Satu bulan sudah berlalu sejak kejadian itu dan Rose sama sekali tak berani menceritakannya pada tantenya. Bahkan sejak saat itu dia tak ingin lagi menjadikan dirinya hadiah untuk penyumbang terbesar jadi Aquila mencari gadis lain walau sumbangan yang akan didapat gadis itu tidaklah sebanyak Rose.
"Rose, apa kamu baik-baik saja?" tanya Aquila saat melihat Rose melamun. Dia menyadari jika keponakannya berubah jadi pemurung sejak satu bulan yang lalu. Sejak Keane Maxfield menjadi pemenang dari acara pengumpulan dananya.
"Ya, Tante. Aku baik-baik saja," ujar Rose tersenyum pelan.
"Apa Tante juga baik-baik saja? Karena Tante tampak cemas."
"Pemilik tanah panti asuhan menginginkan kembali tanahnya dan meminta semua anak-anak dipindahkan. Dia memberi waktu satu minggu karena dia ingin menjual tanah itu pada seseorang yang menginginkannya untuk dibangun sebuah pusat perbelanjaan."
"Aku akan kembali menjadi Rose jadi kita bisa mengumpulkan sumbangan lagi untuk membeli tanah itu."
"Kita tak akan berhasil mengumpulkannya, Rose."
"Kenapa, Tante?"
"Sebab dia ingin menjualnya seharga 500 juta."
Rose terbelalak mendengarnya.
"Tante rasa kita harus mulai mencari tempat untuk anak-anak pindah walau aku tak tahu ke mana kita harus memindahkan 50 orang anak."
Tiga hari berlalu tapi mereka belum menemukan tempat. Aquila sungguh jadi frustrasi karenanya hingga bahkan tensi darahnya naik dan dia harus dirawat di rumah sakit.
"Tante, aku punya cara untuk mendapatkan uang itu."
"Bagaimana, Rose?"
"Seseorang pernah menawari aku pekerjaan dan dia mau membayar mahal untuk itu."
"Pekerjaan apa?" tanya Aquila curiga.
"Eh, mendesain 10 rumahnya, Tante."
Rose memang bekerja sebagai desain interior rumah dan dirinya lumayan dikenal orang-orang walau belum terlalu sukses.
"Oh."
"Awalnya aku menolak karena aku di minta pergi ke Yunani selama 1 minggu dan aku tak tega meninggalkan kalian tapi sepertinya aku tak punya pilihan."
Rose memiliki uang walau tak banyak tapi ia tak memilikinya hingga sejumlah 500 juta. Ia berencana setelah mendapatkan 500 juta itu, dirinya akan berlibur sejenak untuk menghibur diri.
"Apa tidak apa-apa aku meninggalkan Tante?"
"Ya, tidak apa-apa. Tante bisa mengurus anak-anak sampai kamu kembali dan dokter juga mengatakan kalau besok Tante sudah boleh pulang ke rumah."
"Baiklah, aku akan segera mentransfer uangnya setelah orang itu membayarku."
"Baiklah, terima kasih, sayang."
"Ya."
Rose kemudian bergegas pulang untuk mengemas pakaiannya selama 1 minggu dan dirinya segera berangkat ke tempat yang harus ditujunya.
Rose sampai di sebuah hotel tempat di mana ia membuat janji dengan orang itu.
Saat ini dia sedang menantikan kedatangan orang itu. Sesaat dia sempat ragu tapi demi anak-anak panti, ia harus berkorban karena ia sangat menyayangi mereka. Wajah-wajah mereka yang berkelebat dipikirannya membuat ia membulatkan tekadnya.
"Jadi akhirnya kamu menerima tawaranku?" tanya sebuah suara maskulin.
Dengan cepat Rose berbalik dan menatap laki-laki itu, laki-laki yang bisa memengaruhinya sedemikian rupa dan menyakitinya padahal tak mengenalnya.
"Apa tawaran itu masih berlaku?" tanya Rose tak ingin berbasa basi. Ia takut jika terlalu lama maka dia akan mundur.
"Harusnya sudah tidak berlaku tapi untuk dirimu aku akan membuat pengecualian."
Rose sudah mencoba mencari info tentang Keane Maxfield sedetail mungkin dan ia tahu uang 500 juta bagi laki-laki itu sama sekali tak berarti. Ya, ia memutuskan akan bercinta dengan Keane satu malam.
"Jadi apa kamu sudah memikirkan berapa kamu akan menjual tubuhmu?" tanya Keane sambil menuangkan minuman untuknya.
"Ya," jawab Rose. Ia saat ini kembali berdandan seperti Rose sang primadona tapi jika sedang tak memiliki kepentingan sebagai Rose, ia lebih nyaman dengan penampilan kutu buku kakunya.
"Berapa?"
"500 juta."
Keane sedikit terkejut mendengarnya hingga bahkan dia berhenti menuangkan minuman, tak menyangka jika gadis itu akan mematok harga yang begitu mahal untuk tubuhnya hingga tawa keluar dari bibirnya.
"Kamu menilai tubuhmu terlalu tinggi jika berharap aku akan membayarmu 500 juta hanya untuk bercinta denganmu."
"Itulah nilai tubuhku tak lebih dan tak kurang, jika Anda tidak mau maka kita batalkan saja."
"Apa istimewanya tubuhmu hingga kamu mematoknya begitu tinggi?"
"Aku akan memberitahu Anda saat transaksi kita selesai."
Keane begitu kesal mendengarnya sejujurnya sejak mencicipi bibir wanita itu, dirinya hanya menginginkannya saja dan tak bisa melupakannya.
Sekarang saja bahkan gairahnya bergejolak sangat tinggi hanya dengan menatapnya. Tubuhnya sangat menginginkan wanita itu dan jika tidak mendapatkannya mungkin dia akan gila karena hasrat. Wanita manapun tak bisa memuaskannya, entah sihir apa yang sudah Rose lakukan padanya.
"Baiklah, aku akan memberikanmu 500 juta dan kamu harus melayaniku selama 1 bulan."
"Tidak, Mr. Maxfield, hanya 1 malam saja."
Dengan kesal Keane membanting gelasnya di meja hingga membuat Rose berjengit terkejut.
"Aku tak tahu jika ada wanita seangkuh dirimu begitu yakin aku akan menerima tawaran ini."
"Aku tak peduli apa Anda akan menerimanya atau tidak Mr. Maxfield karena aku bisa menawarkannya pada yang lain jika Anda tak mau menerimanya," ujar Rose tenang.
"Baiklah, jika Anda tidak mau menerimanya aku akan beralih ke penawar selanjutnya," sambung Rose mengambil tasnya dan beranjak dari sana.
"Tunggu!"
Rose menghembuskan napas lega saat Keane memanggilnya karena ia tak tahu akan mencari ke mana uang itu jika Keane tidak menerimanya.
Keane menghampiri Rose dan melilitkan rambut Rose di jarinya serta menarik wanita itu mendekat padanya.
"Baiklah, aku menerimanya dengan satu syarat?"
"Apa?" lirih Rose.
"Aku ingin kamu melayaniku semalaman dan berapa kali pun aku menginginkannya hingga besok pagi."
Memang berapa kali seseorang bisa bercinta? batin Rose.
"Baiklah," jawab Rose sebab ia yakin paling-paling ia hanya harus melayani laki-laki itu sebanyak 2 kali saja. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Aku ingin uang tunai," ujar Rose.
Keane kembali tertawa mendengarnya.
"Di mana aku mendapatkan uang tunai saat sudah semalam ini?!"
"Aku tahu itu bukan hal mustahil untuk Anda."
"Aku harap semua pemerasanmu ini memang sepadan dengan tubuhmu."
Rose hanya diam tak membalas ucapan Keane yang saat itu langsung meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Uangnya akan tiba 15 menit lagi."
"Baiklah," ujar Rose dan duduk di sofa menunggu dengan tenang.
"Siapkan dirimu di kamar itu dan aku akan ke sana 15 menit lagi sambil membawa uangmu. Aku ingin kamu sudah tak berpakaian saat aku masuk ke sana," ujar Keane saat selesai.
"Ya."
Rose melangkah ke dalam kamar itu dan sesaat dirinya merasa gelisah harus bercinta dengan laki-laki asing tapi ia tak punya pilihan jika ingin anak-anak panti tetap punya tempat tinggal.
Ia melangkah ke dalam kamar mandi dan menanggalkan semua pakaiannya. Kemudian ia mandi dan setiap waktu yang berjalan membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
Rose melangkah ke kamar berbalut handuk saat sudah selesai. Dia kemudian memasukkan tubuhnya di bawah selimut dan melepaskan handuknya hingga tubuh telanjangnya hanya ditutupi oleh selimut saja. Saat menunggu ia merasa begitu mengantuk efek menjaga Aquila di rumah sakit dan baru ia rasakan sekarang hingga ia memejamkan matanya dengan lelah dan ia tertidur di sana.
Rose merasa gelisah saat merasakan sentuhan bibir pada payudaranya dan dirinya dengan segera membuka matanya.
"Aku membayarmu untuk melayaniku bukan untuk tidur," ucap Keane dan memagut bibir Rose perlahan. Dia menggoda bibir Rose agar membuka untuknya dan saat mendapatkan keinginannya dengan cepat ia menelusuri rongga dalam mulut Rose. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Rose takjub.
"Apa__?"
Pertanyaan Rose tak terselesaikan karena Keane kembali memagut bibirnya.
"Uangmu ada di meja," ujar Keane karena sudah tahu apa yang ingin Rose tanyakan. Tangannya turun untuk menangkup p******a telanjang Rose dan ia menatap Rose untuk melihat reaksinya.
Rose berusaha pasrah saat laki-laki itu menyentuhnya dengan intim dan berusaha tak memikirkan apa-apa tapi ia sungguh merasa tak sanggup.
"Maaf, aku tak bisa," lirih Rose.
"Aku tak akan membiarkanmu mengingkari janjimu."
"Aku mohon Anda bisa mengambil uangnya kembali."
"Yang aku inginkan adalah tubuhmu, aku bisa mencari lagi uang itu."
Keane kembali mencumbu Rose yang mencoba mendorongnya menjauh.
Dirinya mencium bibir Rose dengan perlahan hingga dia bisa merasakan tubuh Rose yang akhirnya pasrah di bawahnya. Kemudian ia turun menelusuri rahang Rose menuju telinganya dan mencumbunya di sana hingga Rose lupa diri dan merintih. Keane terus turun menuju p******a Rose dan menikmatinya di sana.
Rose melengkungkan punggungnya saat rasa nikmat menjalar hingga area intimya sewaktu Keane memagut putingnya.
Ia tak bisa berpikir lagi saat laki-laki itu terus turun menyusuri perutnya menuju area intimnya. Dirinya semakin mengelinjang kepanasan saat jari-jari Keane bermain di intinya.
"Tubuhmu merespon sentuhanku dengan sangat baik," ujar Keane dan memasukkan jarinya di kehangatan Rose.
Saat Keane merasakan cairan yang keluar dari milik Rose dirinya dengan cepat membuka semua pakaiannya dan mulai memasuki Rose.
Keane memagut bibir Rose sambil berusaha memasuki milik Rose. Saat tak bisa menahan lagi, ia langsung menghentak memasuki Rose seutuhnya.
Keane bisa merasakan Rose yang mencakar punggungnya saat ia memasuki Rose seutuhnya.