6. DOUBLE KILL

1764 Words
Happy Reading ^_^ *** "Mulai hari ini dia akan bekerja di sini," kata Arga pada staf yang berada di bawah naungannya. "Hanya beberapa orang yang berstatus sebagai pegawai baru, jadi saya yakin rata-rata dari kalian pasti mengenalnya. Dia adalah Lentera Hadiyata, istri saya yang tersayang." Lentera tersenyum menatap semua orang yang begitu penasaran akan sosoknya. Beberapa tampak bingung, beberapa lagi tampak santai. Yang tampak santai adalah pegawai lama yang dulunya juga bekerja untuk Lentera. Tapi di balik tatapan itu, Lentera bertanya-tanya. Kira-kira ada berapa orang yang tahu tentang perselingkuhan Arga? Atau jangan-jangan semuanya tahu? Sehingga tatapan mereka ini bukanlah tatapan kagum seperti biasanya, melainkan tatapan resah akan kehadirannya. Lentera akan menjadi bom waktu bagi mereka semua, Batin Lentera menyeringai puas. "Selama beberapa waktu ke depan, Ibu Lentera akan membantu pekerjaan saya. Dia akan berbagi tugas dengan sekretaris saya dan mengatur keseluruhan jadwal saya. Atau yang lainnya—tergantung kondisi. Yah, semacam asisten pribadi saya. Statusnya memang tidak jelas, tapi saya berharap tidak akan ada yang memanfaatkan kondisinya untuk berlaku semena-mena. Ada yang mau ditanyakan?" Well, sebenarnya tanpa perlu dikenalkan pun orang-orang tetap akan tahu kalau dia adalah Lentera Hadiyata. Tapi Arga begitu ingin dicap sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab makanya melakukan pengenalan seperti ini. Ah jangan lupakan kalimat posesifnya. Sayang sekali Lentera sudah tahu tentang perselingkuhannya jadi kalimat-kalimatnya tersebut tidak menyenggol hatinya sedikit pun. Malah, dia muak. Dia muak pada Arga. Dia muak pada para karyawan yang sepertinya tahu tentang perselingkuhan Arga di kantor, terutama sekretaris Arga. Mereka semua adalah saksi bisu perselingkuhan suaminya dengan wanita jalang itu. Sialan. "Hai," sapa Lentera seramah mungkin. "Saya tahu kalau kehadiran saya pasti akan membuat kalian menjadi tidak nyaman, tapi saya janji tidak akan mempersulit kalian. Anggap saja saya tidak ada. Santai saja." tambahnya dengan mata menelisik. Tapi di mana perempuan itu? Kenapa dia tidak ada di sini? Apa dia tidak bekerja langsung dengan Arga? "Kamulah yang seharusnya santai saja. Tidak perlu merasa tidak nyaman begini," ujar Arga untuk menenangkan Lentera. Tangannya merangkul pinggang Lentera dan menggiringnya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah insiden itu, ini adalah kali pertama bagi Lentera untuk memasuki kantor ini. Perasaannya campur aduk. Apalagi saat dia melihat kursi kebesaran Arga yang mana saat itu menjadi tempat suaminya dan jalang itu b******u. Tanpa sadar tatapannya lebih membara dari sebelumnya. Napasnya memberat sebagai pertanda bahwa emosinya mulai tersulut. Tapi syukurnya elusan tangan Arga di pinggangnya segera menyadarkan Lentera bahwa dia masih harus berakting. Arga tidak boleh menyadari masalah ini lebih cepat. "Aku santai kok," jawabnya. "Aku cuma takut mereka mengira aku hadir untuk mengawasi mereka dan ini berhubungan dengan gaji atau bonus mereka ke depannya. Padahal kan bukan." "Sudah, tenang saja. Everything will be okay, baby." Lentera tersenyum palsu. Dia pun menganggukkan kepalanya untuk segera menyudahi obrolan yang semakin menggelikan ini. "Aku ada meeting di luar, kamu mau ikut?" Tawaran itu langsung digelengi oleh Lentera. Dia tahu Arga hanya berbasa-basi. Karena aksesnya untuk berselingkuh di ruang kerjanya sudah tidak ada, maka momen meeting di luar adalah jalan keluarnya. Well, untuk sekarang dia tidak akan mengganggu Arga. Dia akan membiarkan Arga berpamitan dengan sopan pada selingkuhannya dalam rangka hubungan mereka yang tidak akan bisa seintens biasanya karena ada dirinya yang mengawasi. Tidak masalah. Anggap saja ini bonus. Dia yakin akan ada banyak kesempatan bagi Lentera untuk merusuhi hubungan mereka ke depannya. "Aku mau di sini saja. Aku merasa seperti sudah lama sekali tidak berada di area ini, jadi aku rindu. Kamu tidak marah kan?" Arga tergelak. "Tentu saja tidak. Malah itu yang aku inginkan," jawabnya dengan ambigu. "Kalau kamu ikut, aku khawatir kamu akan kelelahan. Ingat, kamu belum sepenuhnya pulih." Lentera mengangguk patuh walau sebenarnya dia mengutuk dalam hatinya. "Aku pergi dulu, sayang. Kalau ada apa-apa, langsung telpon aku, okay?" Sekali lagi, Lentera mengangguk. "Oh iya, karena semuanya terlalu terburu-buru, jadi aku belum sempat untuk menyiapkan meja kerja kamu. Tapi aku akan mengaturnya secepatnya. Untuk sementara ini kamu bebas menggunakan meja kerja aku. Santai saja. Aku pergi dulu, sayang." kata Arga sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar meninggalkan Lentera sendirian. Selepas kepergian Arga, semua tipu daya di wajah Lentera sirna. Raut bencinya tampak nyata pada ruangan yang dulunya merupakan salah satu tempat penting bagi Lentera. Arga sudah menodai tempat berharga ini. Kaki Lentera yang dibalut oleh heels delapan centi melangkah ke arah meja kerja Arga dengan tenang. Ketukan setiap langkahnya begitu tenang dan terkendali seolah-olah mengisyaratkan bahwa beginilah cara Lentera untuk balas dendam. Pelan, namun pasti. Dan tentunya tepat sasaran. Tidak akan ada suara grasak-grusuk yang terdengar, yang mana hal ini akan menimbulkan kecurigaan orang lain. Lalu ketika dia berhasil sampai di sana, dia akan mencengkeram leher mereka dengan kuat. Persis seperti Lentera yang saat ini tengah mencengkeram tepian kursi yang menjadi tempat Arga dan selingkuhannya b******u. Meski agak jijik, Lentera tetap duduk di kursi tersebut. Dan ini menandakan bahwa dia akan mengambil kembali tempatnya dan mendudukinya terlepas betapa bencinya dia dengan kursi tersebut. Dia akan mendapatkan kembali semua hal yang pernah menjadi miliknya. *** Setelah cukup puas berada di ruangan Arga untuk memanaskan dendamnya, Lentera langsung keluar untuk mulai menjalankan misinya. Meski misi mendapatkan kembali posisinya tergolong lumayan sulit dan lumayan membutuhkan waktu, tapi ada misi mudah yang kemungkinan besar bisa dia selesaikan dengan cepat. Misi tersebut tak lain adalah menemukan wanita selingkuhan Arga. Dengan sebuah kopi di tangan kanannya, Lentera berjalan santai mengitari perusahaan. Meski beberapa pegawai baru tampak bingung dengan kehadirannya, namun dia mengabaikannya. Lentera yakin beberapa di antara mereka ingin menegur Lentera atas kelancangannya memasuki divisi mereka seperti itu, tapi aksi mereka tertahan berkat atasan mereka -yang notabenenya adalah orang lama- menyambut Lentera dengan tangan terbuka. Dari sinilah mereka tahu bahwa dirinya bukan orang yang bisa mereka usik. Dan dari sini jugalah Lentera tahu kenapa sang suami begitu haus akan kekuasaan. Ternyata dihormati sampai orang tersebut tidak bisa berkutik memang melenakan. Pantas saja Arga begitu ingin mengambil alih posisinya dengan dalih tidak ingin dirinya kelelahan dan sebagainya. Itu bohong. Nyatanya yang dia inginkan adalah kekuasaan yang membuat semua orang tunduk padanya. Sebagai orang yang loyal -dan naif- dia tidak masalah kehilangan semua itu. Dia sudah hidup seperti itu di sepanjang hidupnya. Dan karena sudah bersuami, dia pun ingin lebih menggantungkan dirinya pada sang suami. Dan bukannya bersyukur karena mendapatkan semua privilege itu dengan mudah, dia malah berselingkuh. Tipikal orang serakah. Dan orang serakah akan selalu mendapatkan karmanya. Tinggal tunggu saja waktunya. Sebenarnya Lentera tidak berharap banyak di hari pertamanya bekerja. Meski tidak hari ini, tapi dia yakin akan bisa menemukan perempuan itu. Tapi siapa sangka semudah ini menemukan perempuan itu, batin Lentera dengan sinis saat melihat sosok perempuan itu melintas di seberang sana. Dia hendak memasuki sebuah ruangan yang Lentera ketahui sebagai ruang rapat utama. Penampilannya memang menarik. Namun hal tersebut tetap tidak mengubah statusnya yang ternyata hanya seorang pesuruh. Seorang sekretaris atau pegawai rendahan biasa? Entahlah. Tapi yang jelas dia bukan seseorang yang bisa disandingkan dengan Lentera. Level mereka berbeda. Tapi suamimu berselingkuh dengan dia, bodoh, batinnya mengejek. Ada rasa jengkel di dalamnya karena fakta tersebut. Baiklah—pembalasan akan dimulai. Meratapi harga dirinya yang sudah diinjak-injak tidak akan memulihkannya. Sebaliknya, dia harus bangkit dan balas menginjaknya. Ya, memang itulah yang seharusnya dia lakukan. Dengan langkah yang sama mantapnya, Lentera menuju ke ruang meeting utama. Perempuan itu masuk ke sana, maka Lentera akan masuk ke sana juga. Dengar-dengar akan ada meeting besar di situ. Bahkan saking besarnya, dari rumor yang beredar disebutkan bahwa Papanya-lah yang akan memimpin meeting. Dan dari sinilah Lentera akan menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang tidak bisa dia masuki. Dia akan menunjukkan kekuasaannya, melalui sang papa, agar perempuan itu sadar diri sedang berurusan dengan siapa. Lentera membuka pintu ganda tersebut lebar-lebar. Dia sengaja melakukannya untuk menarik perhatian semua orang. Dan berhasil, semua orang langsung melihatnya. Bukannya malu, Lentera malah melangkah dengan semakin percaya diri. Dia menghampiri sang papa yang tampak mengerutkan keningnya. "Halo, Papa," sapanya. Dia menekuk kakinya sedikit untuk memeluk papanya dengan ringan. "Kenapa ke sini?" tanya sang papa dengan santai. "Aku dengar akan ada meeting besar di sini, jadi aku kemari. Sudah lama aku tidak meeting." "Well, meeting tidak pernah semenyenangkan itu, sayang. Itu kata kamu dahulu," jawab sang papa mengutip kalimat putrinya dahulu kala. "Kembalilah ke ruangan Arga. Santai saja di sana, jangan terlalu bekerja keras." Perintah itu tidak diterima Lentera dengan baik. Dia menggeleng "Aku berada di tempat di mana semua orang bekerja keras, jadi wajar bagi aku untuk bekerja keras. Papa-lah yang harus santai. I'm fine." Lentera mengumbar senyumnya pada semua orang yang hadir. Tanpa terkecuali perempuan itu. Meski rasa bencinya begitu kental, tapi menyakitinya secara terang-terangan terlalu mudah. Mentalnya harus berantakan. Dan mengawalinya dengan menyadarkan dia pada posisinya adalah langkah yang tepat. "Dilihat dari status pegawai yang hadir, aku yakin suami aku seharusnya berada di sini juga. Tapi karena ada meeting di luar, makanya dia berhalangan hadir. Aku benar kan?" ujarnya. "Well, kalau begitu anggap saja aku mewakili suami aku—Argani Rahadyan. Seharusnya tidak masalah kan, Papa?" tambahnya lambat-lambat dan sarat akan penekanan. Dia ingin memastikan setiap suku katanya didengar oleh wanita jalang itu dengan jelas. Dia harus tahu siapa dirinya dan juga siapa Argani Rahadyan. Lentera tersenyum puas saat Papanya menyetujui permintaannya. Begitu juga dengan semua orang yang tidak mempermasalahkannya. Rasa puasnya pun semakin menjadi-jadi saat melihat kegelisahan di wajah wanita itu. Rasanya seperti berhasil melakukan double kill dalam sebuah permainan dengan mudahnya. Kursi untuk tempat duduk Lentera pun segera diatur. Pun dengan dokumen meeting yang tadinya tidak dimilikinya. Dan whala, seseorang yang tadinya tidak siap meeting jadi begitu berwibawa. Apalagi kursinya berada tepat di sebelah owner perusahaan sehingga semakin meningkatkan derajatnya. Dan di momen itu senyum Lentera tampak mengejek sosok selingkuhan Arga yang hanya mampu duduk di belakang bosnya tanpa punya kendali apa pun. Sejak insiden kecelakaannya, ini adalah salah satu hari yang paling berkesan dalam hidupnya. Rasanya menyenangkan sekali sampai Lentera tidak bisa berhenti memasang senyumnya. Dan ya, itu adalah senyum paling manipulatif. Tampak bersahaja namun sebenarnya menyimpan dendam yang tak berujung. Saat sedang larut dalam pikirannya, pintu ruang meeting kembali dibuka. Dari sosok sang papa dan para direktur yang langsung bangun untuk menyapa, Lentera tahu bahwa orang yang mereka tunggu sudah tiba. Sampai kemudian dia turut berbalik dan melihat siapa orang tersebut. Sialan, batinnya. "Selamat datang, Tuan Ganendra. Bagaimana perjalanan anda?" Ganendra Tanaka—pria yang pernah dijodohkan padanya namun dia tolak mentah-mentah karena sosok Argani Rahadyan. Fakta itu memang mengerikan. Tapi tahu apa yang lebih mengerikan dari semua ini? Dia tampak sangat memukau dengan cincin kawin yang melingkari jarinya, sedangkan Lentera malah merana karena pria pilihannya. Shit. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD