4. NASIHAT YANG MENYADARKAN

1229 Words
Happy Reading ^_^ *** "Tera, gimana kabarnya, nak?" Lentera yang malam itu tengah duduk di teras samping rumahnya langsung menengok ke belakang. Dia tersenyum tipis saat melihat sang mama datang. Perempuan paruh baya itu menghampirinya sambil menyampirkan selimut ke bahunya untuk menangkal hawa dingin. "Mama kapan dateng? Kok tiba-tiba banget dateng tanpa pemberitahuan?" tanya Lentera setelah merasakan kecupan sang ibu di pucuk kepalanya. Kemudian sosok ibunya duduk di kursi yang ada di depannya. Sang mama tersenyum tipis. "Mama rindu sama kamu. Tiba-tiba Mama kepikiran kamu jadi ya udah deh Mama sama Papa mutusin buat dateng ke sini aja." Lentera menatap mata sang mama. Dan jujur, ini adalah momen yang sangat langka. Mama dan Papanya adalah tipikal orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Meski terus mendengungkan betapa mereka mencintai Lentera, tapi cara mereka tidak pernah persis seperti perkataan mereka. Dibilang kasar ya tidak, tapi disebut baik juga tidak. Oleh karenanya Lentera agak tidak terbiasa dengan sikap ibunya yang seperhatian ini. Mungkinkah kecelakaannya memang memberi dampak yang sebesar itu pada sikap kedua orangtuanya? Setiap kali melihat mata mereka, Lentera seperti melihat kekhawatiran yang mendalam. Padahal seumur-umur mana pernah Mama dan Papanya seperhatian ini. "Mama, sini," Lentera menepuk sisi kosong di sebelah kursi rodanya. Paham akan permintaan sang anak, perempuan yang sudah melahirkan Lentera itu langsung menarik kursinya. Kini dia duduk tepat di sebelah sang anak. Sang anak pun kini melingkarkan tangannya ke lengan ibunya dan menyadarkan kepalanya dengan nyaman persis seperti anak kecil. "Sudah makan?" "Sudah." "Sudah minum obat?" "Sudah." Jawaban singkat itu membuat sang mama menghela napas. "Kata Arga kamu masih sering menyendiri. Kamu masih belum bisa merelakan semuanya ya, nak?" "Mama lihat bintang-bintang yang bertebaran di atas sana?" Bukannya menjawab, Lentera malah memberikan pertanyaan lain. Sang mama mengangguk. "Mungkin nggak sih kalo anak aku menjadi salah satunya? Dia anak yang malang. Dia belum tahu problematika dunia, tapi sudah harus tersingkir karena kecerobohan ibunya sendiri. Karena itu Tuhan pasti ngasih tempat terbaiknya ke anak aku kan, Ma?" Pertanyaan itu mengindikasikan sebuah kerinduan yang mendalam. Sang ibu percaya, meski belum pernah bertemu langsung, tapi jiwa keibuan sang anak pasti sudah tumbuh saat berita kehamilan itu disampaikan. Makanya dia semerana ini setiap kali membahas anak mereka yang direnggut kembali oleh Tuhan dalam waktu yang begitu singkat. Padahal sang anak dan sang menantu menunggu cukup lama untuk mendapatkannya. "Tuhan nggak pernah tidur, Tera sayang. Mama yakin sekali kalo calon bayi kamu, cucu Mama, saat ini sudah diberikan tempat terbaik oleh Tuhan. Dan di mana pun itu, Mama percaya dia akan selalu bahagia sambil mengamati Mamanya. So, kamu jangan sedih lagi ya, sayang? Anak kamu melihat lho dari kejauhan. "Kalau seandainya dulu aku nggak memaksa menikah dengan Arga, mungkin nggak sih kalo hal semacam ini nggak akan terjadi? Beda orang, beda takdir juga kan, Ma?" Pertanyaan konyol yang terlontar itu membuat ibu Lentera mengerutkan keningnya. Dia bingung kenapa sang putri membahas pengandaian semacam ini? Padahal Lentera adalah sosok yang maju paling depan kalau ada yang meragukan kebahagiaannya dengan Arga. Apakah sang anak tidak bahagia? Dan ada apa juga dalam suaranya yang tidak seceria dahulu kala? "Kalau kamu tidak memaksa menikah dengan Arga, lantas dengan siapa kamu seharusnya menikah? Dengan Ganendra Tanaka? Pria yang sudah kamu tolak mentah-mentah dahulu?" Ah, pria itu... Lentera tidak ada maksud membawa pria lain dalam obrolan ini, namun berkat sang mama dia jadi terpikirkan. Ganendra Tanaka adalah pria yang pernah dijodohkan padanya. Karena untuk tujuan bisnis, Lentera pun menolak mentah-mentah di pertemuan pertama mereka. Lentera yang naif menganggap bahwa menikah seharusnya dengan orang yang dia cintai, bukannya karena bisnis semacam ini. Makanya alih-alih Ganendra yang terkenal kaya raya, dia memilih sosok Arga yang tergolong tidak terlalu kaya. Tapi, yah, ternyata Lentera yang naif tetap salah. Waktu menunjukkan kuasanya dan cinta saja tidak cukup. Lalu bagaimana kabar pria itu? Apa dia lebih bahagia dari dirinya yang sekarang? "Bahagia nggak harus berdua, Ma. Mungkin aku masih sendirian dan menikmati kehidupan lajang aku sambil sibuk bekerja." "Kenapa begini?" "Memangnya nggak boleh ya, Ma?" "Sejak kamu menikah dengan Arga, kebahagiaan yang sering kamu dengungkan itu selalu bersandingan dengan nama Arga. Nggak pernah sekali pun kamu membahas kebahagiaan tanpa membawa nama Arga. Apa kamu nggak bahagia dengan Arga, sayang?" Ucapan sang mama memelan di akhir kalimatnya. Hal ini menandakan bentuk kewaspadaan agar tidak ada yang mencuri dengar kalimat sensitif ini. "Apa terjadi sesuatu yang buruk, sayang?" Lentera langsung menyadari kesalahannya karena sudah berandai-andai. Dia tidak menyangka kalau sang mama akan sekritis ini dalam berfikir. Radar bahaya berdenging di kepala Lentera. Buru-buru dia menarik tubuhnya yang bersandar pada sang ibu lalu menegakka tubuhnya dengan kegugupan yang coba dia tutupi. "Sebenarnya bukan nggak bahagia, Ma. Hanya berfikir kalau aku bersama pria lain, mungkinkah nasib aku akan berubah, begitu." jawab Lentera sebiasa mungkin. "Kamu nggak sedang menyembunyikan sesuatu dengan Mama kan, Lentera Hadiyata?" kata ibunya dengan penuh penekanan. Pada momen ini ingin rasanya Lentera menangis meraung-raung dan menceritakan semuanya. Tapi tidak--dia tidak bisa. Atau lebih tepatnya dia tidak boleh. Menikah dengan Arga merupakan kesalahannya sendiri. Sehingga untuk akibatnya pun sudah seharusnya dia menanggungnya sendiri. Setidaknya semua masalah harus tuntas, barulah dia boleh menceritakannya pada orang lain. Dengan begitu ludah yang dia jilat kembali tidak akan terasa terlalu menjijikkan. Lentera menarik sudut bibirnya agar membentuk senyum penuh kepalsuan. "Apa yang mau aku sembunyiin, Ma? Nggak ada." "..." "Sejak tragedi ini, aku sering berandai-andai. Kalau begini gimana, kalau begitu gimana. Salah ya, Ma? Aku nggak seharusnya begitu ya?" Sang mama menggenggam tangan Lentera. "Sayang, nggak baik berandai-andai. Psikologis kamu jadi taruhannya. Lebih baik direlakan pelan-pelan, biar kamu bisa segera bangkit. Mama memang nggak merasakannya, tapi sebagai seorang ibu, Mama paham bahwa sakit banget kehilangan calon anak yang dinanti-nanti. Tapi kamu harus ikhlas. Pasti ada kehidupan yang lebih baik setelah badai ini, sayang." Hidupnya akan lebih baik, tapi Lentera jamin hidup Arga tidak akan pernah baik. Orang-orang yang menyakitinya sampai seperti ini harus dibalas sampai menyesal. Lentera mengangguk sambil turut mendekap tangan sang mama yang mencoba menyemangatinya. "Segera bangkit, sayang. Ingat, masih ada suami kamu yang harus dijaga. Kamu nggak mau kan ada perempuan lain yang memanfaatkan keterpurukan kamu untuk merebut suami kamu, kan?" "...." "Bukannya Mama menakut-nakuti atau bahkan mencurigai suami kamu nggak setia. Mama tahu kamu mempercayai dia dengan sepenuh hati. Tapi logika kamu masih harus waspada. Paham kan maksud Mama, sayang?" Lentera mengangguk. "Paham, Mama." Ya, Mamanya benar. Ada suami yang keberadaannya harus dia jaga. Bukan dari perempuan lain, tapi dari dendamnya yang menuntut untuk balaskan. Arga tidak boleh pergi sebelum merasakan pembalasannya. *** Tiada hari tanpa usaha untuk lekas sembuh. Lentera bangun pagi untuk memberi afirmasi positif, dia makan dengan baik, lalu minum obat, dan berlatih berjalan agar kakinya tidak kaku lagi. Begitu setiap hari--hingga hari ini tiba. Setelah sebulan lebih menjalani pengobatan intens, kini Lentera berhasil berdiri di atas kakinya sendiri dengan tegak. Langkahnya sudah selancar dahulu kala dan wajahnya pun sudah sesegar bunga mawar yang baru merekah di pagi hari. Pesona seorang Lentera Hadiyata benar-benar sudah seluar biasa saat dia belum terjebak dalam cinta palsu Arga. Lentera menatap tampilannya sendiri dalam kaca full body yang menampilkan sosoknya dalam balutan setelan kerja yang super formal. Celana panjang dan blazer. Ah, jangan lupakan juga rambutnya yang sudah diatur serapi mungkin tanpa ada gelombang seperti dahulu. Ini benar-benar seperti sosok Lentera muda yang ambisius. Dia benar-benar sudah siap untuk membalaskan dendamnya. Dan semua itu di mulai dari hari ini. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD