Jakarta itu cinta
Yang tak hapus oleh hujan
Tak lekang oleh panas
Jakarta itu kasih sayang
_Sapardi Djoko Damono_
***
Adzan Subuh berkumandang dari masjid-masjid yang berada di dekat rumah Nuri. Ia sudah rapih dengan gamisnya dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat Subuh. Di atas sajadahnya, Nuri menengadahkan tangannya tinggi-tinggi memohon agar Allah meridhoi keputusannya untuk mengadu nasib di Jakarta. Mudah-mudahan ia akan menjadi orang sukses yang akan membanggakan kedua orang tuanya.
Pagi itu, ia akan diantar oleh ayahnya ke Terminal untuk langsung naik bis menuju kota Jakarta. Setelah berpamitan dengan ibunya, Nuri segera menaiki motor matic yang dikendarai oleh Surya. Beruntung sang kakek belum bangun dari tidurnya sehingga Nuri bisa pergi tanpa ada halangan.
“Hati-hati di Jakarta ya, Nur. Jangan lupakan shalat dan amalan lainnya!” pesan sang ibu.
"Iya, Bu. Nuri akan selalu ingat pesan Ayah dan Ibu. Titip salam untuk Agil ya, Bu ...."
Nuri melambaikan tangan ke arah ibunya sampai sosok Santi hilang dari pandangannya. Ia menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Ia harus kuat. Ia tidak boleh cengeng. Pergi ke Jakarta sudah menjadi keputusannya. Ia sudah pikirkan hal itu baik-baik. Bahkan sebelum ia mengutarakan niatnya untuk pergi bekerja ke Jakarta kepada ayah ibunya, Nuri sudah melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Ia sudah melaksanakan shalat istikharah sampai Allah menunjukkan jawaban atas keputusannya itu. Ia yakin Allah meridhoi langkahnya itu.
Nuri merapatkan jaket yang ia pakai saat angin pagi itu menusuk tulangnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Terminal Tirtonadi yang terletak di Kecamatan Banjarsari.
“Nuri pamit ya, Yah. Jaga diri Ayah. Titip salam untuk Agil,” pamit Nuri sambil mencium punggung tangan Surya dengan ta'dzim..
“Hati-hati di kota orang ya, Nduk. Jangan lupa shalat wajib dan amalan sunnah lainnya,” pesan Surya dengan mata yang berkaca-kaca. Ini kali pertama ia melepas kepergian putrinya untuk pergi jauh dari pandangan matanya.
Nuri berhambur ke dalam pelukan ayahnya, pelukan itu akan sangat ia rindukan nanti. “Nuri akan selalu ingat semua pesan Ayah dan Ibu,” ucapnya. Lagi-lagi buliran air mata lolos dari pelupuk matanya. Ia segera menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
“Ya sudah, kamu cepetan naik bis. Takut nanti keburu kakek nyusul ke sini,” ujar Surya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling terminal, berharap sang ayah tidak menyusulnya ke Terminal . Walaupun hari masih terbilang pagi, namun Terminal Tirtodadi sudah ramai oleh pengunjung yang akan bepergian naik bis.
Setelah berpamitan dengan ayahnya, Nuri pun segera menaiki bis Trans Jawa yang akan membawanya menuju kota Jakarta. Dirinya memilih moda transportasi bis sebagai sarana transportasi karena lebih nyaman. Ia bisa menempuh perjalanan sambil menikmati pemandangan alam selama perjalanan. Apalagi sekarang telah dibukanya rute tol, sehingga jarak tempuhnya lebih singkat. Bis Trans Jawa akan masuk tol melalui gerbang Colomadu, keluar sebentar di Salatiga, kemudian masuk tol lagi hingga menuju kota Jakarta.
Bis Trans Jawa pagi itu berangkat dari Terminal Tirtodadi pukul 05.30 dan bisa dipastikan akan sampai di kota Jakarta pukul 13.00.
“Bismillah …” ucap Nuri saat bus yang ia naiki mulai meninggalkan Terminal. Ia melihat dari dalam kaca bis, ayahnya sedang duduk di atas motor sambil menunggu bis itu meninggalkan Terminal.
Nuri melambaikan tangannya ke arah Surya sampai sosok ayahnya hilang dari pandangan matanya. Lagi-lagi, ia tidak bisa menahan air matanya yang mengalir deras.
***
“Nuri kemana, Sur? ‘Kok seharian ini Bapak tidak liat dia?” tanya Suwanto saat akan menyantap makan siangnya. Dia sudah mendudukkan dirinya di saung kecil untuk tempat peristirahatan mereka ketika lelah bekerja di ladang. Santi sudah membawakan bekal makan siang untuk suami dan ayah mertuanya, sayur asem dan ikan asin, tidak lupa dengan tahu dan tempenya. Menu masakan sederhana namun tetap mereka nikmati dengan penuh syukur.
“Maaf, Pak. Nuri sudah pergi ke Jakarta,” ujar Surya pelan. Ia tahu pasti bapaknya akan marah setelah mengetahui kalau cucunya nekat pergi ke Jakarta.
“Apa?” Suwanto membanting sendok yang sedang ia pegang ke atas piring yang ada di hadapannya sehingga piring itu pecah saking kencangnya.
“Astagfirullah!” Santi memekik tertahan, kaget.
“Maaf, Pak. Sebagai ayahnya, saya yang lebih berhak mengatur hidup Nuri.” Surya memberanikan diri menatap wajah penuh kemarahan di hadapannya itu.
“Otakmu di mana sih, Sur? Bapak sudah menerima tawaran tuan Herman untuk menikahkan dia dengannya. Tuan Herman berjanji akan memberikan kita uang yang banyak ketika Nuri telah resmi menjadi istrinya.”
“Tapi sebagai ayahnya, demi Allah saya tidak rela Nuri menikah dengan laki-laki yang sudah sepantasnya menjadi ayahnya, Pak!” bela Surya dengan suara lantang.
“Alaaah, persetan dengan umur. Yang penting hidup kita akan lebih baik dari sekarang jika Nuri menikah dengan Tuan Herman!” teriak Suwanto. Dirinya sudah lelah hidup dalam kemiskinan. Maka ketika ada peluang untuk hidup lebih baik, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada walaupun harus menukar cucu perempuannya dengan sejumlah uang.
“Kami sebagai orang tuanya sungguh tidak rela, Pak,” sahut Surya dengan nada tetap merendah. Walaupun bapaknya punya perangai yang tidak baik, namun sebagai anak dirinya tetap harus menghormati bapaknya itu.
“Sekarang beritahu bapak di mana Nuri bekerja!” hardik Suwanto lagi. Kemarahan masih bercokol dalam dadanya.
“Maaf, Pak. Saya mohon biarkan Nuri menentukan hidupnya sendiri,” pinta Surya. Ia berusaha meluluhkan hati sang ayah yang sekeras batu.
“Tidak bisa! Bapak sudah terlanjut menerima tawaran tuan Herman.” sarkas Suwanto. Ia tetap pada pendiriannya untuk menikahkan cucunya dengan juragan tanah itu. “Kalau kamu tidak mau memberi tahu alamat Nuri di Jakarta, Bapak akan cari tahu sendiri.” Suwanto bangkit lalu pergi dari hadapan anak dan menantunya itu. Ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan siangnya.
“Sekarang gimana, Yah? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Santi saat ayah mertuanya sudah pergi.
“Ayah juga nggak tau, Bu.” Suwanto menghela napasnya sejenak. “Mudah-mudahan Allah memberikan jalan terbaik dalam masalah ini ya, Bu,” ujarnya lagi.
“Aamiin ya Allah …” ucap Santi sepenuh hati.
***
“Bagaimana, Pak? Apa Nuri sudah setuju menikah dengan saya?” tanya Herman saat ia bertemu dengan Suwanto di persimpangan jalan. Herman segera keluar dari mobil yang dikendarainya sehingga membuat Suwanto menepikan motornya di pinggir jalan.
“Maaf Tuan Herman, Nuri pergi ke Jakarta,” jawab Suwanto sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki tua berusia 70 tahun itu tidak berani menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Ia tahu bahwa laki-laki yang sudah menggelontorkan banyak uang kepadanya pasti sangat murka mengetahui calon mangsanya telah lepas dari buruannya.
“Apa?” Mata Herman mendelik. “Kamu bilang apa? Nuri pergi ke Jakarta?” tanyanya lagi sambil menarik kerah baju Suwanto dengan tangan sebelah kanan. Ia mencengkram baju yang dipakai Suwanto itu kuat-kuat.
Suwanto menangkupkan kedua tangannya di d**a sambil memohon ampun. “Ampun, Tuan. Saya berjanji akan segera membawa Nuri pulang,” lirihnya.
Herman melepas cengkramannya dengan kasar hingga membuat Suwanto tersungkur di atas tanah. “Saya tidak mau tahu, secepatnya bawa Nuri balik ke sini. Kalau tidak, kembalikan semua uang yang sudah saya kasih!” hardik Herman sambil memelintir kumisnya yang panjang.
“Baik, Tuan.” kata Suwanto. Pria tua itu bangkit lalu menaiki motornya untuk melanjutkan kembali perjalanannya setelah Herman hilang dari pandangannya.
‘Aku harus segera menemukan alamat Nuri di Jakarta dan membawanya pulang ke sini,’ gumam Suwanto dalam hati. Ia segera memacu sepedah motornya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat yang ia yakini bisa membantu dirinya menemukan alamat Nuri di Jakarta.
***