Happy Reading ^__^
***
"Dia ada di sini. Kamu lihat gayanya?"
Sebuah suara dari dalam ruangan salah satu direktur terdengar begitu lantang. Dari intonasinya, jelas itu adalah suara penuh kemarahan. Sosok itu berdiri tepat di depan Argani Rahadyan -si pemilik ruangan- dengan gaya angkuhnya yang khas.
"Dia terus datang ke sana atau pun kemari dengan mudahnya. Bahkan dia terus-terusan datang ke meeting dengan dalih menggantikan kamu. Padahal, demi Tuhan, dia tidak paham apa pun di sana!"
"...."
"Dia benar-benar sedang berlagak dengan kekuasaannya yang semu. Menyebalkan sekali."
Perempuan bernama lengkap Virsha Agatha tersebut menatap kekasihnya -Argani Rahadyan- dengan sebal. Apalagi saat dia sadar kalau pria itu tidak fokus memperhatikannya.
"Arga, kamu dengar aku tidak sih?"
Lagi, si perempuan menggerutu untuk mendapatkan atensi pria yang ada di depannya. Sebenarnya Arga tidak tampak jauh lebih baik. Dia juga sama frustrasinya di sini. Tapi aura mendominasi si perempuan begitu kental hingga Arga mau tak mau harus meresponnya.
"Aku dengar, Virsha, aku dengar!" jawabnya. Arga menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Memangnya mau bagaimana lagi? Sebenci apa pun kamu dengan dia, tetap nggak akan mengubah fakta kalau dia memang punya kekuasaan itu. Dia Lentera Hadiyata, anak satu-satunya Johan Hadiyata." jawab Arga yang seolah-olah ingin menampar logika Virsha agar lebih sadar diri. Kalau bukan untuk dimanfaatkan, untuk apa seseorang berusaha dengan keras untuk mendapatkan sebuah kekuasaan? Dan Lentera memang punya kekuasaan itu, jadi Virsha seharusnya tidak komplain. Bahkan, dia tidak berhak melakukannya.
Dan seolah tertampar oleh perkataan Arga, Virsha pun terdiam dengan mencebikkan bibirnya. Meski faktanya Lentera memang selalu di atasnya, tapi dia tetap tidak suka dengan fakta kalau dia kalah dari perempuan itu.
"Aku yakin dia kemari untuk membalas dendam pada kita. Dia tidak hilang ingatan, Arga. Aku yakin itu."
"Kamu lihat bagaimana hancurnya mobil Lentera? Bisa selamat saja sudah syukur, dan kamu bilang Lentera berpura-pura? Astaga..." Arga menggerutu. "Dan stop membahas hal ini di kantor kecuali kamu sudah nggak sayang dengan posisi kamu. Ini berbahaya."
Virsha mencebik tidak terima.
"Kalau menurut kamu memang begitu, tolong bawa buktinya. Jangan hanya sekedar berbicara. Lentera bukan orang yang bisa kamu singgung dengan mudah, Virsha." Arga memperingatkan.
Virsha memukul d**a Arga dengan lumayan keras. Dia sebal. "Lihat, kamu berusaha melindungi dia. Apa sekarang kamu sudah cinta mati ke istri kamu? Apa setelah ini kamu berencana membuang aku demi mengamankan posisi kamu sendiri?"
Arga menahan tangan Virsha. Dia menatap perempuan yang menjadi selingkuhannya dengan jengkel. Keduanya berdiri dan saling bertatapan dengan intens. Sungguh merepotkan sekali, pikirnya. Tapi takdir sudah mengikatnya dengan Virsha hingga mereka terjerumus sampai di titik ini, jadi mau tidak mau ya dia harus menerimanya.
"Aku tidak mencoba melindungi dia. Aku hanya berempati pada dia. Bagaimana pun Lentera adalah istri aku dan dia kecelakaan karena kita. Dia keguguran, mobilnya ringsek, nyawanya hampir melayang—setelah semua itu, aku benar-benar iblis kalau masih tidak berempati pada dia."
Virsha mendorong d**a Arga. Selain mencebik, kini dia melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Sejak awal aku sudah mengatakan pada kamu bagaimana hubungan kita. Kita berselingkuh." ujar Arga dengan penekanan. "Dan selayaknya hubungan perselingkuhan, aku harap kamu jangan menuntut lebih. Bagaimana pun Lentera akan tetap jadi prioritas aku."
"Apa kamu akan membuang aku, Arga?" tanya Virsha dengan gelisah. Demi menjaga hubungan ini, dia rela dibuang ke unit kerja lain, padahal sebelumnya dia adalah asisten pribadi Arga. Lalu, apakah kelanjutan Virsha Agatha -si selingkuhan- juga akan berakhir dibuang begitu saja oleh pria itu?
Sorot matanya tampak kelam menatap ke arah sang kekasih gelap yang secara terang-terangan mementingkan istrinya.
"Menurutlah. Dan kamu akan tetap aman di sisi aku,"
Jawaban itu membuat Virsha sedikit tenang. Pasalnya, sejak insiden perselingkuhan mereka di ruangan ini tertangkap oleh Lentera, Arga seringkali menghindari dirinya. Dia takut dibuang oleh Arga. Selama ini dia sudah menggantungkan dirinya pada Arga, jadi kalau dia dibuang, maka hidupnya akan kacau.
"Sekarang ini kondisi kita sedang tidak baik. Lebih baik bagi kita untuk mengurangi intensitas pertemuan kita dulu."
"Kamu mulai lagi,"
Virsha mendengus sebal. Tapi Arga menahan dagunya dengan jemari lembutnya. Virsha pun luluh.
"Demi kebaikan kita, Virsha. Lentera yang hilang ingatan adalah berkah, jadi jangan sampai kita menyia-nyiakan berkah itu. Kamu paham kan maksud aku?"
Virsha sebenarnya tidak paham, tapi demi Arga —dan tentunya demi hidupnya juga- dia menganggukkan kepalanya. Dia akan mencoba memahami situasi mereka ini. Lentera Hadiyata benar-benar membuat repot, harusnya dia mati saja dalam kecelakaan itu, batinnya dengan kejam.
"Aku kangen banget sama kamu," ungkap Virsha sambil memeluk Arga dengan manja. Aksi ini pun dibalas Arga dengan rasa sayang yang sama besarnya.
"Aku juga kangen banget sama kamu. Hampir seminggu ini Lentera begitu mengganggu dan akhirnya kita bisa bertemu lagi seperti sekarang."
***
Di balik dinding yang berdekatan dengan pintu ruang kerja Arga, seorang perempuan tampak menguping dengan santai. Dia mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan dengan serius. Punggungnya bersandar bosan, tapi dia enggan meninggalkan tempat ini lebih awal. Di akhir, dia terkekeh tanpa suara.
Ada beberapa alasan yang membuat mereka pantas untuk bersama, yaitu karena mereka sama-sama tidak punya malu, batin perempuan itu dengan penuh penegasan.
Perempuan itu tidak lain adalah Lentera Hadiyata. Berdasarkan kode-kodean yang super halus, Lentera sudah menduga kalau sang suami dan selingkuhannya akan bertemu hari ini. Sebagai istri yang baik, dia pun memperlancar urusan suaminya. Dia berpura-pura pulang lebih awal agar mereka makin nyaman untuk bertemu.
Dia ingin mengulang kejadian sebelum tragedi kecelakaannya terjadi. Posisi mereka sama persis, di mana sang suami dan selingkuhannya berada di dalam ruang kerja. Sedangkan Lentera berada di titik yang sama persis dengan waktu itu, yakni berada di balik dinding dan menguping dengan penuh dendam.
Tapi ada satu perbedaan. Dulu dia ketahuan, tapi sekarang dia tidak akan ketahuan. Sang suami dan selingkuhannya mengajarkan Lentera untuk lebih mengontrol dirinya sebelum bertindak. Lihatlah, dulu dia begitu impulsif dan kehilangan banyak hal. Sekarang tidak lagi. Dia tidak akan kehilangan apa pun. Merekalah yang akan kehilangan sesuatu.
Berkat tekadnya tersebut, Lentera melenggang dengan langkah kaki yang setenang angin. Dia meninggalkan tempat terkutuk tersebut tanpa ada yang menyadarinya. Semua orang sudah pulang, termasuk sekretaris Arga sendiri. Tampaknya perselingkuhan kali ini memang tidak disadari oleh siapa pun.
Langkah kaki Lentera tampak mantap, pun dengan tangannya yang mencengkeram tas birkinnya dengan kuat. Dia sudah sampai di titik bahwa hubungannya dengan Arga tidak akan bisa diselamatkan lagi. Bahkan, kalau pun bisa, dia tidak akan sudi.
TBC