Tubuhku terasa sangat lemah, aku menolehkan kepalaku kesamping, namun yang kuharapkan tidak ketemukan. Sepertinya semalam hanya khayalanku saja, seperti malam-malam sebelumnya, Kak Kenzo selalu menemaniku, jika aku tidak bisa tidur. Aku merasa takut saat aku tidur mereka akan membawaku dan kembali menyiksaku. Aku merasa sangat nyaman dengan kehadiran Kak Kenzo. Walaupun dia ketus dan dingin tapi tetap saja hanya dia yang baik dan selalu melindungiku. Aku mencintainya walaupun dia tidak mencintaiku. Aku cukup bahagia dengan bisa melihat wajahnya yang datar itu hingga bisa membuatku melupakan masalah yang aku hadapi.
Kepalaku masih terasa pusing, tapi untungnya luka ditubuhku sudah tidak perih seperti beberapa hari yang lalu. Mimpi semalam sungguh sangat indah. Kak Kenzo menciumku. Aku merasakan dia memelukku dan mimpi ini takkan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku menurunkan kakiku dari ranjang mencoba untuk berjalan namun saat aku mulai melangkah ke kamar mandi, aku mendengar suara beratnya yang selalu membuatku gugup.
"Kamu mau kemana?" Kak Kenzo melipat kedua tangannya menyadarkan tubuhnya di pintu kamar.
"Aku ingin mandi kak" Ucapku menatapnya dengan tatapan malu.
"Kamu tidak bisa mandi sendiri Ela dan sepertinya Dona kali ini tidak bisa datang ke Apartemen ini untuk membantumu!" ucapanya membuatku merasakan hawa panas disekitarku.
"Tapi aku sudah gerah kak!" Tambahku dengan wajah memelas memohon agar dia mengizinkanku untuk mandi.
"Kalau begitu aku akan memandikanmu!" Ucapnya dan aku tak percaya apa yang diucapkan kak Kenzo bagaimana mungkin dia memandikanku. Tidak aku tidak mau.
Aku menggelengkan kepalaku menolaknya "Apa kamu ingin lenganmu yang patah itu aku bedah lagi karena membusuk, dan kau ini pernah menjadi mahasiswi kedokteran tapi pengetahuan seperti ini saja" Omelnya panjang lebar membuatku kesal. Setiap kata-katanya memang terdengar kejam tapi sikapnya kepadaku sangat berbeda dengan ucapanya.
Aku malu dan aku tidak mau dia melihat seluruh tubuhku. Walaupun profesi dokter sering melihat tubuh manusia, apa lagi dokter bedah seperti dirinya tetap saja memandikan seorang gadis itu tidakan gila. "Aku tahu apa yang ada dipikiranmu dan asal kamu tau tubuhmu itu tidak ada yang menarik bagiku. Kecil, dan bukan tubuh wanita dewasa pada umumnya!" Katanya kepadaku sambil tersenyum sinis yang membuatku sangat kesal. Kesal hayati bang, mimpi semalam seakan tak akan pernah terwujud dihidupku. Setidak-tidaknya aku menemukan cinta sejatiku dihidupku tapi bukan yang menyedihkan seperti ini.
"Aku bisa mandi sendiri kak!" Tolakku menatapnya tajam.
"Aku akan tetap memandikanmu, saat membedah tubuh orang aku terbiasa melihat semua bagian tubuh mereka yang tidak menggunakan sehelai benang pun dan itu tak ada bedanya dengan tubuhmu" Jelasnya datar.
Kalau aku tidak sadarkan diri karena obat bius mungkin saja aku akan maklum karena aku mau dioperasi tapi ini...Arghhh....dasar m***m. "Tapi beda aku masih sadar kak dan aku bukan pasien yang akan dioperasi" Ucapku kesal.
Dia mengelengkan kepalanya dan mulai mendekatiku "Mandi denganku atau kau tidak akan pernah mandi selama tanganmu belum sembuh!".
"Aku nggk mau!" Ucapku. Aku tidak akan membiarkannya melakukan sesuatu hal yang merugikan harga diriku. Apa yang ia pikirkan, ia ingin melihat tubuh telanjangku big no. Bagaimanapun aku punya harga diri dan aku tak mungkin dimandikan oleh seorang lelaki yang sangat aku cintai. .
Aku melihatnya kembali mendekatiku dan langsung menggendongku hingga membuatku berteriak. “Turunkan aku...lepaskan!” teriakku. Tapi apa daya dia sangat kuat dan tidak akan menuruti keinginanku.
Dia meletakkanku di bathup. Namun dengan sigap aku langsung berdiri dan mencoba untuk keluar dari kamar mandi namun tanganku di cekalnya dan ia segera mengunci pintu dan memasukan kunci itu disaku celananya. Bagaimana aku mau mengambil kuncinya, Kenzo mendekatiku dan segera menarik keatas dress kaos yang kupakai sehingga sekarang aku hanya memakai pakaian dalam. Mau taruh dimana mukaku setelah ini Arghhhhh...
Pletak....
Lamunan ku terhenti saat dia menyentil keningmu. "Karena kepalamu ini robek mungkin saja ini yang menyebabkan pikiranmu rusak!" Ucapnya menatapku datar.
Wow...bukanya kakak yang konslet, bisa-bisanya memandikan anak gadis perawan sepertiku. "Duduk!" Ia memerintahkanku duduk. Aku mengikuti perintahnya dan ia segera menghidupkan keran di bathup Sekarang aku sangat cemas entah kenapa jantungku rasanya mau copot. Ia menarik mengangkat lenganku yang masih di perban dan meletakanya di atas pinggiran bathup. Air dikeran telah melewati dadaku dan ia segera memberi bubuk sabun dan mengucek airnya segingga busa menutupi semua bagian tubuhku.
Dia duduk dipinggiran bathup dan dia mengelus kedua pipiku sambil menatapku dengan dingin. "Buka semuanya!" Perintahnya membuatku menggelengkan kepalaku.
Apa yang ada di otak pintarnya itu? Seharusnya dia paham kalau aku malu dan bisa-bisanya wajahnya itu berekspresi datar atau Kak Kenzo itu homo. Dia kemudian menatapku tajam seolah memerintahkanku untuk segera mengikuti keinginanya itu. Aku mencoba untuk membukanya namun aku merasa kesulitan untuk menggapainya dengan menggunakan tangan kiriku. Ia segera berjalan ke belakangku lalu menyingkirkan rambutku yang menutupi pandanganya dan segera menarik kaitan braku. Aku segera menenggelamkan dadaku agar dia tidak melihatnya.
"Apakah aku harus membantumu membukakan celana dalammu juga?" tanyanya datar.
" Aku bisa memmembukanya sendiri!" Ucapku kesal. Dia menghela napasnya dan segera berdiri namun masih menghadapku dan memperhatikanku.
"Kak jangan melihatku seperti itu!" Pintaku padanya.
"Kau pikir tubuhmu dapat menggodaku?" Tanyanya membuatku menundukkan kepalaku karena menahan malu. Dia benar tubuhku ini sama sekali tidak menarik tapi dia sangat jujur mengatakannya membuat rasa percaya diriku hilang.
"Nanti setelah lima menit kamu tekan tombol itu untuk membuang airnya dan segera mengisinya dengan air yang baru. Jangan terlalu lama mandi atau aku akan masuk dan akan membawamu ke dalam kamar dan..."
Kalau hanya membuang air sabun ini aku juga bisa dan tidak perlu penjelasanya. Tapi ia ingin membawaku dengan, tidak-tidak aku harus cepat.
"Iya aku akan cepat mandi!" Ucapku memotong ucapanya.
Kak Kenzo meninggalkanku dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Aku segera mengikuti perintahnya dari pada nanti aku dibawanya dengan keadaan tanpa busana seperti ini. Aku melihat sebuah dress putih selutut yang telah ia gantung beserta dengan pakaian dalam buatku. Aku mengambil b*a dan berusaha memakainya namun aku tak bisa mencapai kaitanya dengan satu tanganku. Aku memutuskan untuk memakai pakaian itu tanpa memakainya. Aku keluar dari kamar mandi lalu menuju ruang makan. Kak Kenzo menata sarapan yang sangat harum dan menggoda diatas meja makan.
"Ini bubur untukmu!" ucapnya. Aku menelan ludahku karena bubur ayam ini terlihat sangat menggoda. Dia meletakkan gorengan kacang kedelai, telur, suwiran ayam dan kuah santan hmmm ini pasti sangat lezat.
"Ini kakak yang buat?" tanyaku penasaran. Dia benar-benar sosok yang sempurna jika saja dia tidak bermulut tajam dan berwajah dingin. Dia duduk dihadapanku lalu menatapku dengan wajah terkejut. Apa yang sebenarnya yang Dia lihat dariku. Aku melihat wajahnya memerah.
"Kak benar ini Kakak yang buat?" tanyaku lagi karena dia sepertinya tidak mendengar pertanyaanku tadi.
"Iya, apa kamu lupa kebiasaanku yang tidak menyukai makanan yang dibeli disembarang tempat?" ucapnya.
"Kakak suka makanan rumahan kan" Seruku dengan memberikan senyuman menawanku. Namun tatapannya tetap saja datar. Kami makan dalam diam dan Kak Kenzo seperti biasa dia akan melihatku makan sampai makanan itu habis olehku. "Kak...kenapa kakak masih saja menatapku seperti itu? Kakak nggak ke rumah sakit? Aku sudah sehat Kak, nggak sakit lagi” ucapku.
Kak Kenzo segera berdiri "Iya aku akan bersiap ke rumah sakit dan kau jangan pernah keluar dari apartemen ini apalagi dengan pakaianmu seperti itu!" ucapanya membuatku bingung bukanya pakaian ini dia yang berikan. Dia meninggalkanku dan segera mengganti pakaiannya. Aku membawa bekas piring yang masih dimeja makan untuk aku bersihkan.
"Kamu nggak usah cuci piring atau mengerjakan semua pekerjaan di Apartemen ini, karena nanti ada pembantu yang akan membersihkan Apartemen ini!" ucapnya sambil merapikan pakaiannya dan segera mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Ela!" Panggilnnya, dia menghentikan langkah kakinya.
"Hmmm iya kak!" Aku menatapnya dengan kening yang berkerut.
"Jika nanti pembantu wanita itu datang namanya Surti dan minta bantuannya memakaikanmu pakaian dalam" tanpa menunggu jawabanku ia meninggalkanku yang masih mencerna perkataanya barusan.
Apa? Aku melihat ke arah dadaku bagaimana mungkin ia tahu kalau aku tidak memakainya. Aku segera melangkahkan kakiku ke kamar dan menatap tubuhku dicermin dan arghhhh....Pantas saja dia tahu aku tidak memakainya hiks...hiks... Bajuku bewarna putih dan tentu saja sesuatu yang menonjol membuatnya terlihat dengan jelas bahkan dari jauh pun sudah sangat terlihat apalagi dari jarak dia duduk berhadapan di meja makan tadi yang sangat dekat.
Ela bego....
Ketukan pintu membuatku terkejut dan segera mengambil baju kaos kak kenzo yang bewarna hitam. Aku melihat dari lubang pintu jika para bodyguard menunduk hormat pada wanita cantik itu dan sepertinya seumuran denganku. Para bodyguard segera mengizinkan wanita itu masuk. Aku sangat takut jika wanita itu suruhan Dini atau Nyonya Gendis dan mungkin dia.