Malam tiba dan Rose kebingungan menentukan akan memakai baju yang mana.
"Apa kamu yakin ingin makan malam dengannya Rose? Kamu tahu bukan jika dia hanya menginginkan rumah ini."
"Ya, Tante, aku tahu. Lagipula apapun yang dia lakukan aku tak akan menjual tempat ini kecuali jika kita mendapatkan tempat baru yang lebih layak dan lebih besar untuk anak-anak."
"Tante harap kamu tak berharap lebih dari semua perhatiannya."
"Aku tahu Tante, laki-laki seperti Maxfield tak mungkin menginginkan aku sebagai istrinya. Aku juga mendengar sendiri saat dia memberitahu tantenya jika tak akan menikah bahkan 100 tahun kemudian."
"Baiklah, Tante hanya tak ingin kamu terluka."
"Terima kasih, Tante. Aku harus segera siap sebelum dia tiba tapi aku tak tahu harus mengenakan pakaian yang mana."
"Pakai saja yang berwarna kuning itu, kamu tampak sangat cantik memakainya."
"Baiklah," ujar Rose. Kemudian dia merias wajahnya dan membuat dia semakin tampak memesona.
Rose segera turun saat mendengar mobil yang memasuki halaman rumah dan saat menuruni tangga ia menemukan Keane sudah berdiri di sana menunggunya mengenakan jas hitam yang membuatnya semakin tampak begitu tampan.
"Kamu sangat cantik dan aku merasa jika aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia."
"Kamu juga sangat tampan," balas Rose dan mereka kemudian segera melaju ke restoran.
Makan malam kali ini berbeda dengan makan malam sebelumnya sebab Keane memesan ruangan khusus untuk mereka berdua saja di lantai atas restoran itu. Jadi satu lantai tersebut Keane booking khusus untuk mereka saja. Makan malam yang diterangi sinar bulan purnama.
"Apa kamu yang menyiapkan semua ini?"
"Ya."
"Sangat romantis," ujar Rose tersenyum. "Jika kamu melakukan ini untuk membuatku mau menjual rumahku maka kamu akan gagal."
"Aku melakukan ini karena dirimu sebab aku tak mau orang lain ikut menikmati kecantikanmu."
"Aku tak tahu jika kamu pandai merayu," ujar Rose dan mulai makan hidangannya.
Saat mereka selesai makan malam Keane menanyakan apa yang ingin Rose bawa pulang dan ia meminta 40 pai daging dan 40 burger tentu saja hal itu membuat Keane shock.
"Kenapa? Apa kamu tak mampu membayarnya?"
"Tentu saja mampu hanya saja aku tak tahu untuk apa makanan sebanyak itu?"
"Oh, untuk anak-anakku dan juga anak-anak panti yang aku kenal. Maaf jika kamu merasa aku memerasmu," ujar Rose tersenyum. "Tapi mereka tak pernah mencicipi makanan enak dan aku akan merasa bersalah jika hanya aku yang makan."
"Aku akan memberikan apapun selama kamu mau makan malam dan kencan denganku."
"Baiklah."
Saat malam tiba Keane mengajak Rose ke apartemennya walau ia menolak.
"Aku harus menidurkan anak-anakku, Keane."
"Tantemu bisa melakukannya. Aku hanya belum puas berduaan saja denganmu," ujar Keane merengkuh Rose ke dalam pelukannya.
"Semalaman kamu menyiksaku membuatku hampir meledak karena menginginkanmu jadi izinkan aku menciummu," ujar Keane dan memagut bibir Rose dengan perlahan hingga ia merasakan lututnya melemah dan hanya bisa bersandar pada lengan Keane.
"Aku belum mengizinkannya," gerutu Rose saat laki-laki itu menghentikan ciumannya. Keane hanya tertawa mendengarnya dan kembali mencumbu Rose.
"Aku sangat suka mencium harum rambutmu," bisik Keane sambil membaui leher Rose di mana rambutnya tergerai di sana.
Tapi kemudian Keane berpindah menyusurkan bibirnya sepanjang leher Rose hingga ia merasakan jika tubuhnya meremang karena hal itu.
"Keane!"
"Izinkan aku, Rose!" bisik Keane.
"Aku tak menyentuh wanita lain sejak kamu melarikan diri dari kamarku dan saat ini aku sungguh tersiksa. Hanya kamu yang aku inginkan dan aku sudah terjerat olehmu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
"Tapi aku wanita yang glamor dan gaya hidupku sangat mahal."
"Aku tak peduli, aku akan memberikanmu apapun. Jika uang saku yang kamu inginkan maka aku akan memberikannya sebanyak yang kamu mau."
"Ya dan kemudian aku harus melayanimu di ranjang? Sepertinya itu lebih tampak seperti jalang saja. Maaf aku tidak bisa."
"Kalau begitu bercintalah sukarela denganku."
"Kemudian saat kamu bosan dan menemukan yang baru, kamu akan membuangku seperti sampah. Atau setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, kamu tak akan menginginkan aku lagi."
"Jika rumah sialan itu yang kamu maksud aku tak memikirkannya sama sekali!" bentak Keane murka hingga Rose berjengit terkejut.
"Satu bulan aku berusaha menemukanmu dan saat aku menemukanmu aku sama sekali tak peduli lagi akan rumah itu," ujar Keane menghela napas kesal.
"Semua tempat amal, semua tempat pesta dan setiap orang yang datang ke acara amalmu sudah aku tanyakan tapi aku tak berhasil menemukanmu. Jadi rumah itu sama sekali tak penting lagi untukku," sambung Keane.
"Untuk apa kamu mencariku?"
"Karena aku ingin menjadikanmu milikku sepenuhnya. Apa kamu ingin kita menikah? Baiklah aku akan menikahimu jika itu yang kamu inginkan asal kamu menjadi milikku."
"Apa kamu sedang melamarku atau memberikan perintah untukku?"
"Demi Tuhan, Rose!" teriak Keane dan merengkuh Rose kembali ke dalam pelukannya.
Keane mencumbu Rose dengan gairah tertahan yang tak ia salurkan sudah satu bulan ini dan jika harus memerkosa Rose mungkin akan dia lakukan karena penampilan wanita itu malam ini sama sekali tak membantunya agar bisa mengendalikan diri.
Keane membuka pakaian Rose dan mencumbu p******a telanjangnya, dia menggendong tubuh Rose yang hanya berbalut celana dalam ke dalam kamarnya dan membaringkannya di ranjang hingga dia bisa dengan leluasa menikmati tubuh wanita itu.
Saat tak tahan lagi ia membuka baju terakhir wanita itu hingga polos seutuhnya di hadapannya dan dengan cepat dia juga membuka pakaiannya.
"Jika kamu mau menghentikanku maka simpan tenagamu karena aku tak akan membiarkannya dan kamu tak akan berhasil menghentikan aku," ujar Keane.
"Aku tak mau kamu berhenti."
Keane begitu lega mendengarnya dan dengan cepat ia menyatukan tubuh mereka dan terus bergerak hingga kenikmatan menghampiri mereka.
"Aku harus pulang," ujar Rose saat badai itu sudah berlalu.
"Baiklah," ujar Keane dan mengecup bibir Rose. Mereka kemudian memakai baju dan Keane segera mengantarkan Rose kembali ke rumahnya.
"Jika kamu ingin membeli sesuatu atau membutuhkan uang katakan saja padaku," ujar Keane saat mengantarkan Rose di pintu.
Tubuh Rose membeku mendengarnya dan hatinya ikut terluka.
"Aku bukan p*****r!" ujarnya dingin menarik diri dari Keane kemudian menutup pintu di hadapan laki-laki itu yang menyadari jika dia sudah salah bicara.
Rose membiarkan air matanya luruh dan dirinya dengan cepat naik ke kamarnya membiarkan air matanya membanjiri bantalnya.
Harusnya ia tahu jika hanya itu saja nilainya di mata Keane dan tak akan lebih. Lamaran laki-laki itu hanya basa basi saja agar ia mau ditiduri dan dengan bodohnya ia memberikan apa yang Keane mau.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^