Pagi yang biasa. Anak kecil itu duduk sendirian di depan rumahnya. Matanya menerawang ke arah teman-teman sebayanya yang sedang bermain—saling berkejaran satu sama lain. Nuri terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibunya yang bernama Santi menikah di usia 18 tahun. Pada zamannya, umur segitu kebanyakan sudah menikah karena sudah dianggap matang. Wis ngerti urip.
Santi dan Surya—ayah Nuri menikah karena saling cinta pada pandangan pertama. Santi yang sehari-harinya membantu si Mbok berjualan buah-buahan di pasar, tidak sengaja bertemu dengan Surya—seorang penjual sayur baru di pasar itu. Buah-buahan yang Santi jual adalah hasil panen dari kebun orang tuanya sendiri.
Walaupun Surya kala itu hanya penjual sayuran, namun pakaiannya selalu rapi. Badannya tinggi dan gagah. Tatapan matanya melankolis tapi tajam. Alisnya tebal dan rambutnya selalu klimis.
Dari balik dagangannya, Santi melihat pedagang sayur baru itu secara seksama. Dari ujung kepala sampai bagian badannya saja, karena bagian bawah laki-laki itu tertutupi barang dagangannya. Tanpa diduga, Surya pun menatap wajah Santi. Muka Santi memerah karena ketahuan sedang mencuri pandang. Tatapan mata mereka beradu, Santi buru-buru mengalihkan pandangannya dan pura-pura sibuk membenahi dagangannya.
Ternyata pepatah yang mengatakan ‘dari mata turun ke hati’, dialami oleh Santi dan Surya. Tatapan mereka ketika saling memandang untuk pertama kalinya sangat membekas di hati masing-masing.
Di suatu malam tepatnya malam minggu, Surya memberanikan diri berkunjung ke rumah Santi setelah beberapa kali matanya berbicara dengan mata Santi. Modal nekat! Laki-laki itu mengetuk rumah Santi beberapa kali sampai pintu rumahnya terkuak.
“Nyari sopo?” tanya si Mbok, ia memperhatikan penampilan pemuda yang ada di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Panjenengan niku pedagang baru di pasar lama, toh?” tanyanya sambil mengunyah daun sirih. Bibirnya merah, semerah-merahnya.
Surya mengangguk santun. “Inggih, jenengan kulo Surya, Bu.” Raut wajahnya kalem.
“Monggo kula aturi lenggah.” Si Mbok mempersilahkan Surya duduk di teras depan rumah. “Sannnn … sini sebentar, ada yang nyari!” seru si Mbok.
Santi yang sedang menggoreng pisang di pawon, buru-buru datang menghampiri si Mbok di teras depan. Ia duduk di kursi kayu dekat si Mbok dengan mulut terkunci. Malu-malu matanya melirik laki-laki yang sedang duduk di hadapannya. Keringat dingin menetes di dahi laki-laki itu.
“Pisang gorengne wes rampung, San?” tanya si Mbok, masih mengunyah daun sirih.
“Dereng, Mbok. Sedikit lagi,” jawab Santi, masih menundukkan kepalanya.
“Wis, si Mbok aja yang selesein. Kamu temenin Surya dulu.” Si Mbok berlalu masuk ke dalam dan bergegas pergi ke pawon.
‘Oh, ternyata namanya Surya,’ pikir Santi.
Hening.
Santi tidak tahu harus mulai pembicaraan dari mana, begitu pun Surya.
“Kok malah pada bengong,” ujar si Mbok memecah keheningan. Udara malam itu terasa sangat dingin di luar rumah. Sesekali terdengar suara jangkrik bersautan. “Monggo dimakan pisang gorengnya, Sur. Cuma ini aja yang ada,” lanjut si Mbok. Sepiring pisang goreng yang masih mengeluarkan asap putih beralih dari tangan si Mbok ke atas meja kayu di hadapan Surya.
“Kulo bikinkan minum dulu. Mas Surya mau kopi atau teh?” tanya Santi memberanikan diri bertanya.
Mata Surya melirik Santi. “Teh anget aja kalau boleh,” jawab Surya gugup.
Santi segera bergegas ke pawon, tungku yang masih menyisakan asap sehabis menggoreng pisang tadi ia tiup-tiup lagi agar apinya membesar untuk memasak air. Setelah air mendidih, ia menaruh sekantung teh celup ke dalam gelas kaca lalu menyeduhnya dengan air panas. Ia beranjak ke lemari kayu tempat penyimpanan gula putih, ternyata toples gula putih kosong. Rupanya si Mbok lupa membeli gula putih tadi pagi. Terpaksa, ia hanya membuatkan teh hangat tawar untuk pemuda itu.
“Silahkan diminum, Mas. Maaf cuma teh anget tawar aja, ternyata gulanya habis,” ujar Santi masam.
Surya tergelak. “Mboten nopo-nopo. Teh anget tawar sama pisang goreng anget wis cukup, kok.”
Setelah kunjungannya pertama kali itu, Surya jadi semakin berani berkunjung ke rumah Santi setiap malam minggu. Ia mengajak Santi jalan-jalan ke pasar malam, atau sekedar nonton layar tancap di kampung sebelah. Dayung pun bersambut, niat baik Surya untuk melangkah ke jenjang pernikahan diterima oleh Santi.
Pernikahan mereka digelar secara sederhana. Mahar yang sanggup diberikan Surya pada kekasih hati hanyalah seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat dua gram. Beruntung, Santi adalah tipe wanita yang tidak banyak menuntut ini itu. Sejak kecil si Mbok sudah mengajarkannya hidup sederhana.
Setelah pernikahan mereka menginjak usia 3 tahun, akhirnya penantian Santi membuahkan hasil. Ia hamil Nuri. Gonjang-ganjing yang tetangganya lontarkan perihal kehamilan, selalu ia hadapi dengan sabar dan lapang d**a. Sudah sangat sering ia mendapat pertanyaan: ‘kok belum hamil juga?’ Mungkin mereka lupa bahwa manusia hanya bisa berharap, namun Allah-lah yang menentukan semuanya.
Nuri lahir ketika usia Santi 22 tahun. Ia lahir di tangan seorang bidan desa, Bu Min. Waktu itu Santi belum tahu apa itu persalinan bukaan 1 sampai 9. Pengetahuannya tentang kehamilannya sangat minim sekali. Ia pun tidak pernah memeriksa kandungannya dengan cara USG seperti sekarang ini. Tapi ia selalu berdoa agar bayi dalam kandungannya selalu sehat.
Santi mulai merasa mulas sejak pukul 11 malam, tapi tak ia hiraukan. Ia pikir itu hanya mulas biasa. Keesokan paginya ia masih beraktifitas seperti biasanya, mencuci baju, memasak, dan mengepel lantai walaupun rasa mulas masih terasa. Semakin ke sini, rasa mulas semakin sering dirasakannya. Tiba-tiba air ketuban pecah pukul 10 pagi. Surya segera mengantar Santi ke tempat praktek bidan desa yang berjarak 20 menit dari rumah dengan meminjam angkot tetangga.
“Sudah pembukaan 9, Bu,” ujar Bu Min saat Santi sudah berbaring di ranjang persalinan. “Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan ya, Bu …” katanya lagi.
Peluh membasahi sekujur tubuh Santi. Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Ia mencoba menahan rasa sakit sambil terus menyebut asma Allah. Belum pernah ia merasakan rasa sakit sesakit ini. Ternyata begitu berat perjuangan seorang Ibu ketika melahirkan anaknya. Ia jadi teringat akan si Mbok yang sudah berpulang kehadirat-NYA satu tahun yang lalu.
“Dorong yang kuat ya, Bu,” perintah Bu Min saat kepala bayi sudah mulai terlihat. “Kepalanya udah keliatan.”
Akhirnya dengan pertolongan Allah, jabang bayi keluar dari rahimnya bersama dengan tangisannya. Surya segera menghampiri Bu Min yang tengah menggendong bayi berjenis kelamin perempuan itu, ia akan mengadzani bayinya.
Setelahnya, bayi yang masih berlumur darah itu segera dibersihkan oleh Bu Min. Ada kelegaan yang datang menghampiri hati Santi dan Surya. Anak mereka lahir dengan fisik yang sempurna. Alhamdulillah … segala puji syukur atas semua karunia-NYA.
Ternyata, melahirkan itu seperti berada di ambang batas kehidupan—antara mati atau bertahan. Itu yang terlintas dipikiran Santi. Ia berharap bayi perempuan yang diberi nama Lisnawati Nuri akan tumbuh menjadi anak yang sholehah. Itu tekad Santi, ia akan mendidik anaknya dengan baik.
Setelah selesai dimandikan, tiba saatnya Nuri kecil disusui untuk pertama kalinya. Santi menahan sedikit rasa perih. Rasa perih itu pun hilang sejenak setelah melihat Nuri kecil tertidur dipelukannya. Ia memperhatikan wajah anaknya yang belum terlihat mirip siapa.
Saat Nuri menginjak usia enam bulan, Santi mulai memperkenalkan makanan pendamping padanya. Ia sengaja membuat bubur sendiri untuk anaknya. Menurut cerita tetangganya, memberikan bubur beras merah bisa membuat anaknya pintar kalau besar nanti. Maka Santi tidak pernah lupa memberi Nuri makan beras merah.
Dua tahun umur Nuri, ia sudah pandai berbicara. Rumah kecilnya tampak semakin meriah dengan semua ocehan Nuri. Keinginan Santi untuk memberikan adik untuk Nuri ternyata belum Allah kabulkan. Maka Santi dan Surya mencurahkan semua kasih sayangnya pada anak perempuan mereka satu-satunya.
Saat usia Nuri menginjak 8 tahun, Allah memberinya seorang adik laki-laki yang diberi nama Agil Ramadhan karena adiknya itu lahir pada bulan Ramadhan. Pekerjaan Surya yang hanya sebagai buruh tani di ladang milik tetangga, membuat Santi harus pintar-pintar mengatur keuangan apalagi dengan bertambahnya anggota baru di rumah itu. Tak jarang, Santi hanya memasak tempe goreng saja untuk lauk makan. Namun Nuri kecil tidak pernah mengeluh. Ia akan makan dengan lahap apa yang ibunya masak walaupun dengan lauk ala kadarnya.
“Bu, sepatuku sudah hampir jebol,” kata Nuri yang saat itu berumur sepuluh tahun, ia sudah duduk di kelas empat SD. Sepulang sekolah dengan masih memakai seragam, ia menghampiri Santi yang sedang memasak di pawon.
Santi mengambil sepatu yang disodorkan anaknya, memeriksa sepatu yang sudah hampir dua tahun dipakai anaknya itu. Bagian belakang sepatunya hampir lepas tak bersol lagi. Biasanya Nuri jarang meminta, ia akan memakai barang apapun sampai tidak bisa dipakai lagi alias rusak. Sudah waktunya Santi membelikan Nuri sepatu baru.
“Tadi ada pelajaran olah raga, Bu. Aku pakai lari, eh … copot,” ujar Nuri sambil tertawa kecil.
Santi tergelak mendengar penuturan Nuri. Beruntung anaknya itu tidak pernah malu dengan keadaan hidupnya. “Wis, kamu ganti baju dulu ya. Abis itu makan,” kata Santi sambil membalik tempe yang sedang digorengnya.
Setelah berganti baju, Nuri kecil kembali menghampiri ibunya di pawon. “Bu … tadi bu guru bilang, SPP harus dibayar paling telat besok,” ujarnya sambil mencomot tempe goreng di atas meja.
Santi menghela napas panjang. “Iya, pasti ono kok! Besok bayar SPPmu ya, Nduk,” sahutnya berusaha membesarkan hati Nuri, padahal ia sendiri tidak yakin apakah besok uang untuk SPP itu ada atau tidak. Ia hanya bisa berdoa semoga suaminya yang bekerja sebagai buruh tani di ladang milik tetangga akan membawa uang untuk membayar SPP selepas pulang bekerja nanti.
Begitulah hidup masa kecil Nuri, penuh dengan kesederhanaan dan rasa syukur. Ketika anak-anak di kampungnya merengek meminta mainan terbaru, yang bisa ia lakukan hanya bermain masak-masakan di depan rumah beserta sahabatnya--Suratni. Biasanya ia dan sahabatnya itu membuat kue-kuean, adonannya terbuat dari tanah yang dicampur air. Bila air sudah benar-benar meresap, tanah akan liat dan mudah dibentuk seperti kue. Mereka berpura-pura menjajakkan kue-kuenya tersebut. Begitulah yang ia lakukan selepas pulang sekolah bersama sahabatnya.
Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, Nuri tumbuh menjadi gadis desa yang cantik. Banyak yang ingin meminangnya—termasuk juragan tanah dari kampung sebelah bernama Herman, tapi Santi berusaha memberi pengertian kepada mereka bahwa Nuri belum mau dinikahkan. Santi dan Surya ingin hidup anaknya tidak susah seperti hidup mereka. Maka Nuri harus sekolah tinggi-tinggi. Itu tekad mereka!
Sedangkan Suratni, sudah menikah dengan juragan tanah di kampungnya saat usia 17 tahun. Ia terpaksa menikah karena dijodohkan oleh laki-laki yang jauh lebih tua dari dirinya. Nuri pun sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan sahabatnya sejak ia menikah. Kabar Suratni seperti hilang ditelan bumi. Nuri harap, sahabatnya baik-baik saja setelah mengarungi rumah tangga selama 2 tahun.