2

1301 Words
Sepanjang perjalanan Rose tahu jika laki-laki itu terus menatapnya dan bahkan menatap bibirnya. Ia merasakan rasa panas pada bibirnya tapi ia berusaha bersikap tenang dan seolah tak menyadarinya. "Apa ini pertama kalinya kamu membiarkan laki-laki mencium bibirmu?" tanya Keane memecahkan keheningan. Rose memalingkan wajah menatap laki-laki itu. Sejenak mereka hanya saling menatap dalam diam dan tak ada yang bicara. "Aku rasa itu percakapan yang terlalu pribadi untuk dua orang yang baru saling mengenal, Mr. Maxfield," ujar Rose dan tersenyum dengan manis padahal jantungnya berdegup semakin kencang saat melihat kilatan pada kedua mata biru laki-laki itu. "Panggil aku Keane dan apa aku boleh memanggilmu Rose?" "Ya." "Apakah Rose nama aslimu?" "Mungkin," ujar Rose tak ingin menginfokan apapun tentangnya sebab hal itu tak ada gunanya karena belum tentu mereka akan bertemu kembali. "Apa kamu selalu menjawab semua pertanyaan dengan teka teki?" "Begitulah." Keane tertawa mendengarnya dan tak mengira jika dirinya akan sesulit itu mendapatkan info tentang wanita itu. Aku tahu bagaimana tipe wanita sepertimu. Sengaja membuat laki-laki begitu penasaran tentangmu hingga akan semakin terpesona padamu agar kamu berhasil menjeratnya sepenuhnya. Rose hanya menatap takjub laki-laki yang tertawa di hadapannya. Dia mengenal nama Maxfield jadi dia tahu siapa laki-laki itu bahkan mungkin dia tahu apa tujuan kedatangan laki-laki itu juga maksud dari uang 50 jutanya. Apa yang media katakan memang benar jika laki-laki itu memang laki-laki tertampan yang pernah ada dan Rose bisa melihatnya tapi ia sadar diri jika dirinya bukanlah siapa-siapa dan agar dirinya tak berharap banyak dari acara satu malam ini. "Ayo, kita sudah sampai," ucap Keane bergegas turun dan mengulurkan tangannya pada Rose. Rose menerimanya dan bisa merasakan getaran merambatin jari-jarinya saat bersentuhan dengan jari telanjang Keane tapi ia mengabaikannya. Mereka kemudian diantarkan masuk ke sebuah ruangan tertutup dan pelayan segera mengeluarkan menu-menu makan malam yang ada sebab mereka sudah hapal akan kedatangan Rose ke restoran mereka. Mereka begitu terkejut saat melihat laki-laki yang mendampingi Rose bahkan tidak menyangka. "Apa kamu selalu makan malam di sini?" "Ya." "Apa kamu tidak bosan?" "Tidak, karena tempat ini adalah tempat favoritku, aku suka makanannya apalagi sajian pencuci mulutnya. Apakah ini sesuai selera Anda? Jika tidak maafkan aku, aku akan meminta pelayan membawakan buku menu," ujar Rose. "Tidak perlu. Walau bukan makanan favoritku tapi aku lumayan menyukainya," timpal Keane menatap pada makan malamnya yang berupa pie yang berisikan daging. "Baiklah," ujar Rose dan mereka mulai makan. Selesai makan sebuah makanan pencuci mulut dikeluarkan yang Keane ketahui bernama Pavlova. Pavlova merupakan sajian pencuci mulut yang adonannya terbuat dari putih telur dan gula yang dikocok hingga kaku kemudian dipanggang dengan suhu rendah dalam waktu yang agak lama. Proses pemanggangan yang lama membuat teksturnya terasa renyah di luar dan lembut seperti marshmallow di bagian dalam. "Jadi ini pencuci mulut kesukaanmu?" "Ya," ujar Rose tersenyum dan mulai memakan makanan pencuci mulutnya. Keane hanya bisa menatap terpaku saat Rose menyuapkan makanan ke bibirnya dan mendesah nikmat saat tekstur lembut makanan itu meledak di dalam mulutnya. Rose menikmati makanan itu sepelan mungkin karena hanya saat seperti ini saja ia mampu menikmatinya sebab uang yang ada harus mereka simpan untuk anak-anak panti asuhan yang lebih membutuhkannya. Saat tersadar dari keterpakuannya, Keane merasa sudah tak sabar lagi untuk mencicipi bibir Rose yang terus menggodanya sejak tadi bahkan seolah menariknya untuk segera mencium bibir itu. Jadi dia segera menghabiskan makanannya agar dia bisa segera menagih sisa hadiah dari Rose. Mereka segera beranjak dari restoran itu setelah selesai makan malam dan Keane kembali menggandeng lengan Rose menuju mobilnya. "Jadi kapan sisa hadiah akan aku terima?" tanya Keane saat mereka sudah kembali melaju. Rose berpaling menatap Keane dan bisa melihat ketidaksabaran dikedua mata itu. Ia tak bisa mencegah matanya untuk turun menatap bibir Keane yang sejak tadi selalu ia hindari agar tidak melihatnya. Ia menyesal kenapa tidak menuruti hatinya untuk tidak melihat bibir Keane sebab hal itu menyebabkan ia membayangkan bagaimana rasa bibir Keane saat menyentuh bibirnya. Kamu hanya akan mengecup bibir itu saja Rose dan kamu harus memegang kendali. Jangan biarkan ciuman itu lebih dari sebuah kecupan, batin Rose. "Bolehkan aku mencium Anda saat sudah tiba kembali di gedung tadi?" tanya Rose. "Baiklah," ujar Keane menikmati permainan Rose yang ia tahu sengaja membuatnya agar semakin penasaran tapi dia tak akan menjadi pengusaha sukses jika tidak memiliki kesabaran Saat tiba di tempat pengumpulan dana itu kembali, Rose berjalan di depan Keane mendahului laki-laki itu. Begitu tiba di ruangan tadi ia berdiri sedikit jauh dari Keane tak tahu harus memulai dari mana. Hingga dia melihat jika Keane berjalan menghampirinya. Ia merasakan jantungnya berdetak begitu cepat saat menatap manik mata laki-laki itu yang menghampirinya seolah-olah ia merupakan hidangan bagi laki-laki itu. Keane merengkuh pinggang Rose ke dalam pelukannya dan dia membelai pipi Rose dengan jarinya. Rose terbelalak menatap Keane saat merasakan desiran pada belaian laki-laki itu. Dirinya tanpa sadar membuka bibirnya saat Keane membelainya hingga ia merasakan rasa nyeri nikmat di bibirnya dan ia memejamkan mata menikmatinya. Ia bahkan lupa jika seharusnya ia yang memegang kendali bukan laki-laki itu. Tak lama kemudian ia merasakan bibir yang basah menyelimuti bibirnya dengan pelan. Memagut dan menghisap bibirnya dengan nikmat. Menyisipkan lidahnya di kehangatan mulut Rose saat ia terbelalak terkejut dengan semua itu. Rose bisa mendengar geraman dari bibir laki-laki itu dan tanpa ia sadari dirinya juga merintih. Rose mencoba berpaling saat ia merasa napasnya hampir habis tapi laki-laki itu menahan kepalanya dan merengkuh pinggangnya semakin rapat. Ia dengan panik mencoba melepaskan dirinya dari ciuman itu dengan memberontak di dalam dekapan laki-laki itu. Ia lega saat laki-laki itu melepaskan ciumannya dan dirinya bisa kembali menarik napas. Kelegaan Rose hanya sementara sebab laki-laki itu kembali menciumnya dengan begitu b*******h dan kali ini ia juga menyukainya. "Ternyata aku bisa mendapatkan bibirmu dengan uang 50 juta. Berapa yang kamu inginkan untuk tubuhmu?" tanya Keane sinis saat melepaskan ciuman mereka kembali. Rose memandang Keane dengan terbelalak. Ia bisa merasakan jika wajahnya merona merah karena ciuman laki-laki itu dan dia juga mengakui jika tantenya memang benar karena sekarang Keane malah menginginkan tubuhnya. "Tubuhku tak di jual, Sir!" "Aku yakin dengan harga tertentu kamu akan menjualnya." "Silakan tinggalkan tempat ini! Karena Anda sudah mendapatkan hadiah Anda," ujar Rose dingin karena kata-kata Keane sudah merusak malam yang indah ini sepenuhnya. Padahal sesaat tadi ia merasa jika malam ini adalah malam yang berbeda untuknya. Tapi hal itu tidaklah salah sebab untuk pertama kalinya seseorang begitu memandang hina padanya. "Aku tahu kamu hanya berusaha sok jual mahal. Aku yakin kamu akan dengan mudah bertelanjang jika mendapatkan harga yang tepat. Aku akan memberikanmu 100 juta." Dengan marah Rose menampar Keane. Ia terbelalak mundur saat laki-laki itu menatap marah padanya. "w************n sepertimu berani menamparku! Apa kamu pikir aku tidak tahu? Kamu sengaja mengulur waktu untuk menggodaku dan membuatku semakin penasaran akan dirimu hingga kamu berharap aku akan bertekuk lutut di hadapanmu. Aku bukanlah seperti laki-laki lainnya yang akan begitu mudah tertipu oleh tipu daya murahan seperti itu." Rose menatap mata Keane dan tak pernah merasakan perasaan yang begitu terluka padahal bahkan ia baru mengenal laki-laki itu tapi ia memang terluka. "Harusnya aku menampar Anda dari tadi saat Anda menciumku untuk kedua kalinya. Uang 50 juta Anda hanya untuk satu ciuman bukan 2 ciuman!" ucap Rose dan mengangkat dagunya tinggi. Keane menangkup dagu Rose dengan marah. "Jika Anda menciumku lagi, aku akan menampar Anda lagi," ucap Rose. "Baiklah, kita lihat kamu akan sok jual mahal sampai kapan." Keane memberikan kartu nama pada Rose. "Hubungi aku jika kamu berubah pikiran, aku akan memberikan berapapun yang kamu mau untuk menikmati tubuhmu semalaman." Rose menatap laki-laki itu dengan pandangan terluka, marah dan benci. Tak pernah ia dihina seperti ini selama hidupnya. "Pergilah! Sebelum aku menuntut Anda dengan pelecehan seksual dan aku yakin bisa mendapatkan uang lebih banyak dari hal itu," ujar Rose dingin. "Kamu tak akan menang dariku, jadi jangan mencoba menantangku, atau akan aku pastikan kamu memohon belas kasihanku," ujar Keane sama dinginnya kemudian kembali meraih pinggang Rose dan menciumnya dengan paksa. "Aku tunggu tuntutanmu dan jika kamu kalah akan aku pastikan kamu menjadi penghangat ranjangku, tapi jika kamu memutuskan melakukannya dengan sukarela maka aku akan membayarmu untuk itu," ujar Keane kemudian melepaskan Rose dan berlalu dari sana. Rose memeluk tubuhnya erat saat laki-laki itu pergi dan keluar dari ruangan itu. Tanpa dia sadari bahkan air mata mengalir di pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD