Demam Elios sudah turun, tapi putranya itu masih rewel. Dia menangis dan tidak mau tidur. Sena benar-benar dibuat repot. “Elios kenapa?? Tidur dong nak..” Pinta Sena.
Aldric sendiri sudah pergi ke Cafe. Alhasil tinggal Sena dan Ares. Yah ... Ares tak jadi pulang ke kos-kossannya karna membantu kakak iparnya mengurus Elias. Asisten rumah tangganya sedang cuti, dan Lusa ia baru bisa masuk dan membantu Sena mengurus anaknya. Sena mendesah. Ia tidak tau apa yang barus ia lakukan jika anaknya menangis rewel begini.
“Hust.....” Ucap Sena yang kemudian bersenandung pelan. Semoga anaknya lekas membaik.
20 menit kemudian putra sulungnya mulai tenang. Sena menyusui putranya. Bagaimanapun anaknya tak mau menyusu dari tadi. Sena mengusap wajah Elios sayang. “Cepet sembuh sayang.” bisik Sena pelan.
Setidurnya Elios, Sena menata tempat tidurnya ia lalu meletakan Elios lembut di atasnya. Sena menghampiri putra bungsunya lalu meletakannya di samping saudaranya. Barulah ia tidur diatas tempat tidur. Lalu Aldric?? Biarkan saja! Sena tak peduli. Biar ia tidur di luar.
Disisi lain, Aldric memijiti lengannya. Pesanan hari ini sudah selesai. Dan tidak ada pelanngan lagi. Mungkin saja karna hari ini ramai dan seluruh meja sudah full. Kecuali meja Brahms. Sahabatnya itu duduk sendirian dan hanya memesan kopi. Itu sudah kopi ke-5nya.
“Gimana Elios?” Tanya Reza yang berdiri dan bersandar di meja Bar.
“Masih demam sih waktu gue tinggal.” Jawab Aldric.
“Kenapa? Sakit?” Saut Ryan sembari mengelap meja Bar.
“Masuk angin kayaknya. Kata Ares tadi mutah-mutah anaknya. Padahal waktu di mobil dia anteng banget.” Curhat Aldric.
“Biasa sih Al kek gitu .... Anak gue juga sering gitu. Tapi kalo sama nyokap gue di suruh mijit pelan-pelan. Terus Sena gimana?” Tanya Ryan.
“Ga gimana-gimana. Ngurusin Elios.”
“Kasian temen gue. Pasti bingung banget tuh. Lo yang baik Al sama temen gue. Awas aja kalo lo nggak ngapa-ngapin, nggak bantu dia!!”
“Apaan tuh ... Gagal move on Yan?” Goda Melvin dengan menyikut pinggang Ryan.
“Nggak lah ... Cuma khawatir aja. Gue kenal banget Sena orangnya kek gimana. Dia kan baru pertama ini punya anak, kembar lagi. Sedangkan dia nggak punya pengalaman ngurusin anak kecil. Lah ini malah punya bayi. Yah ... Tapi kalo Sena sih gue percaya. Dia pasti mampu. Kalo nggak gitu, nggak mungkin dong ... di kasih 2 sekaligus.” Balas Ryan sembari tertawa kecil.
Aldric tak suka mendengarnya. Ucapan Ryan seperti masih menaruh perasaan kepada Sena istrinya. Wajahnya terlihat jutek. Aldric mendengus, ia lalu berdiri dan lanjut bekerja.
Beberapa jam kemudian pekerjaan mereka selesai. Aldric dan Ryan langsung pulang, tapi tidak dengan Melvin, Reza, dan Brahms. Mereka bertiga sedang ribut untuk mengantarkan Gea pulang. Gea sendiri mengajak Ryan untuk pulang bersamanya. Sejujurnya Ryan ingin menolaknya karna memang tak ingin berurusan dengan para teman-teman barunya yang menyukai Gea itu. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Gea sering menolongnya dan putri kecilnya. Akhirnya ia setuju untuk mengantarkan Gea pulang. Jelas, Melvin dan Brahms kesal menatapnya. Tidak dengan Reza.
“Gapapa deh kalau mau nebeng Ryan. Yan .. Titip calon ibu dari anak-anak gue ya .... Bye sayang.” Kata Reza yang mengedipkan satu matanya.
Gea buru-buru masuk kedalam mobil Ryan. Melvin langsung menjitak Reza. “Maksud lo apaan sih Za. Masa habis sama Caca lo mau sama Gea juga!” Sebal Melvin.
“Kenapa?? Lo nggak PD?? Takut Gea kepincut sama gue ya?”Godanya.
“Lo juga Brahms ... Lo ngapain sih ikut-ikut gue ngajakin Gea balik bareng?” Tanya Melvin sebal.
“Gue nggak ikut-ikutan. Emang pingin ngajakin bareng!” Balasnya.
“Uh ... Minggir!! Bisa gila gue kalo lama-lama sama kalean!!” Ucap Melvin yang langsung berjalan pergi.
Sepeninggalnya Melvin kini tinggal Reza dan Brahms. Reza menonjok bahu Brahms pelan. Brahms menoleh menatapnya. “Mending lo jauhin Gea deh Brahms.” Kata Reza serius. Tak ada raut bercanda seperti biasanya. “Gue peringatin sama lo! Kalo itu cewek lain gue nggak akan peduli!! Tapi dia Gea temennya Caca. Caca sayang banget sama dia.” Peringat Reza. “Dan lo temen gue!! Gue bilang gini karna gue juga peduli sama lo! Okey .... Kalau pun lo Tanya ini ke Aldric pun ... Dia juga bakal bilang apa yang gue bilang. Mending berhenti sekarang sebelum terlalu jauh.” Tambahnya yang kini menepuk bahunya lalu berjalan pergi.
Brahms menatap kepergian Reza. Apa yang dikatakan Reza benar, dia juga ingin melakukan hal yang serupa. Tapi, Gea seperti magnet yang menariknya. Brahms menghela napas.
Disisi lain, Aldric sudah sampe Apartemennya. Ia melihat sepatu adiknya. Artinya adiknya belum pulang. Aldric membuka kamarnya. Sangat tenang. Istri dan anaknya sudah tertidur. Ia mendekati Elios. Lalu menyentuh keningnya. Demamnya sudah turun. Aldric berbalik lalu berganti baju. Selesai berganti baju ia menuju ke kamar sebelah. Aldric mendorong Ares menyuruhnya bergeser.
“Lo ngapain tidur disini?” Tanya Ares kesel. Tidurnya terganggu karna kakaknya itu.
“Kasur gue penuh. Sena bawa anak-anak tidur disana.” Jawab Aldric yang kemudian berbaring disamping Ares. Ares mengelu kesal lalu menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya.
****
Aldric bangun pagi sekitar jam 5 subuh. Rekor untuknya. Ia keluar dan mendapati Sena di dapur memaksa. Aldric lumayan terkejut, setaunya tidak ada bahan makanan di almari es. “Masak apa?” Tanya Aldric yang berjalan mendekati Sena.
Sena mengabaikannya.
“Sen... Dosa tau nyuekin suami!!” Kata Aldric kesal.
“Bohongin istri juga dosa!!” Balas Sena.
“Bohong?? Aku bohong apa??” Tanya Aldric bingung. “Sayang ... Serius aku nggak pernah bohongin kamu!!” Kata Aldric lagi.
Sena tak memperdulikannya. Ia lalu membalik ayam yang ia goreng.
“Sen...”
“Kamu bilang kamu sering telfon anak-anak. Tapi apa?? Kamu bohong kan?? Kamu nggak pernah telfon mereka!! Kamu peduli nggak sih sama mereka!!” Kesal Sena sembari menatap Aldric marah.
“Ah ... s**t!!” desah Aldric. “Maaf okey...” Kata Aldric yang menyentuh tangan Sena. Sena menarik tangannya.
“Kamu gitu terus Al ... Sayang nggak sih kamu sama mereka?? Hah?? Kamu nggak telfon aku gapapa. Nggak ngasih kabar ke aku, juga gapapa. Tapi setidaknya peduliin anak kamu dong. Apa susahnya sih telfon mereka sekali-kali!! Mereka anak kamu loh!! Bukan anak orang lain!!” Keluh Sena.
“Iya ... Aku salah aku bohong ke kamu dengan bilang sering telfon si kembar. Tapi jangan marah sampe begini dong. Lagian kalau aku telfon mereka juga nggak akan ngerti.”
Plakkk...
Sena memukul bahu Aldric keras. Wajahnya memerah marah. Aldric meneguk salivanya. Sepertinya ia salah bicara.
“Aku nggak tau, aku harus ngomong apa kalau telfon mereka.” Ucap Aldric pelan. “Maaf ya... Lagian juga udah lewat. Jangan marah lagi.”
Sena mengangkat ayamnya lalu meneriskannya dan mematikan kompor gasnya. Setelah itu Sena mencuci tangannya dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Melihat Elias yang terbangun Sena menggendongnya lalu mencium pipinya. “Udah bangun anaknya mama. Pinterrnya. Lihat, kakak masih tidur.” Ucap Sena lagi. Sena meletakannya kembali lalu masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air dan peralatannya untuk memandikan Elias.
“Sayang ...” Panggil Aldric.
“Apa sih Al ... Mending kamu siapin baju gantinya Elias sana dari pada disini. Sekalian bawa Elios kesini.” Suruhnya. Aldric memajukan bibirnya. Tapi ia tetap mengikuti apa yang diperintahkan Sena.
Sena memutar matanya malas. Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut Aldric.
“Sen ... Elias BAB. Ini gimana?” Tanya Aldric berteriak.
“Ya bawa sini Aldric.. Astaga...” Desah Sena.
“Oeek .... Oek ....”
Mendengar suara tangisan anaknya. Sena berjalan keluar mengeram marah. “Kamu apain Elias sampe dia nangis?” Teriak Sena.
“Hustt ... Jangan teriak. Elios bangun.” Kata Aldric dengan membawa Elias yang menghisap jarinya.
“Diemin tuh.” Suruh Sena yang mengambil Elias lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
Yah .... Itulah pagi Sena dan Aldric. Penuh teriakan dan tangisan. Ares yang berada di kamar sebelah mengambil penutup telinga dan menyumpal telinganya. Kenapa tembok Apartemen ini tak seperti tembok rumahnya yang kedap suara. Benar-benar berisik.
“Sen ... Kamu nggak makan?” Tanya Aldric di depan pintu. Ia memasukan kepalanya. Aldric ingin mengajak makan bersama dengan Ares sekalian. Tapi, melihat istrinya masih sibuk dengan anaknya sepertinya tidak akan makan.
Sena menggeleng ia masih menyusui Elios. Selesai Elios barulah Elias.
“Oke ... Aku makan duluan sama Ares ya.”
Sena menganguk. Aldric berbalik pergi, tapi Sena memanggilnya. Aldric menghadap istrinya lagi. “Kamu free nggak hari ini?” Tanya Sena.
“Kayaknya sih Free sampe ntar sore. Kenapa?” Jawab Aldric.
“Habis makan temenin anak-anak main ya ... Aku mau bikin laporan soalnya.” Jawab Sena.
Aldric menganguk mengiyakan. Ia lalu menuju dapur dan makan berdua dengan Ares. Selesai makan, Aldric dan Ares menemani anak dan keponakan mereka bermain. Yah ... Meskipun Aldric bosan karna ia memainkan mainan anaknya.
Cring... Cring...
“Kak ... Mereka nggak dijemur?” Tanya Ares. “Biasanya tiap pagi mama jemur si kembar.” Kata Ares.
“Ini jam berapa Res?” Tanya Aldric.
“Apaan ... Baru jam 07.10 kan sinar matahari yang bagus sampe jam 09.00. Daripada di kamar ...”
“Oke.. Ayok kalo gitu.” Kata Aldric yang mengangkat putra sulungnya. “Ayo jalan-jalan.” Kata Aldric ke Elios.
Ares menggendong Elias lalu mengikuti kakaknya.
“Mau kemana?” Tanya Sena yang melihat suami, anak, dan adik iparnya.
“Jalan-jalan Mama ...” Balas Aldric.
Sena tersenyum senang melihatnya. Jika saja ia tak sibuk membuat laporan ia akan ikut Aldric dan Ares berjalan-jalan.