Kekesalan
Ketika mentari masih enggan untuk bangun menunjukkan keelokan sinarnya kepada semesta, seorang gadis berusia seperempat abad lebih dua tahun ini sudah harus tergopoh-gopoh seorang diri menuju bandara Internasional Singapura. Dengan membawa satu koper, Rigel berlari secepat mungkin menuju pintu keberangkatan. Napasnya terengah-engah ketika menyerahkan tiket dan passportnya ke petugas bandara. Jam yang melingkar ditangannya menunjukkan pukul 03.55 pagi waktu singapura. Nyaris, hanya tersisa waktu lima menit bagi Rigel untuk dapat turut serta dalam penerbangan pagi ini. Untung saja Dewi Fortuna masih berpihak pada Rigel kali ini.
Masih dengan segala keribetan yang Rigel alami pagi ini. Begitu masuk ke dalam pesawat, Rigel langsung berjalan mengikuti seorang pramugari yang akan mengantar Rigel menuju nomor kursi pesawat milik Rigel. Setelahnya, pramugari itu langsung membantu Rigel memasukan kopernya ke dalam bagasi di dalam kabin pesawat. Dan sebelum meninggalkan Rigel, pramugari tersebut berpesan agar Rigel segera memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera take off.
Rigel baru bisa bernapas dengan lega manakala pesawat sudah berada di udara. Rigel menatap jendela pesawat, semuanya masih gelap. Rigel membuang napas, entah bagaimana perasaanya saat ini antara lega karena tidak tertinggal pesawat atau justru merasa kesal dengan keadaan.
“Sial.”
Rigel mengumpat ketika melihat rok berwarna hitam yang tengah digunakan. Jika saja Rigel tidak harus terbang dengan menggunakan pakaian kantor seperti ini sudah pasti Rigel dapat sampai di pesawat ini dengan lebih cepat. Belum lagi ditambah dengan Rigel yang harus mengenakan sepatu heels setinggi 10 cm. Mungkin bagi sebagian orang pecinta sepatu heels 10 cm merupakan ukuran yang pendek dan tidak seberapa tetapi bagi seorang Rigel menggunakan heels setinggi 10 cm adalah bentuk dari penyiksaan diri yang tak kentara. Di tambah lagi Rigel harus menggunakan heels itu untuk berlarian menyusuri area parkir bandara hingga menuju pintu keberangkatan.
Kepala Rigel terasa begitu pusing karena waktu tidurnya yang berkurang cukup banyak karena harus mempersiapkan segala kebutuhan penerbangan pagi ini. Pikirannya sedang tidak baik dan entah mengapa firasat Rigel mengatakan jika memang ada sesuatu yang tidak baik. Biasanya jika Rigel akan pulang menuju Jakarta sudah pasti Rigel akan menghindari semua penerbangan pagi. Kalau tidak siang atau sore, tentu saja Rigel memilih terbang malam hari bahkan dini haripun tidak masalah untuk Rigel jika dibandingkan untuk terbang di waktu sepagi ini. Sudah pasti semua ini karena Rigel merupakan salah satu manusia yang termasuk dalam golongan tidak bisa bangun pagi jika tidak dipaksa oleh keadaan.
Pengorbanan Rigel untuk terbang ke Jakarta di pagi buta seperti ini sudah pasti bukan tanpa alasan. Malam tadi ketika Rigel tengah sibuk mencari lowongan pekerjaan baru, tiba-tiba ada sebuah e-mail masuk dari perusahan terbesar di Indonesia King Carlo Company dan mengabarkan jika Rigel lolos seleksi tahap dua dan menjadi salah satu kandidat manajer dari tiga kandidat lainnya yang akan diterima dan bekerja di King Carlo Company apabila mereka memenuhi standar penilaian seleksi wawancara bersama CEO perusahaan.
Rigel sempat dibuat kesal ketika mengetahui jadwal wawancaranya akan dilangsukan esok hari pukul 07.00 pagi waktu Jakarta sedangkan malam itu posisi Rigel berada di Singapura. Sebenarnya sungguh mustahil bagi Rigel untuk bisa datang mengikuti seleksi wawancara. Namun, dengan segala pertimbangan yang sebenarnya tidak Rigel pikirkan dengan baik-baik, Rigel langsung bertekad untuk kembali ke Jakarta dan menghadiri seleksi wawancara itu. Dan dengan waktu yang sedemikian singkat ini, Rigel langsung bergegas membeli tiket pesawat dengan penerbangan terpagi dan menyiapkan beberapa dokumen yang sekiranya besok diperlukan.
Tidak ketinggalan, Rigel juga mempersiapkan beberapa helai pakaian untuk di masukan ke dalam koper. Namun, sialnya, rasa kantuk yang dirasakan oleh Rigel membuat dirinya tidak bisa dengan baik mendengar bunyi alarm dari handphone dan jam weker miliknya. Hingga sebuah telfon masuk dapat membangunkan Rigel. Meski dengan waktu yang tak seberapa itu, Rigel segera mempersiapkan diri menuju bandara. Untung saja letak boarding house tempatnya tinggal tidak begitu jauh dari bandara.
Hampir saja Rigel menyia-nyiakan perjuanganya sendiri.
Setelah Rigel menyelesaikan pendidikannya di fakultas sastra salah satu universitas di Indonesia, Rigel memang sengaja memilih untuk mengadu nasibnya di negeri tetangga. Semua itu Rigel lakukan karena tuntutan keadaan dan alasan lainnya yang mungkin jika dijelaskan hanya Rigel yang akan mengerti. Beruntungnya nasib baik masih mau menemani langkah Rigel di negara tetangga. Tak lama sejak kepindahannya di Singapura, Rigel mendapatkan tawaran pekerjaan. Dan kecintaan Rigel terhadap sebuah sastra telah membawa Rigel bekerja di salah satu perusahaan penerbitan Singapura.
Hampir lima tahun sudah, Rigel meniti karirnya di Singapura dan hanya karena ketidaksepahaman Rigel dengan beberapa atasan serta rekan kerjanya Rigel harus membuat keputusan besar dalam hidupnya. Meninggalkan zona yang banyak orang bilang sebagai zona nyaman dengan memilih resign dari perusahan itu.
Berawal dari pegawai biasa, dengan ketekunan dan kinerja baik yang Rigel tampilkan. Lambat namun, pasti Rigel beberapa kali mendapatkan promosi jabatan hingga jabatan terakhir yang ditinggalkannya adalah sebagai Pimpinan Redaksi dibagain khusus untuk penerbitan novel baik fiksi maupun non-fiksi. Namun, sejak beberapa bulan sebelum Rigel akhirnya memutuskan untuk resign, keberadaannya dirasa sudah tak lagi dibutuhkan oleh perusahaan. Lebih tepatnya ketika, perusahan tempat Rigel bekerja beralih kepemimpinan. Dari saat itu, naskah novel dari penulis yang menurut Rigel tidak layak untuk diterbitkan justru naik ke penerbit dan segera diedarkan dengan promosi besar-besaran. Tidak hanya satu kali terjadi namun, hal ini sudah sering kali terjadi.
Rigel merasa prinsip kerja dirinya dengan perusahaan sudah tidak sejalan. Tidak seperti dulu, saat ini buku-buku yang diterbitkan tidak didasarkan pada standarisasi perusahan. Semua buku diterbitkan hanya untuk uang semata, tidak peduli tulisan tersebut layak atau tidak asal penulis mau membayar sejumlah uang maka dengan mudah buku itu dapat terbit dan diedarkan. Sudah berkali-kali Rigel berbicara dengan atasannya namun, selalu menemui jalan buntu. Dan hingga pada akhirnya Rigel memilih untuk hengkang dari perusahaan itu sebelum Rigel harus dipecat dengan tidak hormat oleh mereka yang menganggap keberadaan Rigel dapat membahayakan posisi mereka.
Sebulan telah berlalu, dengan status baru yang Rigel sandang sebagai pengangguran di negeri orang. Terdengar miris memang tetapi Rigel masih merasa enggan untuk kembali pulang. Sebulan lebih, Rigel menghabiskan waktunya di Singapura dengan berjalan-jalan tanpa adanya pemasukan. Rigel menyadari betul, tidak baik jika hidupnya akan terus seperti ini. Mau tidak mau, Rigel harus mencari pekerjaan baru. Sempat terbesit dalam pikiran Rigel untuk kembali melanjutkan pendidikannya ke salah satu universitas impiannya di negeri Paman Sam namun, rasanya itu tidak mungkin untuk saat ini.
Rigel terus berselancar di dunia maya untuk mencari lowongan pekerjaan. Dan Rigel menemukan salah satu perusahaan di Indonesia sedang membuka lowongan pekerjaan. Tanpa pikir panjang, Rigel langsung mendaftar ke perusahaan King Carlo Company. Salah satu alasan Rigel langsung mengajukan lamaran ke perusahaan itu tidak lain adalah karena King Carlo Company bukanlah perusahaan yang hanya fokus dalam satu bidang. Namun, beberapa bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan salah satunya adalah bidang penerbitan. Rasa-rasanya Rigel masih belum bisa bekerja jauh dari dunia yang berhubungan dengan sastra.
Tak terasa penerbangan yang memakan waktu satu jam lebih ini segera usai. Pesawat segera menapaki daratan begitu tiba di bandara internasional Indonesia. Satu persatu penumpang dengan rapi menuruni pesawat dan hingga gilirannya Rigel menuruni pesawat sang mentari sudah mulai terbangun dan siap untuk menyambut hari.
Rigel sengaja tidak mengabarkan kepulangannya hari ini kepada kedua orangtuanya. Karenanya Rigel harus mencari kendaraan umum untuk bisa mengantarnya pulang ke rumah sekejap. Tidak mungkin Rigel mengikuti seleksi wawancara bersama CEO dengan membawa sebuah koper.
Segera Rigel mencari taksi bandara dan memintanya untuk mengantar Rigel ke rumah. Selama perjalanan menuju rumah, Rigel dibuat begitu cemas karena jalanan ibukota yang terlampau padat. Padahal jika situasi lalu lintas normal, jarak bandara sampai ke rumahnya tidaklah terlalu jauh dan memakan waktu. Rigel semakin gelisah ketika jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rigel sedikit bisa bernapas lega ketika sang sopir menawarkan Rigel untuk melalui jalanan kecil. Dan Rigel langsung saja menyetujuinya mengingat waktunya yang sangat terbatas.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Rigel tiba di kediaman kedua orangtuanya yang sudah tak disinggahinya selama hampir satu tahun. Setelah satpam rumah membukkan pintu gerbang, Rigel langsung menitipkan koper miliknya dan berlalu menuju King Carlo Company dengan taksi yang sama.
Di dalam taksi, Rigel merapikan rambutnya dan sedikit mengoleskan lipstick di bibirnya. Dengan rok pendek berwarna hitam yang dipadukan dengan blouse berwarna putih dan disempurnakan dengan jas berwarna hitam, Rigel sudah terlihat sangat siap untuk mengikuti wawancara. Rigel saling menautkan kedua jemarinya, memejamkan mata sekejap dan menarik napas panjang untuk sedikit menenangkan diri.
Lagi-lagi Rigel tidak bisa menghilangkan fokusnya dari jam tangan miliknya. Jarum jam itu terus berjalan namun, Rigel belum juga tiba di perusahan King Carlo. Dengan nada yang sopan, Rigel meminta sang sopir untuk menambah kecepatan kemudinya karena hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum jarum jam itu tepat berada di angka 7.
“Permisi, Pak. Boleh agak cepat sedikit.”
“Baik.”
Kendaraan berwarna biru ini, melaju lebih cepat dari sebelumnya. Dan begitu tiba di halaman gedung King Carlo Company, Rigel langsung menyerahkan uang dan bergegas untuk segera menuju gedung King Carlo Company. Rigel terdiam sesaat, memandangi situasi kantor yang sudah ramai oleh aktivitas pekerjanya.
Dalam hati Rigel mempertanyakan keadaan yang menurutnya tak biasa ini.
“Kantor macam apa ini? Baru jam segini kok sudah mulai pada masuk kerja.”
Tanpa menunggu lama lagi, Rigel langsung menuju lobby kantor King Carlo Company karena jika Rigel terus terdiam di situ maka kemungkinan besar akan semakin banyak hal yang diumpat dari kantor ini oleh Rigel.
Seseorang dari balik meja resepsionis bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Rigel dari pintu masuk perusahaan.
“Selamat pagi, Nona. Perkenalkan saya, Siska. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa sang resepsionis ramah.
“Pagi, Saya Rigel Daffina Hillary. Hari ini saya ada janji temu dengan CEO anda untuk seleksi wawancara.” Jawab Rigel seraya menyodorkan ponsel miliknya untuk menunjukkan e-mail dari King Carlo Company.
Setelah beberapa menit Siska mengamati dan membaca surel di ponsel Rigel. Siska memerintahkan Rigel untuk menunggu sekejap.
“Baik, mohon ditunggu sebentar.” Ucap Siska dan langsung sibuk mengecek data di komputer dan menghubungi seseorang melalui jaringan telefon.
“Permisi, Nona. Mari saya antar ke ruang tunggu, sebentar lagi Tuan Elntah akan segera tiba.”
Rigel mengernyitkan dahi “Elnath? Siapa dia?”
Mendengar pertanyaan Rigel, Siska menjawab dengan tersenyum canggung. “Um, Tuan Elntah adalah CEO perusahan kami. Namanya adalah Elnath Gaincarlo.”
Akibat dari tidur yang kurang dan situasi yang membuat Rigel untuk selalu terburu-buru membuat kemampuan berpikir Rigel sedikit menurun.
“Oh, begitu. Baiklah.” Jawab Rigel seadanya.
Sungguh, sebuah wawancara tanpa persiapan sama sekali. Seharusnya informasi dasar dari perusahaan menjadi sedikit bekal untuk mengikuti seleksi wawancara. Namun, bagaimana bisa Rigel mencari informasi-informasi dasar tentang King Carlo Company jika semuanya serba mendadak. Jika saja, mereka memberi kabar selang satu hari mungki Rigel dapat mempersiapkan semuanya dengan lebih baik dari ini. Bahkan nama CEO yang akan mewawancarainya saja Rigel baru mengetahui beberapa menit yang lalu. Dan Rigel tidak akan tahu siapa CEO dari King Carlo Companya jika saja Siska tidak menyebutnya tadi. Sungguh memilukan.
Meskipun begitu, Rigel tetap datang dengan kepala terangkat dan kepercayaan diri penuh untuk mengikuti seleksi wawancara dadakan ini. Selama diantar menuju ruang tunggu, baik Siska maupun Rigel saling diam tidak ada yang lebih dulu mengawali pembicaraan untuk sekadar saling sapa. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rigel dengan segala keruwetannya hari ini dan Siska dengan keheranannya pada Rigel yang tidak tahu siapa CEO dari perusahan tempatnya melamar pekerjaan.
Setelah sampai di ruang tunggu di lantai 9, Siska pergi meninggalkan Rigel. Rigel hanya menunggu seorang diri di dalam ruangan yang menurutnya cukup besar ini. Dan salah satu pegawai datang menghampiri Rigel dan memberi tahu jika hari ini hanya Rigel seorang yang akan diwawancara langsung oleh CEO sedangkan dua kandidat lainnya sudah diwawancara dua hari sebelumnya. Rigel hanya ber-oh ria mendengar penjelasan dari pegawai itu.
Dan sebelum pegawai itu pergi meninggalkan ruangan, dengan ragu Rigel menanyakan keheranannya dengan situasi kantor ini yang menurutnya aneh.
“Permisi, apa jadwal wawancara dengan CEO selalu dilaksanakan pagi hari seperti ini? Dan apa jam kerja di kantor ini memang sepagi ini?”
“Benar, Nona. Kebetulan CEO kami selalu disiplin atas waktu dan memang beliau selalu mewawancarai calon manajer di pagi hari.”
“Oh, baiklah.” Ucap Rigel menganggukan kepada dan masih merasa tidak percaya dengan kebijakan di kantor ini.
Entah bagaimana nanti jika Rigel diterima kerja disini dan harus bekerja sepagi ini. Rasanya Rigel lebih memilih melepaskan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan baru lagi di Singapura dengan jam masuk kerja yang tidak sepagi anak sekolah pergi belajar.
Perut Rigel terasa perih, terakhir kali Rigel makan nasi adalah tadi malam sebelum e-mail itu datang. Rigel segera merogoh tas jinjingnya mengambil sebungkus kue untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Setengah jam, satu jam, dan dua jam berlalu begitu saja tanpa kabar. Bahkan rasa lapar kembali menghinggapi perut Rigel. Entah sudah beberapa kali Rigel keluar dan menanyakan kejelasan waktu wawancara kali ini kepada sang pegawai. Namun, jawabannya tetap sama, yaitu Rigel diminta untuk tetap menunggu.
Dan saat Rigel sudah merasa lelah untuk menunggu dan akan memutuskan untuk membatalkan seleksi wawancaranya ini. Seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari Rigel, dengan berpaiakan jas rapi dan dasi berwarna merah masuk ke ruangan tempat Rigel menunggu. Rigel segera bangkit dengan raut wajahnya yang tersenyum palsu.
“Apa anda Nona Rigel Daffina Hillary?” Tanyanya kepada Rigel.
“Ya.” Jawab Rigel singkat.
Laki-laki itu, langsung membungkuk begitu mengetahui jika perempuan yang berada dihadapannya adalah Rigel. “Mohon maaf, Nona. Saya Jonathan Miller sekretaris Tuan Elntah Gaincarlo. Saya ingin menyampaikan jika jadwal wawancara bersama Tuan Elntah hari ini harus dibatalkan karena jadwal Tuan Elntah yang tiba-tiba berubah. Mohon maaf sebelumnya.”
Bak disambar petir, semuanya terasa hancur dan menyesakkan hanya dalam waktu sekejap. Rigel bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menghadapi situasi ini. Rasanya marahpun tiada guna dan maafnya pun tiada arti untuk setiap langkah perjuangan Rigel hari ini.
“Sial.” Rigel mengumpat pelan dan memalingkan wajahnya dari Jonathan.
“Baiklah.” Dan akhirnya hanya kata itu yang mampu Rigel ucapkan kepada Jonathan dengan senyuman yang Rigel paksakan.
“Sekali lagi saya meminta maaf. Ini kartu nama saya. Silakan Nona hubungi saya jika besok perusahaan kami belum mengirimkan jadwal wawancara baru untuk Nona.” Kata Jonathan sembari menyodorkan selembar kartu nama kepada Rigel.
Rigel menerima dengan lemas tak berdaya dan memasukannya asal ke dalam tas. Rigel segera menyambar tas yang diletakannya di meja dan berlalu meninggalkan Jonathan di dalam ruangan. Namun, saat Rigel sudah membuka pintu ruangan. Rigel kembali berbalik arah dan menitipkan pesan kepada Jonathan.
“Tolong sampaikan salamku kepada CEO b******k mu itu.” Kata Rigel ketus.