Happy Reading ^_^
***
Lentera berjalan keluar dari kamarnya dengan kepercayaan diri penuh. Langkah demi langkah dia tempuh dengan hati-hati untuk membalaskan dendam yang memenuhi dadanya. Tatapannya setajam predator yang ingin memangsa musuh. Tapi seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan meja makan, ekspresi Lentera berubah melembut selayaknya perempuan polos tanpa dendam apa pun. Dia sedang berkamuflase.
"Selamat pagi, sayang...."
Sapa orangtua Lentera yang kebetulan tengah menginap di rumah Lentera dan Arga. Saat ini mereka tengah menyantap sarapan dengan menantunya, Arga. Mereka melihat tampilan Lentera dari atas sampai bawah, kemudian saling melemparkan pandangan dengan bingung.
"Kamu mau ke mana, sayang? Kenapa sepagi ini sudah rapi sekali?" ujar Arga untuk menyuarakan kebingungannya serta kebingungan mertuanya.
"Aku mau kerja."
Kening Arga berkerut. Mama Papa Lentera pun tak mampu untuk berdiam diri lagi.
"Bekerja?"
Sang papa memastikan.
Lentera mengangguk mantap. "Ya, bekerja. Kalian kenapa sih heran begitu? Ini weekdays lho dan wajar bagi aku untuk bekerja. Apalagi sekarang aku sudah sembuh." Lentera mengalihkan tatapannya ke arah sang Papa. "Meski aku menjadi direktur di perusahaan keluargaku sendiri, tapi tetap saja aku tidak boleh malas-malasan. Papa tidak akan suka kalau aku seangkuh itu."
Lentera menambahkan dengan sedikit kekehan sambil menarik kursi yang berada tepat di sebelah Arga. Lentera sadar kalau dirinya saat ini tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi dia memilih mengabaikannya. Dia tetap pada ekspresi polosnya untuk mengelabui semua orang.
"Lentera..."
Papa Lentera memecah keheningan dengan suara dinginnya. Peralatan makannya sudah diletakkan ke atas meja dan tatapannya sepenuhnya tertuju pada sang putri lekat-lekat.
"Kamu sudah tidak bekerja, nak."
Perkataan sang papa membuat Lentera yang sedang mengolesi rotinya dengan selai jadi terhenti. Dia menatap sang papa dengah sorot bingung yang dibuat-dibuat. Dia tahu, tapi memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Papa jangan bercanda ya."
"Papa nggak bercanda, sayang. Sudah setahun ini kamu melepaskan jabatan kamu dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga."
Lentera memasang ekspresi terkejut, meski faktanya dia tidak benar-benar terkejut.
"Aku melepaskan jabatan aku? Papa jangan bercanda. Papa kan tahu aku begitu mencintai pekerjaan aku. Nggak mungkinlah aku melepaskannya begitu saja."
"Berdasarkan kepribadian kamu, hal itu memang terdengar nggak mungkin. Tapi kamu dan Arga sedang menanti buah hati kalian, makanya kamu ingin berfokus pada program kehamilan kamu. Kamu tidak ingin terlalu stres agar program kamu berhasil. Kamu menyerahkan posisi itu pada Arga, dan begitulah awal mula kamu menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."
Lentera meletakkan rotinya dan berakting sekeras mungkin untuk menggali memori itu. Kemudian ekspresinya dibuat kesakitan hingga membuat Mama dan Papanya jadi panik. Kini perhatian semua orang tertuju padanya dengan iba.
"Papa, aku—"
"Tera, jangan terlalu dipaksa, nak. Ini nggak baik. Pelan-pelan saja..." sang Mama mengingatkan. Dia kasihan melihat putrinya tersiksa seperti ini hanya demi sebuah memori di masa lalu.
"Ya, sayang, jangan terlalu dipaksakan. Kamu tenang aja, aku bakal bantu kamu buat mengingat segalanya. Tapi kamu tenang dulu, jangan memaksakannya begini, sayang."
Arga menimpali dengan suara sedih. Lentera tidak tahu apakah itu tulus atau tidak, tapi yang jelas dia mual sekali mendengarnya.
"Kalo gitu jelasin sekarang juga, Mas Arga. Aku bener-bener—" Lentera tercekat. Dia bingung sendiri.
"Sayang, kamu nggak lupa kan entang kamu yang baru aja mengalami kecelakaan?"
Lentera mengangguk.
"Kamu pasti tahu juga kan kalo kamu lagi amnesia?"
Lagi-lagi Lentera mengangguk.
"Ingatan kamu terhenti di tahun pertama pernikahan kita. Range waktunya sendiri belum pasti karena kami nggak mau membebani kamu untuk berfikir keras. Tapi yang jelas momen setahun belakangan sudah terlupakan oleh kamu. Dan momen kamu melepas jabatan kamu adalah setahun belakangan, jadi ya, kamu memang sudah melupakan momen itu."
Lentera terdiam. Ekspresinya seperti menahan tangis mati-matian. "Aku nggak tahu kalau aku udah nggak bekerja," cicit Lentera. "aku berusaha sembuh dengan cepat karena aku nggak enak dengan ketidakhadiranku yang terlalu lama. Tapi siapa sangka aku salah paham di sini. Aku udah nggak punya tempat di sana..." imbuhnya.
"Maaf ya, sayang, karena aku belum membahas banyak hal dengan kamu. Aku takut ini akan membebani kondisi kamu."
Arga bohong. Dia tidak membahas hal itu karena tidak mau ingatan Lentera pulih satu persatu--itulah faktanya.
"Kenapa sih kalian nggak mau membahasnya? Kamu juga, Mas Arga. Katanya kamu bakal membantu aku untuk mengingat semuanya, tapi kamu malah nggak menceritakan apa pun. Aku merasa jadi orang bodoh karena nggak tahu apa pun." Lentera melimpahkan kesalahan pada sosok Arga.
"Aku nggak membahasnya karena kamu begitu tertutup, sayang. Kamu terlihat seperti tidak ingin tahu. Makanya daripada aku berinisiatif membahasnya dan membuat kamu kepikiran, lebih baik tidak mengungkitnya." jawab Arga sebaik mungkin guna menjaga image-nya di depan orangtua Lentera. Bagaimana pun ini tentang kepercayaan mereka pada dirinya. "Tapi aku bersumpah, kalo kamu bertanya, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur. Karena aku tahu, itulah hal yang paling ingin kamu ketahui dan aku yakin kamu pun sudah siap akan resikonya."
Lentera menarik kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Dari sudut mata semua orang, dia tampak seperti berusaha menutupi kesedihannya. Padahal yang sebenarnya adalah dia sedang mengutuk jawaban Argani Rahadyan yang cukup masuk akal. Suaminya makin pintar untuk bersilat lidah.
"Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran kamu karena selama ini kamu begitu tertutup. Tapi mulai dari sekarang kamu bisa mendiskusikan dulu apa yang terlintas di kepala kamu untuk memastikan kebenarannya. Karena bagaimana pun juga aku yang selalu ada di sisi kamu, jadi aku jugalah yang paling tahu tentang semua yang membuat kamu penasaran."
Arga mencoba memegang tangan Lentera dan menariknya dengan lembut. Lentera kembali ke mode terluka.
"Benar, sayang..." Mama Lentera menimpali. Lentera pun menatap sang Mama dengan sedih. "Mulai sekarang banyak-banyak mengobrol dengan Arga untuk tahu hal-hal apa saja yang udah terjadi belakangan ini. tanyakan saja apa yang membuat kamu penasaran. Harapannya, dengan ini kamu nggak akan terpaku pada ingatan kamu yang masih berada di tahun-tahun awal pernikahan kamu dengan Arga." nasihat Mama Lentera karena tidak mau melihat sang anak sedih terus. "Sudah, nggak usah dipikirin. Sekarang kamu sarapan terus istirahat lagi. Nanti Mama temenin dan kita ngobrol-ngobrol sampe semua kebingungan kamu sirna ya."
"Pa, gimana kalo aku bekerja lagi aja?"
Permintaan spontan Lentera langsung membuat semua orang menatap ke arah dirinya. Mama Papanya bingung. Namun dari ekor matanya dia melihat Arga berubah panik. Batinnya menyeringai dengan penuh kepuasan. Kemudian dia melanjutkan dengan senatural mungkin.
"Aku ngerasa kewalahan dengan situasi aku yang rumit. Jadi aku pikir akan sangat bagus kalau aku punya kesibukan yang bisa mengalihkan seluruh pikiran negatif aku. Dan bekerja adalah win-win solution. Aku bisa membantu suami aku memajukan perusahaan kita dan pikiran negatif aku teralihkan. Harapannya, kondisi aku pun bisa lekas pulih karena aku udah nggak dipenuhi energi negatif."
"Tera, kamu memaksakan diri kamu, sayang. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah memulihkan kesehatan kamu dengan rileks. Seperti shopping, ambil kelas yoga, atau liburan singkat. Bekerja hanya akan memberikan tekanan berlebih untuk kamu."
Arga menyela dengan cepat. Dari telinganya, Lentera menyadari kalau Arga sedang berusaha mengamankan posisinya serta selingkuhannya di perusahaa. Buru-buru Lentera melihat sang papa. Keputusannya ada di tangan beliau. Dan kalau ternyata dia setuju dengan ucapan Arga, maka rencana balas dendamnya akan menemui titik buntu.
Lentera tidak bisa berdiam diri. Ditatapnya sang papa dengan raut wajah memelas.
"Justru inilah cara yang kupilih untuk memulihkan kesehatan aku. Aku nggak akan membaik kalau terus-terusan berdiam diri. Fisik aku mungkin membaik, tapi ingatan aku belum. Dan itu adalah masalah terbesar aku saat ini."
"Tapi, Tera..."
"Aku nggak mencari uang..." Lentera menyela dengan cepat. Dia menatap kedua orang tuanya bergantian untuk meyakinkannya. "Aku cuma pengen mencari ingatan aku melalui tumpukan pekerjaan yang pernah aku cintai." tambahnya.
Papa Lentera terlihat putus asa. "Katakanlah kamu bekerja, lantas kamu mau bekerja di posisi apa? Kamu sudah menyerahkan jabatan kamu ke Arga, Tera. Dan sekarang ini perusahaan nggak kekurangan posisi apa pun." kata sang papa dengan jujur.
Kali ini Lentera menatap Arga untuk meyakinkannya. Dia tidak mau hanya Mama dan Papanya yang percaya, tapi Arga juga. Jangan sampai belum apa-apa tapi Arga sudah menyusun rencana karena merasa terancam dengan permintaannya yang mendesak ini.
"Seperti kataku tadi—aku nggak butuh uang. Jadi aku sama sekali nggak butuh jabatan aku yang dulu. Papa kasih aku jabatan bayangan pun aku terima karena yang kucari bukan jabatannya, melainkan ingatan aku di kantor yang pernah menjadi milik aku."
"Jabatan bayangan? Maksud kamu apa?"
"Aku bisa membantu pekerjaan suami aku, tapi segala keputusan utama tetap di tangan suami aku. Yah, seperti melakukan pekerjaan yang remeh-remeh. Dengan begitu pekerjaan Mas Arga nggak akan terlalu hectic. Dan sisi positifnya pun aku dan Mas Arga bisa punya banyak waktu bersama."
"...."
"Dan Papa tenang aja, aku nggak perlu digaji. Karena persis seperti kataku tadi, jabatanku cuma bayangan, jadi aku nggak nyata tapi ada. Istilah kasarnya adalah aku hanya menumpang untuk memulihkan memori aku di sana."
Papa Lentera tampak tidak yakin. Bagaimana pun kantor bukan tempat seperti yang sang anak katakan. Kantor ya untuk bekerja. Belum lagi kalau nanti sang anak dan suaminya bertengkar. Itu beresiko untuk kinerja Arga secara keseluruhan. Tapi melihat kondisi sang anak, dia pun jadi kasihan.
"Izinkan saja, Pa. Ini adalah salah satu usaha kita untuk membantu Tera keluar dari tragedinya yang mengerikan."
Lentera bahagia. Ibunya mendukung sepenuhnya. Dan kalau sudah begitu kemungkinan permintaannya dituruti meningkat menjadi sembilan puluh persen.
"Lentera, kamu yakin?"
Lentera mengangguk dengan cepat. Dia menatap Arga, Mama, dan Papanya dengan sorot mantap akan keputusannya sendiri.
"Aku janji nggak akan merepotkan siapa pun. Baik itu Mas Arga atau pun Papa—aku janji nggak akan menyusahkan kalian. Segala permasalahan pribadi pun nggak akan aku bawa ke kantor, sehingga suasananya akan tetap kondusif untuk kami bekerja sama."
Lagi, Lentera meyakinkan. Harapannya adalah semoga sang Papa setuju karena bagaimana pun beliaulah si pemilik keputusan. Jadi mau nanti Arga suka atau tidak, ya dia tidak akan bisa berkutik. Bagaimana pun juga posisinya sekarang berasal dari belas kasihan Papanya karena dulu Lentera memohon mati-matian agar Arga bekerja di perusahaan dan menggantikan posisinya yang tergolong tinggi.
"Kalau kamu merasa itu yang terbaik, maka silakan lakukan."
Papa Lentera setuju dan hal ini langsung membuat Lentera tersenyum sumringah. Dia bahagia? Tak perlu ditanya lagi. Kalau bukan karena aktingnya yang harus dijaga, rasanya Lentera ingin sekali memekik kegirangan. Bahkan, ingin sekali dia memeluk sang papa karena belakangan ini segala permintaannya selalu dituruti dengan mudah. Mungkin kecelakaan kemarin memukul telak nuraninya sebagai seorang Papa.
Tapi lebih dari apa pun, yang paling membuat Lentera bahagia adalah ekspresi masam Arga. Dia tersenyum sumringah, tapi Arga tersenyum masam. Artinya sang suami tidak puas dengan keputusan Papa Lentera. Wajar saja, dia jadi tidak leluasa untuk berselingkuh karena kelak Lentera akan berada di sampingnya. Dia harus hati-hati atau perselingkuhannya akan dipergoki oleh Lentera lagi seperti terakhir kali.
Bedanya, terakhir Lentera yang terjebak dan tertangkap basah. Kali ini dialah yang akan menjebak dan menangkap basah Arga dengan selingkuhannya.
Pembalasannya dimulai.
TBC