekarang masih tak tahu dari mana sebenarnya uang 500 juta itu berasal. "Bagaimana pekerjaanmu di Italia?" "Klien merasa sangat puas jadi dia juga membayarku dengan bayaran yang lumayan. Untuk sementara waktu kita tak perlu cemas dengan uang." "Tapi kenapa kamu masih kelihatan khawatir? Apa ada sesuatu yang menganggumu?" "Aku baik-baik saja, Tante," ujar Rose walau sesungguhnya ia sama sekali tak baik-baik saja karena dirinya tahu Keane merupakan masalah untuknya. Selain karena laki-laki itu menginginkan tanahnya, dia juga sudah tahu identitas Rose yang sesungguhnya. "Tante tahu kamu tak baik-baik saja." Tok...tok...tok... "Ya, Maurel?" "Mama Rose di depan ada seorang laki-laki yang mencarimu." "Oh, terima kasih, Mama akan segera ke sana." "Siapa, Rose? Kenapa kamu langsung terlihat panik?" "Keane Maxfield, Tante," ujar Rose dan Aquila tahu jika laki-laki itulah yang menginginkan tanah mereka dan juga laki-laki itu juga yang ingin mencium bibir Rose Sang Primadona Malam. "Apa dia tidak akan mengenalimu dengan rambut seperti itu?" "Ia sudah tahu, Tante. Klienku di Italia adalah tantenya, dan dia membongkar identitasku saat berada di sana. Aku tak tahu kenapa kebetulan itu bisa ada hingga aku begitu sial bertemu dengannya kembali di sana." "Pantas saja dia tak kemari," ujar Aquila tertawa dan sekarang tahu apa yang sudah membuat keponakannya tampak cemas setelah pulang dari Italia. "Aku menemuinya dulu, Tante." "Ya." Rose bergegas keluar dan menemukan Keane sedang berjalan berkeliling di ruang duduk melihat ke sana kemari. "Mau apa kamu ke sini?" Keane berbalik dan menatap Rose, ia puas saat melihat Rose tidak mengecat rambutnya lagi tapi kemudian dia menghampiri Rose dan kembali mengurai rambutnya. "Keane, hentikan hal itu! Aku harus bekerja jadi tentu saja aku tak ingin rambutku yang berkibar-kibar menganggu pekerjaanku." "Saat bersamaku aku ingin rambutmu tergerai indah karena aku menyukainya," ujar Keane melilitkan sejumput rambut Rose dan menarik Rose mendekat padanya hingga ia masuk ke dalam pelukan Keane. Keane tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan memagut bibir Rose dengan rasa mendamba. "Hentikan! Bagaimana kalau anak-anakku melihatnya?" tanya Rose dengan wajah merona karena gairah. "Jadilah milikku, Rose," pinta Keane. "Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau jika kamu menjadi milikku," sambung Keane. "Aku bukan wanita seperti itu, Keane." "Aku ingin kamu menjadi kekasihku." "Kita bahkan tak saling mengenal." "Baiklah, mulai hari ini aku ingin kita saling mengenal dan jika kamu ingin berkencan terlebih dahulu sebelum menerimaku menjadi kekasihmu, maka akan aku lakukan, makan malamlah denganku malam ini. Aku sudah membuat reservasi di restoran favoritmu." "Apa aku boleh membungkus makanan dari sana untuk aku bawa pulang?" "Tentu saja, sebanyak yang kamu mau." "Baiklah," ujar Rose. Dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan anak-anaknya makanan enak. Lagipula Keane tidak akan bangkrut karena hal itu. *** Masih Ready. WA : 081398520888 Shopee : Angelvin Tokopedia : Angelvin Onlineshop *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD