BAB 13

1322 Words
Sejak kedatangan Aldric hari itu, Eden benar-benar bersikap 180°. Sikapnya sangat ketus kepada Sena. Sena menanggapinya santai. Buat apa dipikirin. Toh, Eden juga tak penting. Tapi, hari ini adalah KKN terakhirnya. Uh, Sena senang sekali. Ia benar-benar merindukan kedua malaikat kecilnya. Selesai berpamitan dan berfoto bersama Sena langsung menuju Aldric yang sudah menjemputnya. Aldric memeluk Sena erat. Ia sangat merindukan istrinya itu. Aldric membantu membawa tas Sen dan beberapa oleh-oleh Sena ia memasukannya kedalam mobil lalu membukakan pintu untuk istrinya. Sena yang melihat beberapa teman dekatnya selama KKN yang akan pulang sendiri menawarinya pulang bersama. Jelas temannya tak menolak. Mau dimana lagi nebeng gratis sampe teminal dan stasiun terdekat. Teman-teman Sena menyukai Aldric, Aldric tak sesombong kelihatannya. Ternyata kita tak bisa langsung menilai orang dari sampulnya. Selesai mengantar teman-teman Sena, mereka pun pulang. Tak butuh waktu lama, 5 Jam Sena sampai di rumah mertuanya. Sena langsung berlari masuk sedangkan Aldric mengeluarkan barang-barang istrinya. Semasuknya Aldric, ia sudah melihat istrinya memeluk putranya dan menciuminya sayang. “Aduh ma ... Maaf banget udah ngerepotin.” “Sayang ... Jangan ngomong gitu ah. Lagian mama seneng tau. Bisa main sama cucu mama. Nggak kayak Aldric ...” “Kenapa emangnya ma?” “Suami kamu itu, keterlaluan tau Sen. Ga telfon orang tuanya gapapa. Mama masih bisa maklum. Tapi ini anaknya sama sekali nggak pernah di telfon. Apalagi waktu kemaren Elios sama Elias demam.” “Hah?? Yang bener ma? Tapi Aldric bilang ia selalu telfon anak-anak kok.” “Ih ... Bohong dia.” Sena menghela napas. Awas saja Aldric!!! Sena naik ke atas kamarnya. Ia meletakan Elias di atas tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki barulah ia menyusui anaknya itu. Tak lama, ia melihat Aldric menggendong Elios yang mulai mengeliat menangis. Sena menatap Aldric sinis. Sena meletakan putra bungsunya lalu mengambil putra sulunya dan melakukan hal serupa. Ia mulai menyusui putra sulungnya. Aldric menatap Elias yang tertidur tenang di atas tempat tidurnya. Aldric ikut berbaring disampingnya lalu tertidur. Keesokan harinya, Aldric merasa aneh karena Sena istrinya itu hanya diam dan tak menyapanya. Sena lagi sakit gigi kah?? “Sayang ... tumben diam aja?” Tanya Aldric ketika Sena membereskan perlengkapan anaknya. Sena tak memperdulikannya. “Kamu marah ya sama aku?? Maaf ya.” Ucap Aldric. “Maaf?? Buat apa??” Tanya Sena ketus. “Emangnya kamu punya salah?” Tanyanya lagi. Aldric diam mendapati sikap ketus Sena. “Yaudah sih, sans aja. Orang aku juga nanya baik-baik. Ngapain sih kamu marah.” Balas Aldric yang mulai kesal. “Kalau gitu nggak usah ngajakin aku bicara.” Jawab Sena nyolot. “Oh ... Yaudah kalo itu mau kamu!” Balas Aldric yang ikut marah. Ia berjalan pergi meninggalkan Sena. Melihat hal itu Sena semakin kesal dibuatnya. Ia membanting baju anaknya. **** Kediaman Aldric dan Sena berlanjut sampai kepulangan mereka di Apartemen. Beruntungnya ada Ares yang ikut mereka kembali ke Apartemen. Alhasil Ares menggendong Elios sementara Sena membawa Elias. Sejujurnya sangat repot bagi Sena untuk mengurus dua anak sekaligus meskipun sudah di bantu oleh ART. Terlebih ia mempunyai suami seperti Aldric yang jrang sekali bisa membantunya mengurusi urusan rumah. Pokoknya ada saja alasannya. Yah, setidaknya kalau nggak bisa bantu ngurusin rumah Aldric bisa lah nyempetin waktunya sedikit buat anaknya. Tapi suaminya itu sama sekali tak melakukan hal itu!! Ia heran apa sih susahnya telfon terus say HAY ke anaknya. Toh itu bukan anak orang lain tapi anak kandungnya!! Aldric membawa masuk barang-barang anaknya ke kamar setelah itu ia langsung pergi keluar. Di banding ia diem-dieman dengan istrinya lebih baik ia keluar dan refreshing. Sena tak menegurnya ia hanya bisa mendumel marah karna Aldric benar-benar mengabaikannya dan anaknya. Terlebih ketika mendengar tangisan Elios. Uh .. Sena berlari ke kamar lalu mulai menenangkan Elios. Tangis Elios semakin keras. Sena mulai memeriksa tubuh Elios. Popoknya masih bersih. Mungkin lapar. Tapi ketika Sena berniat menyusuinya anaknya tidak mau. Elios masih menangis keras dan tiba-tiba putranya langsung mutah. Sena panik melihatnya. Ia tak memperdulikan bajunya yang terkena mutahan. Ia mendudukan putranya lalu memijat lembut leher dan punggungnya. Pasti masuk angin. “Kenapa mbak??” Tanya Ares yang mengangukan kepalanya dari pintu. “Ambilin Air dong Res, sama perlengkapannya di dalam tas sana. Baju juga.” Ares menganguk. Lalu memberikan apa yang di minta Sena. Sena menyendoki air putih membantu putranya minum. Tangis Elios belum mereda. Sena menhambil tisu basah lalu membersihkan bekas mutahan putranya. “Sakit ya si El?” Tanya Ares. “Masuk angin mungkin.” Jawab Sena yang kini mengusapkan minyak kayu putih dan menggantikan bajunya. “Res ... Keluar dulu dong, Mbak mau ganti baju.” “Oh ... Oke mbak.” Jawab Ares yang berjalan keluar. Ares segera menelfon kakaknya memberitahu jika anaknya sedang sakit. Selesai ganti baju Sena menimang Elios yang masih menangis mencoba menidurkannya. “Hust ... Hust ... Cup ...cup ...” ucap Sena sembari berjalan keluar. Tapi, baru 2 langkah ia keluar dari kamar anak bungsunya Elias menangis. Sena memijit pelipisnya. Dimana sih Aldric ini!! Kenapa dia tidak ada disaat ia membutuhkannya?? Sena mendekati Elias dengan Elios di gendongannya. Tak lama Ares datang. Ia segera membantu kakak iparnya itu dengan menggendong Elias. Tapi Elias tak kunjung tenang. “Laper kali mbak.” Kata Ares. “Kamu gendong Elios ya. Biar mbak yang urus Elias.” “Waduh.. Nggak berani mbak. Elios habis mutah gitu. Kan dia sakit. Lagian kak Aldric mana sih?? Kelayapan mulu! Mbak Sena nggak ada ASIP?” Sena menggeleng. “Bikin s**u aja Res ... Tadi mama bawain susunya si kembar buat jaga-jaga.” “Oke.” “Bisa kan bikinnya?” Tanya Sena. “Bisalah ... Aku ini calon suami idaman tau.” Kata Ares yang kini meletakan Elias di atas tempat tidur. Sena duduk ia ingin menepuk-nepuk pelan sembari bersenandung agar buah hatinya lebih tenang. Tapi, Elios seolah tak mengizinkannya. Tangisnya semakin keras ketika ia duduk. Sena pusing. Ia tak tau harus melakukan apa sekarang. Kepalanya sakit. Dia penasaran. Kenapa tuhan menganugerahinya bayi kembar? Padahal ia belumlah berpengalaman menjadi orang tua. Mereka berdua bahkan tidak merencanakan adanya anak di pernikahan mereka. Bukannya ia tak bersyukur. Ia senang mendapat anak kembar. Terlebih anaknya setampan Elios dan Elias. Tapi, jika kedua putranya mulai menangis bersamaan seperti ini. Ia juga ingin ikut menangis. Karena ia tak tau harus melakukan apa. Beruntungnya ada Ares, dan Ares belum kembali ke kos-kossannya. Tak lama Ares kembali dengan botol s**u di tangannya. Sena memeriksa suhunya sebelum diberikan kepada Elias. “Pas kan?” Sena menganguk. Ares lalu memberikan s**u itu kepada Elias. Dan Elias diam. Kini tinggal Elios yang masih menangis. Mungkin karna badannya tak enak, Sena akhirnya berjalan keluar. Mungkin dengan ini anaknya bisa sedikit tenang. Sena benar-benar tak tega melihat Elios saat ini. ***** Aldric segera berbegas pulang ketika Ares baru saja menelfonnya jika Sena sedang kewalahan karena putra sulung sedang sakit, Elios baru saja mutah dan tak berhenti menanngis. Lalu Elias sang adik menyusulnya. Sena pasti marah besar nanti jika ia pulang. Lagian ada-ada aja sih. Perasaan saat di tinggal tadi putranya nggak sakit. Kok sekarang mendadak jadi sakit. Tak butuh waktu lama Aldric segera sampai unitnya. Di depan ada sudah ada istrinya yang menenangkan putranya Elios yang menangis. “Elios kenapa?” Tanya Aldric khawatir. Aldric menyentuh kening Elios. Demam. “Masuk angin kayaknya.” Jawab Sena. Sena membawa Elios masuk lalu menimangnya kembali. Ia juga berusaha menyusui Elios tapi, Elios menolaknya. Sena benar-benar di buat bingung. Anaknya ini maunya apa sih. Aldric mengikutinya, ia masuk kedalam kamar. Ada Ares yang memegangi botol s**u Elias. Kini Aldric menggantikannya. “Elios nggak mau diem dari tadi.”  Adu Ares. “Biasa Res..  Dari dulu juga gitu. Tiap habis imunisasi pasti demam dan rewelnya naudzubillah. Bikin semua orang nggak bisa tidur.” Keluh Aldric. “Untung aja ibunya sabar ngadepinnya .” Sambungnya. “Kalau udah tau gitu, jan kelayapan kak. Urusin anaknya. Jangan mau enaknya doang.” Sindir Ares. “Bacot!”             
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD