“Aldric... Wajah kamu!!” Tegur Sena tak enak. Meskipun sudah mencubit perut berotot Aldric. Aldric masih menampangkan wajah jijiknya.
Aldric mendengus. Ia benar-benar heran. Tempat ini tak cocok disebut kamar mandi. Kotor dan tak bersih. Lihat aja dinding bewarna coklat dan jaring-jaring laba-laba itu. Hii... Sudah berapa lama kamar mandi itu tidak di bersihkan. Selain itu, kamar mandi ini di gunakan bersama-sama. Aldric tak bisa membayangkan tubuhnya harus mandi disana. “Serius kamu nyuruh aku mandi disana? Nggak salah?” Tanya Aldric yang masih berbisik kepada Sena.
“Menurut kamu? Kamu mau mandi dimana??” tanya Sena yang mulai kesal.
“Aku cari hotel aja!!” balas Aldric.
“Aldricc ....” desis Sena.
“Anak mama sih levelnya beda.” Ejek seseorang.
Sontak Aldric langsung menoleh. Melihat wajah yang tak asing, emosi Aldric meluap. Aldric bukanlah anak mama. Dari sejak ia dalam kandungan sampe sebesar sekarang, Aldric belum pernah yang namanya susah. Bahkan kamar mandi yang ia gunakan waktu kemah di SMP dan SMA saja lebih mewah dari ini.
Oke ... Ralat. Susah?? Ia pernah hidup susah. Yakni waktu masa awal-awal ia menikahi Sena. Uang jajannya di stop. Ia tak dikasih uang sama sekali. Bagi Aldric itu hidup susah untuknya. Ia tidak bisa pergi clubbing atau bermain sepuas hatinya. Dan ketika pertama kali mengetahui Sena mengandung anaknya. Ia langsung bekerja habis-habissan. Sejujurnya jika bukan karna bantuan orang tuanya, Aldric jamin. Sekarang pun untuk memberi Sena dan kedua putranya makan akan sangat susah baginya.
“Maksud lo apa bilang kek gitu?” Tanya Aldric emosi.
Sena langsung memeluk bahu suaminya. Ia mengusap bahu Aldric agar suaminya itu tenang. Come on, terakhir kali melihat Aldric bertengkar ia langsung masuk rumah sakit karna pendarahan. Dan lagi, ia tidak ingin membuat masalah.
“Udah.” Kata Sena lembut. Sena pun menatap Eden dan kedua temannya tak suka.
Mood Aldric buruk.
“Ya lo pikir sendiri lah.” Jawab Eden.
“Lo apa-apa in sih Den.” Omel Sena.
Kini Sena, Aldric, dan Eden beserta temannya menjadi tatapan oleh orang-orang sekitar.
“Udah Al, nggak usah di peduliin.” Kata Sena ke suaminya lagi. Bagaimanapun Aldric ini tempramental. Gampang sekali terpancing emosinya.
Aldric menatap tajam Eden. Sena pun maju kedepan. Ia menangkup wajah Aldric agar suaminya itu menatapnya. Ia harus segera menenangkan Aldric sebelum terjadi baku hantam.
“Hai ... Lihat aku.”
Berhasil, Aldric menatap Sena. “Demi aku, Jangan buat masalah ya ...” mohon Sena. “Nggak usah ngeladenin mereka. Okey?” bujuk Sena lagi.
Melihat wajah istrinya yang memohon. Aldric akhirnya menganguk mengiyakan. Orang-orang yang melihat itu langsung takjub. Aldric... Ternyata suami-suami takut istri.
“Kita pergi aja. Cari hotel.” Ajak Sena lagi.
Aldric tersenyum mendengarnya. Ia lalu menganguk kembali. Sena membalas senyum itu. Ia pun menggenggam jemari Aldric membawanya pergi dari kamar mandi umum itu. Sena mengajak Aldric kembali ke mobilnya. Seduduknya pasangan suami istri itu didalam mobilnya. Aldric yang duduk di tempat pengemudi langsung menyalakan mobilnya. Aldric menoleh ke samping. Jemarinya mengusap pipi istrinya itu lembut dan penuh kasih sayang. Aldric mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Sena cepat.
“Makasih sayang, udah mau nemenin aku.”
Sena hanya menganguk. Aldric lalu melajukan mobilnya meninggalkan desa itu.
Jika boleh jujur Sena merinding lewat jalanan ini. Jalanan ini adalah hutan yang sangat gelap. Aldric fokus ke jalanan. “Sayang ...” panggil Sena.
“Ya?” Respon Aldric.
Sena mengambil tangan kiri Aldric. Ia menggenggam dan memeluknya sangat erat. Seolah tangan itu bisa saja hilang jika ia melepaskannya. Aldric tersenyum melihatnya. Dasar. Setelah sejam setengah perjalanan, Aldric dan Sena sampai di kota. Aldric menepikan mobilnya. Ia lalu mencari hotel. Ya ... Setidaknya hotel itu bintang empat lah. Harus ada bathupnya. Ia ingin mandi bersama istrinya itu. Dan ... Yes!! Ia berhasil mendapatkan hotel dengan kamar seperti itu. Akhirnya Sena dan Aldric pun check in.
Sampai di kamar, Sena langsung membaringkan badannya. Ia meraih gagang telfon untuk memesan layanan pesan makanan. Aldric tersenyum. Astaga ... Ia lupa membeli baju ganti. Aldric mengambil handphonenya di kantong sakunya. Ia menekan aplikasi belanja online. Ia membeli baju dan celana untuk segera di antar sekarang.
“Kamu mau nasi goreng nggak?” Tanya Sena.
Aldric menganguk.
“Air putih atau jus?”
“Water.”
“Oke. Nasi gorengnya 2, Air putih 2 ... Eh, kamu dingin apa biasa aja ?”
“Dingin.” Jawab Aldric yang masih fokus handphonenya.
“Dua-duanya dingin. Habis itu sama sama jus Stowberry.” Kata Sena.
Sehabis menelfon, Sena menatap Aldric. “Kamu ngapain? Sana mandi!” Suruh Sena.
“Ya.” Jawabnya.
Sena kembali berbaring dan memjamkan matanya. Ya Allah, kasur ini sangat nyaman. Punggungnya ... Benar-benar merasa bahagia malam ini. Tapi baru 2 menit, ia memejamkan matanya Sena terbangun. Ia mulai mengirimkan pesan untuk memintakanya izin jika tiba-tiba ada Dosen yang melakukan pemeriksaan. Temannya mengiyakan. Sena tersenyum lega. Kali ini ia mencari nomor mertuanya. Ia merindukan si kembar. Elios dan Elias.
“Halo Anaknya mama ...” Sapa Sena. “Lagi ngapain sayang?”
Tak lama ia merasakan pinggangnya di peluk seseorang. Sena menolehkan kepalanya. Aldric mencium pipinya lalu lehernya.
“Loh. .. Kok ada Aldric Sen ...”
“Aldric ... Aku lagi telfon.”
Aldric merebut telfon itu lalu mematikan panggilannya lalu melemparnya di atas tempat tidur. Setelah itu ia menarik dagu Sena lalu menciumnya menuntut sebelum Sena belum sempat mengomel.
“Papanya kapan diurusin sayang, Masa Elios sama Elias terus sih.” Kata Aldric merajuk.
Sena tertawa kecil melihat ekspresi Aldric bak anak kecil. Aldric mencium Bibir Sena lagi lebih menuntut. Sena membalasnya. Kini ia mengalungkan tangannya di leher suaminya itu. Ciuman Aldric turun ke leher jenjang Sena. Tangannya bergerak melepaskan baju yang di kenakan Sena satu persatu.
“Awh ...” jerit Sena terkejut karna Aldric tiba-tiba mengangkatnya ala bridal style.
“Aldric...”
Aldric tersenyum ia mencium pipi Sena lalu membawanya kedalam kamar mandi.
*****
Tok...tok...tok...
Aldric mencium bibir Sena lagi sebelum membukakan pintu. Layanan hotel. Aldric memberikan uang tips. Lalu masuk kedalam membawa makanannya. Melihat hal itu, Sena langsung mengambil air putih dan meminumnya. Ia haus sekali.
“Kamu nggak pake baju?” Tanya Sena Sembari meletakan botol minumnya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Nunggu bajuku sayang. Kamu juga. Jangan ganti baju dulu. Aku beliin sesuatu buat kamu.”
“Oh ... Tumben beliin aku baju segala.” Goda Sena yang kini mengambil nasi gorengnya dan memakannya. Aldric mengikuti Sena. Belum habis makanannya, pintunya terketuk kembali. Aldric bangun lalu membuka pintunya. Melihat kurir mengantarkan bajunya Aldric langsung membayarnya dan menutup pintunya.
“Ini Sayang.” Kata Aldric dengan memberikan paper bag. Sena Menerimanya. Ia menaruh paper bag itu disampingnya dan melanjutkan makan. Sehabisnya ia meletakannya di dekat pintu sembari meminum jusnya habis. Barulah Sena kembali ke kamar mandi gosok gigi. Ia akan tidur. Ketika kembali dari kamar mandi ia masih melihat Aldric dengan handuk di pinggangnya.
“Kok masih belum ganti baju?” Tanya Sena yang kini mengambil paper bagnya. Ia membuka bungkusan itu penasaran baju apa yang di belikan suaminya. Ketika melihat pakaian itu Sena syok.
Lingerie??
“Aldric!!!” Teriak Sena.
Aldric hanya tertawa kecil. “Seksi tau kamu pake itu .. Tapi, lebih seksi nggak pake apa-apa sih!!” Goda Aldric dengan tertawa senang. Ia bangkit lalu menghampiri istrinya. Yah, Aldric ingin lebih. Masih ingin lebih. Entah, Ia tak pernah merasa puas ketika melihat istrinya itu. Rasanya ia ingin membuat istrinya itu tak bisa berjalan agar ia bisa mengurungnya sesuka hatinya.