8

1740 Words
 Aku mengikuti Mbak Anita dan Bunda Cia. Bunda Cia mengajakku tinggal bersama keluarganya, aku tak bisa menolak permintaannya karena dia begitu baik padaku. Aku melihat rumah mereka sungguh sangat luas dan jika aku datang kemari tidak menggunakan kendaraan maka satpam akan meminjamkan mobil taman yang kulihat  ada 5 kereta mini. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengemudi karena aku terbiasa pergi dengan menggunakan angkutan umum.         Mobil yang membawaku  bersama Mbak Anita dan Bunda memasuki perkarangan. Aku melihat disebelah kanan dan disebelah kiriku.  Disebelah kiriku terdapat taman buah dan disebelah kananku terdapat taman  taman bunga. Lingkungan yang sangat nyaman aku seperti memasuki kawasan peristirahatan namun ini ditengah kota besar, sungguh mengaggumkan. Ada beberapa rumah minimalis yang sangat cantik menyebar dibeberapa kawasan ini  tapi hanya  ada satu rumah berlantai  dua berada disudut kanan dan sepertinya menempel di rumah bersebelah  namun hanya dibatasi tembok yang begitu tinggi. "La mulutmu bisa mingkem nggak?" ucap Mbak Anita melihat tatapan kagumku. "Hhhmm...maaf Mbak, Bun Ela sangat mengagumi rumah Bunda!" Ucapku dengan mata berbinar. "Hahahaha lucu sekali kamu sayang, Bunda jadi senang kayaknya jika kamu mau menjadi bagian dari keluarga Bunda!" Ucap bunda tersenyum manis. Apa lagi gue Bun, mau banget jadi anak Bunda hehehe...         Kami turun dari mobil dan  aku melihat pemandangan yang mencengangkan diteras. Seorang perempuan cantik dengan perut besarnya tertawa  terbahak-bahak melihat beberapa orang  berjoged dangdut dihalaman rumah mereka, persis seperti acara kondangan dan bedanya tidak ada tenda. Semuanya mengunakan pakaian formal layaknya mereka sedang  datang ke pesta. Mereka menggunakan organ tunggal untuk mengiringi mereka bernyanyi.         Disudut lain seorang laki-laki tertawa melihat mereka semua. "Bun...ada pesta ya?" Tanyaku penasaran, kalau ada pesta dirumah ini kenapa Bunda mau datang ke Apartemen Kak Kenzo sedangkan dirumanya ada pesta.         "Hihihi...itu anak bungsu Bunda yang duduk dikursi roda namanya Putri, biasa dia biang masalah dan itu yang disudut  tertawa sambil memegang ipad mantu Bunda, Arkhan suaminya Putri!" Jelas Bunda Cia,         Mbak Anita segera mendekati Putri tanpa mengajakku huh....aku malu dan apakah aku diterima oleh anak-anak Bunda yang lainnya. Mbak Anita ikut berjoged bersama mereka membuatku tertawa geli dan suara mbak anita persis kayak suara zaskia gotik hehehe tarik selimut. Saat musik terhenti aku mendengar pengumuman dari Putri anak bungsu Bunda.         "Tes...tes... Hai semuanya hari ini khusus hari ultah para maid aku satukan, jadi kalian semua akan saya jamu bersama bekicot orkestra kita bergoyang dan sebentar lagi makanan yang aku pesan akan  segera datang. Hari ini kalian tidak usah memasak dan bekerja. kita makan besar hehehe. Kalian juga harus mengucapkan terimakasih kepada Arkhan si Rektor  m***m yang telah mendanai acara ini!" ucap Putri tersenyum manis pada suaminya. Keduanya adalah pasangan serasi hingga membuatku iri.         Arkhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Ia akan melakukan apapun agar Putri betah dirumah dan tidak banyak melakukan  pergerakan. "Alexander digoyang bro!" teriak Putri semangat. Namun pukulan dikepalanya membuat teriakannya terhenti.  "Heheheh Bunda".         Kamu kenapa bawa-bawa nama poyang yang udah nggak ada" Bunda Cia menjewer telinga Putri membuatku menahan tawa karena keduannya benar-benar lucu.         "Yah...Bunda ingat nggak pesan poyang kalau  lagi bahagia namanya harus disebut!" Jujur Putri dan Bunda Cia menganggukan kepalanya.         Sungguh keluarga yang harmonis dan sempurna. Bisakah aku mendapatkan kasih sayang keluarga seperti mereka. Aku melihat mbak Anita melambaikan tangannya kepadaku dan melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang beberapa meter dari rumah ini. Pesta ini sangat hebo dan meriah, Bunda Cia sampai lupa keberadaanku. Ia asyik bernyayi ria dengan nada lagu yang melenceng dan itu membuat seorang lelaki  tampan yang berwibawa terbahak saat turun dari mobil. Mereka semua terdiam dan segera menudukkan kepalanya tapi tidak dengan Bunda yang berjalan menghapirinya dan merayu laki-laki itu dengan mencium pipinya dan mengajaknya bergoyang.         Aku melihat garis wajah dan mata, hidung semuanya sama percis dengan Kak Kenzo dan ini berarti  laki-laki itu adalah itu Ayahnya Kak Kenzo. Aku tertawa melihat keluarga mereka, seandainya Mami Gendis dan saudara-saudaraku menyayangiku mungkin hidupku akan jauh lebih bahagia. Tak terasa bulir air mataku menetes dipipiku. Segera  kuhapus air mataku agar tidak membuat bunda khawatir. Bunda melihatku dan langsung menghampiriku sambil menggandeng suaminya. "Yah...ini Ela cewek yang dikurung Kenzo" ucap Bunda memperkenalkan aku dengan suaminya.         Aku merasakan wibawa yang begitu kuat dari sosok yang ada dihadapanku. "Aku ayahnya Kenzo Alvaro mantuku!" Ucapnya.         Aku membelalakan mataku terkejut dengan pernyataanya barusan. Aku melihat ke kanan dan kiriku apakah ada sosok lain yang ia sebut mantunya disini. "Ayah belum tentu dia mau jadi mantu kita. Kenzo itu meragukan Yah, Bunda pikir Dia akan segera hamil ee...ternyata mereka nggak ada hubungan apa-apa!" Jelas Bunda Cia. Wah pikiran Bunda itu tak akan mungkin terjadi! Kak kenzo mana mau sama aku yang selalu membawa masalah. Aku tidak cantik ataupun menarik.         Pasangan ini terlihat berumur 30 tahun, bagaimana bisa mereka awet muda. Apa keduanya menjalankan operasi plastik seperti di korea. "Hmmm kita  harus minta penjelasan dari Kenzo" Ucap Ayah Varo membuat melototkan mataku karena aku dan Kak Kenzo memang tidak ada hubungan seperti yang mereka pikirkan. "Tapi kata Kenzo ayah nggak bisa  dipihak Bunda bener?" tanya Bunda  Cia manja. "Hahaha...bagi Ayah, Bunda  itu nomor satu dan yang lainNya nomor dua!" Ucap Ayah Varo. Aku tidak mengerti pembicaraan mereka aku hanya tersenyum melihat kemesraan Ayah Varo dan Bunda Cia.         "Yaudah Yah, Bunda  ajak anak angkat bunda buat istirahat di kamar Kenzo yang lama!" Ucap Bunda dan nmenarikku menuju lantai dua.         Sebenarnya aku ingin sekali berbincang dengan Putri tapi setelah kehebohan tadi ternyata dia tertidur dan suaminya segera membawanya ke kamar mereka. Sungguh romantis kapan ya aku punya pasangan seperti itu. Aku melihat kamar ini sungguh maskulin dan  semuanya berbau kak Kenzo. Sungguh beruntungnya aku bisa tidur diranjang ini yang terasa seperti dipeluk Kak Kenzo hehehe...         "Sementara ini kamu tinggal dikamar ini ya La. Jika ada yang kamu butuhkan tinggal panggil maid yang ada dibawah!" Jelas Bunda Cia tersenyum padaku. Andaikan aku memiliki ibu seperti Bunda Cia mungkin aku tidak akan menjadi wanita cengeng seperti sekarang. Aku bisa mengadu kepadanya dan bisa menceritakan apa yang kuhadapi saat aku sekolah dan saat aku mulai menyukai seseorang.         "Iya Bunda!" Ucapku. Ingin rasanya aku memeluk Bunda Cia dan mengucapkan ribuan terimahkasih tapi aku takut jika sikapku ini berlebihan dan dianggap kurang pantas.         Aku memutuskan untuk berendam karena aku merasa gerah tapi lagi-lagi karena lenganku aku susah untuk membuka pakaian ini membuatku menyerah. Karena binggung aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku dikasur ini.  Ela pov off ***           Kenzo pulang dengan wajah datarnya namun berbeda dengan hatinya  yang saat ini kesal karena kehilangan sosok Ela. Ia merasa kesal karena Cia membawa Ela pergi tanpa sepengetahuanya. Kenzo melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, ia melihat Bundanya sedang menyiapkan makan malam. Kenzo mendekati Cia dan segera memanggilnya. "Bun!"  ucap Kenzo memanggil Bundanya dengan gaya khasnya datar. "Apa?" Ucap Cia ketus sambil membereskan masakannya. "Lanjutkan ya!" Perintah Cia kepada para maid. Cia membalik tubuhnya dan melihat Kenzo yang berada tak jauh darinya. "Apa Ken?" tanya Cia berjalan menuju ruang keluarga dan didikuti Kenzo. Mereka duduk saling berhadapan. Tatapan Cia penuh intimidasi membuat Kenzo menghela napasnya "Kenapa bunda mengajak Ela tinggal disini?" tanya Kenzo kesal. Cia melipat kedua tangannya di d**a dan berusaha bersikap acuh "Suka-suka bunda ya!" Ucap Cia.         "Tapi  Kenzo tidak setuju  Bun!" Jujur Kenzo menujukan ekspresi datar dan tenangnya agar Bundanya tidak bisa menebak isi hatinya.         "Dia siapanya kamu? Istri kamu? Pacar kamu? Kamu nggak berhak melarang Bunda buat ngajakin dia tinggal disini!" Jelas Cia tidak mau kalah.         "Dia temannya Kenzo,  kan sudah Kenzo jelaskan!" Nada suara kenzo mulai meninggi membuat Cia menyunggingkan senyumannya. Kapan kamu jujur nak...kalau kamu mencintai Ela. Batin Cia "Apa dia wanita yang membuatmu ketar-ketit seperti orang gila saat dia pergi?" Tanya Cia. "Itu bukan urusan Bunda!" Ucap Kenzo dingin. Ia tidak ingin Cia ikut campur masalahnya.         Cia berdiri karena emosinya memuncak "Bukan urusan Bunda katamu? Kamu tahu kamu lahir dari mana Ken!" Teriak Cia membuat Kenzo menghembuskan napas kasarnya.         "Maaf bun,  bukan begitu maksud Ken!" Kenzo berusaha melunak karena ia tidak ingin menyaiti hati Bundanya dengan kata-kata kejam yang sering keluar dari bibirnya.         "Bunda bingung sama kamu Ken. Dari kecil sampai gede kamu nggak pernah nyusahin Bunda, yang ada bunda nyusahin kamu. Bunda pengen jadi ibu kamu yang sesungguhnya Ken. Bunda kayak ibu tiri, Bunda pengen jadi tempat kamu bercerita dan ngambek seperti anak-anak lain" ucap Cia sendu. Dasar Bunda. Seharusnya  Bunda bersyukur punya anak kayak aku  yang tidak pernah membuatnya pusing tidak seperti kedua saudaraku. Batin Kenzo.         "Kamu nggak pernah ngeluh sama Bunda sakit kek, minta dibelikan mainan imi itu  atau apapun sama bunda hiks...hiks...kamu selalu membuat dinding tpembatas yang sulit Bunda hancurkan” ucap Cia kesal.         "Kamu berbeda dengan ayahmu Ken, Walau sifat kalian sama tapi Ayah bisa mengungkapkan apa keinginannya dan apa yang dia tidak suka!". Kenzo menatap Bundanya  dengan datar. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa ia selalu bersikap mandiri dan itu terkadang selalu membuat Bundanya terluka.         Kenzo juga tidak  tahu Bun kenapa Kenzo seperti ini dan tidak ada maksud Kenzo untuk  membuat  Bunda sedih!" jelas Kenzo, ia  memeluk Cia dengan erat. "Hiks...hiks... kamu setuju nggak kalau Bunda mengadopsi Ela?" tanya Cia. Rasakan anakku sayang. Jadi orang jangan terlalu tertutup. Nyatain kek ke Ela kalau cinta. Nah...ini boro-boro bilang pasti yang ia lakukan menghina Ela. Bunda terlalu memahamimu anakku sayang. Kenzo berdiri dan menuju pintu keluar tanpa menjawab pertanyaan Cia. "Eehhh, Bunda tanya sama kamu Ken. Kamu setuju atau nggak?" Teriak Cia.             Kenzo menghentikan langkahnya "Terserah bunda!" Ucap Kenzo datar. Ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.         Ela dengan wajah yang masih sangat mengantuk keluar  dari kamar dan turun ke bawah untuk meminta salah satu dari maid untuk membantunya mandi. Ela melihat Kenzo melewatinya tanpa menyapanya membuatnya kecewa. Namn tiba-tiba Ela merasa bulu kuduknya merinding saat suara berat Kenzo menghentikan langkahnya.         "Kalau kamu mau berterima kasih atas semua yang aku lakukan untukmu, aku harap kamu menolak permintaan bunda menjadi anak angkatnya!"         Ela berbalik memandangi punggung Kenzo yang berbicara tanpa melihat kearahnya "Kau tidak pantas menjadi bagian dari keluargaku!" Ucap Kenzo dingin dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan Ela yang terpaku dengan ucapan Kenzo.         Ela memegang dadanya yang terasa sakit. Penolakan demi penolakan selalu ia terima. Ia pikir Kenzo tidak seperti orang lain. Kenzo berbeda,  ia adalah  pelindungnya namun ucapan Kenzo tadi membuatnya merasa sendirian saat ini dan ia sangat terluka. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Aku memang tidak pantas berada dikeluargamu kak. Aku memang tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti  yang ada di keluargamu.             Tepukan dibahu Ela membuatnya terkejut. Ela menoleh dan mendapati Kenzi tersenyum padanya "Tak usah diambil hati ucapanya Kenzo. Ucapannya itu  tidak sama dengan yang ada dihatinya percayalah!". Ela menundukKan kepalanya dan perlahan mengusap kedua matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD