BAB 3 : SELAMAT DATANG DI JAKARTA

1047 Words
Gadis berhijab coklat baru saja turun dari bis yang membawanya dari kota Surakarta menuju kota Jakarta. Hembusan angin siang itu menerbangkan hijab yang dipakainya. Nuri menjejakkan kakinya di terminal Kp. Rambutan. Dengan berbekal secarik kertas yang bertuliskan alamat budenya, ia melangkahkan kaki keluar terminal. Nuri mengusap peluh yang bercucuran di keningnya. Udara siang hari kota Jakarta itu membakar kulitnya yang putih. Ia terus berjalan menyusuri jalan raya untuk mencari alat transportasi umum. Saat hendak memberhentikan angkutan umum menuju tempat tinggal budenya, tiba-tiba tubuhnya tersentak saat seorang pengendara motor tiba-tiba menarik tas yang mengait di pundaknya dari arah belakang ia berjalan. “Tolong, jambret!” Nuri berusaha berteriak meminta pertolongan sambil berlari berusaha mengejar pengendara motor yang berhasil mengambil tasnya. Namun tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakannya. “Astagfirullah …” ujar Nuri saat pencuri itu sudah semakin jauh melaju kencang dengan motornya. Ia sudah tidak sanggup lagi mengejar pencuri itu. Nuri merasakan tubuhnya lelah sekali setelah mengejar pencuri tadi. Tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas dan ia tersungkur di tanah. Gamis yang ia pakai kotor oleh tanah. Ia meratapi nasibnya karena telah kehilangan benda berharga yang ada di dalam tasnya. Uang, ponsel, dan surat-surat berharga lain miliknya telah raib dicuri. Beruntunglah secarik kertas berisikan alamat tempat tinggal Budenya tidak ikut-ikutan hilang. Kertas itu ia simpan di dalam saku baju gamis yang dipakainya. Nuri hanya bisa terus-terusan beristigfar dalam hati. Ini adalah suatu ujian yang Allah kasih untuknya. Tapi bagaimana dirinya bisa mengabarkan kedua orang tuanya di kampung kalau ponselnya kini sudah hilang?! Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, ternyata sudah pukul satu siang. “Astagfirullah!” Nuri terhenyak sebentar, menyadari sesuatu. Ia belum menunaikan shalat dzuhur. Mungkin kejadian tadi adalah teguran dari Allah karena ia telah lalai dengan kewajibannya. Dengan menyeret langkahnya, Nuri segera melangkahkan kaki mencari masjid terdekat. Tidak terlalu jauh ia berjalan, ada sebuah masjid dengan nama “Masjid Nurul Ilmi”. Nuri berjalan mendekati masjid dan memasukinya halamannya yang lumayan luas. Ia mendudukkan tubuhnya di halaman depan masjid untuk menetralkan deru napasnya yang masih berdetak kencang akibat kejadian yang telah menimpanya tadi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, masjid itu terlihat sangat asri dengan banyak pepohonan yang mengelilinginya sehingga membuat jama’ah betah duduk berlama-lama di sana sambil melepas penat yang terasa di sekujur tubuh mereka. Setelah dirasa cukup bertenaga, Nuri segera masuk ke dalam untuk membersihkan gamisnya yang kotor terlebih dahulu setelah itu barulah ia mengambil air wudhu—membasuh wajah dan juga jiwanya yang sedang gersang. Kemudian ia melaksanakan shalat sunah qobliah empat rakaat, dilanjutkan shalat dzuhur empat rakaat, dan terakhir shalat sunah ba’diah dua rakaat. Nuri masih bersimpuh di atas sajadah, merenung sejenak, mengingat kembali kejadian yang baru saja menimpanya itu. “Astagfirullah.” Hanya kata itu yang terucap lagi dari bibirnya. Ia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Setelah menyelesaikan shalat dzuhur, Nuri merapihkan kembali hijabnya lalu melangkah keluar meninggalkan masjid. Ketika hendak keluar dari pagar masjid, seorang bapak tua memanggilnya. “Nak, tunggu …” Karena merasa dipanggil, Nuri membalikkan tubuhnya mencari arah suara. Terlihat di dekat pepohonan ada seorang bapak tua yang berumur sekitar enam puluhan berjalan mendekatinya. Pria tua itu memakai pakaian rapih, terlihat seperti bukan merbot masjid di sana. “Assalamualaikum, Nak. Kamu kenapa sampai pakaian kamu kotor begini?” tanya si bapak sambil memperhatikan wajah Nuri yang terlihat sedikit pucat. Dilihatnya gadis itu menenteng sebuah tas besar di tangannya. Bisa ia pastikan kalau gadis di hadapannya itu berasal dari luar kota Jakarta. “Wa’alaikumussalam. Iya, Pak. Perkenalkan nama saya Nuri," jawab Nuri sambil menangkupkan kedua tangannya di d**a, " saya baru datang dari kota Surakarta, mau ke alamat bude saya. Tapi tadi ketika saya sedang menunggu angkutan umum, tiba-tiba tas saya dijambret,” jawab Nuri lirih. “Astagfirullah.” Si bapak terlihat kaget. “Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanyanya khawatir sambil memperhatikan Nuri dari atas sampai bawah. Nuri menggeleng lemah. “Alhamdulillah Allah masih melindungi saya, Pak. Saya tidak apa-apa, hanya tas saya saja yang dicuri,” jawabnya. “Ya Allah. Syukurlah kalo kamu tidak apa-apa. Maaf kalau boleh Bapak tau, alamat budemu dimana? Mungkin Bapak bisa bantu,” tanya bapak itu lagi. Nuri mengambil secarik kertas yang tersimpan di dalam saku gamisnya lalu menyerahkan pada bapak itu. “Bapak tau saya harus naik angkutan apa dari sini untuk sampai ke alamat itu?” tanya Nuri, “tapi uang saya ada di dalam tas itu,” katanya lagi sambil menggigit bibirnya lalu menundukkan kepalanya. Si bapak yang diketahui bernama Rizky Pramoedya melihat alamat yang tertera di atas kertas. “Lho ini alamat rumah Bapak, Nak,” jawab pak Rizky antusias. “Memangnya siapa yang kamu cari, Nak?” tanyanya lagi. “Masya Allah. Ternyata itu rumah Bapak ya? Saya mencari Bude saya yang bernama Yatni. Beliau bekerja di rumah Bapak, kan?!” “Oh jadi kamu ini keponakan Yatni yang mau bekerja sebagai pengasuh cucu saya ya?” ujar pak Rizky. Nuri mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya. “Iya, Pak.” Segala rasa sedih yang dirasakan oleh Nuri seketika hilang ketika Allah menurunkan pertolongannya lewat bapak yang ditemuinya itu. “Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini ya. Kalau begitu nanti kamu ikut Bapak ke rumah. Sebelumnya tunggu anak Bapak dulu masih sholat di dalam masjid,” kata pak Rizky. “Baik, Pak.” Nuri bersyukur dalam hati. Mereka memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di bawah pohon besar yang ada di halaman Masjid sambil berbincang. Beberapa menit kemudian, seorang pemuda berumur dua puluhan keluar dari Masjid dengan menggunakan kemeja panjang yang lengannya digulung hingga sikut. Pemuda itu kemudian mendekati pak Rizky. “Ayo, Pah. Kita pulang,” ajak pemuda itu. “Tunggu sebentar, Al. Kenalkan gadis ini yang akan mengasuh Riri, dia keponakan bi Yatni dari kampung.” Pemuda yang dipanggil Al itu melirik ke arah Nuri. “Hai, kenalin nama aku Alfarizy Pramoedya. Kamu bisa panggil Al, biar gampang.” Alfarizy mengulurkan tangan ke hadapan Nuri. “Nama saya Nuri, Mas.” Nuri menangkupkan kedua tangannya di d**a dan tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan. “Oh iya, kita bukan muhrim.” Alfarizy terkekeh. Ia menarik tangannya kembali. Nuri membalas dengan senyuman. Ia ingat akan hadits Nabi Muhammad SAW yang bersabda bahwa bersentuhan seorang muslim dengan wanita yang bukan muhrimnya itu lebih baik jika ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD