3. MIMPI BURUK YANG MENJADI KENYATAAN

1654 Words
Happy Reading ^_^ *** "Selamat, Ibu Lentera positif hamil." Berita bahagia itu tidak disambut oleh pemiliknya dengan bahagia. Malah, dia seperti disambar petir di sore hari yang cerah. Perasaannya campur aduk dan benaknya tidak tenang. Bagi Lentera, berita ini memberikan tekanan yang luar biasa. Mungkin kalau pernikahannya masih seindah masa awal-awal pernikahan, Lentera pasti akan bahagia. Dia akan langsung menghubungi suaminya dan memberitahukan kabar bahagia ini sesegera mungkin. Ralat, bahkan sepertinya dia tidak akan ke spesialis kandungan sendirian. Menjadi anomali dengan datang sendirian ke tempat ini saja sudah menjelaskan kalau ada masalah dalam rumah tangganya. Suami Lentera -Argani Rahadyan- terindikasi sedang dalam affair dengan seorang perempuan yang belum diketahui identitas. Dugaan itu datang karena perubahan sikap Arga. Memang belum ada bukti pasti, tapi hati kecil Lentera menaruh curiga. Bahwa Arga telah mendua dan dia sudah bukan satu-satunya perempuan di hati Arga lagi. Atau mungkinkah perasaan gelisah ini hanya efek dari kehamilannya saja? Biasanya ibu hamil sangat sensitif terhadap sesuatu, namun sebenarnya itu hanya ilusinya saja. Benar begitu kan? Berbekal keyakinan itu, Lentera memutuskan untuk mendatangi kantor Arga. Dia ingin meluruskan sesuatu sekaligus menyampaikan berita ini. Dia ingin kesalahpahaman ini berakhir. Tapi kalau pun ini bukan kesalahpahaman, Lentera berharap kalau berita kehamilan ini akan menjadi pupuk untuk menyuburkan kembali cinta Arga yang sudah mulai layu. Bagaimana pun juga anak ini adalah anak yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya. Jujur saja, Lentera masih begitu mendambakan sosok Arga. Dia tidak akan sanggup kalau harus kehilangan Arga. Jadi selama Arga beritikad baik ke depannya, maka Lentera memaafkan semua kesalahannya. Demi anak mereka, dia harus bersama dengan suaminya bukan? Jadi mau tak mau hatinya harus seluas samudera untuk memaafkan pria itu. Tapi siapa sangka tekad kecil Lentera dipatahkan. Hatinya hancur berkeping-keping saat menjumpai suaminya berselingkuh di ruangan yang dulunya menjadi kantor Lentera. Nuraninya sebagai perempuan yang pernah bekerja siang dan malam di ruangan itu demi memajukan perusahaan langsung meronta melihat tindakan amoral sang suami dengan perempuan yang dia duga sebagai pegawainya. Sialan. Ruangan yang dulunya beraroma kesuksesan kini berbau m***m yang menjijikkan. "Kalian gila?! Berani-beraninya kalian ngelakuin hal kayak gitu di tempat ini, hah?!" maki Lentera tanpa mempedulikan kalau yang ada di depannya adalah sang suami yang selama ini selalu mendapatkan rasa hormatnya. "Tera, aku bisa jelasin—" Lentera menggeleng dengan kecewa. "Penjelasan apa lagi sih, Mas? Kamu sama perempuan sialan itu ciuman. Kalian ciuman di ruangan yang pernah aku dedikasikan untuk perusahaan. Dasar nggak punya moral!" bentaknya. Tatapan Lentera beralih ke perempuan yang masih syok di belakang tubuh Arga. Dia menunjuknya dengan kasar. "Kamu perempuan dari divisi mana? Saya pecat kamu! Dan saya pastikan juga kamu dan keluarga kamu menderita untuk seumur hidup kalian! Kamu dengar saya?!" "Tera, please, jangan sembrono!" Lentera agak kaget ketika nada suara suaminya naik satu oktaf. Dia dimarahi? Demi Tuhan—dia dimarahi saat melakukan hal yang benar? What the hell! Tak terima dibentak, Lentera kembali menyahut dengan nada suara yang sama tingginya. "Aku sembrono? Kamu yang sembrono!" maki Lentera. "Aku pikir kamu laki-laki yang baik, tapi ternyata kamu cuma peselingkuh dengan modal ruang kerja. Kamu lupa karena siapa kamu di ruang kerja ini, hah? Karena aku. Karena aku yang sudah berbaik hati memberikan posisi ini ke kamu! Tapi ini balasan kamu?" Lentera menjeda dengan tatapan mengejek. "Dasar nggak tahu diri. Dan kamu juga—" Lentera menunjuk perempuan itu sekali lagi. "Dasar perempuan nggak punya harga diri!" Lentera memegang pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Momen yang dia pikir akan berakhir baik karena Lentera mau menurunkan egonya ternyata berakhir dengan sangat buruk. Bahkan--sangat kacau! "Kamu tahu aku ke sini karena apa? Aku tuh mau ngasih tahu kamu kalo aku hamil. Aku hamil—anak kamu!" Tera terlihat frustrasi. "Niatnya adalah aku pengen mengejutkan kamu, tapi siapa sangka malah kamu yang mengejutkan aku dengan perilaku binatang kamu. Aku kecewa banget sama kamu." "Lentera, aku minta maaf kalo menyakiti kamu, tapi kamu tolong jangan emosi seperti ini. Karena seperti kata kamu—kamu hamil dan nggak seharusnya perempuan hamil seemosi ini. Mari kita bicarakan ini baik-baik, sayang..." Lentera pikir Arga akan bahagia mendengar kehamilannya. Tapi siapa sangka reaksi pria itu begitu biasa saja. Bahkan kehamilannya malah disalahgunakan untuk menekan emosinya yang terasa wajar sekali. Memangnya perempuan mana yang tidak emosi kalau memergoki sang suami berselingkuh seperti ini? Tidak ada. "Nggak—aku nggak mau ngomong apa-apa sama kamu lagi." Lentera mengangkat kedua tangannya pertanda kalau dia sudah selesai di sini. Dia tidak mau mendengar penjelasan yang penuh dengan kebohongan lagi. Tidak berguna. "Aku selesai. Kita juga selesai. Dan kamu, wahai perempuan jalang, tunggu pembalasan aku. Kamu akan mendapat balasan paling buruk karena sudah berani mengambil apa yang menjadi milik aku." ancam Lentera dengan bersungguh-sungguh. Tepat setelah mengatakan itu Lentera langsung berbalik dan meninggalkan ruangan. Meski kata-katanya terdengar tajam dan penuh dendam, tapi Lentera tetaplah seorang perempuan. Dalam langkahnya, air matanya mengalir sederas-derasnya. Dia benar-benar terluka karena rumah tangga yang dibangun dengan cinta ternyata tidak bertahan lama. Karena sudah bukan jam kantor, tidak ada pegawai yang lalu-lalang di area kantor Arga. Tapi ada satu orang yang tampak memergokinya dengan tatapan yang campur aduk. Dialah asisten Arga. Tatapannya campur aduk, antara malu sekaligus penyesalan. Dari sini Lentera yakin kalau pria itu tahu tentang kelakuan bosnya. Sialan, apa perselingkuhan mereka seterang-terangan ini? Siapa saja yang tahu? Sejak kapan kantornya dijadikan kandang m***m oleh mereka? Miris sekali. *** "Ibu... Ibu Tera kenapa nangis, Bu? Bangun, Bu..." Suara itu menyentak Lentera dari mimpi buruknya. Dia langsung membuka mata dengan nyalang dan langsung terduduk sambil meringkuk penuh kepedihan. Air matanya terus berlinang, dari mimpi itu sampai sekarang, sehingga membuat pelayan yang memergokinya turut khawatir. "Ibu kenapa nangis? Ada yang sakit ya? Mau dipanggilkan dokter?" tawar pelayannya dengan sopan. Tapi Lentera tidak menjawab. Dia masih terisak-isak dengan pedihnya karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Itu adalah mimpi terburuk yang pernah dialaminya. Dan itu nyata, hingga dia berakhir menyedihkan seperti sekarang. Hal inilah yang membuat isakan Lentera tetap terdengar dengan memilukannya meski dia sudah terbangun dari bayang-bayang mimpinya. "Nggak usah..." Jawaban yang disertai isakan itu tak memuaskan sang pelayan. "Atau mau saya telponin Bapak? Biar ada yang bisa nenangin ibu..." Ini lagi, batin Lentera dengan jengkel. "Saya bilang nggak usah ya nggak usah. Dan jangan coba-coba kamu telpon Arga. Saya nggak suka!" bentaknya dengan nada tinggi. Melihat ekspresi terkejut pelayannya –karena jujur, seumur-umur Lentera memang jarang memarahi orang tanpa sebab yang jelas- Lentera langsung sadar akan kesalahannya. Dia sedang berakting dan tidak boleh ada celah yang bisa membuat rencananya terbongkar. Bahkan terhadap pelayannya sekali pun. "Maafin saya karena terlalu sensitif. Tapi saya mohon, tolong jangan adukan ini ke suami saya. Saya nggak mau membuat dia nggak tenang dalam bekerja. Saya pasti akan segera baik-baik aja kok..." "...." "Bapak pasti panik banget kalo kamu bercerita tentang saya yang menangis kayak gini. Padahal, jujur aja, ini salah satu hal yang nggak bisa dihindari. Saya kecelakaan, saya hilang ingatan, dan bahkan saya pun kehilangan janin saya. Ini sangat berat buat saya dan wajar bagi saya masih menangis seperti ini karena hal tersebut." Lentera memberi pengertian dengan tangisannya. "Jadi, saya minta tolong, jangan cerita ke suami saya ya? Kamu harus janji sama saya ya, Inah?" bujuk Lentera untuk meyakinkan sang pelayan yang sudah bersama dengannya sejak jaman dirinya masih gadis. Dan syukurnya perempuan yang usianya hanya terpaut lima tahun lebih tua darinya itu pun mengangguk. Dengan isak tangis yang masih mengiringinya, benak Lentera sedikit merasakan kelegaan. Setidaknya mulut Inah sudah dia bungkam dengan cara halus. Semoga hal ini benar-benar tidak sampai ke telinga Arga sama sekali. "Kamu sendiri ke sini mau ngapain, Inah? Saya nggak ngerasa manggil kamu untuk sesuatu." tanya Lentera dengan tujuan menginterogasi Inah secara halus. Sekarang ini dia tidak bisa mempercayai siapa pun yang ada di rumah ini dengan mudahnya karena bisa saja mereka sudah diatur oleh Arga untuk mengawasi dirinya. Dia benar-benar tidak boleh lengah meskipun orang tersebut sudah lumayan lama bersama dirinya. "Sudah waktunya makan siang, Bu, jadi saya kemari buat nganter makanan. Tapi pas saya masuk Ibu sedang dalam posisi menangis tapi matanya terpejam. Saya khawatir Ibu kenapa-napa makanya memberanikan diri buat membangunkan Ibu." Lentera mengangguk. Sekarang air matanya sudah tidak ada. Hanya tersisa jejak sembab yang menandakan kalau dia habis menangis. "Ibu nggak apa-apa?" tanya Inah sekali lagi. Nadanya terdengar lebih prihatin dari sebelumnya. Lentera mengangguk. "Saya udah sedikit membaik. Nggak apa-apa. Terima kasih ya, Inah." Inah mengangguk. "Iya, Bu, sama-sama. Sekarang Ibu makan siang dulu ya. Terus obat Ibu juga udah saya siapin, jadi jangan lupa diminum." Lentera mengangguk lagi sambil mulai menyendok nasi yang ada di depannya. Jujur saja, dia sedang tidak bernafsu untuk makan apa pun. Tapi mengingat kalau dia harus segera pulih agar balas dendamnya bisa segera terlaksanakan, Lentera jadi sedikit termotivasi. Persetan dengan perasaan tidak nyaman di tenggorokannya. "Terapis saya kapan datengnya ya?" Lentera teringat akan sesi latihannya. Dia menatap Inah dengan penuh tanya. "Kalau dijadwalnya, beliau bakal dateng sore ini, Bu. Sekitar jam tiga atau jam sempat sore." Lentera mengangguk puas. "Setelah makan dan minum obat kayaknya saya bakal tidur lagi. Kalau terapisnya dateng dan saya masih tidur, jangan segan buat bangun saya ya, Inah. Saya harus latihan jalan biar cepet sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala." "Baik, Bu." "Ya sudah kamu boleh pergi sekarang. Makasih ya atas makanan dan obat-obatannya, Inah." "Sama-sama, Bu." Tepat setelah mengatakan itu, Inah pamit untuk pergi dari kamarnya dengan Arga. Dan tepat pada saat itu juga sendok yang ada dalam genggaman tangan Lentera dia letakkan dengan kasar. Dia benar-benar tidak nafsu makan sama sekali. Tapi saat teringat akan dendamnya, dia langsung menangis dengan suara yang dia tahan sekuat tenaga. Hidup dengan dendam yang bergejolak jelas bukan hal yang mudah. Tapi Lentera benar-benar tidak punya cara lain untuk menenangkan hatinya yang terluka karena Arga dan perselingkuhannya. Ini adalah jalan satu-satunya. Dan karena itulah mau tak mau dia harus makan dan sembuh secepat yang dia bisa. Air mata yang keluar dengan pedihnya saat dia tidak sadar tidak boleh sia-sia begitu saja. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD