BAB 4 : KELUARGA PRAMOEDYA

2048 Words
Nuri yang duduk di kursi belakang, segera turun dari sebuah mobil yang di kendarai oleh laki-laki yang baru saja ia temui di sebuah Masjid. Ia menjejakkan kakinya di sebuah rumah yang megah di daerah Kalibata. Rumah mewah itu terletak di ruas jalan buntu yang dihijaukan oleh rerumputan segar dan pohon-pohon rindang. Sebuah rumah besar menjulang di ujung jalan. Bercat putih dengan pilar besar, khas rumah-rumah gedongan. Sebagian pagarnya terbuat dari baja dan sangat tinggi menjulang, menutupi keindahan rumah mewah itu dari pandangan orang luar. Nuri sangat menyukai kesan pertama rumah itu. Sangat mewah tapi juga teduh. Seorang satpam berjaga-jaga di dalam pos penjagaan. Satpam itu mengangguk penuh hormat ke arah tuannya.  Para pelayan yang mengetahui kedatangan tuannya langsung berjejer rapi. Ada tiga pelayan yang menyambut mereka, termasuk yang Nuri kenal yaitu bude Yatni. “Selamat siang Tuan Rizky dan Den Al …” ujar para pelayan sopan sambil menundukkan kepala penuh hormat. Bude Yatni terlihat terkejut saat mendapati keponakannya itu bisa datang bersama tuan besarnya. Kedua pelayan yang diketahui bernama Bi Tinah yang berusia 55 tahun dan anaknya Ratih yang berumur 20 tahun pamit undur diri ke belakang untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Kini tinggal Bude Yatni yang berdiam diri mematung di tempatnya. Ia masih tidak percaya dengan penglihatannya, sang keponakan yang berdiri di depannya. Kemarin dirinya memang sudah dikabari oleh Nuri bahwa ia akan pergi ke Jakarta pagi itu. ‘Kok bisa Nuri datang bersama Tuan Rizky?’ pikirnya. “Bude …” ujar Nuri lirih, akhirnya ia dimudahkan oleh Allah untuk segera dipertemukan dengan budenya. Bude Yatni tersadar dari keterkejutannya. “Ya Allah, Nduk. Alhamdulillah kamu udah sampe sini. Seharian ini Bude khawatir, takut kamu kesasar.” Wanita paruh baya yang sama-sama mengenakan hijab itu segera mendekati keponakannya. “Bude telponin kamu nggak nyambung-nyambung,” lanjutnya. Ada kelegaan dari nada bicaranya. Nuri berhambur ke dalam pelukan sang Bude dengan perasaan yang lega luar biasa. Terucap kata syukur dari mulut Nuri karena Allah telah memudahkan jalannya. Mereka berpelukan melepas rindu. Bude Yatni adalah kakak dari ibunya. Sudah lama ia merantau ke Jakarta setelah kepergian suaminya menghadap Sang Illahi. “Maaf Tuan, kenapa Tuan bisa bertemu Nuri?” tanya Bude Yatni dengan sopan setelah melepas pelukannya. “Kami tidak sengaja bertemu di sebuah Masjid selepas shalat Dzuhur, Bi. Kebetulan semua uang Nuri juga dijambret tadi,” papar Rizky, ia melepas kaca mata yang masih bertengger di hidungnya. “Astagfirullah, kamu kena jambret Nur?” tanya Bude Yatni tidak percaya. Nuri hanya menganggukan kepalanya sambil meremas ujung hijab yang dipakainya. “Subhanallah, ini pertolongan dari Allah Nuri bisa bertemu dengan Tuan Rizky. Terimakasih banyak, Tuan,” ucap bude Yatni sambil membungkukkan badannya. “Sama-sama, Bi. Saya ke ruang kerja dulu ya, nanti tolong antarkan kopi ke sana ...” kata Rizky kepada asisten rumah tangganya itu. “Nuri, kamu istirahat dulu saja. Kamu pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh. Bi Yatni akan menunjukkan kamar kamu di belakang,” ujarnya lagi sambil berlalu menuju ruang kerjanya di lantai atas. “Terimakasih banyak, Tuan ...” ujar Nuri sambil menundukkan kepala. “Aku juga mau ke kamar, ya,” kata Alfarizy, setelah tadi ia hanya mematung menyaksikan Bude dan keponakannya melepas rindu. Ia melangkah hendak menaiki anak tangga. “Silahkan, Den ...” sahut Nuri sambil membungkukkan badannya, “terima kasih banyak.” Alfarizy menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya lagi. “Jangan panggil aku Den, panggil Al aja. Kan tadi aku udah bilang,” ralatnya cepat. “Maaf, Den. Itu ndak sopan,” tolak Nuri halus. Bagaimana pun juga Alfarizy adalah anak dari majikannya, ia harus tetap menghormatinya seperti tuan besarnya. “Aku nggak suka dipanggil Den sama kamu,” keukeuh Alfarizy ngotot. “Baik, Mas Al ...” kata Nuri akhirnya mengganti panggilannya tadi. “Nah, itu lebih bagus. Yaudah aku ke kamar dulu ya.” Alfarizy membalikkan badannya dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Sebelum mengajak Nuri ke kamarnya, Bude Yatni membuatkan kopi pesanan tuannya terlebih dahulu lalu mengantarkannya ke ruang kerja tuannya di lantai atas. Setelah itu segera kembali menghampiri Nuri yang sedang duduk menunggunya di dapur. “Minum dulu, Nur.” Bude Yatni menepuk pundak Nuri sembari memberikan segelas air putih. “Makasih, Bude.” Nuri lansung mengambil gelasnya. Tiga teguk ia minum. “Ayo, Nduk. Bude tunjukkan kamar kamu.” Bude Yatni menggamit tangan kanan Nuri dan mengajak Nuri menuju kamarnya di belakang rumah utama. Mereka harus melewati sebuah taman yang terletak di belakang rumah sebelum tiba di sebuah rumah yang berukuran lumayan besar dengan empat kamar di dalamnya. Rumah itu adalah tempat tinggal para pelayan. Mereka menyebutnya rumah belakang. Di rumah belakang terdapat fasilitas yang lumayan lengkap. Ada sebuah kulkas dua pintu yang terletak di dekat dapur, sebuah televisi dan sofa panjang di ruang tengah untuk sekedar menonton acara hiburan sambil melepaskan penat setelah lelah bekerja seharian, dan juga sebuah kamar mandi yang bisa dipakai oleh mereka secara bergantian. Di masing-masing kamar juga disediakan sebuah tempat tidur, sebuah kipas, sebuah lemari pakaian, dan sebuah kursi beserta mejanya. Tuan Rizky memang sangat memperhatikan kenyamanan para pekerjannya selama bekerja di rumahnya. Hal itu yang membuat para pelayan betah bekerja di rumahnya. Mereka dianggap sepergi keluarga sendiri. “Assalamualaikum …” ucap Nuri saat memasuki rumah belakang untuk pertama kali. Di sana sudah ada Bi Tinah dan Ratih yang sedang duduk di ruang tengah sambil menyelonjorkan kakinya di atas sebuah karpet. Kebetulan waktu itu memang pekerjaan mereka telah selesai dikerjakan jadi mereka bisa beristirahat barang sejenak dari lelahnya bekerja seharian sebelum nanti sore mereka akan kembali disibukkan untuk menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga Pramoedya. “Wa’alaikumussalam …” jawab Bi Tinah dan Ratih berbarengan. “Tinah, Ratih … kenalkan ini ponakanku dari Surakarta. Dia yang akan mengasuh non Riri,” ujar Bude Yatni memperkenalkan Nuri kepada mereka. Nuri mengulurkan tangan untuk menyalami Bi Tinah dan Ratih. “Perkenalkan saya Nuri, Bi.” Nuri mencium tangan Bi Tinah yang usianya seumuran dengan ibunya di kampung. “Umur kamu berapa, Nur?” tanya gadis seumuran dengannya itu dengan rambut panjang diikat karet gelang tanpa poni. Anting-anting emas kecil menggantung di telinga, memberikan sedikit kemewahan di wajahnya yang sederhana. “19 tahun, Mbak,” jawab Nuri sopan. “Jangan panggil mbak, kesannya aku kayak mbak-mbak,” ujar Ratih sambil terkekeh kecil, pundaknya sampai naik-turun. “Panggil aku Ratih. Umur kita hanya beda satu tahun aja,” lanjutnya. Ratih sudah ikut tinggal bersama ibunya di rumah itu sejak kematian yang menimpa ayahnya. Ia bisa tinggal di sana juga atas kemurahan hati Tuan Rizky. Sesekali, ia pun terbiasa membantu pekerjaan ibunya jika ibunya itu sedang kerepotan. Obrolan mereka pun berlanjut untuk saling mengakrabkan diri. Nuri bersyukur dalam hati ia mendapatkan majikan yang baik dan diterima dengan baik pula di rumah itu. Dari cerita yang ia dengar dari Bude Yatni bahwa Tuan Rizky telah ditinggalkan oleh istri tercintanya karena sebuah kecelakaan maut. Kecelakaan itu telah merenggut nyawa istrinya 6 tahun yang lalu. Tuan Rizky mempunyai dua orang anak laki-laki yang bernama Mahesa dan Alfarizy. Anak pertama Tuan Rizky bernama Mahesa Pramoedya. Ia berusia 30 tahun. Ia adalah seorang dosen di salah satu kampus ternama di Jakarta. Mahesa telah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan. Setelah satu tahun kepergian ibunya, Mahesa pun harus merelakan istrinya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sang istri tidak bisa terselamatkan nyawanya setelah melahirkan buah hatinya. Dokter telah memberikan pilihan bahwa di antara mereka hanya bisa satu nyawa saja yang terselamatkan. Mahesa memilih menyelamatkan nyawa istrinya, tapi sang istri malah menolak dan menginginkan Mahesa untuk merawat buah hati mereka. Gadis kecil itu bernama Rianti Putri Pramoedya, kini telah berusia 5 tahun. Selama 5 tahun juga Mahesa telah menyandang sebagai single daddy. Dirinya tidak berniat untuk menikah lagi. Ia ingin membesarkan Riri seorang diri, walaupun ia sadar bahwa sebenarnya Riri sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Namun ia takut jika dirinya menikah lagi, tidak akan ada wanita yang tulus menyayangi anaknya itu. Jadi ia memutuskan untuk tidak menikah lagi. Kecuali suatu hari nanti Allah mempertemukan dirinya dengan wanita yang bisa menyayangi Riri sepenuh hati. Anak kedua tuan Rizky bernama Alfarizy Pramoedya. Ia berusia 22 tahun dan seorang mahasiswa Kedokteran tingkat akhir. Setelah kematian ibunya saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang dokter. Ia ingin menolong nyawa banyak orang semampu yang ia bisa. Selain tampan, ia juga sangat taat beribadah. Setiap hari libur atau ketika jadwal kuliahnya sedang tidak padat, ia selalu menyempatkan diri untuk mendatangi majlis ta'lim untuk sekedar mendengarkan taushiyah dan memperpanjang tali silaturahmi dengan teman-temannya. Di kalangan teman-temannya, ia terkenal dengan orang yang gampang berbaur dengan siapa saja. Nuri mendengarkan cerita budenya dengan cermat. Sekarang dirinya tahu siapa saja yang tinggal di rumah besar itu. *** “Nur … kata tuan Rizky kamu kena jambret tadi siang, ya?” tanya Bude Yatni saat mereka sudah berada di dalam kamar yang akan ditempati oleh Nuri, “gimana ceritanya, Nduk? Kok bisa, sih?” tanyanya lagi. Nuri mengalihkan pandangannya dari tumbukan baju yang sudah ia keluarkan dari dalam tasnya untuk ia susun di dalam lemari, lalu menatap wajah sang Bude. Ia menarik napasnya sejenak lalu menghembuskannya perlahan. “Iya, Bude. Nuri kena jambret pas baru turun dari bis. Nuri ndak hati-hati, Bude sampai Nuri ndak merhatiin keadaan sekitar. Sudah Qadarullah juga, Bude. Dompet, gawai dan surat-surat berharga di dalam tas itu hilang dijambret,” lanjutnya. Ia berusaha menerima kejadian itu dengan ikhlas, biarlah nanti Allah yang akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi. “Innalillahi. Baru aja kamu sampai di Jakarta, udah ada kejadian kaya gitu Nur.” Bude Yatni mengusap kepala Nuri dengan lembut. Keponakannya itu sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri mengingat sudah dua puluh tahun dirinya menikah dengan sang suami dan belum juga dikaruniai seorang anak pun bahkan sampai suaminya menghembuskan napas terakhirnya. “Iya, Bude. Nuri sudah ikhlaskan semuanya.” Senyum Nuri terbit. Ia tidak mau terus-terusan memikirkan kejadian naas itu. “Jadi kamu belum mengabari orang tuamu di kampung, Nur?” tanya Bude Yatni lagi. Nuri menggeleng pelan.                                “Ya sudah, Bude ambilkan dulu gawai punya Bude ya biar bisa ngabarin orang tua kamu di kampung.” Bude Yatni berlalu dari kamar Nuri dan segera kembali lagi ke kamar itu setelah membawa gawai miliknya. “Ini, Nur. Kabari orang tuamu biar mereka nggak khawatir,” titah bude Yatni sambil menyerahkan gawai miliknya pada tangan Nuri. Nuri segera mengambil gawai itu dan jari lentiknya mulai memencet nomer sang ibu di kampung. Tuuut Tuuut Tuuut “Assalamualaikum, Mbak Yu ...” sapa Santi di ujung telepon. Ia mengira yang menelpon adalah kakaknya. “Wa’alaikumussalam, Bu. Ini Nuri ...” kata Nuri. “Eh, Nur. Kenapa kamu pakai gawai Bude? Memangnya kemana punya kamu?” tanya Santi heran. “Emm ….” Nuri berpikir sejenak. “Gawai Nuri habis batrenya, Bu,” jawab Nuri berbohong. Ia tidak mungkin memberi tahu kejadian yang menimpanya tadi siang. Ia tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkannya. “Oh gitu.” Santi bernapas lega anak gadisnya sudah sampai di Jakarta dengan selamat. “Alhamdulillah kamu sudah sampai Jakarta dan ketemu sama bude. Jaga diri kamu ya, Nur.” “Nggih, Bu. Ibu, ayah, dan Agil sehat-sehat toh?” “Kami sehat, Nur. Wis … kamu ndak usah mikirin kami, yo. Kamu fokus aja bekerja dengan baik di sana.”  “Yaudah nanti Nuri telepon Ibu lagi ya, Nuri mau beresin baju dulu, Bu. Salam untuk ayah dan Agil ya, Bu. Assalamualaikum …” kata Nuri. “Wa’alaikumussalam …” jawab Santi. Sambungan telepon pun terputus. Nuri menyerahkan kembali gawai milik budenya itu. “Kenapa kamu bohong soal gawaimu, Nur? Kenapa kamu ndak jujur dengan apa yang menimpa kamu hari ini?” tanya bude Yatni sambil menyimpan gawai miliknya ke dalam saku baju gamis yang dipakainya. “Nuri ndak mau bikin mereka khawatir, Bude …” Nuri beralasan, “lagian ‘kan alhamdulillah Nuri baik-baik, aja,” lanjutnya kemudian. “Yowis, setelah beresin baju kamu istirahat ya. Nanti sore kamu udah mulai dengan pekerjaanmu sebagai pengasuh non Riri.” Bude Yatni beranjak lalu keluar dari kamar Nuri. Nuri kembali membereskan baju-bajunya dan menatanya ke dalam lemari kecil di pojokan dekat tempat tidurnya. “Bismillah,” gumamnya lirih. Hari itu adalah hari pertama ia akan memulai pekerjaannya di rumah mewah itu. Tiba-tiba hatinya dihinggapi rasa rindu yang menggebu terhadap keluarganya. Pikirannya melayang ke rumahnya di kampung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD